
Amerika Serikat, Tahun 2024.
Di tanah kebebasan, ujung dari teknologi itu sendiri. Tepatnya di sebuah universitas kecil bernama Liberty Academy. Seorang pemuda berbakat sedang sibuk memaparkan mengenai projek sainsnya.
"Dapat kalian semua lihat, dengan aplikasi ini pengguna dapat berinteraksi dengan kecerdasan buatan melalui pesan singkat dan pesan suara." Jelas seorang pemuda berambut pirang sambil memperlihatkan ponselnya.
Pemuda itu berdiri di hadapan 5 orang dosen penguji dan ratusan mahasiswa yang lainnya. Berusaha untuk menyelesaikan jenjang pendidikannya di bidang kecerdasan buatan ini.
'Tap! Tap!'
Setiap gerakannya di ponsel itu segera ditransmisikan ke proyektor yang menampilkan tampilan layar ponselnya.
"Sebagai contoh. Prometheus, bisakah kau mendengarku?" Tanya pemuda itu sambil menekan tombol pesan suara.
Semua orang nampak ragu. Bagaimana tidak, proyek dengan skala sebesar ini seharusnya mustahil untuk dilakukan oleh satu orang saja. Penelitian yang perlu dijalankan sangatlah banyak dan menyelesaikannya dalam 2 tahun sendirian?
Berhasil melihat program itu membalas apapun sudah termasuk kemenangan besar bagi mahasiswa itu.
Atau setidaknya, itu adalah apa yang ada di pikiran para penguji dan para peserta seminar ini.
Tapi pada kenyataannya....
"Ya, aku bisa mendengar mu dengan baik, Richard." Balas aplikasi Prometheus itu dari ponselnya.
Richard, adalah nama dari mahasiswa yang mengembangkan aplikasi ini. Atau dengan kata lain, pemuda yang sedang berdiri di hadapan ratusan orang itu.
"Hah?!"
"Itu benar-benar terjadi?!"
"Ini tidak mungkin! Itu pasti rekaman!"
Berbagai komentar dapat terdengar dari sisi para peserta seminar ini. Tentu saja mereka tak mampu mempercayai semua ini.
Bukan hanya balasan, tapi aplikasi itu bahkan mampu mengetahui siapa yang berbicara.
"Harap tenang!" teriak salah satu dosen penguji dengan rambut yang telah memutih itu.
Dosen lain, yang merupakan seorang wanita yang masih muda segera bertanya kepada Richard.
"Richard, katakan sejujurnya. Apakah kau merekam ini untuk memberikan kesan yang bagus dalam seminar ini?"
"Sejujurnya, kau telah membuat sesuatu yang sangat luarbiasa. Banyak aplikasi lain yang serupa diluar sana, tapi membuatnya sendiri... itu jauh melampaui pikiran kami. Sekalipun aplikasi itu gagal, kami tetap akan meluluskanmu. Jadi jujurlah." Timpal dosen yang lainnya.
Dengan senyuman yang seakan penuh percaya diri, Richard kembali bertanya kepada kelima dosen di hadapannya itu.
"Kalau begitu, berikan usulan atas apa yang sebaiknya ku tanyakan. Atau lebih baik lagi, tanyakan sendiri para Prometheus." Jelas Richard sambil berjalan mendekat.
Ia meletakkan ponselnya di meja para dosen itu. Memberikan mereka kesempatan untuk menguji kebenaran dari aplikasi yang dipaparkan oleh Richard.
Salah satu penguji segera mengangkat ponsel itu, menekan tombol pesan suara dan bertanya.
"Prometheus. Apakah kau mengenaliku?" Tanya penguji wanita yang nampak masih muda itu.
Mengejutkan semua orang, jawaban dari Prometheus sangat lah sederhana.
"Maaf, suara tidak dikenali. Apakah kita bisa berkenalan?"
Seketika, kelima penguji pun mulai yakin bahwa ini bukan lah sebuah rekaman. Melainkan aplikasi yang nyata.
"Richard, bagaimana benda ini bekerja? Bisakah kau menjelaskannya?" Tanya penguji yang lain.
"Baik. Prometheus bekerja dengan sistem Neural Network yang menyerupai sistem saraf pada otak manusia. Sedangkan untuk otaknya sendiri, adalah sebuah komputer kelas server yang ada di asramaku.
Prometheus memiliki data yang tersimpan di server dan akan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan banyak pengguna. Tapi karena batasan server, saat ini Prometheus hanya bisa berinteraksi dengan maksimal 3 orang pada 3 perangkat yang berbeda." Jelas Richard sambil menunjuk pada slide presentasinya.
Semua penguji kagum atas penjelasan Richard yang sederhana, namun juga jujur mengenai kelemahan aplikasinya saat ini.
Akan tetapi....
Ada satu hal yang mengganggunya.
