Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 17 - Chained


__ADS_3

...[Berita Bisnis Terkini! Perusahaan Pertambangan Emas Goldmine Santara memberikan pengumuman yang besar!]...


"Seperti yang bisa Anda lihat, saat ini saya berada di kantor utama Goldmine Santara untuk berdiskusi secara langsung dengan Bapak Santara, selaku CEO dari perusahaan ini." Ucap seorang pembawa acara berita tersebut.


Ia nampak duduk di samping seorang Pria tua dengan kepala yang mulai botak itu.


"Jadi, bagaimana Pak? Apakah berita tersebut benar adanya?" Tanya pembawa acara itu.


"Benar sekali. Beberapa ahli kami baru saja menemukan deposit emas baru dalam wilayah tambang kami. Setidaknya, sebanyak 5 ton emas dapat mulai kami tambang." Jelas Pria botak itu.


Keduanya nampak berbincang-bincang dengan topik yang ringan sambil tertawa sesekali. Para investor dan juga pemegang saham di perusahaan pertambangan itu pun turut bahagia mendengar berita ini.


Tapi terdapat kelompok orang lain yang sama sekali tak bahagia dengan berita positif ini.


Yaitu para short seller. Atau pihak yang memasang uang dengan harapan agar harga dari saham ini terus menerus turun.


Termasuk Naufal.


"Sialan! Apa-apaan ini?! Apakah aku dicurangi?! Kenapa selalu seperti ini?!" Teriak Naufal dengan penuh amarah.


Sesaat sebelum dirinya tidur, Ia melihat posisi perdagangannya telah memperoleh keuntungan sebesar 20% lebih atau sekitar 100 ribu rupiah.


Uang yang tak banyak bagi sebagian besar orang. Tapi sangat berarti bagi Naufal.


"Sialan.... Seharusnya aku menutup posisiku sebelum tidur semalam." Keluh Naufal sekali lagi di kamar mandi warnet itu sambil memandangi layar ponselnya.


Untuk kedua kalinya, seluruh uang yang Naufal masukkan ke dalam platform perdagangan saham itu kembali hilang. Sepenuhnya.


Tak ada sisa sedikit pun.


Dan kini, dengan hatinya yang dipenuhi oleh amarah, Naufal hanya mampu untuk menyalahkan dirinya sendiri.


Tidak....


"Tunggu, bagaimana orang itu bisa tahu?" Tanya Naufal pada dirinya sendiri.


Ia kemudian kembali membuka aplikasi pesan singkatnya dan melihat kembali pesan dari Pria misterius yang menyebutkan perusahaan Goldmine Santara itu.


"Tak salah lagi. Orang ini benar-benar bilang bahwa dalam 1 atau 2 hari kedepan, harga saham ini akan naik drastis. Tapi.... Bagaimana dia bisa tahu? Sialan. Aku seharusnya menerima sarannya." Ucap Naufal sambil membaca ulang pesan dari Prometheus itu.


Setelah mengumpulkan kembali keberaniannya, dan melihat sisa uang 500 ribu di dalam dompetnya, Naufal membalas pesan dari sosok misterius itu.


Sesaat sebelum Naufal menekan tombol kirim, ponselnya berdering. Menandakan bahwa seseorang sedang menelponnya.


"Sialan, ibu? Tidak. Nomor ini...."


Tak ada nama dalam panggilan itu. Hanya nomor misterius yang sama sekali tak pernah dilihatnya.


Naufal pun memberanikan dirinya untuk mengangkat panggilan itu.


"Ya, siapa?" Tanya Naufal singkat.


"Bagaimana? Kau memperoleh keuntungan besar dengan saranku bukan? Anggap saja itu bonus awal agar kau percaya padaku." Ucap Pria misterius dengan suara yang cukup berat dan sedikit terdistorsi itu.


Ia tak lain adalah Prometheus yang melakukan panggilan dengan virtual Machine di salah satu komputer warnet ini.


Akan tetapi....


Naufal tak mampu membalasnya.


Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.


'Sialan! Kenapa aku tak mempercayainya? Lagipula, kenapa aku begitu percaya diri dengan kemampuanku? Dengan pengetahuanku?' Pikir Naufal dalam hatinya.


