Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 11 - Encounter


__ADS_3

"Fuuuuh...."


Kepulan asap putih keluar dari mulut Natalia. Ia nampak duduk di sebuah kursi plastik menghadap laptopnya. Kabel charger nampak terhubung ke laptopnya dalam rumah kumuh ini.


"Tiga bersaudara Tanner, Dustin, dan Bradley. Empat kasus pemerkosaan, tiga dari korbannya dibunuh. Dua kasus penculikan, dan sembilan kasus perampokan.


Kepolisian setempat tak mampu untuk melacak keberadaan mereka selama 3 bulan semenjak laporan dari korban yang selamat tiba di kepolisian." Ucap Natalia seiring membaca informasi dari tiga pria berkulit gelap barusan.


Di sampingnya, tepatnya pada ranjang yang cukup besar pada kamar ini, tiga orang Pria telah tergeletak tak berdaya. Darah nampak mewarnai ranjang itu menjadi merah.


Beberapa bagian tubuh mereka memiliki lubang yang diakibatkan oleh tembakan pistol.


Sementara itu....


"Fuuuh...."


Natalia kembali menghembuskan asap rokoknya. Memegang batang rokok yang hanya tersisa setengah itu dengan tangan kirinya sambil terus bekerja.


Tak berselang lama, Natalia akhirnya telah menemukannya. Jejak dari pergerakan Adrian yang telah menyamar.


"Bandara, menuju ke Alaska? Yang benar saja. Siapa sebenarnya orang ini?" Tanya Natalia sambil segera menutup laptopnya.


Ia merapikan kembali semua barang bawaannya. Termasuk mengenakan kembali pakaiannya.


Meninggalkan tempat tinggal tiga pria itu begitu saja. Bahkan sama sekali tak peduli untuk menyembunyikan jasad mereka atau semacamnya.


......***......


...- Alaska -...


Pukul 20.18


Hari telah cukup gelap ketika Natalia tiba di Alaska. Satu-satunya petunjuk yang dimilikinya adalah rekaman CCTV dari pihak bandara. Tapi itu sudah cukup untuk memberitahu Natalia informasi mengenai kendaraan umum yang dinaiki oleh Adrian saat itu.


Sebuah taksi dengan plat nomor 4711, sama persis seperti yang dinaiki oleh Adrian itu nampak berhenti di samping bandara. Menanti pelanggannya dengan tenang.


"Katakan, apakah seminggu lalu kau mengantarkan seseorang dengan penampilan seperti ini?" Tanya Natalia sambil menunjukkan selembaran foto wajah Adrian.


"Eh? Siapa? Kenapa?" Tanya pengemudi itu kebingungan.


"Hanya detektif biasa. Bisakah kau membantu? Dia adalah salah satu buron di Amerika. Tentu saja, kesaksianmu takkan sia-sia." Ucap Natalia sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


"Aaah! Kalau begitu aku ingat! Benar, aku sangat ingat. Dia adalah Pria tua yang aneh. Selalu menggumam mengenai uang atau semacamnya." Jelas Pengemudi itu.


"Jelaskan lebih rinci lagi."


Pengemudi itu segera mempersilakan Natalia untuk masuk ke dalam kendaraannya. Mengantarkannya secara langsung ke tempat Adrian berada berdasarkan rekam jejak transaksi mereka.


"Ya, Pria bernama Frederick itu datang dengan barang yang cukup banyak. Ia juga menyewa jasa angkut untuk semua barang bawaannya. Aku penasaran apa yang dibawanya saat itu tapi dia bilang hanya membawa komputer." Jelas Pengemudi itu sambil mengendarai mobilnya.


Natalia yang duduk di belakang nampak mendengarkan semua penjelasan itu dengan mata yang menyipit.


Entah kenapa, Natalia nampak memegangi lengan kirinya dengan erat. Seakan mengkhawatirkan sesuatu hal.


"Begitu ya?" Ucap Natalia membalas perkataan panjang lebar pengemudi itu.


"Benar sekali. Ngomong-ngomong, kejahatan apa yang dilakukannya?" Tanya Pengemudi itu.


"Aku tak bisa menjelaskan detailnya tapi, cukup membahayakan negara ini jika dia dibiarkan tetap bergerak bebas."


Pengemudi itu nampak menelan ludahnya. Ia tak percaya bahwa dirinya akan berurusan dengan kasus yang cukup besar seperti ini.


"Aku.... Tak berada dalam bahaya bukan?" Tanya Pengemudi itu khawatir.


"Tenang saja. Identitas mu aman bersamaku."