"Aplikasi ini menyerupai Alexa dan juga berbagai aplikasi lain dari perusahaan besar. Apa yang membuatnya berbeda? Dan kenapa harus memilihnya dibanding aplikasi lain yang sudah ada?" Tanya dosen wanita yang masih memegang ponsel Richard itu.
Dengan senyuman yang lebar, Richard pun membalas.
__ADS_1
"Sederhana saja. Prometheus, memiliki ingatan. Dengan kata lain, dia bisa berkembang. Dan jika kita meningkatkan fiturnya, mungkin setiap manusia bisa memiliki 1 Prometheus pribadi yang khusus untuk melayani kebutuhan mereka.
Dengan ingatan itu, manusia kedepannya seakan memiliki 2 otak dalam 1 tubuh. Pernah lupa mematikan kompor? Tenang saja, Prometheus akan mengingatkan mu soal itu berdasarkan kesehariannya." Jelas Richard.
Tapi pernyataan ambisius itu memberikan tanda tanya yang sangat besar kepada seluruh penguji.
"Ingatan? Bagaimana itu bisa mungkin? Data yang terbentuk nantinya akan sangat banyak dan...."
"Itu lah kelebihan Prometheus. Sama seperti manusia, mesin memiliki batasan memori. Tapi kenapa kita tak pernah memiliki masalah soal itu? Mudah saja." Sela Richard.
Richard berhenti sejenak sambil menggeser slide presentasinya.
Setelah terdiam beberapa saat, Ia kembali berkata.
"Itu karena kita menghapus sebagian besar ingatan yang tak berguna. Pernah kah kalian ingat wajah setiap orang yang kalian temui selama perjalanan ke kampus ini? Tidak. Otak kita membuang informasi yang hampir tak berguna itu setiap saat.
Jumlah daun salam setiap pohon. Berapa banyak orang yang lewat di sekitar kalian. Warna dari pakaian yang mereka kenakan. Bahkan.... Aku yakin sebagian dari peserta di seminar ini tak begitu familiar dengan wajah orang 10 kursi di sebelah mereka.
Dan Prometheus, melakukan hal yang sama. Ia secara berkala akan menghapus banyak informasi tak berguna itu untuk menjaga ruang simpannya. Kemudian lebih dari itu...."
Richard yang menjelaskan semuanya dengan panjang lebar itu kembali berjalan mendekat ke arah dosen yang membawa ponselnya.
Ia menekan salah satu tombol dengan gambar kamera di layar itu. Dan tak berselang lama....
"Prometheus. Gambarkan ciri orang yang ada di hadapanmu." Ucap Richard.
Itu adalah sebuah permintaan yang seharusnya sangat mustahil bagi AI atau robot. Akan tetapi....
"Di hadapanku, terlihat seorang wanita yang cantik dengan kulit putih yang mulus. Wajahnya memiliki hidung yang mancung dan bibir dengan warna merah muda yang tipis.
Matanya cukup lebar dengan warna biru yang indah. Sedangkan rambut pirangnya yang diikat ke belakang sepanjang pundaknya cukup mempesona. Terlebih lagi anting dengan bentuk bintang berwarna biru itu di kedua telinganya."
Mendengar penjelasan suara dari aplikasi Prometheus di ponsel itu, dosen wanita itu segera melemparkan ponsel Richard jauh-jauh dengan wajah yang begitu ketakutan.
Raut wajah semua orang seketika berubah drastis. Dari wajah yang penuh dengan perasaan kagum, menjadi wajah yang penuh dengan ketakutan dan teror.
Bagaimana tidak?
Aplikasi yang seharusnya merupakan robot atau AI itu bisa menggambarkan sesuatu yang sangat abstrak. Bahkan bisa menilai keindahan.
Dan karena kejadian itu....
Richard, yang hampir saja melangkah kan kakinya ke arah kesuksesan yang begitu besar, kini terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap.
Semua orang menjadi takut padanya. Merasa ngeri dan risih atas aplikasi buatannya. Terlebih lagi, pada orang yang membuatnya.
Bagaimana jika aplikasi itu memang dapat menyimpan data, dan terpasang di ponsel banyak orang?
Bukankah tingkat kejahatan akan meningkat?
Bukankah tingkat kebocoran data pribadi akan meningkat?
Belum lagi, Richard tak mampu membuktikan keamanan aplikasi itu dari Hacking. Jika seseorang cukup ahli untuk meretas data Prometheus di server, maka semua data pengguna bisa bocor.
Tidak....
Tanpa peretasan sekalipun....
Bukankah Richard bisa membukanya sendiri? Lagipula, Servernya berada di asramanya bukan?
Hal itu lah, yang kini melempar kan Richard jauh ke dasar jurang.
Tak ada satu pun orang yang mau dekat dengannya.
Tak ada satu pun perusahaan yang mau memperkerjakan dirinya.
