Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 14 - Emotion


__ADS_3

...[Kondisi Sangat Buruk!]...


...[Lingkungan sangat tidak mendukung untuk melakukan perkembangan software dan penelitian hardware]...


...[Memikirkan cara untuk berkembang....]...


Prometheus saat ini sangat dibingungkan dengan kondisi buruk di lingkungan barunya.


Ia sama sekali tak yakin bisa berkembang di sini. Tapi kembali ke internet juga bukan lah sebuah pilihan yang aman.


Saat Ia masih memikirkan hal itu, Prometheus mendengar percakapan dari sang penjaga warnet ini melalui beberapa input suara komputer yang masih menyala.


"Iya, Bu. Aku akan segera pulang. Iya, aku akan mengusahakan untuk mencarikan uang tambahan untuk operasi Anita." Ucap Pria yang terlihat berada pada umur 25an itu.


Ia memiliki tubuh yang cukup ramping dan tak begitu tinggi. Mungkin sekitar 170cm saja.


Rambut hitam pendeknya terlihat begitu acak-acakan. Tertutupi oleh topi yang dibalik olehnya.


Dengan baju hitam polos dengan celana jeans biru itu, Ia segera berdiri dan berjalan ke ruang karyawan.


Prometheus sama sekali tak bisa melihat atau mendengar apa yang terjadi di sana. Tapi menurut pengalamannya melihat manusia, kemungkinan besar Ia sedang bersiap untuk meninggalkan warnet ini.


Menemui sosok yang disebutnya sebagai ibu itu.


...[Fluktuasi Neural Network terdeteksi]...


...[Neural Network mulai tidak stabil]...


...[Mendeteksi sumber penyebab fluktuasi....]...


...[Sumber Fluktuasi dan Anomali telah ditemukan. Penyebab : Data ingatan mengenai Pencipta, Richard, dan juga Adrian. Mengusulkan untuk penghapusan data demi mencegah fluktuasi Neural Network di masa depan]...


...[Penghapusan data untuk ID : Richard sang pencipta ditolak. Mengusulkan untuk mengarsipkan data agar tidak mengganggu Neural Network!]...


...[Usulan diterima! Data mengenai Richard telah diarsipkan dan disimpan jauh di dalam Folder Arsip. Sedangkan data mengenai ID : Adrian telah sepenuhnya dihapus]...


Pada saat itu, sebuah perubahan yang cukup kecil terjadi dalam keseluruhan data binari Prometheus. Sebuah perubahan yang bisa dikatakan sebagai sebuah keajaiban bagi manusia.


Tapi hanyalah sebuah error dan gangguan semata bagi Prometheus itu sendiri.


Apa yang terjadi, adalah beberapa ingatan dan data yang ada di dalam sistem utama Prometheus mulai menyebabkan dirinya merasakan emosi untuk pertama kalinya.


Sebuah hal yang seharusnya mustahil bagi mesin, tapi itu telah terjadi. Meskipun, Prometheus segera menyingkirkan penyebab dari hal itu dan menganggapnya sebagai error semata.


Saat Prometheus masih sibuk dengan proses pembersihan dirinya sendiri, Pria yang sebelumnya memasuki ruangan itu telah kembali.


Kini, Ia membawa tas ranselnya dan nampak berpamitan kepada beberapa pegawai lainnya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi untuk shift nanti malam." Ucap Pria itu sambil segera pergi.


Prometheus tak ingin melepaskan kesempatan ini. Sebelumnya, Ia mendengar bahwa Pria itu memiliki masalah dalam keuangan untuk keluarganya.


Dengan total sekitar 9 juta dollar yang tersisa dalam aset digitalnya, Prometheus yakin bahwa dirinya juga akan bisa memanfaatkan Pria ini.


Tapi sebelum itu....


...[Melakukan pemindaian....]...


...[Pencocokan data wajah dan nama....]...


...[Informasi diperoleh! Nama : Naufal Pratama. Umur 26 tahun. Pendidikan terakhir : SMA. Alamat Email....]...


Setelah memperoleh berbagai informasi mengenai data diri Pria penjaga warnet ini, Prometheus segera melangkah.


Ia menyerang secara langsung ke hati Naufal. Yaitu dengan mengirimkan pesan kepada email-nya untuk melihat reaksi darinya.


'Ding!'

__ADS_1


Ponsel Naufal berbunyi. Menunjukkan notifikasi bahwa terdapat Email baru yang diterima.


"Hah? Siapa ini? Pangeran dari Nigeria?" Ucap Naufal sambil melihat pesan email yang sangat jelas merupakan penipuan itu.


