
Debu debu beterbangan ke sana kemari disertai angin kencang serta dedaunan yang rontok dari pohon nya. Terdengar bom bom yang meledak tak jauh dari lokasi penginapan di Kota Benrath yang sedang ditinggali oleh Naphelle beserta rombongan nya.
Beberapa hari setelah pertempuran perang terus berlangsung di perbatasan wilayah tersebut, Naphelle memutuskan untuk beristirahat di penginapan karena dia tidak ingin terlibat oleh begitu banyaknya manusia yang nantinya terbunuh karena kekuatan gelap milik nya.
Perlahan Naphelle merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit lemah akibat kekurangan waktu tidur selama memimpin pasukan perang nya.
Baru beberapa menit ia memejamkan kedua bola matanya, tiba-tiba saja terdengar ranting pohon yang berada di sebelah penginapan nya terjatuh. Sesegera mungkin ia kembali membuka matanya untuk melihat apa yang baru saja terjadi.
Ia melihat ke arah kanan dan kirinya dari jendela yang berada di kamar penginapan nya, namun ia tak mendapati sesosok manusia pun berada di sana. "Mungkin hanya perasaan ku saja," Gumam Naphelle sembari menutup kembali jendela kamar nya.
"Menyerah lah!!!" Teriak salah seorang pria yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Naphelle sambil mengagungkan pedang padanya. Mendengar lelaki itu menyuruh nya untuk menyerah, Naphelle hanya terdiam dan terus menatap sosok itu dengan tatapan sinis nya.
Tak lama setelah pria itu masuk, sekumpulan orang dengan pakaian yang sama juga masuk sambil mengacungkan pedang mereka secara bersamaan.
"Siapa kalian?!!" Tanya Naphelle dengan suara lantangnya.
"Kau tidak perlu tau siapa kami! Menyerah lah!" Kata pria itu seraya terus memojokkan Naphelle agar cepat menyerah.
"Jika dilihat dari pakaian mereka, itu adalah baju zirah dari Kekaisaran Astion 25 tahun yang lalu. Pakaian yang mereka kenakan sama seperti saat akan membunuh ku di kehidupan sebelumnya" Pikir Naphelle dalam hati.
"Kalian menyuruh ku untuk menyerah? Kenapa tidak kalian saja yang menyerah?" Tutur Naphelle yang kemudian duduk di sebuah kursi yang berada di kamarnya.
Para pria yang berbondong-bondong masuk ke dalam kamar Naphelle sontak dibuat heran akan perilaku aneh dari seseorang yang sudah terpojok kan. Padahal seharusnya orang yang mendapat perlakuan mengerikan seperti itu lebih memilih untuk menyerah, sedangkan Naphelle malah sebaliknya.
"Jadi....kalian tetap tidak akan menyerah, ya?" Celetuk Naphelle dengan tenang.
Mereka yang tidak fokus lantaran Naphelle mengatakan hal tersebut, membuat mereka tak menyadari bahwa sebenarnya sudah ada beberapa pedang yang sudah bersiap untuk membunuh mereka.
"Awas!!!!" Teriak salah seorang di antara banyaknya pria itu setelah menyadari bahwa ada banyak pedang yang beterbangan dan mengincar tubuh mereka.
"Lari!!!"
__ADS_1
"Heuh, aku jadi merasa kasihan pada kalian. Pasti perjalanan kalian ke sini tidak semudah kematian kalian, padahal sudah aku tawarkan agar kalian menyerah saja, tapi..... ya sudahlah, toh ini juga sudah menjadi takdir kalian" Imbuh Naphelle sembari terus menyaksikan pertunjukan yang menurutnya menarik untuk di tonton.
Setelah semua Ksatria dari Kekaisaran Astion tewas di tangan Naphelle, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang tak asing baginya. Matanya langsung tertuju ke arah luar jendela yang beberapa waktu lalu ia buka lantaran aroma bau anyir darah yang begitu menyengat tercium sampai ke otaknya.
***SRRRKKKKKKK****
Naphelle melompat ke arah pohon rindang yang sebelumnya menjatuhkan ranting. Ia memenggal kepala seseorang yang juga berasal dari Kekaisaran Astion sedang mengintai nya untuk memastikan apakah Naphelle berhasil di bunuh atau tidak.