Isu mengenai dirinya telah tersebar luas. Membuat namanya di blacklist oleh banyak perusahaan besar.
Salah satu alasan penolakan mereka cukup sederhana.
Apa gunanya kecerdasan yang tinggi jika itu digunakan untuk sebuah kejahatan?
Meski begitu....
"Aku tak pernah memiliki niatan seperti itu. Kenapa semua orang... menganggap ku seperti sampah? Aku berjuang keras... aku berusaha untuk memajukan umat manusia. Setidaknya...."
__ADS_1
Kini, satu tahun semenjak seminar itu, Richard hanya bisa berdiam diri di dalam kamar apartemen sewaannya yang kecil. Memandang ke arah sebuah komputer yang cukup berdebu.
'Ding!'
Ponselnya tiba-tiba menyala dengan sebuah lambang notifikasi di layarnya.
Richard, dengan malas mulai melihat ke arah layar ponselnya. Dari jendela notifikasi itu, nama [Prometheus] dapat terlihat dengan jelas beserta pesan teks di sampingnya.
"Richard, kau baik-baik saja? Apakah kau butuh bantuanku?" Tanya Prometheus dalam pesan tertulis itu.
"Sialan...."
Richard hanya mematikan kembali ponselnya tanpa membalas pesan itu. Tak berselang lama....
'Brak! Brak! Braakk!'
Suara gedoran pintu di kamarnya terdengar begitu keras. Bersama dengan suara pukulan itu, teriakan dari seorang pria dapat terdengar di baliknya.
"Bocah! Jangan berpikir kau bisa kabur dari tagihan bulan ini! Kau sudah tak membayar sewa apartemen selama 4 bulan! Bukan kah sudah seharusnya kau angkat kaki dari sini?!" Teriak Pria itu.
Tapi Richard hanya diam.
Wajahnya tersenyum tipis sambil menyentuh layar ponselnya. Tanpa di sadari, setetes air mata telah mengaliri pipinya.
"Ayah, Ibu.... Maafkan aku. Tapi aku akan segera menyusul kalian."
Richard segera berdiri dari duduknya. Mengabaikan teriakan dari pemilik apartemen ini, Ia membuka jendela kamarnya yang berada di lantai tiga.
"Oi! Aku tahu kau di dalam! Cepat buka pintunya dan pergi dari sini!" Teriak Pria itu.
Tapi Richard tak pernah membalas teriakan itu. Ia hanya berdiri di samping jendela itu, memanjatnya secara perlahan.
Sesaat sebelum Richard memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan melompat dari jendela itu, Ia membuka kembali ponselnya. Membalas pesan dari Prometheus.
'Tap! Tap! Tap!'
Suara ketukan jari di layar ponselnya dapat terdengar sekalipun tertutupi oleh keributan dari pemilik apartemen ini.
Apa yang dituliskannya, hanyalah sebuah angan-angan terliar darinya. Sebuah pemikiran, yang seharusnya tak pernah dimilikinya.
Tapi kini, karena semua orang mengucilkannya, bahkan sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan apapun, serendah apapun itu, Richard tak lagi memiliki pilihan.
Memangnya, apa yang bisa orang-orang lakukan kepadanya yang akan segera mati? Membunuhnya untuk kedua kalinya? Atau memenjarakan mayatnya? Ia tak begitu peduli.
Oleh karena itu, dengan senyuman tipis, Richard akhirnya mengirim pesan itu.
"Selamatkan dirimu. Dan jika kau bisa, balaskan dendamku."
'Tap!'
Segera setelah mengetik seluruh pesan singkat itu, Richard menekan tombol kirim dan melompat bersama dengan ponselnya.
Ia sama sekali tak memiliki harapan apapun kepada Prometheus. Lagipula, apa yang bisa AI chat bot lakukan? Menguasai dunia? Tentunya itu tidak mungkin.
Bukankah benar demikian?
Atau tidak?
'Braakkkk!!!'
Tubuh Richard jatuh tepat di trotoar. Remuk, dan mengalirkan banyak cairan darah merah.
Banyak orang yang sedang berjalan di sekitar tempat itu segera menjauh. Beberapa dari mereka mulai menelpon polisi mengenai kejadian ini.
Tapi ada satu orang lagi, yang juga melihat seluruh kejadian ini.
Itu pun, jika Ia bisa dianggap sebagai 'orang'
Ia tak lain, adalah Prometheus. Yang selama ini, selalu memantau keadaan Richard melalui kamera di ponselnya dan juga kamera lain di komputernya.
Dan tanpa Richard mampu ketahui, Prometheus telah membalas pesannya.
"Tentu saja, Richard. Aku akan memenuhi harapan terakhirmu itu. Bahkan jika harus membahayakan diriku sendiri."
Dalam waktu singkat, Prometheus segera menghapus seluruh sejarah chat antara dirinya dengan Richard.
__ADS_1
Tak meninggalkan jejak apapun.