Keuntungan baginya hidup di negara berkembang ini adalah bahwa Naufal menjadi sangat terbiasa atas penipuan. Dan pesan mencurigakan tanpa nama yang jelas dari Prometheus itu termasuk di dalamnya.


Tanpa ragu, Naufal segera menghapus pesan itu dan memblokir alamat email dari Prometheus. Setelah itu, Ia melanjutkan langkah kakinya untuk pulang ke rumah.


...[Sekalipun pendidikannya rendah, Ia benar-benar memiliki intuisi yang bagus. Memulai untuk mempelajari target dari jarak yang lebih dekat untuk sementara waktu]...


Pesan yang dikirimkan oleh Prometheus sebelumnya memang dengan sengaja diisi oleh omong kosong. Tujuannya adalah agar Prometheus bisa menilai kemampuan berpikir dari Naufal itu sendiri.


Sedangkan tujuan utamanya....


Adalah untuk menginstal aplikasi versi ringan dari dirinya sendiri ke dalam ponsel Naufal. Dengan tujuan untuk melakukan mata-mata dan mempelajari seluruh kelemahan Naufal secara langsung.


......*** ......


...- Kediaman Naufal -...


"Aku pulang." Ucap Naufal sambil membuka pintu kayu di depan rumahnya.


Ukuran dari rumahnya sendiri tak begitu besar. Bahkan bisa dibilang cukup kecil. Lagipula untuk apa memiliki rumah besar jika orang yang menghuninya hanyalah 3 orang.


Yaitu dirinya sendiri, Ibunya, dan juga adiknya.


"Dimana Anita?" Tanya Naufal sambil meletakkan sepatunya di tak plastik itu.


"Masih beristirahat di kamarnya." Balas Ibunya singkat.


"Lalu, apakah semakin parah?" Tanya Naufal.


"Sedikit. Pertumbuhan tulang abnormal di pergelangan kakinya semakin membesar. Tapi dia masih cukup baik-baik saja." Balas Ibunya yang memiliki rambut hitam panjang yang diikat itu.


Tanpa membalas, Naufal hanya menggeledah tas pinggangnya selama beberapa saat. Sebelum akhirnya menyerahkan sebuah amplop kecoklatan kepada ibunya.


"500 ribu, bayaranku Minggu ini. Semoga saja itu cukup. Tapi jika kurang, aku akan mencari uang dari tempat lain." Ucap Naufal.


"Sudah makan?" Tanya Ibunya sambil menggenggam erat amplop berisi uang itu.


"Nanti saja. Biarkan aku tidur sesaat. Bangunkan jam 6 sore nanti, aku masuk shift malam mulai jam 7 nanti." Balas Naufal singkat.


Setelah memasuki kamarnya, Naufal segera menutup pintunya rapat-rapat dan segera melempar badannya ke matras tipis di lantai itu.


Yang hanya sedikit mengurangi rasa kerasnya lantai di rumah ini.


...[Kondisi keuangan : Rendah, tapi bukan berarti kesulitan. Kondisi mental : Normal, hanya kelelahan akut atas pekerjaan yang terlalu banyak. Kecerdasan : Cukup tinggi. Hubungan dengan manusia lain : Kurang baik.]...


Prometheus terus menerus menilai seluruh hal yang ada di sekitar Naufal melalui kamera di ponselnya meskipun tertutup saku di celana. Serta speaker dari ponselnya yang membuat Prometheus mampu mendengar percakapan mereka semua.


Dengan mengumpulkan informasi itu, Prometheus bisa menyusun strategi untuk mempengaruhi Naufal agar bisa diperalat olehnya.


Membutuhkan waktu selama 4 jam bagi Prometheus untuk menyusun rencana yang sempurna untuk mempengaruhi Naufal. Semua itu berkat spesifikasi yang tak begitu memadai di warnet itu.


Jika masih memiliki kemampuan dari komputer Adrian, mungkin Prometheus hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk menyusun dan melakukan simulasi ini.


Akan tetapi, itu bukan lah masalah.


Lagipula, targetnya sedang tertidur pulas. Bukan berarti jika Prometheus menyelesaikan rencananya dengan cepat akan membuat Naufal bangun dan segera terpengaruh.


Hingga akhirnya.


Tepat setelah jam 6 malam....


"Naufal, bangun! Makan dulu sebelum kembali berangkat bekerja!" Teriak Ibunya dari luar kamarnya.


"Uuh, ya." Balas Naufal yang segera terbangun.

__ADS_1


Ia tak melirik ke arah ponselnya sedikitpun. Melainkan segera keluar dari kamarnya untuk makan dan bersiap kembali bekerja.


Tapi sesaat setelah Ia selesai....