Setelah kalimat balasan dari Natalia itu, Pengemudi tersebut hanya bisa terdiam. Ia tak berani jika buronan yang diburu itu akan berbalik menyerangnya apabila dirinya terlalu banyak berbicara.


Dan akhirnya, setelah hampir setengah jam perjalanan, Pengemudi itu berhenti di pinggiran kota.


"Rumah yang memiliki tiga lantai itu adalah tempat tinggalnya. Tapi aku hanya berani mengantarkanmu sampai sini." Ucap pengemudi itu masih dengan wajah ketakutan.


"Terimakasih banyak." Balas Natalia singkat.


Ia segera turun dari mobil sedan itu.


'Srruugg!'


Salju yang tebal di jalanan ini menghalangi langkah kakinya. Terlebih lagi, Natalia hanya mengenakan kemeja tipis berwarna putih dan celana jeans biru tua. Membuat hawa dingin di kota ini semakin terasa.


Setiap kali Natalia bernafas, asap putih muncul dari hidung dan juga mulutnya.


'Harus kah aku memasukinya sekarang? Ku rasa dengan tubuhku aku akan baik-baik saja tapi....'


Natalia segera mengarahkan pandangannya mengelilingi pinggiran kota ini. Mencari sesuatu yang dibutuhkannya. Yaitu senjata.


Ia berjalan beberapa blok dari tempatnya sebelumnya. Hingga akhirnya, Ia menjumpai sebuah toko senjata api kecil.


Koleksi yang ada di dalam toko itu tak banyak. Tapi sudah sangat cukup bagi Natalia untuk mempertahankan dirinya sendiri di situasi ini.


'Jika saja aku tak melempar identitas FBI milikku, aku bisa membawa senapan mesin.... Ah, tak masalah. Lagipula sudah sedekat ini.' Pikir Natalia dalam hatinya.


"Ingin mencari sesuatu Nona Muda?" Tanya Pria tua yang menjaga toko senjata api itu.


Natalia mengeluarkan uang sebesar 800$ dari dompetnya sambil berkata.


"Pistol, dengan setidaknya ukuran mag sebanyak 12 peluru. Dan juga peluru, 3 mag tambahan sudah cukup." Ucap Natalia.


"Bisa ku lihat identitasnya?" Tanya Penjaga itu.


Natalia kemudian mengeluarkan kartu tanda penduduk nya. Memberikannya kepada penjaga toko ini.


"Bila bisa ku ketahui, kenapa membeli pistol?"

__ADS_1


"Aku adalah seorang mantan FBI, mengejar buron. Untuk satu dan dua alasan, aku tak memiliki identitas ku. Tapi kau bisa memanggil atasanku jika ragu." Ucap Natalia tegas.


Tatapan matanya yang tajam sekaligus wajahnya yang begitu kelelahan dan nampak sangat mengantuk itu sedikit meyakinkan penjaga toko ini.


Tak sampai di sana, Natalia bahkan mulai menekan ponselnya untuk melakukan panggilan Video kepada rekannya yaitu Emma.


"Bicara saja padanya." Ucap Natalia sambil menyerahkan ponselnya.


"Ketua! Kau dimana?! Kenapa kau meningga.... Tunggu! Siapa kau?!" Teriak Emma terkejut.


Pemilik toko itu segera mematikan panggilan video dari ponsel Natalia dan mengembalikan ponselnya.


"Kau yakin?" Tanya Natalia.


Pria tua itu nampak berpikir sejenak. Memperhatikan sosok Natalia dengan seksama.


"Pengalamanku mengatakan kau sama sekali tak berbohong. Terlebih lagi reaksi dari gadis barusan.... Aku takkan mengungkit alasan FBI menyamarkan diri mereka menjadi warga sipil. Tapi ku harap, tindakanmu ini memihak pada kebaikan orang banyak."


Sambil mengatakan hal itu, Pria tua tersebut memberikan pistol dan tiga magazine pelurunya kepada Natalia. Termasuk memberikan uang kembaliannya.


"Terimakasih."


Hanya itu balasan dari Natalia sebelum Ia segera keluar dari toko senjata ini. Menuju langsung ke rumah Adrian.


......***......


"Empat CCTV di setiap sudut, kini aku yakin Pria ini bukanlah orang biasa." Ucap Natalia lirih pada dirinya sendiri sambil bersembunyi di balik bangunan lain.


'Bzzzttt!!!'


Saat sedang serius, ponselnya berbunyi.


"Emma? Ada apa?" Tanya Natalia singkat.


