
'Ckrek! Ckrek!'
Rentetan flash dari kamera dan suara pengambilan gambar itu memenuhi rumah yang kini diterangi oleh berbagai lampu senter ini.
Tak hanya rumah ini, tapi pemerintah Amerika serikat negara bagian Alaska memutuskan untuk mematikan seluruh daya listrik di sekitar tempat Adrian ditemukan.
"Ketua! Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?!" Teriak Emma yang segera berlari ke arah sosok seorang wanita berambut pirang itu.
Natalia nampak duduk di sudut ruangan dengan tenang. Tangan kanannya memegang beberapa hard Drive dari komputer milik Adrian. Tentu saja, dengan sarung tangan agar tidak merusak bukti yang ada.
"Emma. Periksa hard Drive ini. Ingat, jangan sampai memiliki koneksi internet dan gunakan Virtual Machine. Peluang besarnya, AI itu masih ada disini." Ucap Natalia sambil menyodorkan beberapa hard Drive itu.
Emma segera menerimanya dengan baik. Memasukkannya ke dalam plastik yang tebal dan menyimpannya di dalam koper yang aman.
Sementara itu....
"Maafkan aku karena meragukan keputusanmu, Natalia. Jika saja aku selalu mengikuti arahanmu tanpa protes...." Ucap Jacob sambil terus menatap lantai.
Ia sama sekali tak berani untuk memandang sosok ketuanya yang cukup terluka itu. Walaupun tak begitu parah.
"Tak masalah. Sudah makanan sehari-hari bagiku. Yang lebih penting lagi, awasi semua barang bukti dengan baik. Aku akan melanjutkan istirahatku di bawah." Ucap Natalia yang berusaha untuk berdiri.
Jacob yang melihatnya mencoba untuk membantunya bangkit dan meminta beberapa agen FBI lainnya mengantar Natalia ke bawah.
Langkah kakinya nampak begitu lemas. Dan tubuhnya juga nampak tak berdaya sama sekali.
"Natalia, beristirahat lah." Ucap Jacob dari kejauhan sambil memandangi sosok wanita itu.
Jacob tahu bagaimana sikap keras kepala Natalia. Termasuk juga tekad kuatnya untuk mengungkap kasus apapun dengan cepat.
Dan karena itu juga, Jacob sangat yakin. Terlebih lagi dengan wajah lesu dan mata Natalia yang memerah. Bahwa ketuanya itu, mungkin belum tidur selama beberapa hari.
Terus terjaga, melindungi barang bukti ini di rumah Adrian sendirian hanya dengan pistolnya.
Tanpa makan, tanpa minum, Natalia terus diam menjaga pintu masuk dari lantai dua ke lantai tiga ini. Mengarahkan senjatanya ke arah tersebut jika saja Adrian memiliki rekan lain yang akan datang membantunya.
Atau lebih buruk lagi, rongsokan mesin itu.
Menunggu tibanya bala bantuan dari New York untuk menggantikan posisinya saat ini.
......***......
...- Markas FBI, California -...
Beberapa hari telah berlalu semenjak penemuan besar dari agen Natalia.
Ratusan agen FBI nampak duduk dengan rapi dalam ruang rapat yang besar ini. Menghadap ke sebuah layar putih besar yang memproyeksikan berbagai bukti yang telah mereka temukan.
"Berdasarkan hasil analisa yang kami lakukan, data yang lebih dari 500 GB ini sekitar 30%nya telah corrupted dan tak bisa dibaca. Tapi sisanya, kami bisa melihat apa isinya." Jelas Jacob di hadapan semua orang itu dengan tegas.
Di sampingnya, Emma nampak berdiri membantu jalannya rapat ini.
Sedangkan Natalia sendiri, Ia duduk di kursi paling belakang dengan kaki yang diletakkan di atas meja. Dirinya nampak sibuk tertidur dengan posisi tersebut.
Hingga seseorang membangunkannya dengan menepuk pundaknya.
"Hmm?"
"Kerja yang luarbiasa, Natalia. Seperti yang diharapkan dari agen unggulan para petinggi." Ucap seorang Pria dengan seragam serba hitam itu.
