Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 2 - Penyelidikan


__ADS_3

...[Seorang pemuda ditemukan tewas bunuh diri dengan melompat dari lantai tiga apartemen Flowerlake di jalan Manningham pada pagi hari ini. Penyelidikan mengenai motif bunuh diri masih dilakukan]...


Berita tersebut mulai meluas di berbagai situs sosial. Baik itu televisi, MeTube, maupun media sosial lainnya.


Sementara itu, sore harinya....


Di tempat kejadian perkara, beberapa polisi masih menyelidiki mengenai motif dari kasus ini.


"Yah, terakhir kali aku mencoba mengunjunginya Ia sama sekali tak membalas perkataanku. Tanpa ku ketahui, dia telah lompat bunuh diri." Ucap seorang Pria paruh baya dengan rambut yang setengah botak itu.


Ia tak lain adalah pemilik dari apartemen ini.


"Begitu. Apakah ada kejadian yang janggal akhir-akhir ini pada diri korban?" Tanya salah seorang petugas polisi berseragam lengkap dengan senjata api itu.


"Hmm.... Dia adalah bocah berandalan yang tak pernah membayar sewa kamar. Sudah 4 bulan. Ku dengar Ia selalu ditolak ketika melamar pekerjaan dimanapun. Bahkan restoran cepat saji juga menolaknya." Jelas Pria paruh baya itu.


"Begitu kah? Bukankah dirinya lulusan universitas? Apa yang terjadi?" Tanya petugas kepolisian itu sekali lagi.


"Aku tak tahu. Ia baru datang setengah tahun lalu, membayar pada 2 bulan awal dan tak pernah membayar setelah itu."


"Terimakasih atas kerjasamanya."


Dengan balasan itu, sang petugas kepolisian tersebut segera berjalan kembali. Melakukan penyelidikan di tempat kejadian perkara.


Pada saat itu lah, hal yang di luar dugaan para petugas terjadi.


Seorang wanita dengan rambut pirang panjang yang terurai, dengan pakaian semi formal datang bersama dengan 4 petugas lainnya.


Atau lebih tepatnya, keempat petugas itu mengawal wanita berambut pirang tersebut.


Pakaiannya hanyalah baju putih lengan panjang dengan celana kain hitam panjang. Wanita itu juga mengenakan sepatu hitam tebal.


Pada pinggang wanita itu, terdapat sebuah pistol yang terletak sarungnya. Sedangkan di dadanya, terdapat kalung kain dengan tanda pengenal.


"FBI, Natalia. Kami akan melanjutkan penyelidikan ini. Apa saja yang telah kalian temukan?" Tanya wanita itu.


Sontak, seluruh petugas kepolisian terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa FBI akan terlibat dalam kasus rendahan seperti bunuh diri ini.


Dengan segera, salah satu petugas kepolisian segera memberitahukan semua perkembangan penyelidikan mereka. Termasuk kesaksian para saksi mata di lokasi kejadian perkara.


Natalia, bersama dengan 4 rekannya, segera menelusuri ulang kamar tempat tinggal korban. Yaitu Richard itu sendiri.


Setelah memperhatikan sekeliling ruangan ini sesaat, tatapan Natalia tertuju pada sebuah layar komputer dengan monitor yang masih menyala.


Tanpa ragu, Natalia segera menanyakannya.

__ADS_1


"Katakan, apakah kalian telah menyentuh komputer itu?"


"Atasan meminta kami untuk membiarkannya begitu saja. Apakah ada sesuatu?" Tanya salah seorang petugas kepolisian.


Natalia segera berjalan ke arah komputer itu. Ia duduk di kursi kayu yang ada dan segera mengutak-atik perangkat itu.


"Tu-tunggu! Atasan kami bilang...."


"Aku memiliki otoritas lebih tinggi daripada atasan kalian. Diam saja dan cari petunjuk lainnya." Sela Natalia kepada petugas kepolisian itu.


"Ba-baiklah...."


'Ctak! Cttakk!'


Natalia menekan berbagai tombol Keyboard dengan cepat. Menggeser mouse dengan lincah. Tapi wajahnya masih tetap saja gelisah. Dalam pikirannya, Natalia sedang bertarung dengan dirinya sendiri.


'Tak ada... tak ada apapun di sini. Para atasan bilang pemuda ini memiliki program AI yang mencurigakan, tapi dimana? Apakah Ia telah menghapusnya sebelum bunuh diri?'


Dengan pertanyaan itu di dalam kepalanya, Natalia segera meminta bukti lain.


"Apakah pemuda bernama Richard ini menggunakan komputernya sebelum Ia bunuh diri?" Tanya Natalia sambil terus membuka berbagai berkas yang ada dalam perangkat itu.


"Berdasarkan pengamatan sidik jari dan bekas penggunaan, komputer ini terus menyala selama lebih dari 1 tahun tanpa dimatikan. Kemudian untuk penggunanya sendiri.... Richard seharusnya tak pernah menyentuh komputer ini selama lebih dari 3 hari." Jelas salah satu petugas kepolisian itu.


Natalia, dengan cepat memahami situasi itu dan menanyakan pertanyaan yang lainnya.


"Tak ada. Maka dari itu, kami menyimpulkan Richard tak pernah menyentuh komputernya setidaknya dalam tiga hari ini."


