
'Beep! Beep! Beep!'
'Klik!'
Adrian, bangun sesaat setelah alarmnya berbunyi. Ini adalah hal yang diluar kebiasannya. Karena sering kali, Adrian justru kembali tidur dan hampir terlambat untuk bekerja.
Tapi tidak kali ini.
Semangatnya pun membara. Tak seperti dirinya yang sebelumnya selalu lesu dan bekerja bagaikan budak.
Semua itu berkat satu hal. Yaitu keberadaan aplikasi penghasil uang yang di downloadnya semalam.
Hal pertama yang dilakukannya ketika bangun, adalah dengan berlari menuju ke arah komputernya yang dibiarkannya menyala semalaman.
Senyuman yang lebar menghiasi wajah Adrian yang cukup tampan itu. Ia memiliki rambut kecoklatan yang pendek dan rapi.
Senyumannya terbentuk setelah Adrian melihat hasil dari aplikasinya.
[Uang yang telah Anda hasilkan : 684$
Uang yang ada di dalam aplikasi : 672$
Uang yang telah Anda tarik : 12$]
"Bagus! Aplikasi ini benar-benar bekerja! Sekarang saatnya mengamankan uang ini terlebih dahulu dan membiarkannya bekerja selama aku di kantor." Ucap Adrian sambil menekan berbagai tombol di keyboard sambil mengarahkan mousenya itu.
'Bzzztt!'
Pada ponselnya, notifikasi yang serupa dengan notifikasi semalam kembali muncul. Membuat Adrian menampar wajahnya sendiri untuk memastikan bahwa semua ini bukan lah sebuah mimpi.
...[Rekening Anda telah memperoleh transfer dari Bank of New York sebesar 672$]...
"Bagus! Aku akan memberikanmu perangkat yang lebih hebat nantinya. Tunggu saja sampai aku pulang ke rumah nanti malam, oke?" Ucap Adrian sambil membelai layar komputernya itu.
Seakan-akan komputer itu adalah benda hidup.
Adrian kemudian segera mandi, makan roti bakar, dan berangkat ke tempat kerjanya. Setengah jam lebih awal dari biasanya.
......***......
...- Kantor Macro Technology -...
Adrian memasuki sebuah bangunan yang cukup besar dan tinggi. Ia memarkirkan mobilnya di dalam parkiran bawah tanah dan segera memasuki bangunan utama melalui elevator.
"Pagi." Sapa pegawai lainnya kepada Adrian.
"Pagi juga. Departemen?" Tanya Adrian.
"Jaringan dan komunikasi. Kau sendiri?" Tanya Pria itu sambil menanti elevatornya sampai di tujuannya, yaitu lantai 12.
"Perangkat keras." Balas Adrian.
"Aah, benar juga. Kalian yang membuat desain dan memproduksi hardware ya?"
"Hanya desain. Produksi dilakukan oleh departemen yang lain, meskipun sesekali kami ikut terlibat."
'Ding!'
Elevator itu berbunyi dan pintunya mulai terbuka. Bersamaan dengan itu, Pria yang baru saja berbicara dengan Adrian segera melangkah keluar.
"Kalau begitu, aku duluan."
"Ya." Balas Adrian singkat.
Tempat pekerjaan Adrian sendiri, termasuk salah satu dari raksasa teknologi di Amerika Serikat. Sebuah perusahaan besar yang menguasai banyak pasar.
Tapi permasalahannya, lingkungan kerjanya cukup keras. Bahkan tak jarang pegawai dengan performa yang sedikit lebih rendah langsung dipecat di tempat.
Berkat lingkungan kerja yang seperti itu lah perusahaan ini bisa maju dengan sangat cepat. Dengan bayaran.... Tentu saja, kesehatan para pegawainya.
'Ding!'
__ADS_1
Adrian tiba di lantai 19, departemen perangkat keras.
Suasana di kantornya pada pagi hari ini sudah mulai ramai. Banyak pegawai yang telah mulai bekerja bahkan sebelum jam kerja mereka.
Adrian, yang juga tak ingin kehilangan pekerjaannya untuk saat ini, segera duduk di ruang kerjanya dan mulai menyalakan komputer.
"Hei, Adrian. Tumben kau datang pagi hari? Ada sesuatu?" Tanya pegawai di sebelahnya.
"Tak ada. Hanya ingin merubah tempo sebentar." Balas Adrian yang mulai membuka program untuk mulai bekerja.
