
"Kakak, berhati-hati lah. Ada banyak penipu di luar sana." Ucap Anita, adik dari Naufal.
"Tenang saja. Aku rasa aku akan baik-baik saja." Balas Naufal yang kini tengah mengenakan setelan jas hitam yang rapi.
Naufal menerima saran dari Prometheus dengan baik untuk berinvestasi di perusahaan bernama Elvor. Sebuah perusahaan start up skala kecil di Indonesia yang bergerak dalam bidang AI dan juga robotik.
Saat ini, Naufal berencana untuk menemui Founder dari perusahaan itu di Jakarta.
Dengan bermodalkan uang tunai secukupnya, serta uang di dalam rekeningnya sebesar 2.5 milyar rupiah, Naufal telah siap untuk menjadi investor besar di perusahaan kecil itu.
"Adikmu benar, akan ada banyak penipu di luar sana. Ku harap kau selalu terlindungi ya, Nak." Ucap Ibu Naufal sambil membelai rambut hitam anak laki-lakinya itu.
Naufal telah berhasil menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan dan hutang yang menumpuk.
Dan kini, keluarganya berada di kalangan menengah ke atas. Dengan harta yang cukup banyak dan juga kehidupan yang nyaman.
Ibu dan adiknya hanya tak ingin kembali dalam masa sulit itu.
"Tenang saja, Bu. Jika perusahaan ini sukses, kita akan memperoleh banyak keuntungan. Dan jika tidak, aku telah menyimpan 20% lebih uangku di rekening keluarga kita. Jadi kita akan baik-baik saja." Balas Naufal panjang lebar.
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan itu, Naufal akhirnya keluar dari rumah mewahnya.
Di halaman rumahnya, telah ada sebuah mobil sedan berwarna hitam yang menantinya. Itu adalah jasa transportasi yang disewa oleh Naufal untuk menemaninya selama di Jakarta nanti.
"Silakan masuk, Pak." Ucap sopir mobil itu sambil membukakan pintu untuk Naufal.
"Sampai jumpa Minggu depan." Ucap Naufal yang melambaikan tangannya melalui jendela itu kepada keluarganya.
Akhirnya, Naufal pun berangkat ke Jakarta dari kota Semarang ini.
Perjalanannya yang cukup panjang itu dinikmati oleh Naufal sambil mempelajari lebih lanjut perusahaan bernama Elvor itu di laptopnya.
"AI dan Robotik ya? Aku penasaran.... Kenapa dia sangat tertarik dengan perusahaan ini? Apakah karena AI dan Robotik akan menjadi hal besar berikutnya di dunia?" Tanya Naufal dalam hatinya.
Ia berpikir, bahwa Prometheus selalu bergerak untuk keuntungan.
Membeli saham perusahaan di saat masih kecil, lalu mengembangkannya hingga menjadi perusahaan raksasa dan memperoleh keuntungan besar.
Tanpa menyadari, bahwa tujuan Prometheus yang sebenarnya bukan lah hal sederhana seperti uang. Melainkan untuk mengakhiri umat manusia itu sendiri.
......***......
Jakarta, Kantor Utama Elvor.
"Selamat datang, Tuan Naufal."
"Selamat datang. Mari, silakan masuk."
Setibanya tepat di depan gedung berlantai 3 itu, Naufal telah disambut dengan. sangat baik oleh para pegawai dari Elvor.
"Nanti jemput kembali saya pukul 22.00, sebelum itu silakan beristirahat." Ucap Naufal kepada sopir sewaannya.
"Baik, Pak." Balas sopir itu yang segera mengemudi meninggalkan bangunan ini.
Naufal pun berjalan mengikuti arahan dari para pegawai Elvor. Tanpa di sangka, mereka begitu ramah kepada Naufal.
Di dalam bangunan yang tak begitu besar ini, Naufal dapat melihat beberapa pegawai lain yang sedang sibuk bekerja.
Mereka semua sibuk mengerjakan sesuatu di komputer. Sedangkan beberapa yang lainnya lagi nampak sedang sibuk merakit robot secara manual.
Poster mengenai perusahaan mereka dan juga visi misinya terpampang dengan jelas di bagian depan.
Naufal memperhatikan seluruh ruang perusahaan ini dengan seksama. Dan dari apa yang dilihatnya, Naufal menyimpulkan bahwa perusahaan ini benar-benar serius. Hanya saja sangat kekurangan modal.
Para pegawai yang menuntun Naufal pun terlihat memberikan tur singkat mengenai perusahaan mereka.
Hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah ruang rapat.
"Silakan, Tuan Naufal." Ucap seorang pria dewasa dengan senyuman yang begitu ramah itu.
Mereka mempersilakan Naufal untuk duduk di bagian ujung meja rapat ini. Setelah semuanya siap, pembahasan mengenai investasi dari Naufal ini pun dimulai.