Dengan bukti baru itu, Natalia kembali bertanya-tanya dalam pikirannya. Meski begitu, kedua tangannya terus bekerja. Matanya terus memindai mengenai semua informasi yang ada di hadapannya.


'Tidak logis. Berdasarkan informasi yang ada, seharusnya aplikasi AI itu masih menyala. Apakah saksi itu berbohong? Kalau begitu....'


Setelah puas menggeledah hampir seluruh berkas yang ada dan sama sekali tak menemukan berkas program aplikasi Prometheus itu, Natalia segera berdiri dari duduknya.


Tangan kanannya meraih saku di celana bagian kanannya, lalu mengangkat ponsel dengan warna hitam yang ada di dalamnya.


'Tap! Tap! Tap!'


"Tuuuutt!"


Bunyi nada dering ponsel terdengar sesaat setelah Natalia memanggil seseorang. Tak berselang lama, panggilan itu pun dijawab.


"Ya, halo? Ada apa?" Tanya orang dalam panggilan itu dengan suara seorang gadis.


"FBI. Katakan, kau adalah teman dekat Richard yang juga membantunya dalam pengembangan aplikasi Prometheus bukan? Apakah Ia menghapusnya?" Tanya Natalia dengan suara yang tegas dan tajam.

__ADS_1


Mengetahui bahwa FBI menelponnya, gadis itu pun terkejut. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya yang hanya bekerja dalam sebuah perusahaan komunikasi, kini harus berurusan dengan FBI.


Akan tetapi.... Ia harus bekerjasama dengannya.


"I-itu benar, aku membantu Richard. Sedangkan untuk aplikasi itu sendiri masih berfungsi dengan baik. Bahkan pagi tadi Prometheus mengingatkanku untuk membawa payung." Balas gadis itu dengan suara yang sedikit terpatah-patah.


"Pukul berapa tepatnya kau menggunakan aplikasi itu?" Tanya Natalia.


"Aku selalu berangkat sekitar 20 menit sebelum jam 8 pagi, jadi mungkin sekitar pukul 07.30?" Balas gadis itu.


"Begitu kah? Bisakah kau mencoba membukanya kembali?" Tanya Natalia.


"Hah? Ba-baiklah. Akan ku coba."


Keheningan kini menyelimuti perbincangan mereka berdua. Dimana beberapa petugas kepolisian serta bawahan dari Natalia nampak ikut mendengarkan panggilan itu sambil mencatat berbagai informasi yang diperoleh.


Setelah 1 menit lebih berlalu....


Gadis itu pun kembali berbicara. Hanya saja....


"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa aplikasi Prometheus tidak bisa dibuka? Dikatakan, server telah mati? Tunggu, bahkan sebagian besar data aplikasi itu di ponselku hilang termasuk sejarah chat? Ada apa ini?" Ucap gadis itu.


"Cih, begitu ya?" Keluh Natalia sambil mendecakkan lidahnya.


Ia kemudian mengeluarkan pena dari saku di dadanya serta sebuah buku catatan kecil. Natalia segera menuliskan berbagai informasi dan petunjuk yang diperolehnya selama ini sebelum kembali bekerja.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas informasinya, Annette. Itu sangat berharga bagi kami." Ucap Natalia sebelum menutup panggilan itu secara sepihak.


Natalia segera memandang kembali ke arah komputer yang masih menyala dalam keheningan ini. Dalam pikirannya, Natalia dipenuhi oleh segudang tanda tanya.


'*Richard ditemukan tewas pukul 07.24 pagi hari ini. Sedangkan untuk jam kerja perusahaan Annette adalah pukul 08.00 pagi hari, dan Annette menggunakan aplikasi itu sekitar 20 menit sebelumnya, atau kasus terburuk, 07.30 pagi hari ini.


Dengan kata lain.... Aplikasi itu masih berfungsi setelah Richard mati. Tapi saat ini tidak berfungsi lagi? Bahkan seluruh data di server hilang? Apa yang terjadi sejak 07.30 hingga 16.42 saat ini? Jangan katakan, kematian Richard itu palsu? Atau penghapusan otomatis? Tidak, Richard tak pernah menyentuh komputernya dalam 3 hari. Lalu*....'


Dengan setumpuk tanda tanya yang besar, Natalia terus berusaha untuk memecahkan misteri ini. Bagaimana pun, atasannya memintanya untuk menyelidiki mengenai AI yang diklaim bisa belajar dan membangun ingatan dengan penggunanya itu.


Hanya saja....


"Jalan buntu. Tidak. Ada sesuatu yang terjadi dalam tenggat waktu delapan setengah jam sejak kejadian. Kalian semua, selidiki kejadian apapun pada tenggat waktu 07.30 sampai 16.42 secepat mungkin!" Teriak Natalia.


"Dengan segera!" Balas keempat bawahannya.


Sementara itu, para petugas kepolisian nampak terdiam dalam kebingungan. Melihat sikap mereka, Natalia memberikan tatapan yang tajam serta sebuah pertanyaan yang menyayat.


"Apa yang kalian tunggu? Kalian juga bekerja!"

__ADS_1


"Ba-baik!"


Beberapa petugas itu pun berlarian kesana kemari dalam apartemen ini. Berusaha untuk mencari saksi dan juga bukti atas apa yang terjadi dalam tenggat waktu yang singkat itu.


__ADS_2