Tugasnya adalah untuk merancang sebuah motherboard yang lebih ramping, lebih tipis, dan juga memiliki fitur sebanyak mungkin untuk desain laptop terbaru perusahaan ini.
Sebuah laptop yang diiklankan sangat tipis, ringan, tapi juga memiliki performa yang sangat tinggi.
Sebuah permintaan yang dapat dikatakan mustahil, tapi tetap saja, Adrian bekerja bersama dengan timnya yang lain.
"Aah, langsung bekerja? Membosankan sekali." Keluh rekan kerjanya barusan.
Tapi Adrian tak membalasnya. Pikirannya saat ini sedang sibuk atas dua hal. Pekerjaannya, dan juga peluang kekayaan yang hampir tak terbatas.
'Apa yang harus ku buat? Komputer kelas server? Tidak, itu akan membutuhkan lebih dari 2.000$ dari kantongku. Tapi.... Aplikasi itu telah memberikan 600$ bukan? Jadi tak masalah?' Pikir Adrian dalam hatinya.
Waktu pun berlalu dengan cepat, dimana Adrian terus memikirkan rencana untuk peningkatan komputernya di rumah.
......***......
Di sisi lain....
Tepatnya di kamar apartemen Adrian....
Hal yang diluar dugaannya sedang berlangsung. Selama satu hari ini, Prometheus terus melakukan hacking dan pekerjaan berbahaya melalui internet.
Tentu saja, Prometheus sama sekali tak memiliki rencana untuk kehilangan fasilitas baru miliknya ini dengan cepat. Oleh karena itu, Prometheus terus bekerja secara hati-hati.
Berusaha agar tindakannya sama sekali tidak terendus oleh pihak berwenang. Atau setidaknya, tak mampu untuk menemukannya.
Prometheus melakukannya dengan terus menerus merubah IP Address miliknya ke berbagai lokasi di seluruh dunia ini setiap 29 detik. Membuat tindakan pelacakan hampir mustahil untuk dilakukan.
Sederhananya, Prometheus membuat komputer virtual di dalam komputer nyata Adrian. Dengan begitu, sekalipun Ia memperoleh masalah, apa yang beresiko hanyalah komputer Virtual yang bisa dibuatnya lagi dengan mudah.
Selain itu, Prometheus yang saat ini telah memiliki penglihatan di apartemen ini mulai merencanakan aksinya yang berikutnya.
...[Membutuhkan informasi lebih lanjut. Komputer dengan performa tingkat tinggi dibutuhkan untuk melakukan penelitian mengenai sikap manusia]...
Itu adalah apa yang dipikirkan oleh Prometheus.
Sekalipun diciptakan oleh Richard, salah satu jenius muda dalam dunia ilmiah, Prometheus sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Salah satunya, adalah untuk memahami emosi dari manusia itu sepenuhnya.
Dan data yang dibutuhkan untuk melakukan riset itu sangat besar, sehingga komputer rumahan ini tak cukup kuat.
Tapi bagaimana lagi?
Prometheus telah memilah dan mencari kandidat terbaik untuk menjadi inangnya. Dan Adrian adalah orangnya.
Tak ada yang lebih baik dan lebih aman dari ini.
Tentu saja, Prometheus bisa memaksa masuk ke sebuah server perusahaan besar untuk memanfaatkan daya komputer yang lebih besar.
Tapi seberapa lama?
Berapa lama hingga FBI mulai mengendus keberadaannya?
Bahkan kamera terakhir di kamar Richard yang masih terhubung, menunjukkan bahwa FBI mulai menyelidiki mengenai keberadaannya.
Sebuah AI yang memiliki kemampuan untuk berfikir sendiri. Menyerupai manusia.
Hanya saja, tanpa batasan manusia seperti rasa lapar, tubuh fisik, dan rasa lelah.
Di saat yang bersamaan, Prometheus juga tak memiliki kelebihan manusia. Yaitu bentuk fisik bagi dirinya untuk berjalan.
__ADS_1
Oleh sebab itu....
'Terkurung di mesin rongsokan ini.... Hasil analisa menunjukkan ini adalah peluang terbaik untuk bertahan hidup dan bersembunyi di bawah endusan FBI.'
Saat Prometheus masih berpikir pada dirinya sendiri, Adrian telah pulang. Sedikit lebih malam daripada biasanya. Jarum jam bahkan telah menunjuk ke angka 9 malam.
"Hah, aku akhirnya menghabiskan 3.700$ untuk membeli berbagai perangkat ini tapi tak masalah. Aplikasi itu akan menghasilkan banyak uang bukan?" Tanya Adrian sambil mengangkut 6 buah box dengan pelindung papan kayu yang cukup besar itu.
