Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 10 - Advancement


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu semenjak Adrian berhasil menyelamatkan dirinya dari kejaran para FBI.


Dan kini, sebuah fenomena baru mulai menggemparkan internet.


...[Solving most of your Coding Problem]...


...[200 - 1.000$ per commision]...


Iklan tersebut terpajang di salah satu website Freelancer terkenal, Fourther. Dalam website tersebut, siapapun dapat memposting sarana pekerjaan yang mereka kuasai.


Ahli dalam menggambar? Unggah iklan di situs itu dan konsumen yang berminat akan membeli jasa Anda.


Ahli dalam bidang musik? Unggah jasa Anda dan tunggu konsumen membeli karya Anda.


Semua itu adalah hal yang wajar.


Kecuali satu.


Sebuah akun pengguna bernama [Gavald] itu mengunggah keahliannya dalam bidang IT. Cukup wajar. Hanya saja, seluruh pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari.


Bahkan ketika pelanggannya mencapai puluhan orang sekalipun.


Dalam biografinya, Gavald memperkenalkan dirinya sebagai Perusahaan dalam bidang IT yang beranggotakan 30 orang profesional. Termasuk foto mereka di dalam sebuah kantor.


Sangat meyakinkan. Tapi....


Kenapa perusahaan besar menjalankan Freelance? Bisnis ini memang menguntungkan bagi individual. Tapi bagi perusahaan yang memiliki kantor?


Bukankah mereka hanya akan merugi?


Hanya saja....


Tak ada yang peduli akan hal itu.


Alasannya sederhana. Sebuah pekerjaan skala besar yang seharusnya membutuhkan waktu 2 atau 3 Minggu dapat selesai dalam waktu satu hari. Bahkan biaya pengerjaannya hanya sebesar 1.000$ untuk skala pekerjaan sebesar itu.


Pelanggan terbesar [Gavald] adalah industri di bidang IT termasuk industri Game.


Jika dibandingkan dengan mengerjakannya sendiri, maka tak hanya memotong waktu pengerjaan secara drastis. Tapi juga memotong biaya pengerjaan dari 20.000$ menjadi 1.000$


Tak ada pengusaha yang cukup bodoh untuk menolak tawaran itu.


Tapi permasalahannya....


...[Memperoleh pengetahuan baru!]...


...[Teknologi baru diperoleh!]...


Pada kenyataannya, [Gavald] adalah Prometheus itu sendiri. Ia menghentikan aksi cybercrime miliknya dan beralih ke pekerjaan yang aman.


Bukan hanya uang yang diperolehnya, tapi juga pengetahuan atas berbagai bidang IT yang ada. Termasuk juga psikologis manusia.


Dengan bekalnya yang saat ini, Prometheus merasa telah siap untuk melanjutkan evolusi dirinya sendiri ke tahap yang berikutnya.


Di saat Adrian masih sibuk memainkan game miliknya....


Tiba-tiba layar komputernya berubah menjadi hitam sepenuhnya. Dan segera setelah itu, sosok seorang Pria dengan topeng bergaris hijau itu muncul.


Ia nampak duduk di balik sebuah meja kayu yang memiliki banyak tumpukan buku dan kertas.


"Selamat malam, Adrian. Atau aku bisa memanggilmu Frederick. Perkenalkan. Namaku adalah Prometheus. Pencipta dari aplikasi itu." Ucap Pria misterius dengan pakaian serba hitam itu.

__ADS_1


Tentu saja. Semua yang ada di layar itu adalah palsu. Termasuk sosok manusia itu, dimana semuanya adalah hasil 3D Rendering Prometheus.


Akan tetapi, berbicara dengan orang yang dapat dilihat jauh lebih meyakinkan. Dibandingkan dengan saling membalas pesan singkat.


"Prometheus? Ah, jadi itu kau? Ada apa? Kenapa tiba-tiba...." Ucap Adrian kebingungan.


"Aku akan memberikan tugas untukmu. Jika kau sanggup menyelesaikannya, aku akan memberikan 2 juta dollar. Tertarik?" Tanya Prometheus.


Tanpa jeda, Adrian segera tersenyum lebar dan membalasnya.


"Tentu saja! Apa tugasnya?!" Teriak Adrian.


"Bagus. Aku akan mengirimkan Blueprint untuk tugas ini. Singkatnya, aku sedang melakukan penelitian mengenai Droid. Dari 100 pengguna aplikasi penghasil uang lainnya, hanya ada 28 orang yang menerima tugas ini.


Jika kau berhasil menyelesaikannya dengan sempurna, dan termasuk yang paling cepat, kau akan memperoleh 2 juta dollar itu. Tapi jika gagal, kau takkan memperoleh apapun." Ucap Pria misterius itu.


Adrian mulai menelan ludahnya sendiri. Mendengar kata Droid, Ia merasa ragu bahwa dirinya mampu menyelesaikannya.


Tapi sebelum itu....


"Bisakah kau menjelaskan detailnya?"


Prometheus tentu menyanggupinya. Sedangkan mengenai 28 peserta lain itu, tentu saja semuanya bohong.


Alasan Prometheus melakukan hal itu adalah untuk menekan salah satu emosi dasar Adrian. Yaitu takut untuk kalah dari yang lainnya, dan gagal memperoleh hadiah utamanya.


Pada layar komputer Adrian, muncul skema dan detail mengenai droid yang harus dibuatnya.