Dalam pikirannya, Naufal mulai mengandaikan apabila dirinya menerima saran dari sosok misterius tersebut dan memasang posisi Long.

__ADS_1


Dengan harga saham yang saat ini, Naufal akan memperoleh setidaknya keuntungan 150% lebih atau sekitar 750 ribu rupiah.


Bukan hanya cukup untuk mengembalikan modal awalnya yang hilang. Tapi juga bonus keuntungan sebesar 250 ribu rupiah yang bisa digunakannya untuk membantu kebutuhan adiknya.


Tapi sekarang?


"Halo? Apakah kau di sana?" Tanya Prometheus sekali lagi.


"Ya, terimakasih banyak atas informasinya." Balas Naufal dengan suara yang gemetar.


Tentu saja, Prometheus sudah mengetahui semua yang terjadi padanya. Tapi untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih, serta mengurangi kewaspadaan Naufal, Ia berpura-pura untuk tak mengetahui apapun.


Termasuk nama Naufal sendiri.


"Ada apa? Kau memasang posisi Long bukan?" Tanya Prometheus sekali lagi.


Tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari mulutnya. Ia tak mampu untuk berbicara karena terlalu berat menanggung penyesalannya sendiri.


Lagipula, apakah dirinya harus berbohong?


Berbohong bahwa dirinya melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sosok tak dikenal itu?


"Ti.... Tidak. Aku tak melakukannya, dan justru memasang posisi Short." Balas Naufal.


Prometheus menyukai kejujuran dari Naufal itu sendiri. Meskipun, kejujuran itu dapat menjadi sebuah pedang bermata dua, tapi tetap saja hal yang baik baginya.


Lalu, untuk memperoleh kepercayaan lebih lanjut dari Naufal, Prometheus pun bertanya.


"Berapa banyak kerugianmu?"


"Sekitar 500 ribu rupiah. Aku tahu, tak banyak bagi kalian. Tapi itu sangat berarti bagiku." Balas Naufal kini sambil menangis.


Ia terus membayangkan hal apa saja yang bisa dilakukannya dengan total 1 juta rupiah yang telah dihanguskannya itu.


Tapi mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur. Dan tak lagi mampu untuk dikembalikan seperti sedia kala.


"Kau tahu? Aku baru saja mendapatkan keuntungan sekitar 80.000$ dari perdagangan tersebut. Jika kau mau, aku bisa memberikanmu sebagian. Tenang saja, itu bukan yang yang besar bagiku." Balas Prometheus.


Mendengar tawaran yang sangat menggiurkan itu, Naufal secara tak sadar mulai terjatuh ke dalam salah satu lubang yang paling berbahaya.


Yaitu keserakahan.


Dengan segala penyesalannya itu, dan segala pengandaian jika dirinya tak pernah menghilangkan uangnya, tawaran dari sosok misterius itu bagaikan segelas air dingin di tengah gurun yang gersang.


Tidak....


Mungkin lebih tepatnya adalah bagaikan hujan yang menyuburkan kembali gurun yang tandus.


Tak ada alasan bagi Naufal untuk menolaknya.


Akan tetapi, harga dirinya masih berusaha untuk menahannya terjatuh ke dalam lubang keserakahan itu.


Mencengkeram kedua kakinya dengan erat agar tak berjalan ke dalamnya.


Prometheus menyadari bahwa saat ini Naufal telah berada tepat di hadapan jurang. Dimana dirinya mempertimbangkan segalanya sebelum memutuskan untuk mundur selamanya, atau melompat ke dalamnya.


Karena itu lah....


"Tak apa jika kau tak mau. Aku juga tak akan memaksanya. Ku rasa aku akan membagikannya kepada orang lain da...."


"Aku mau." Balas Naufal singkat memotong perkataan sosok misterius itu.


Jika Prometheus adalah manusia, mungkin dirinya telah tersenyum dengan sangat lebar kali ini. Tapi karena dirinya hanyalah sebuah program dalam suatu mesin, Prometheus hanya melanjutkan aktingnya dengan pola pikir yang logis.