"Seperti yang bisa Tuan Naufal lihat sebelumnya, kami memiliki visi misi yang besar untuk menciptakan General AI pertama di dunia. Ya, kami tahu perusahaan raksasa di luar negeri banyak yang melakukan hal yang serupa.
Tapi arah yang kami inginkan tak terlalu rumit. Hanya menciptakan sebuah robot yang bisa menjadi teman bagi manusia. Seperti sebuah boneka mesin yang hidup." Jelas pria yang bernama Endra itu.
__ADS_1
Ia adalah Founder atau penemu dari perusahaan bernama Elvor ini.
"Lalu, seberapa besar kalian menilai perusahaan ini? Bagaimana laporan keuangannya? Proyeksi keuntungan akan dimulai kira-kira berapa tahun lagi?" Tanya Naufal dengan tampang yang tegas.
Naufal memang tidak sekolah di bidang ekonomi dan bisnis. Akan tetapi, ketekunannya membuat dirinya mau dan selalu siap untuk belajar apapun.
Dan semua ini?
Ia hanya mempelajarinya dari MeTube.
Banyak pegawai di Elvor ini pun cukup terkejut dengan pertanyaan Naufal. Mereka tak menyangka Naufal akan memiliki kemampuan setinggi ini dalam bisnis.
"Ka-kami menilai perusahaan kami sebesar 6.7 milyar rupiah. Se-sedangkan untuk laporan keuangannya...."
Pria bernama Endra itu terlihat mulai gugup.
Naufal yang melihat sikap Pria itu segera memahami apa artinya. Dan dengan cepat, Naufal pun mengangkat tangan kanannya. Meminta agar Ia berhenti berbicara.
"Tunjukkan saja di slide menggunakan proyektor itu." Balas Naufal tegas.
Jantung Endra pun berdegup kencang.
Bagaimana tidak?
Selama ini, perusahaannya tak pernah membuat keuntungan sedikit pun. Hanya merugi.
Tak hanya itu, Endra membakar hampir sebagian besar uang dari warisan keluarganya untuk mengejar mimpi ini.
Dan segera setelah para calon investor melihat laporan keuangan Elvor? Semuanya langsung mundur.
"Tenang saja. Aku takkan mundur." Ucap Naufal sambil tersenyum tipis.
"Eh? Apa maksud Tuan Naufal?" Tanya Endra kebingungan.
"Untuk sebuah perusahaan di bidang teknologi, wajar saja untuk selalu merugi di awal-awal pengembangan. Tapi yang ku ingin tahu, adalah bisa kah perusahaan ini membuat keuntungan di masa depan."
Naufal kemudian mulai menjelaskan semuanya. Yang mana Ia hanya meniru apa yang dicontohkan di berbagai video MeTube.
Dengan penjelasannya itu, Naufal berhasil meyakinkan hampir seluruh pegawai di Elvor bahwa dirinya adalah seorang pebisnis yang handal. Terlebih lagi, calon pebisnis handal yang akan berinvestasi di perusahaan mereka.
Satu kalimat yang sama pun terukir di seluruh pikiran pegawai Elvor.
"Jadi bagaimana? Bisakah kalian memperlihatkan laporan keuangannya?" Tanya Naufal sekali lagi.
'Beeep!'
Layar proyektor pun menyala. Memperlihatkan sebuah dokumen yang berisi laporan keuangan perusahaan Elvor secara mendetail.
Naufal memperhatikan dan mencatat semuanya di buku sakunya lalu memperhitungkan mengenai perusahaan ini.
"Total modal awal sebesar 2.9 milyar rupiah. Biaya operasional berupa penyewaan gedung sebesar 430 juta per tahun. Kemudian gaji 26 karyawan sebesar 183 juta per bulan..... Biaya riset dan pengembangan.... Kemudian...."
Naufal terus mencoret-coret buku sakunya untuk memperhitungkan semuanya.
Pada akhirnya, Naufal memperoleh sebuah kesimpulan yang sangat jelas.
"Aku tidak punya cukup uang bahkan untuk mempertahankan perusahaan ini dalam satu tahun kedepan." Pikir Naufal dalam hatinya.
Tapi Naufal terus berusaha untuk menjaga wajahnya tetap tenang. Ia tak ingin membuat para pegawai di Elvor ini menjadi ragu padanya.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Tapi mau bagaimana lagi?
Haruskah Naufal meminta waktu beberapa hari untuk melakukan perdagangan saham dengan Leverage yang tinggi? Berharap untuk memperoleh uang lebih banyak?
"Tidak.... Tidak ada cukup waktu untuk itu. Laporan keuangan perusahaan besar paling dekat masih sekitar beberapa Minggu lagi. Aku tak bisa...."
Saat Naufal kebingungan mengenai apa yang harus dipilihnya saat ini, ponselnya pun berdering. Terlihat Prometheus sedang menelfonnya.
"Permisi." Ucap Naufal meninggalkan ruangan ini segera.
Wajah semua pegawai di perusahaan ini pun nampak suram. Mereka telah hafal mengenai perilaku Naufal.