"Ketua? Dimana kau? Atasan berharap kami bisa mendukungmu. Jika kau butuh bantuan...."


"Alaska, tepat di depan kediaman Adrian. Aku akan mengirimkan lokasi tepatnya melalui Email."


"Tungg...."


'Beeep!'


Dengan cepat, Natalia segera mematikan panggilan itu dan ponselnya setelah mengirim email lokasi agar tak mengganggunya.


Setelah persiapannya matang, Natalia segera mendekati rumah Adrian.


'Dok! Dok!'


"Ada orang?"


10 detik berlalu dengan Natalia yang hanya terdiam menunggu balasan. Tapi karena tak ada balasan sama sekali....


'Braaaakkk!'


"Kalau begitu permisi."


Ia segera mengangkat pistolnya. Memegangnya dengan tangan kanan dan menahannya dengan tangan kirinya. Hanya saja....


'Kenapa gelap sekali?'


Natalia merasa tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah ini.


Meski begitu, Ia terus berjalan. Lantai satu dari rumah ini benar-benar gelap dan tak ada apapun di dalamnya. Begitu pula pada lantai dua.


Tanpa mengendurkan sedikit pun kesiagaannya, Natalia terus berjalan dengan pistol di hadapannya.


Langkah kakinya cukup pelan, berusaha untuk tak menimbulkan banyak suara. Tapi tetap saja, tak menghapus kenyataan bahwa rumah ini terasa begitu aneh.


Pada saat itu lah, Natalia melihat sumber cahaya yang redup di lantai 3.


Ia menaiki tangga tersebut secara perlahan. Seluruh pintu di dalam rumah ini terbuka lebar. Memudahkan Natalia untuk berjalan mengelilingi seisi rumah ini.


Setelah Natalia berada di lantai 3, Ia melihat 6 buah layar monitor yang disusun rapi masih menyala. Menerangi ruangan ini dengan cahayanya.


Sedangkan di hadapan layar monitor itu, seorang Pria nampak duduk di kursi dengan tenang. Menikmati acara komedi di MeTube.


"FBI, angkat tanganmu secara perlahan, Adrian!" Teriak Natalia sambil terus mengarahkan pistolnya ke arah Adrian.


Jari telunjuk tangan kanannya telah berada di depan pelatuk. Sedangkan pengaman pada pistol itu juga sudah dilepas sejak memasuki rumah ini.


Natalia siap untuk menembak kapan saja.


Meski begitu....


Tak ada jawaban.


Tak ada suara.


Bahkan tak ada reaksi sedikit pun dari Adrian.


'Tertidur?' Pikir Natalia dalam hatinya.


Ia mendekat secara perlahan dengan langkah yang pendek sambil terus mengarahkan senjatanya kepada Adrian.


Peluang besarnya, Adrian berpura-pura untuk terdiam dan menyerang balik Natalia saat Ia lengah.


Oleh karena itu, Natalia sama sekali tak bisa mengendurkan kewaspadaannya.


"Adrian?! Cepat angkat tanganmu dan berbalik!"


Tetap saja. Tak ada respon darinya.


Setelah memberanikan dirinya, Natalia pun memutuskan untuk mendekati Adrian dari samping.

__ADS_1


Tapi apa yang ditemukannya....


"Eh?"


Adalah sosok Adrian yang telah tak bernyawa. Duduk di kursi yang dipenuhi oleh darahnya sendiri.


"Bunuh diri setelah tahu tak bisa kabur? Tidak.... Itu tidak mungkin. Luka ini...." Ucap Natalia sambil memperhatikan lima lubang yang ada di dada Adrian.


'Swuuusshhh! Braaakkk!!!'


Secara tiba-tiba, seseorang memukul Natalia dengan sangat kuat. Melemparkannya hingga ke sudut ruangan ini sambil menabrak banyak benda di sekitarnya.


Termasuk menjatuhkan beberapa layar monitor itu ke lantai.


Tanpa ragu, Natalia segera bangkit dan mengarahkan pistolnya kepada sosok misterius itu.


'Dor! Dor! Dor!'


Tiga tembakan Ia lancarkan. Tapi sosok misterius itu nampak mampu menghindarinya. Atau lebih tepatnya....


"Hah? Aku sangat yakin mengenainya. Kenapa dia masih bisa berlari?"


Sosok misterius itu segera turun ke lantai dua, meninggalkan Natalia sendirian di lantai tiga bersama dengan jasad Adrian.


Dengan cepat, Natalia segera berlari untuk mengejar sosok tersebut.Hanya untuk menerima serangan kejutan yang kedua.