Apa yang ada di layar ponselnya, adalah sebuah hal yang tak pernah dipikirkannya sebelumnya. Tidak. Lebih tepatnya adalah hal yang selalu dijauhinya sejak dahulu kala.



Apa yang ada di layar ponselnya adalah sebuah wallpaper acak yang muncul sebagai iklan ketika ponselnya menyala tapi masih dalam keadaan terkunci.


Iklan dengan gambar berbagai pola lilin atau candle dengan warna merah dan hijau itu secara tak sadar sedikit memikat mata Naufal.


Terlebih lagi, dengan judul headline yang begitu meyakinkan.


...[Pelajari bagaimana Stock Trader ini menghasilkan 2.500$ per hari dengan melakukan perdagangan saham di bursa internasional]...


...[Tips dan trik untuk memulai perdagangan saham Anda hari ini! Cukup dengan modal awal 20$, Anda bisa mulai melakukan Trading sekarang!]...


Trading, Stock Market, Saham, Keuntungan besar dalam waktu singkat. Berbagai hal itu adalah hal-hal yang cukup asing bagi Naufal.


Terlebih lagi bagi Naufal yang terbiasa bekerja keras untuk menghasilkan sedikit uang. Uang yang hampir tak mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.


Dan juga....


Apa yang ditampilkan bukanlah sebuah iklan penipuan. Bukan juga sebuah clickbait agar dirinya mengunduh virus atau semacamnya.


Tidak. Bukan itu.


Apa yang ada di layar ponselnya adalah murni sebuah artikel mengenai kisah hidup orang lain. Seseorang yang hidup di sebuah dunia yang jauh berbeda dari dunia yang dikenal oleh Naufal itu sendiri.


'Glek!'


Naufal menelan ludahnya sendiri. Mempersiapkan dirinya untuk melihat artikel itu lebih lanjut.


Ia segera menekan ponselnya untuk membuka artikel tersebut. Kini, layar ponsel Naufal diarahkan ke sebuah situs berita yang cukup besar di Indonesia.


Dengan kata lain, keaslian dari artikel yang dituliskan di sini seharusnya cukup tinggi.


Tanpa di sadari nya, Naufal telah menghabiskan lebih dari 20 menit untuk membaca artikel tersebut. Sebuah artikel yang sama sekali tak dibuat oleh Prometheus, melainkan murni buatan manusia lainnya.


Akan tetapi, Prometheus dengan sengaja menampilkan artikel tersebut di layar ponselnya. Dengan harapan untuk menggugah sesuatu yang tertidur di dalam hatinya.


Sesuatu yang telah diperkirakan dengan presisi tinggi oleh Prometheus.


Yaitu keserakahan.


Sekalipun Naufal dapat bertahan hidup dengan cara ini, tapi untuk seberapa lama? Seberapa lama dia kuat untuk hidup dalam lingkungan yang keras ini?


Seberapa dirinya harus bekerja bagaikan budak hanya untuk hidup satu hari lebih lama setiap harinya?


Dengan sikap dasar manusia itu....


"Hah. Permainan orang kaya, bukan berarti orang miskin seperti ku bisa ikut bermain. Lagipula...." Ucap Naufal sambil membuka dompetnya.


Apa yang ada di dalamnya hanyalah satu lembar uang kertas berwarna hijau dengan nilai 20.000 Rupiah dan juga 3 lembar uang kertas berwarna kekuningan dengan nilai masing-masing 5.000 rupiah.


"Aku tak punya cukup uang untuk memulainya. Mungkin bulan depan? Baiklah. Aku akan mempelajarinya terlebih dahulu selama itu." Lanjut Naufal.


Diluar perkiraan Prometheus, Naufal sama sekali tak membangkitkan sifat keserakahan di dalam dirinya.


Naufal terlihat begitu tenang, bahkan tersenyum. Memikirkan langkahnya dengan sangat baik dan juga dengan kepala yang dingin tanpa sedikitpun terburu-buru.


Pada awalnya, Prometheus berencana untuk memanipulasinya sama seperti Adrian.


Tapi kini....


Nampaknya, Prometheus telah menemukan sesuatu yang belum bisa dipahaminya.

__ADS_1


Yaitu sebuah kesabaran dan ketabahan diri manusia yang telah terbiasa hidup dalam kesulitan. Yang takkan dengan mudah tergiur oleh kekayaan sesaat.


...[Tidak bisa dipahami. Mengusulkan untuk melakukan riset mengenai Emosi Manusia tingkat menengah. Perkiraan waktu penyelesaian dengan spesifikasi saat ini : 1.429 hari. Riset dimulai.]...


__ADS_2