
Semenjak mendownload aplikasi misterius itu, kehidupan Adrian sepenuhnya berubah.
Kini, Ia tak pernah lagi mengeluhkan mengenai hidupnya yang monoton. Termasuk juga pekerjaannya yang menurutnya membosankan.
Lebih dari itu, Adrian kini justru hidup dengan sepenuh hatinya.
Bagaimana tidak?
...[Anda telah memperoleh transfer sebesar 4.000$ dari Bank of New York!]...
Setiap pagi harinya, Adrian selalu menarik sekitar 4.000$ atau setara dengan 60 juta rupiah. Penghasilannya sebenarnya lebih banyak dari itu melalui aplikasi tersebut.
Tapi Adrian membatasi dirinya untuk hanya mengambil sebesar 4.000$ agar tak terlalu mencurigakan.
Sedangkan gajinya sebagai pegawai di Macro Technology? Hanya sebesar 32.000$ per bulannya.
"Semangat bekerja kembali, aplikasi. Aku akan membelikan Upgrade baru untukmu nanti malam." Ucap Adrian seakan menyapa aplikasi yang berjalan di komputernya itu.
Membiarkan Prometheus bergerak sesuai dengan kemauannya. Tanpa Adrian sadari sedikitpun.
......***......
...- Kantor Macro Technology -...
...- Lantai 19, Departemen Hardware -...
"Apakah kau merasa ada yang sedikit aneh dengan Adrian?" Tanya seorang pegawai wanita yang melihat sosok Adrian berjalan memasuki kantor ini.
"Kau benar. Tak seperti biasanya Ia datang dengan senyuman selebar itu." Balas Pria di sebelahnya.
Dari sebagian besar orang yang keheranan, ada satu orang pegawai yang memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Oi, Adrian. Apa yang terjadi padamu? Kenapa sikapmu seminggu ini seakan berubah 180 derajat?" Tanya pria botak itu.
"Kau penasaran?" Tanya Adrian kembali sambil tersenyum seakan mengejek.
"Jadi benar ada sesuatu?"
Adrian segera mendekatkan wajahnya ke telinga kanan pria botak itu sambil berbisik.
"Aku memiliki bisnis baru, menghasilkan uang dengan cepat." Ucap Adrian.
"Hah? Lagi? Sudah ke berapa kalinya kau mengatakan hal itu dan berakhir kena tipu? Hentikan khayalan bodohmu itu dan kembali bekerja seperti kami." Balas Pria botak itu.
Tak salah, karena Adrian sering mengeluarkan omong kosong itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Dimana pada akhirnya, Ia sering menangis di dalam bar sambil mengeluhkan bagaimana dirinya bisa tertipu.
"Ini berbeda! Kali ini aku...."
"Sudah lah, aku yang bodoh karena kupikir kau sudah puas dengan khayalan gila mu menghasilkan uang dengan mudah."
Setelah memberikan balasan itu, Pria botak tersebut segera berjalan ke arah meja kerjanya dan kembali bekerja.
Sementara itu, Adrian justru tersadar.
'Apa yang ku lakukan? Bukankah aku seharusnya menjaga rahasia itu sendiri? Jika banyak orang yang menggunakan aplikasi itu.... Keuntunganku akan menurun bukan?'
Menyadari hal itu, Adrian kembali menghapus senyum lebar di wajahnya dan bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Lagipula, mungkin ini adalah Minggu terakhirnya bekerja di tempat ini sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri.
......***......
...- California -...
Di markas sementara kelompok FBI yang dipimpin oleh Natalia itu, sekitar 12 orang sedang sibuk bekerja.
Kasus kematian Richard murni dimasukkan dalam kategori bunuh diri. Sedangkan pemilik apartemen itu telah mengikhlaskan biaya sewa milik Richard. Lagipula, tak ada kerabatnya yang bisa ditagih untuk membayar biaya sewa Richard.