'Braaakkk! Klaaanggg!!!'


Kali ini, tebasan golok yang tajam dan besar mengarah tepat ke wajah Natalia. Akan tetapi....


Golok besar itu tertahan oleh lengan kiri Natalia.


Bukannya meneteskan darah, tapi tebasan itu menimbulkan sedikit percikan. Seakan-akan menabrak suatu benda yang keras.


Tanpa berpikir panjang, Natalia segera menembakkan kembali pistolnya. Kali ini, dengan jarak yang sangat dekat, Natalia yakin takkan pernah meleset. Dan mengarahkan seluruh tembakannya kepada pundak kanan sosok misterius itu.


Dengan tujuan untuk melumpuhkannya dan menginterogasinya setelah ini.


Tubuhnya tak begitu terlihat karena gelapnya rumah ini. Tapi setidaknya, Natalia bisa mengetahui dimana letak pundaknya.


'Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!'


Lima tembakan mengenai tepat di pundak kanan sosok tersebut. Cukup banyak untuk membuat pundak kanannya terluka parah dan tak lagi bisa melawan.


Bahkan, Natalia segera meraih kaki kanan dari sosok tersebut dengan tangan kirinya. Mengangkatnya dengan mudah sebelum membantingnya kembali ke lantai.


'Braaaakkkk!!!'


Dan kali ini....


Natalia sangat yakin. Bahwa Ia telah berhasil melumpuhkannya.


Ia segera menyalakan kembali ponselnya untuk menerangi tempat ini. Sekaligus untuk merekam bukti yang ada di hadapannya.


"Hah.... Keras kepala sekali. Siapa kau sebena...."


Seketika, Natalia tak lagi mampu berbicara.


Tangan kanannya masih memegang pistol untuk berjaga-jaga. Sedangkan tangan kirinya memegang ponsel untuk merekam sekaligus menerangi tempat ini dengan flashlight yang ada.


Tapi....


Apa yang ada di hadapan Natalia bukan lah sosok manusia.


Melainkan rongsokan logam dan mesin yang disatukan dengan kabel yang begitu buruk. Bagian kepalanya bahkan hanyalah besi berbentuk kubus dengan kamera yang diikat pada bagian depannya.


"Yang benar saja.... Benda sialan ini, bergerak dan menyerangku?" Tanya Natalia pada dirinya sendiri.


Ia menyoroti lengan kanan rongsokan logam itu yang menggenggam golok besar itu dengan jari yang begitu buruk. Hanya seperti besi tajam yang memiliki sendi buatan sederhana saja.


Setelah itu, Natalia menyoroti lengan kirinya yang baru saja terkena serangan golok tersebut.


Kulit sintetis dari karet di lengan kirinya nampak mengelupas. Menunjukkan serangkaian logam dan mesin yang rumit di balik kulit sintetis itu.


"Bahkan memiliki kekuatan yang cukup untuk merusak lengan bionik tingkat militer.... Apa yang sebenarnya terjadi?"


Seketika, Natalia berhasil menyambungkan seluruh garis merah yang ada.


Dan dengan cepat, Ia segera berlari kembali ke lantai tiga. Untuk menemui bahwa cahaya biru muda dan video komedi barusan, kini telah digantikan dengan cahaya kemerahan.


Tulisan [Deleting Files] nampak terpampang dengan jelas di seluruh layar monitor yang masih menyala itu.


Natalia, yang kini diburu oleh waktu, segera berpikir untuk menghentikan proses penghapusan itu.


Dan hal tercepat yang bisa dipikirkannya....


Adalah dengan memutuskan sambungan daya dari rumah ini kepada seluruh susunan komputer yang ada.


'Dorrr!!!'


Tembakannya mengenai tepat ke arah kabel utama yang mendistribusikan listrik kepada seluruh rangkaian komputer yang kompleks itu.


Mematikan seluruh layar monitor yang masih menyala, termasuk juga menghentikan seluruh proses yang sedang berlangsung sebelumnya.


Korsleting listrik juga terjadi akibat tindakan gegabah Natalia. Dimana efeknya mematikan seluruh daya listrik di rumah Adrian ini.


Kini, Natalia mulai memahaminya.


Setidaknya, Ia bisa sedikit paham, bagaimana bisa jasad orang mati bisa menghapus file di komputer.


Jawabannya, tentu saja mereka tak bisa.


Itu karena yang melakukannya bukan lah manusia, melainkan AI yang mereka curigai selama ini.

__ADS_1


Prometheus.


__ADS_2