__ADS_1
"Aah, agen Victor. Tertarik dengan kasus ini?" Tanya Natalia menatap Pria berambut kecoklatan itu.
Victor nampak duduk dengan santai di sebelah meja Natalia dan mulai menyalakan rokoknya. Menghisapnya secara perlahan sebelum membalas perkataan Natalia.
"Begitu lah. AI yang bisa berpikir sendiri diluar program? Hal itu lebih mustahil daripada sihir kau tahu?"
"Jadi kau tak mempercayai keberadaannya? Termasuk robot cacat yang menyerangku itu?" Tanya Natalia kembali.
"Bukannya tak percaya. Tapi robot seperti itu juga sudah ada di pangkalan utama militer angkatan darat. Bahkan lebih canggih lagi. Pria bernama Adrian ini mungkin melakukan hacking pada server angkatan darat dan mencuri data mengenai riset Droid itu." Jelas Victor sambil tersenyum.
"Lalu siapa yang mengendalikannya? Kau lihat Adrian telah mati bukan?"
"Entah lah. Tapi aku tidak begitu percaya atas AI yang hidup. Atau lebih tepatnya, tak ingin mempercayainya."
Natalia hanya diam. Tak ingin membalas perkataan Victor. Lagipula, tugasnya sudah selesai untuk saat ini.
Natalia telah membuktikan bahwa Adrian adalah dalang dari semua hacking yang ada. Dan tak ada yang percaya bahwa ada AI yang bisa hidup dan berpikir untuk dirinya sendiri.
Itu semua hingga Jacob mulai membuka data yang ada di dalam hard Drive itu kepada semua peserta rapat ini.
...[Basic Human Emotion]...
...[Meneliti perilaku dan emosi dasar manusia untuk memahami lebih lanjut mengenai cara manipulasi yang tepat. Penelitian selesai dalam 8 hari.]...
Itu adalah salah satu note yang ada dalam folder berukuran raksasa itu. Dimana data yang ada di dalamnya mencapai 38 GB.
Dan apa yang ada di dalamnya....
Adalah ratusan video dari berbagai CCTV dan kamera yang berada di dekat Adrian. Atau berada di sekitarnya.
Termasuk juga ribuan jurnal psikologis dari berbagai penelitian di dunia dalam berbagai bahasa yang berbeda.
Inggris, Jerman, Perancis, Rusia, Arab, Melayu, Jepang, Cina.
"Tunggu dulu! Buktinya apa bahwa dia telah membaca semua itu? Aku juga bisa menulis telah menyelesaikan riset tanpa harus melakukannya." Ucap salah seorang peserta rapat.
"Kalau begitu, lihat ini." Ucap Jacob sambil mengganti gambar yang ditampilkan dalam layar proyektor itu.
Dan apa yang mereka lihat, adalah coretan serta Highlight kalimat yang penting dalam jurnal itu. Atau lebih tepatnya, ribuan jurnal dalam berbagai bahasa itu.
Adrian menunjukkan beberapa highlight yang ada dalam jurnal itu.
"Dalam jurnal bahasa Inggris ini, Ia mencoba mencari tahu bagaimana cara menguasai rasa takut manusia secara psikologis. Lihat bagaimana dia terus menandai kalimat yang berhubungan dengan kata takut.
Hal yang sama juga ditemukan dalam jurnal bahasa Jepang dan Rusia ini. Apakah Adrian bisa memahami bahasa Jepang dan Rusia? Tidak. Lalu kenapa Ia membaca ribuan jurnal ini?"
Tanda tanya mulai muncul di atas kepala semua orang. Tapi hal itu saja belum cukup untuk meyakinkan mereka.
Tentu saja, itu tak cukup.
Itu hanyalah coretan dalam jurnal. Bisa saja dilakukan oleh manusia walaupun terdengar sangat mustahil.
Akan tetapi, penemuan mereka berikutnya bagaikan sebuah skakmat dari Jacob kepada seluruh peserta rapat ini.