Ia kemudian menyeruput darah yang tak sengaja menempel di tangan nya.
"Rupanya kau juga ada disini.." Ujar Naphelle begitu menyadari bahwa sosok Kardinal yang belum lama ini mengunjungi nya sedang menyaksikan perbuatan buruknya.
"Ah...ternyata kau menyadari keberadaan ku, ya" Seloroh Kardinal Okeanos sembari memperlihatkan wujudnya.
Naphelle yang tadi berada di atas pohon, langsung melompat ke bawah untuk berhadapan secara langsung dengan Kardinal Okeanos. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kardinal yang tengah memandangi nya dengan heran.
Belum ada percakapan di antara mereka, Naphelle langsung mengacungkan pedang milik Ksatria Kekaisaran Astion yang telah tewas di tangannya. Mendapati Naphelle yang sedang naik pitam, Kardinal pun tak berani berbicara lancang. Ia hanya mengangkat bahunya bak orang bodoh.
Kardinal Okeanos hanya merespon perkataan Naphelle dengan senyuman sinis yang baru beberapa detik langsung kembali memperlihatkan raut wajah datarnya. Ia kemudian mengikuti langkah kaki Naphelle yang masuk menuju penginapan.
...****************...
"Tuan Putri!!!" Teriak Helios sembari berlari ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Naphelle dengan tatapan heran menatap Helios yang memperlihatkan raut wajah khawatir nya.
"Apa Anda baik-baik saja?" Helios kembali bertanya.
"Yah, aku baik-baik saja, apa ada yang membuat mu khawatir?"
"Ti-...." Perkataan Helios terhenti setelah mendapati sosok pria tak dikenal berada di kamar Naphelle.
__ADS_1
"Siapa kau?"
"Perkenalkan, namaku Okeanos. Aku seorang Kardinal" Tuturnya memperkenalkan diri.
"Dia adalah Kardinal dari Kota Xerxes. Aku pikir kau sudah mengenal nya lebih dulu dari ku" Seloroh Naphelle seraya meraih sebuah kain yang berada di atas ranjang.
"Kenapa dia menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ku?" Gumam Helios dalam hati setelah mendapat tatapan aneh dari pria berwajah asing di hadapannya.
"Kau juga sama, reinkarnasi dari Felix Vangelis" Gumam Kardinal Okeanos masih dengan mata nya yang menatap Helios.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bulan berganti bulan, hari berganti hari begitu juga dengan malam berganti malam. Setelah 4 bulan lamanya Naphelle memimpin perang yang terjadi di antara perbatasan wilayah tersebut, akhirnya Kota Benrath pun berhasil mengambil wilayah kekuasaan milik Kota Windsor tanpa bantuan dari Naphelle.
Selang beberapa waktu setelah kemenangan telah diambil oleh Raja Yordan, Naphelle pun mempersiapkan dirinya untuk berhadapan langsung dengan sang Raja.
"Tuan Putri, apa Anda benar-benar akan melakukan nya seorang diri?" Tanya Helios memastikan.
"Kenapa tidak? Bukankah kau sudah tau bagaimana karakteristik Putri Naphelle?" Sergah Kardinal Okeanos sembari tersenyum sinis.
"Jangan berbicara yang aneh aneh, Kardinal. Helios, jangan khawatir...." Cakap Naphelle secara spontan.
"Sebenarnya aku merasa kasihan pada Raja Yordan, tapi apa boleh buat? Rencananya sudah aku rancang sejak beberapa dekade, tidak mungkin kita akan pulang tanpa mendapatkan penghasilan apa pun" Lanjut Naphelle.
"Tapi, bukankah Anda sudah membuat janji dengan Raja Basilio? Bukankah dia akan memberikan Putri hadiah jika Anda berhasil mengalahkan kedua wilayah itu?" Lontar Helios sedikit ragu.
"Apa kau tau perjanjian apa yang telah aku buat dengan Basilio? Perjanjian nya yaitu......kedua wilayah kekuasaan ini akan menjadi milik ku" Jawab Naphelle dengan senyuman sinis yang mengembang di wajahnya.
Ia kemudian melangkahkan kedua kakinya menjauh dari Helios juga Kardinal Okeanos setelah membuat keduanya ternganga mendengar perkataan Naphelle.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