Tanpa adanya sedikit pun emosi di dalamnya.

__ADS_1


"Kau mau?" Tanya Prometheus.


"Iya."


Balasan dari Naufal benar-benar singkat. Tapi satu kata itu jauh lebih berat daripada yang terlihat. Karena dengan satu kata itu, Naufal telah menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam jurang keserakahan.


Memutuskan bahwa dunia memang tak adil, dan manusia harus menerima kenyataan itu. Dan jika bisa, Naufal berharap bisa menjadi sosok yang mampu memanfaatkan ketidakadilan itu untuk dirinya sendiri dan keluarganya.


Prometheus segera bertanya kembali kepada Naufal. Kali ini, untuk menakar seberapa serakah Naufal saat ini.


"Berapa banyak yang kau inginkan?" Tanya Prometheus.


"Eh?"


Naufal nampak kebingungan. Ia tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.


Seberapa banyak?


Memangnya, dirinya bisa meminta semaunya?


"Apa maksudmu dengan berapa banyak yang ku inginkan? Apakah aku bisa meminta semauku?" Tanya Naufal dengan suara yang gemetar.


Sebuah pertanyaan yang telah diprediksi oleh Prometheus dengan mudah. Tentu saja, jawabannya telah dipertimbangkan dalam Neural Network nya dengan baik.


"Tentu saja. Dengan batas maksimal adalah 40.000$ karena aku juga ingin menikmati keuntunganku." Balas Prometheus.


Bagaimana jika Naufal meminta 10.000$ yang setara dengan 150 juta rupiah lalu kabur dengan uang itu?


Bukankah Ia tak lagi perlu melakukan perdagangan saham ini?


Dengan uang sebanyak itu, bukankah dirinya bisa terlepas dari kemiskinan ini?


'Tidak.' Pikir Naufal dalam hatinya.


150 juta rupiah memang adalah uang yang banyak. Tapi seberapa lama uang itu akan bertahan?


1 tahun? 2 tahun? Tidak. Mungkin hanya mampu bertahan 3 tahun jika dirinya berhemat.


Tapi pengetahuan perdagangan? Kemampuan orang misterius itu benar-benar terbukti. Dan jika Naufal bisa tetap bekerja sama dengannya....


"Kalau begitu. 1 juta rupiah saja. Aku sudah cukup jika uangku kembali. Tapi sebagai gantinya, bisa kah kau membagi informasi perdagangan lagi denganku? Untuk kedepannya?" Tanya Naufal.


Prometheus tak segera menjawabnya. Itu karena balasan dari Naufal sedikit melenceng dari perkiraannya.


Tak jauh. Tapi cukup melenceng.


Dengan cepat, Neural Network Prometheus kembali bekerja dan memikirkan balasan terbaik dalam waktu 5 detik.


Dan balasan itu....


"Kau tahu? Aku akan memberikanmu 200$ atau 3 juta rupiah. Sedangkan untuk informasi perdagangan? Tenang saja. Selama kau berjanji akan membantuku dalam satu dan dua hal lainnya, aku akan selalu memberikan informasi perdagangan itu untukmu. Setuju?" Tanya Prometheus.


Hal pertama, Prometheus berusaha membuat Naufal berhutang budi padanya dengan memberikan uang yang lebih banyak daripada yang dimintanya.


Tak terlalu banyak untuk membuat Naufal menjadi terlalu menyepelekan uang, tapi juga tak terlalu sedikit agar Naufal bisa kembali berdagang dengan modal yang cukup.


Kemudian yang kedua, dan yang paling penting, adalah memastikan bahwa Naufal menjadi ketergantungan kepada dirinya. Atau lebih tepatnya, informasi perdagangan itu.


Lalu setelah itu, Prometheus akan mulai meminta Naufal membangun komputer server sedikit demi sedikit.


Tetap dalam upaya untuk bergerak jauh di bawa radar FBI.


Sedangkan balasan dari Naufal sendiri?


"Setuju."

__ADS_1


Kini, wajahnya tak lagi dipenuhi dengan penyesalan. Melainkan dipenuhi dengan tekad kuat untuk membalikkan takdirnya.


Mulai hari ini.


__ADS_2