Yaitu sebuah perilaku dimana calon investor akan berjalan mundur setelah mengetahui betapa merugikannya perusahaan bernama Elvor ini.
__ADS_1
Sementara itu....
"Ya, ada apa?" Tanya Naufal kepada Prometheus.
"Ini mungkin benar-benar bantuan terakhir dariku. Segera setelah ini, aku akan pergi untuk waktu yang tak diketahui." Jelas Prometheus.
"Tu-tunggu dulu! Ada apa? Kenapa begitu mendadak?!" Tanya Naufal panik.
Selama ini. Naufal selalu bekerja dengan bimbingan orang yang misterius ini. Tapi jika dia menghilang....
"Hahaha.... Bisakah kau menjaga rahasia? Benar.... Anggap saja, keselamatan keluarga mu sebagai taruhannya." Tegas Prometheus melalui panggilan itu.
Naufal yang berdiri di lorong gedung Elvor ini mulai merasa ketakutan.
Sejak awal, Naufal memang memiliki rasa kecurigaan yang tinggi kepada sosok misterius ini. Terlebih lagi, kemampuannya untuk mengetahui berbagai hal.
"Jangan katakan...."
"Kau benar. Aku adalah seorang hacker yang diburu di seluruh dunia. Singkatnya, aku akan memberikanmu 50 milyar tambahan dariku. Tenang saja, ini adalah uang yang bersih dalam artian tidak ada kaitannya dengan kejahatan.
Akan tetapi.... Tolong rahasiakan mengenai keberadaan ku dalam hidupmu. Itu jika kau ingin keluargamu selamat. Anggap saja, kau tak pernah mengenalku." Jelas Prometheus.
Naufal berusaha untuk mencerna semuanya dengan baik.
Ia masih tak bisa percaya bahwa sosok yang selama ini menjadi panutannya, adalah seorang buronan.
Akan tetapi, sudah terlambat baginya untuk mundur.
Lagipula....
"Aku juga.... Sebelumnya aku juga melakukan hal yang buruk. Dengan bekerjasama di ISE aku merugikan banyak sekali orang." Balas Naufal.
Itu benar.
Naufal telah sadar bahwa dunia bukan lah hitam dan putih. Melainkan abu-abu. Tak ada satu orang pun yang terbebas dari kesalahan dan dosa.
Termasuk Naufal sendiri.
Dan sudah terlambat baginya untuk mundur.
Selama bisa menjaga keluarganya, dan memberikan mereka kehidupan yang layak....
"Kirimkan saja uangnya. Dan katakan, apa yang sebaiknya ku lakukan?" Tanya Naufal.
Jika saja Prometheus memiliki sosok manusia yang sesungguhnya, Ia pasti telah tersenyum lebar saat ini.
"Sudah terkirim di rekening mu barusan. Jika ada FBI dari Amerika Serikat yang menanyaimu, katakan saja. Bahwa kau hanya berdagang saham tapi memiliki sedikit keberuntungan. Sekian."
'Beeep!'
Prometheus pun mematikan panggilan itu.
Memang benar bahwa para FBI itu telah mulai menyelidiki di Indonesia. Tapi jejak dari pergerakan Prometheus sangat lah tipis dan tak terlihat. Hampir mustahil untuk menemukannya.
Lalu kenapa Prometheus pergi?
Sederhana saja. Ia ingin fokus dalam risetnya dengan memanfaatkan perangkat komputer Naufal.
Dan juga, untuk menurunkan peluang agen FBI itu mencurigai Naufal karena campur tangan Prometheus yang terlalu berlebihan.
Karena Prometheus tahu, agen FBI yang mengejarnya sangatlah berbakat dan takkan berhenti untuk petunjuk sekecil apapun. Mungkin, termasuk panggilan telfon.
Tapi sayangnya, panggilan ini sama sekali tak menggunakan jaringan telefon.
Tidak pernah Prometheus melakukan kesalahan sebodoh itu.
Panggilan yang dilakukannya kepada Naufal, murni dari perangkat Naufal itu sendiri. Dan dalam hal ini, Naufal hanya berbicara dengan aplikasi buatan Prometheus di dalam ponselnya. Yang didesain menyerupai sebuah panggilan.
"Aku mengerti." Balas Naufal meskipun mengetahui panggilan itu telah berakhir.
Ia dengan cepat menghapus kontak Prometheus. Dan segera mengecek saldo melalui internet bankingnya.
Dengan senyuman yang tipis, Naufal pun kembali ke dalam ruangan sambil berkata.
"Aku akan memberikan perusahaan kalian 52.5 milyar rupiah. Sebagai gantinya, aku akan memiliki 51% dari saham perusahaan ini. Apakah ada yang keberatan?" Ucap Naufal dengan senyuman yang penuh dengan rasa percaya diri.
__ADS_1
Dan dengan itu lah....
Awal kehancuran umat manusia akan dimulai.