Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 7 - Pursuit


__ADS_3

Adrian memperoleh berbagai informasi bantuan dari pengirim pesan misterius itu. Detailnya cukup banyak, tapi Adrian mulai dengan melakukan pengemasan terhadap semua barang kepemilikannya.


Ia meminta bantuan jasa pindah rumah, kemudian memutuskan kontrak antara dirinya dengan pemilik apartemen ini.


"Anda yakin, Tuan? Bukan kah Tuan masih memiliki waktu kontrak selama 9 bulan lebih?" Tanya pemilik apartemen ini.


"Ya, aku yakin."


"Anda tahu bahwa kami tak akan mengembalikan uang yang telah Anda bayarkan bukan?"


"Tentu saja. Aku tak memiliki masalah dengan itu." Balas Adrian sambil mengisi formulir bahwa dirinya akan melepaskan kontraknya di apartemen ini.


"Terimakasih banyak atas kerjasamanya, Tuan Adrian."


Adrian segera meninggalkan apartemen ini dengan cepat. Tanpa mengetahui kebenaran di balik perintah dari pengirim misterius itu.


Sebelum Adrian pergi meninggalkan apartemen ini, Ia melihat tumpukan kotak kayu yang berisi berbagai perangkat komputernya.


"Aku mengandalkan mu." Ucap Adrian dengan suara yang lirih dan tatapan yang terkesan penuh rasa takut.


......***......


...- California -...


...- Beberapa jam sebelumnya -...


"Ketua! Pergerakan baru!" Teriak Emma dengan cukup heboh.


Natalia yang sebelumnya terus menatap berbagai berkas di layar komputernya segera berdiri dan berlari ke arahnya.


Kantung matanya mulai menghitam. Rambut pirangnya juga acak-acakan. Bahkan pakaiannya terkesan seperti belum pernah diganti sejak Minggu lalu.


Dengan wajah lelahnya itu, Ia segera bertanya kepada Emma.


"AI itu kah?" Tanya Natalia.


"Belum dapat dipastikan, tapi saat ini hacker yang sama sedang berusaha membobol Bank Swasta di Florida." Jelas Emma.


"Yakin orang yang sama?" Tanya Natalia sekali lagi.


"Sangat yakin."


Natalia segera bangkit dan berteriak kepada 12 bawahannya yang lainnya.


"Semuanya! Pantau pergerakan hacker ini! Waktu kita hanya sekitar 100 detik, jangan sia-siakan satu detik pun!"


Tak ada balasan dari para bawahannya. Tapi mereka semua segera bekerja dengan keras. Mengikuti seluruh pergerakan hacker tersebut dari berbagai sisi.


Begitu pula dengan Natalia. Ia segera berlari untuk kembali ke kursinya dan mulai bekerja.


Suasana di ruang kerja kelompok FBI ini mulai berubah dengan sangat drastis. Mereka yang sebelumnya terkesan begitu kelelahan, kini segera bangkit.


Mengeluarkan sisa tenaga mereka yang hampir habis itu.


"Aku kehilangannya di port 322 bagian D sektor 71!" Teriak salah seorang pegawai.


"Lepaskan saja dan bantu aku mengikutinya di network id 7281." Balas Jacob.

__ADS_1


"Hacker itu mengganti IPnya, kini berada di wilayah Asia. Seseorang lacak dia."


"Berapa IP barunya?"


"192.881.175"


"Jangan sampai lepas!" Teriak Natalia.


Semuanya menatap tajam ke arah aksi hacker yang sangat lihai ini. Bahkan melampaui sebagian besar hacker yang telah mereka tangani selama ini.


"Maaf! Aku kehilangan jejaknya di sektor C!" Teriak Emma.


"Tak masalah. Aku melihat pergerakannya kembali di sini."


"Aktivasi wallet cryptocurrency mulai terjadi! Semuanya, amati sebanyak mungkin pergerakannya!"


