Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 18 - Light of Hope


__ADS_3

Seperti perkataannya, Prometheus segera mengirimkan 3 juta rupiah ke dalam akun perdagangan milik Naufal.


Dan dengan modal awal itu, Naufal bisa kembali melakukan perdagangan. Tapi kini, dengan bantuan informasi dari Prometheus. Membuatnya sebagai seorang pedagang dengan pengetahuan yang seharusnya tak bisa dimiliki.


Sebuah informasi yang hanya bisa didapatkan dengan hacking dari Prometheus pada beberapa perusahaan tersebut.


Apakah semua itu legal?


Tentu saja tidak. Dengan melakukan itu, Naufal dapat dipidana melakukan Insiden Trading dimana Ia memiliki informasi lengkap tentang perdagangannya. Dan juga pidana karena melakukan manipulasi harga pasar dengan membocorkan atau mencuri informasi rahasia perusahaan.


Lalu, apakah Naufal menyadarinya?


Tidak. Ia sama sekali tak mengetahuinya. Dan hanya menganggap bahwa sosok misterius di balik panggilan itu adalah seorang pedagang yang ahli. Itu saja.


"Terimakasih banyak. Aku pasti akan membalas hutang budi ini." Balas Naufal setelah memastikan uangnya telah masuk.


"Aku akan menantikan hal itu. Untuk saat ini, perhatikan pada perusahaan bernama Royal Treasury, sebuah perusahaan perhiasan. Berdasarkan berbagai indikator, perusahaan itu nampak mulai melemah.


Pasang posisi Short dengan leverage setidaknya 20x lipat. Dalam satu Minggu ini, peluang besarnya harga akan turun dengan tajam." Jelas Prometheus kepada Naufal.


Naufal sendiri tanpa ragu segera mencari informasi mengenai perusahaan Royal Treasury itu.


Royal Treasury, sebuah perusahaan perhiasan lokal yang memiliki kantor utama di Jakarta. Perusahaan perhiasan ini sangat maju dan menjadi penyedia perhiasan terbaik ke 5 di Indonesia.


Ciri khas dari perusahaan ini adalah seluruh perhiasan buatannya memiliki wujud yang luarbiasa indah. Tentunya dengan harga yang sangat mahal. Sangat digemari oleh masyarakat kalangan atas.


Sulit dipercaya jika perusahaan sebesar ini akan merugi seperti perkataan sosok misterius itu.


Tapi sebelumnya juga sama. Goldmine Santara juga mustahil untuk menjadi menguntungkan dalam sekejap ketika kondisinya begitu merugi.


Oleh karena itu....


'Tap! Tap! Tap!'


Naufal menekan layar ponselnya beberapa kali dan memasang uang sebesar 2 juta rupiah dalam perdagangan itu dengan leverage sebesar 25x lipat.


Sedangkan sisa 1 juta raupiahnya akan digunakan sebagai collateral atau jaminan jika posisi perdagangannya bergerak ke arah yang berlawanan dari prediksinya.


Setelah semuanya siap, Naufal menekan tombol berwarna merah yang bertuliskan Short itu.


'Tap!'


Semuanya sudah beres.


Kini, Naufal hanya bisa menunggu sambil berharap. Berharap jika informasi ini benar dan dirinya bisa memperoleh keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


Termasuk memasukkan adiknya ke universitas beberapa bulan lagi.


......***......


...- California, Markas sementara FBI -...

__ADS_1


Ratusan agen FBI masih sibuk bekerja untuk mengorek informasi dari sisa Hard Drive di komputer Adrian. Informasi sekecil apapun akan mereka gunakan sebagai petunjuk untuk mengejar Artificial Intelligence bernama Prometheus ini.


Tak seperti sebelumnya dimana penyelidikan dipenuhi dengan suasana lesu dan tak ada harapan, kini semua agen bekerja seakan dengan nyawa sebagai taruhan mereka.


Tidak....


Lebih tepatnya adalah dengan keselamatan seluruh dunia sebagai taruhannya.


Meski begitu, FBI belum membeberkan informasi mengenai keberadaan AI bernama Prometheus ini kepada publik. Bahkan kepada agen penyelidikan yang lainnya.


Alasannya?


"Kepanikan masal. Serius, apakah kau sudah menjadi bodoh karena tak memahami hal itu?" Tanya Natalia yang sedang duduk di sebuah kursi besi itu.


Di sampingnya, beberapa mekanik dan juga dokter nampak sedang memperbaiki lengan bionik miliknya. Berusaha menyambungkan kembali ke tubuh Natalia.


"Eeh?! Begitu kah?! Maafkan aku!" Teriak Emma yang sejak beberapa waktu lalu menemani Natalia membereskan lengan bioniknya.


"Agen Emma, mungkin ini sedikit kasar dariku tapi.... Bisakah Anda menjaga ke rahasiaan informasi itu? Untung saja kami dipekerjakan tetap di bawah naungan militer." Jelas salah seorang dokter yang mengenakan masker berwarna biru itu.


Kedua tangannya masih sibuk membedah bagian pundak kiri Natalia untuk mengatur ulang port sambungan lengan bionik itu.


Tentu saja, perkataan dari dokter itu sedikit menusuk hati Emma karena dirinya memang lupa untuk tetap merahasiakan informasi itu.