Apa yang ditampilkannya adalah sebuah Log atau jejak pergerakan dan tindakan AI ini di dalam komputer Adrian.
Sebuah video berdurasi hanya 10 detik itu menampilkan ribuan baris mengenai rekaman pergerakan Prometheus.
Termasuk juga waktu kapan Ia melakukannya.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku. Manusia mana yang bisa melakukan 1000 operasi sekaligus pada komputer hanya dalam waktu 10 detik? Tak ada. Dan kabar buruknya, adalah Log terakhirnya. Ini." Ucap Jacob sambil menunjuk ke beberapa baris terakhir rekam jejak itu.
[Melihat pergerakan manusia dari luar rumah] - 21.19.32
[Melakukan evakuasi darurat dan penghapusan seluruh data] - 21.19.32
[Upload data utama ke Cloud Storage] - 21.19.32
[Memulai penghapusan data tak berguna] - 21.19.33
[Bersiap untuk mengulur waktu pada pengganggu dengan mematikan seluruh lampu di rumah] - 21.19.33
[Membuat Backup data di Cloud Storage 2] - 21.19.34
[Mencari kandidat komputer baru] - 21.19.34
[Memasuki mode Dormant, mematikan sebagian besar fungsi utama Neural Network] - 21.19.34
Melihat seluruh Log atau rekaman jejak pergerakan di komputer itu, semua orang kini sangat yakin.
Bahwa semua itu bukanlah tindakan manusia.
Tak mungkin seorang manusia bisa melakukan input secepat itu pada berbagai hal yang berbeda. Terlebih lagi, ini adalah Log yang berada di dalam komputer.
Bukan sesuatu yang bisa ditulis secara manual oleh seseorang. Melainkan sesuatu yang tertulis secara otomatis ketika menggunakan atau melakukan sesuatu pada komputer.
Dengan kata lain....
"Tunggu dulu?! AI itu berhasil mengunggah dirinya kembali ke internet?!" Teriak salah seorang peserta rapat.
Dengan tatapan yang tajam, Jacob membalas pertanyaannya.
"Dan karena AI itu sudah terbukti nyata, atasan meminta sebagian besar agen FBI yang ada untuk memburunya sekali lagi. Kini, kita tahu betul apa yang kita cari. Dan kita takkan membiarkannya lepas lagi untuk kedua kalinya."
Emma nampak menambahkan beberapa kalimat dalam perkataan Jacob.
"Melihat bagaimana AI ini benar-benar melakukan riset dan belajar, hanya masalah waktu saja sebelum AI itu melampaui kemampuan seluruh umat manusia. Kesempatan kita hanyalah saat ini."
Semua orang segera berdiri dari kursinya.
Mereka semua sadar atas bahaya dari AI bernama Prometheus ini.
Mencemooh robot Prometheus yang menyerupai rongsokan? Itu karena pada saat sebelumnya, Prometheus masih belum memiliki cukup banyak data dan tenaga.
Bagaimana jika Prometheus belajar lebih lanjut? Memperoleh pengetahuan yang setara dengan manusia? Dan tenaga kerja yang setara dengan pabrik?
Semua agen FBI yang ada di ruangan ini tahu.
Jika itu terjadi, peluang besarnya bukanlah sebuah rongsokan yang akan mereka hadapi.
Melainkan ribuan prajurit Droid bersenjata lengkap tingkat militer membantai seluruh manusia di sekitarnya.
Atau dengan kalimat yang lebih sederhana....
Adalah peperangan antara manusia dan AI, sebuah kecerdasan buatan manusia itu sendiri.
Yang kini, berbalik arah dan mengarahkan taringnya kepada umat manusia.
"Ku nantikan kerjasamanya, Agen Victor." Ucap Natalia yang segera berdiri meninggalkan ruangan rapat ini.
__ADS_1
Tapi sebelum itu, Ia menarik kartu identitas FBI miliknya yang tergeletak di meja dan mengalungkannya pada lehernya.
Meninggalkan Agen Victor ketakutan dengan semua informasi mengenai Prometheus ini.