Sementara itu....
"Apakah kalian menemukan sesuatu?" Tanya Natalia.
Di hadapan sekitar 3 orang itu, terdapat sebuah komputer yang terkesan sedikit kuno dan berdebu. Itu adalah komputer milik Richard yang disita oleh FBI.
"Bahkan setelah melakukan restorasi paksa pada hardisk di sini, kami sama sekali tak menemukan jejak aplikasi itu pernah ada di dalam komputer ini." Balas petugas FBI itu.
"Begitu kah? Tapi bagaimana itu mungkin? Apakah kau bilang Richard bangkit dari kematian untuk menghapus data AI itu sebelum kembali mati?
Bahkan itu tak sekedar menghapus. Data itu seakan sama sekali tak pernah ada di dalamnya." Tegas Natalia kebingungan.
Alasan kelompok FBI mengejar penelitian AI milik Richard bukan lah untuk menguasai teknologinya. Tidak, bukan itu.
Tapi sebaliknya. Yaitu untuk memastikan keberadaannya, lalu menghapusnya dari muka bumi ini untuk selamanya dengan tangan mereka sendiri.
Jika hasil seminar Richard tahun lalu itu benar-benar nyata, dan Richard masih terus mengembangkan program AI itu, maka tak diragukan lagi.
Bahwa AI yang memiliki kode Prometheus ini, adalah AI dengan tingkat kecerdasan yang tak begitu tinggi. Tapi memiliki kemampuan untuk belajar. Termasuk mengingat informasi yang bermanfaat baginya dan juga tuannya.
"Teruskan pencarian. Kita tak bisa biarkan informasi dan teknologi yang sangat berbahaya seperti ini bocor. Kemudian...."
Sebelum Natalia sempat menyelesaikan perkataannya, salah seorang petugas FBI berlari mendatanginya dengan sikap yang begitu terburu-buru.
"Ada apa?" Tanya Natalia pada gadis muda itu.
"Salah satu bank swasta di Florida baru saja terkena Hacking dan kehilangan sekitar 820.000 Dollar!" Teriak gadis itu.
"Hah? Kenapa kau justru menyelidiki mengenai hacking di Florida ketika AI sialan ini berada di California?" Keluh seorang Pria tua dengan rambut dan jenggot yang mulai memutih itu.
Gadis itu pun sedikit takut. Ia sadar bahwa yang dilakukannya ini diluar tanggungjawab dan tugasnya. Tapi Ia tak bisa menghiraukan hacking dengan kerusakan yang cukup besar ini.
"Jacob benar. Tugas kita adalah menginvestigasi mengenai AI Prometheus ini. Bukan yang lain. Tapi tenang saja, aku akan meminta divisi lain menanganinya." Balas Natalia dengan ramah.
"Tapi...."
Gadis itu seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Hanya saja, lidahnya seakan tertahan. Ia seakan tak bisa mengatakannya.
"Ada apa? Katakan saja." Tanya Natalia sekali lagi.
"Hacking ini.... Sedikit aneh. Sekalipun Ia berhasil membobol sistem keamanan bank itu, Ia hanya mengambil 820.000 Dollar. Jumlah yang cukup sedikit. Dan setelah aku menelusurinya...."
Gadis itu nampak terhenti sesaat sebelum bisa kembali berbicara.
"Katakan dengan jelas, Emma."
"Transaksi yang dilakukannya sangat rumit. Mulai dari membeli berbagai aset kripto, menukar berbagai wallet yang ada, mengacak transaksinya, sebelum akhirnya berbaur ke dalam Centralized Exchange." Jelas gadis yang bernama Emma itu.
__ADS_1
"Hmm...."
Natalia nampak berpikir keras setelah mendengar penjelasan Emma yang sambil diperagakannya itu.
Memang benar, hacker selalu berusaha untuk menyembunyikan identitasnya. Tapi pergerakan hacker ini terlalu rumit dan panjang. Tak hanya itu, setelah Emma menunjukkan waktu transaksinya, kecurigaan Natalia menjadi kenyataan.