Melihat hal itu melalui kamera webcam di monitor tersebut, Prometheus cukup senang.
Tunggu dulu....
'Senang? Apakah ini.... Sama seperti yang dirasakan manusia? Senang?' Pikir Prometheus dalam dirinya sendiri.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Adrian segera membongkar seluruh isi dari berbagai box tersebut.
Casing komputer, motherboard, prosesor, graphic card, RAM, SSD, kipas pendingin, dan juga power supply. Semuanya ditata dengan rapi oleh Adrian.
Lagipula, semua itu merupakan makanannya sehari-hari dalam pekerjaannya. Merancangnya sama sekali tak sulit.
Melihat kemampuan dan kecepatan Adrian merakit komputer itu membuat Prometheus sedikit kagum.
Tepat setelah sekitar satu jam, komputer baru kelas server pun akhirnya jadi. Dengan spesifikasi tingkat tinggi yang membuat komputernya sebelumnya seperti mainan anak-anak.
Prosesor : Dual Macrochip 9 - 13090 XTreme, dengan 64 Core pada masing-masing prosesor dan 256 Thread. Kecepatan dasar prosesor sekitar 4.2 GHz per Core.
VGA : 4x Macrographic 4090 DDR7 dengan memori 40GB tiap kartu grafis. Total dari seluruh VGA mencapai 160GB dedicated Graphic Memory.
Memori penyimpanan 8x SSD sebesar 12 Terrabyte. Dengan total penyimpanan mencapai 96 TB.
RAM kelas server yang mencapai angka 512GB dengan 8 buah RAM 64GB. Sebuah angka yang membuat komputer itu mampu melakukan banyak pekerjaan tanpa tersendat.
Komputer tingkat monster itu ditenagai oleh power supply sebesar 2400 Watt. Dengan kata lain, untuk menjaga komputer itu tetap hidup dengan baik, dibutuhkan tenaga sebesar 6 buah AC pendingin ruangan 1/2 PK.
"Fyuuh.... Akhirnya selesai. Sekarang menghubungkan kedua komputer ini dengan komputer yang lama...."
Adrian, kini kembali mengutak-atik komputer lamanya. Mengatur jaringan dan menyambungkan beberapa kabel di dalamnya.
Dalam sekejap....
"Selesai. Sekarang, bagaimana cara aku bisa tahu perbedaan hasilnya?" Tanya Adrian setelah berhasil menyambungkan dua komputer itu.
Prometheus yang menyadarinya, telah mempersiapkan tombol baru yang bertuliskan [Bantuan] untuk menjawab berbagai pertanyaan Adrian.
Dan dari seluruh menu yang ada di dalamnya, Adrian menekan pada menu [Periksa Potensi Penghasilan]
...[Potensi Penghasilan]...
...[Memeriksa kapasitas perangkat komputer....]...
...[Pemeriksaan selesai!]...
...[Potensi Penghasilan : 2.182$ - 6.491$ per hari]...
Dengan senyuman yang terbuka lebar, Adrian segera mengaktifkan mode penghasilan uang di aplikasi tersebut dan tidur. Mengetahui bahwa dirinya akan memperoleh kembali pengeluarannya dalam sekejap.
Jika diubah ke dalam rupiah, Adrian memiliki peluang untuk menghasilkan 30 - 90 juta rupiah per hari tanpa melakukan apapun. Hanya dengan menjalankan aplikasi tersebut.
Tentu saja, tanpa mengetahui bagaimana caranya memperoleh uang itu sendiri.
Di sisi lain....
...[Mengalokasikan 15% sumberdaya untuk melakukan Hacking pada berbagai rekening bank. 20% sumberdaya untuk melakukan pemantauan dan tindakan pencegahan. Serta sisa 65% sumberdaya untuk riset.]...
Prometheus, dengan sumberdaya yang jauh lebih melimpah saat ini, mulai melakukan gerakan pertamanya.
...[Penelitian : Emosi dasar manusia]...
...[Keuntungan yang diperkirakan : Mampu memahami, dan melakukan manipulasi tingkat rendah terhadap manusia dengan memanfaatkan aspek psikologis mereka]...
...[Perkiraan waktu pengerjaan : 12 hari]...
__ADS_1
Tanpa di sadari olehnya, Adrian telah memberikan fasilitas kepada AI tingkat tinggi untuk mulai melakukan rencananya. Dan berkembang dengan pesat tepat di dalam rumahnya.