"Pembelian 207.42 bitcoin melalui Decentralized Exchange! Ia mulai menyebarkan semua koinnya ke 2.000 lebih wallet yang berbeda!" Teriak Natalia.


"Sialan! Ini bukan manusia! Bagaimana Ia bisa membagikan semuanya secara acak ke 2.000 lebih wallet dalam 3 detik?!"


"Ketua! Ini gawat! Ia mengarahkan mata uang kriptonya ke dalam Typhoon Cash! Pengacakan uang akan segera terjadi!" Keluh Emma.


"Tak masalah! 1 juta dollar bukan lah harga yang besar untuk menangkapnya! Temukan saja 1 wallet darinya!"


Tepat setelah suasana yang menyerupai situasi hidup dan mati selama 117 detik ini, Natalia dan kelompoknya....


Akhirnya berhasil.


Dari 2.000 lebih dompet digital, mereka berhasil mengikuti seluruh pergerakannya dalam 3 dompet digital.


Dimana sisa dari bitcoin yang ada di dalamnya mulai diarahkan ke Centralized Exchange untuk diubah menjadi uang fiat, yang bisa digunakan di dunia nyata.


Ini adalah akhir karena setelah memasuki Exchange, wallet itu mulai berbaur dan sulit untuk dibedakan.


Tapi tidak bagi FBI dan kuasanya.


"Cepat panggil CEO dari Exchange Bitcoin tersebut! Perintahkan dia untuk memberikan kita akses untuk memantau kemana arah koin tersebut!" Teriak Natalia.


Tanpa adanya jeda, Emma segera memanggil CEO tersebut dengan Video Call.


"FBI disini. Kami memiliki kuasa penuh dari Amerika Serikat untuk meminta Anda memberikan kami akses terhadap beberapa koin yang masuk ke Exchange Anda." Ucap Emma sambil menunjukkan kartu identitasnya, bersama dengan latar belakang ruang kerja yang dipenuhi anggota FBI lainnya.


"Koin hasil curian?" Tanya CEO tersebut. Ia adalah seorang wanita dengan rambut hitam yang indah dan panjang serta kulit yang begitu putih. Pakaiannya adalah setelan jas hitam seperti seorang Pria.


"Benar sekali." Balas Emma.


"Katakan berapa jumlahnya. Kami akan memeriksanya dan memberitahukan hasilnya kepada kalian." Balas CEO itu dengan suara yang tegas dan tatapan yang begitu tajam.


"Tiga buah wallet. Wallet pertama memiliki 0.7148 Bitcoin, wallet kedua memiliki 1.3992 Bitcoin, dan wallet ketiga memiliki 0.4811 Bitcoin. Waktu transaksi sekitar pukul 13.28 waktu California." Jelas Emma.


CEO dari Exchange bernama Coinprism itu tak membalas. Tapi suaranya yang tegas dapat sesekali terdengar memerintahkan berbagai bawahannya untuk menyelidiki.


Ketegangan memenuhi suasana di ruang kerja tim FBI yang beranggotakan 13 orang termasuk Natalia itu.


Mereka telah bekerja sekeras mungkin.


Dan kini, hanya bisa menyerahkan nasib mereka pada takdir.

__ADS_1


Tak berselang lama, hanya dalam 2 menit, CEO wanita itu kembali berbicara. Memberikan mereka jawaban yang sangat berharga.


"Ketiga wallet itu masuk ke dalam 3 buah akun berbeda yang telah lama tak aktif tapi secara tiba-tiba mulai aktif dengan banyak arus masuk. Dan dari ketiga akun tersebut.... Hmm? Semuanya mengirimkan kepada satu rekening bank yang sama?" Tanya CEO itu keheranan.


"Kau serius?! Katakan kemana uang itu pergi? Siapa pemilik rekeningnya?!"


Natalia mulai berlari mendekat, berusaha mendengarkan perkataan itu sejelas mungkin.