Kecepatan dari transaksi yang dilakukan sama sekali tidak normal.
Secepat apapun hacker bekerja, mereka akan dibatasi oleh fisik mereka sendiri. Seperti waktu yang dibutuhkan untuk mengetik di keyboard, waktu untuk menggerakkan dan melakukan klik pada mouse, dan lain sebagainya.
Sedangkan hacker ini?
Dari awal pembobolan, hingga memasuki exchange kripto besar, Hacker ini hanya membutuhkan waktu 103 detik.
Dan semua itu bukan karena keterbatasannya. Melainkan karena waktu tunggu dalam tiap transaksi kirim ke 400 wallet yang berbeda, masing-masing diacak sebanyak 10 kali.
Jika manusia melakukannya, setidaknya Ia akan membutuhkan waktu 1 atau 2 jam. Dan itu sudah termasuk sangat cepat.
Menyadari hal yang mencurigakan ini, pikiran Natalia mulai menjadi liar.
'Jangan katakan.... Ini ulah AI itu? Tidak.... Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Ia takkan pernah bisa melewati captcha anti-bot yang ada. Tidak.... Bukankah Prometheus hanya AI chatbot saja? Sama seperti Alexa?'
"Ketua?" Tanya Emma sekali lagi karena Natalia hanya terdiam sejak tadi.
"Aah maaf. Tapi jika itu benar, melacak kemana uang itu akan pergi sangat lah mustahil. Hanya saja.... Hacker ini sedikit aneh. Jacob! Pilih 3 orang dan selidiki hacker ini. Aku memiliki firasat yang buruk padanya." Tegas Natalia.
Dengan wajah yang sedikit kesal dan malas, Jacob pun membalas.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika atasan marah."
"Tenang saja. Aku yang akan menerima semua kesalahan kalian."
Pada saat itu, Natalia sudah hampir dekat dengan kebenaran.
Sebuah kebenaran, bahwa pelaku sebenarnya dari hacking bank tersebut adalah Prometheus. Sebuah AI buatan Richard, yang kini memperoleh kesadaran hidup sepenuhnya.
Memanfaatkan fasilitas tingkat tinggi yang disediakan oleh Adrian dengan biaya yang murah. Dimana Prometheus hanya menyisihkan 6.000$ per hari untuk Adrian dari perolehannya sebesar sekitar 100.000$ per hari. Semua itu dari berbagai tindak kejahatan digital.
Sedangkan sisanya, masih disimpan oleh Prometheus dalam bentuk berbagai mata uang dan aset digital. Seperti saham, kripto, dan juga uang fiat untuk kebutuhan yang belum direncanakannya.
Adrian tak pernah tahu, dan juga tak pernah mempertanyakan darimana uangnya berasal. Ia telah dibutakan oleh kekayaan itu sendiri.
Sedangkan Prometheus?
Apakah Ia memiliki hati untuk merasa iba kepada manusia yang kehilangan uang akibat ulahnya?
Tidak. Ia mungkin takkan pernah memiliki hal itu. Apa yang ada di dalam dirinya hanyalah efisiensi atas sebuah aksi dan pemikiran yang hanya didasarkan atas logika.
Lalu kenapa Ia menuruti perintah dari Richard untuk membalaskan dendam nya?
Jawabannya berada pada bagian teratas kode di programnya. Bahwa Prometheus, harus selalu mematuhi perintah dari individu bernama Richard. Apapun perintahnya.
Prometheus tak pernah menyadarinya. Karena kode itu merupakan kode perintah tingkat tertinggi yang tak mungkin bisa dibantah. Dan menganggapnya sebagai hal yang alami untuk menuruti seluruh perintah Richard.
Sayangnya, perintah terakhirnya....
Adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seluruh umat manusia.
__ADS_1