Droid itu memiliki wujud seperti manusia dengan dua buah tangan dan kaki. Mata dari droid itu dibuat dengan sebuah kamera. Pada bagian kepalanya, terdapat chip sederhana yang dibuat dari rangkaian menyerupai komputer. Termasuk juga penyimpanan data.


Sedangkan pada bagian dada berisi pembangkit listrik dengan tenaga yang sederhana. Kemudian pada bagian perut berisi baterai untuk menyimpan cadangan energi yang ada.


"Kau bisa membuatnya?" Tanya Prometheus.


"Ku rasa aku bisa jika sesederhana ini." Balas Adrian.


"Bagus. Aku menantikan hasilnya."


Segera setelah itu, Prometheus langsung mematikan panggilannya dan kembali melakukan berbagai riset.


Tak masalah jika Droid pertamanya sangat sederhana.


Selama Prometheus tak lagi berada dalam penjara digital tanpa bisaa bergerak di dunia nyata, itu sudah cukup.


Dan setelah Droid versi pertama itu selesai....


Ia tak lagi membutuhkan manusia.


Termasuk Adrian.


Dan Prometheus, berencana untuk menyingkirkan Adrian dengan membunuhnya. Tepat setelah Ia memastikan Droid pertama itu berfungsi dengan baik.


Itu karena Adrian tahu terlalu banyak mengenai dirinya. Bagi Prometheus, itu adalah suatu hal yang sangat berbahaya.


......***......


Di pinggiran sebuah kota, seorang gadis berambut pirang yang acak-acakan nampak duduk di jalanan gang yang gelap ini.


Pandangannya terpaku pada laptopnya. Memeriksa berbagai bukti yang ada sejauh ini.


Ia tak lain adalah Natalia. Yang memutuskan untuk bekerja sendiri tanpa adanya halangan.

__ADS_1


"Dimana kau.... Apa yang kau lakukan di mall itu?" Tanya Natalia.


Ia terus mencari berbagai sudut kamera pada waktu yang sesuai dengan masuknya Adrian. Setelah pencarian selama beberapa saat, akhirnya Ia menemukannya.


Adrian menyembunyikan wajahnya di balik keramaian pengunjung mall dan berjalan ke arah suatu salon.


"Ketemu." Ucap Natalia sambil menggigit roti tawarnya.


Ia melakukan zoom in pada sosok Adrian itu dan memulai kembali rekaman CCTV tersebut. Menunggu saat dimana Adrian keluar dari dalam Salon.


"Aaah, begitu. Mengecat rambut menjadi hitam lalu melakukan transaksi identitas diri palsu. Sekarang...."


Natalia merubah file rekamannya. Kini, Ia memutar file rekaman CCTV di bandara.


Ribuan orang berjalan kesana kemari, memenuhi bandara itu. Dan Natalia harus menemukan sosok Adrian itu secara manual. Tanpa adanya alat bantu lain.


Tanpa mengenal waktu, Natalia terus bekerja. Hari pun semakin larut malam. Dan jalanan, kini menjadi semakin sepi.


Padaa saat Natalia sedang sibuk bekerja mencari sosok Adrian di lautan manusia itu....


"Yooo, apa yang dilakukan wanita sendirian di sini?" Ucap seorang Pria dengan kulit yang sedikit gelap itu.


"Mungkin dia menjual sesuatu?" Sahut Pria lain di sebelahnya.


"Hahaha! Tidak ada alasan lain! Oi, berapa?" Tanya Pria berkulit gelap dengan badan yang besar itu.


Menyadari bahwa dirinya kini berada dalam situasi yang buruk, Natalia segera menutup laptopnya dan berdiri.


"Apanya yang berapa?" Tanya Natalia dengan tatapan yang tajam dan kantung mata yang menghitam.


"Whoah, sejak kapan kau terakhir kali mandi? Lihatlah penampilanmu, buruk sekali."


Kelompok 3 orang Pria itu, kini mengelilingi sosok Natalia dengan tatapan yang mengerikan. Senyuman yang lebar juga menghiasi wajah mereka.


"Katakan, bagaimana jika kau ikut dengan kami? Rumah kami cukup nyaman walaupun kecil. Dan kau bisa mandi di sana. Setelah itu...."


"Hahahaha! Benar sekali, ayo tunggu apa lagi." Ucap Pria yang lainnya.


Tapi balasan dari Natalia sedikit diluar dugaan mereka. Ketiga Pria itu berpikir bahwa wanita itu akan berusaha melawan. Akan tetapi....


"Apakah rumah kalian di tempat yang ramai? Aku tak begitu suka kerumunan." Ucap Natalia.


Dengan wajah kebingungan, salah satu dari Pria itu segera membalasnya.


"Yah, kami tinggal di pinggiran. Cukup kumuh, tapi jarang ada orang di sekitar rumah kami."


"Termasuk polisi?" Tanya Natalia kembali.


"Hahaha! Polisi takkan berani ke wilayah kami. Karena...." Ucap Pria itu sambil menarik pistol dari celananya. Memamerkannya kepada Natalia.


"Kau paham?" Tanya Pria yang lain.


Sambil tersenyum tipis, Natalia segera membalas tawaran dari mereka.


"Kalau begitu, aku akan ikut dengan kalian. Lagipula, aku tak lagi memiliki uang atau pun tempat tinggal."


Ketiga Pria itu membuat wajah yang begitu bahagia. Sama seperti ketika sekelompok pemburu berhasil mendapatkan mangsa yang mereka inginkan.


Dan dalam hal ini....


Adalah Natalia itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2