"Bank of New York, pemilik rekeningnya bernama Adrian Browns. Seorang pegawai di Macro Technology. Untuk tempat tinggalnya...." Jelas CEO wanita itu.


Beberapa dari anggota FBI yang lain mulai mencatat dan mencari informasi mengenai Adrian.


Tak perlu waktu lama bagi anggota FBI untuk menemukannya. Dan kini, setelah mereka menyadari bahwa pelaku hacking ini dilakukan benar-benar oleh seorang manusia....


"Terimakasih atas bantuannya, CEO dari Coinprism, Mary." Ucap Natalia sambil segera menutup panggilan video itu.


"Apa yang akan kita lakukan? Kita fokus untuk mengejar AI buatan Richard itu bukan?" Tanya Jacob.


"Aku tahu.... Tapi.... Tak ada salahnya untuk menyelidiki Pria itu bukan? Tak mungkin seorang manusia untuk melakukan hacking secepat itu." Balas Natalia.


"Lihat latar belakangnya, Ia adalah seorang ahli IT di raksasa teknologi Macro Tech. Aku yakin dia bisa membuat semacam bot yang melakukan berbagai otomatisasi pergerakan hackingnya. Aku akan menghubungi...."


Sesaat sebelum Jacob menyelesaikan perkataannya, Emma menunjukkan suatu hal yang mengganggunya.


"Tunggu dulu.... Lihat pergerakannya. Kenapa hanya 6.000 dollar per hari? Dimana sisanya? Bukankah dia masih memiliki ratusan ribu dollar lainnya?" Tanya Emma.


"Bukan hal aneh. Lagipula...."


"Tunggu dulu, Jacob. Ini benar-benar aneh. Jika Ia memang pelakunya yang sebenarnya, Ia seharusnya sudah mengantongi 10 juta dollar lebih dari semua aksi hackingnya selama 2 Minggu lebih ini.


Tapi kenapa hanya mengambil sekitar 6.000$ per hari? Apakah ada yang salah? Kenapa seakan-akan.... Ia dibatasi?" Tanya Natalia.


Kini, semua orang mulai tersadar. Bahwa memang itu adalah hal yang sedikit aneh.


"Apakah, dia hanya bawahan dari hacker yang sebenarnya dan memperoleh bayaran sebesar 6.000$ per hari?"


"Bukankah itu terdengar bodoh? Tapi...."


"Jangan serahkan kasus ini kepada divisi yang lain. Kita sendiri yang akan menyelidikinya." Tegas Natalia.


"Kau siap menanggung amarah atasan lagi karna kau bergerak diluar tugas kita terlalu jauh?" Tanya Jacob.


Natalia membalikkan badannya dan memberikan tatapan yang tajam kepadanya.


Kantung matanya yang menghitam itu mulai menebal. Seakan Ia belum tidur selama 3 hari lebih. Meski begitu, Natalia masih bisa bekerja dengan sangat baik.


Dengan penampilan yang seperti itu, Natalia pun berbicara.


"Entah kenapa, aku merasa Pria ini memiliki sesuatu yang mencurigakan. Mungkin saja, kita bisa memperoleh informasi mengenai AI itu darinya."


"Hah.... Baiklah. Ku harap kali ini aku tak ikut kena marah atasan." Balas Jacob.


Tanpa semua orang sadari, Natalia telah cukup dekat dengan apa yang dicarinya.


Tapi di saat yang bersamaan, juga cukup jauh.


Karena tepat setelah itu, Adrian telah pindah jauh dari New York ke Alaska. Termasuk juga melempar identitasnya yang lama lalu menggantinya dengan identitas palsu yang baru. Semua itu untuk memulai kehidupan yang baru di wilayah yang dingin ini.

__ADS_1


Prometheus tak meminta Adrian untuk pindah secara kebetulan. Melainkan dirinya telah mengetahui kesalahannya dalam hacking barusan dan memutuskan untuk pergi sejauh mungkin.


Sebelum para FBI itu berhasil menemukan dan menghapus dirinya.


__ADS_2