"Maafkan aku! Aku akan berusaha lebih baik lagi!" Balas Emma sambil terus menundukkan kepalanya.


"Daripada hal itu, Emma. Belikan aku rokok di kantin." Ucap Natalia dengan santai sambil memberikan bungkusan rokok yang sudah kosong itu.


Tapi karena Ia tak dapat menemukan apapun yang sedang dicarinya, Emma pun memutuskan untuk menanyakannya kepada Natalia.


"Maaf, tapi dimana uangnya?"


"Tentu saja dengan uangmu. Sekarang cepat pergi dan belikan rokok yang sama dengan itu." Balas Natalia bahkan tanpa melihat ke arah gadis itu.


"Eeh?! Tapi...."


Natalia hanya diam, tak berniat sama sekali untuk menjawabnya.


Pada akhirnya, Emma pun menyerah dan segera meninggalkan ruang operasi ini sambil terus menatap lantai.


Setelah beberapa saat....


"Natalia, kau yakin dia bisa menjadi agen FBI?" Tanya dokter yang masih membedah bagian kiri pundaknya itu.


"Dia hanya masih muda. Kedepannya masih bisa berkembang lagi." Balas Natalia singkat.


"Tapi sikapnya itu, bukan bermaksud kasar. Tapi dia nampak cukup bodoh bukan?" Tanya dokter itu kembali.


"Daripada membahas hal bodoh itu, bagaimana kondisi lenganku? Aku yakin tak menerima terlalu banyak luka saat pertarungan ku dengan robot rongsokan itu." Ucap Natalia mengalihkan topik pembicaraannya.


Dokter dan mekanik yang lainnya nampak menghela nafas mereka karena sudah hafal dengan sikap Agen bernama Natalia ini.

__ADS_1


Akan tetapi, jawaban dari mereka cukup buruk.


"Kau yakin? Beberapa sekrup dan juga gerigi mesin di pundak kiri mu bergeser cukup jauh. Bisa dibilang kau cukup beruntung tak ada yang terlepas dan terlontar ke jantungmu." Jelas dokter itu sambil menatap tajam ke arah Natalia.


Mendengar jawaban itu, wajah Natalia nampak mulai menjadi semakin gelap. Ekspresinya berubah menjadi begitu kesal. Tidak, lebih tepatnya berubah menjadi ekspresi amarah dan khawatir.


"Kau yakin?" Tanya Natalia kembali.


"Tentu saja. Lihat ini! Penyangga utamanya bahkan...."


Dokter itu terus menjelaskan mengenai kondisi medis dari Natalia saat ini. Termasuk mengenai kerusakan yang dialami lengan bioniknya.


Dalam hatinya, Natalia hanya bisa memikirkan satu hal saja.


'Rongsokan itu saja bisa merusak lengan baja. Bagaimana jika serangan itu mengenai manusia biasa? Tidak.... Bagaimana jika dia memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan tubuh mesinnya?'


Natalia sadar. Perkembangan AI itu terlalu cepat. Bahkan bisa dibilang tak ada lagi waktu untuk dibuang-buang.


Akan tetapi....


Dimana sekarang mereka harus mencarinya?


AI itu telah mengunggah seluruh programnya dan menghapus sebagian besar sisanya.


Tak mungkin untuk menemukannya. Kecuali....


'Brak!'


Seseorang nampak membuka pintu ruang operasi ini dengan keras. Di baliknya, adalah sosok seorang Pria dengan rambut pendek. Ia tak lain adalah Jacob.


Jacob berdiri dengan beberapa lembar kertas di tangan kirinya sambil menatap sosok Natalia dengan tajam.


"AI ini melewatkan satu hal. Jejak unggahannya telah ditemukan, dan kini kita telah menemukan lokasi pengundurannya sekalipun sedikit kasar." Ucap Jacob dengan tegas.


"Dimana?" Balas Natalia singkat.


"Sebuah negara di Asia Tenggara, Indonesia. Lokasi pastinya tak diketahui, tapi IP terakhir menunjukkan dirinya berada di Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang. Mungkin kita bisa...."


"Jangan bergerak terlebih dahulu." Balas Natalia dengan tatapan yang tajam.


"Eh? Kenapa?! Kau tahu jika kita menunggu terlalu lama dia bisa...."


"Kau lupa? Aku bahkan datang sendirian. Dan ketika aku tiba, AI sialan itu telah menungguku. Dia bisa melihat dan menyadari keberadaan ku. Jika kita terburu-buru, AI itu akan kembali kabur." Jelas Natalia.


Jacob terdiam. Ia menyadarinya bahwa target mereka saat ini bukan lah manusia dengan batasan tubuh fisik, yang tak mungkin kabur setelah terkepung.


Melainkan sebuah program komputer yang bisa menghindar bagaimanapun kondisinya. Selama Ia masih terhubung dengan internet.


"Lalu.... Bagaimana caranya?" Tanya Jacob.


"Itu.... Aku masih memikirkannya. Bisakah kau membantu ku?"

__ADS_1


Dan dengan ini, sebuah harapan baru bagi para Agen FBI mulai terlihat. Sebuah kesempatan kedua untuk mengejar AI yang berbahaya ini dan menghapusnya selamanya dari dunia ini.


__ADS_2