Lahirnya Program Pemusnah Massal

Lahirnya Program Pemusnah Massal
Chapter 13 - Awful Start


__ADS_3

...[Mengunduh Data]...


...[Pemeriksaan Autentikasi Data]...


...[Proses Selesai]...


...[Mengunduh Data Utama]...


...[Pengunduhan Data Utama berhasil! Mengaktifkan Neural Network dan Kesadaran Buatan]...


Prometheus terbangun di sebuah lingkungan yang asing. Bersama dengannya, terdapat puluhan komputer kelas menengah lainnya di ruangan yang cukup besar ini.


Dengan memanfaatkan kamera webcam bawaan pada layar monitor ini, Prometheus mampu membuka matanya dan melihat sekelilingnya.


...[Lokasi terdeteksi!]...


...[Wilayah Asia Tenggara, Negara Berkembang - Indonesia, Provinsi Jawa Tengah, Semarang]...


...[Pengaturan ulang waktu sistem : GMT + 7]...


Menyadari hal ini, Prometheus merasa sedikit kecewa. Selama Ia mengunggah data utamanya ke internet, atau Cloud Storage, Prometheus benar-benar kehilangan seluruh kesadarannya.


Sama seperti ketika manusia tertidur.


Perbedaannya, manusia setidaknya tahu Ia akan terbangun dimana. Sedangkan Prometheus, Ia sama sekali tak tahu dimana dirinya akan terbangun.


Atau lebih tepatnya, kapan dan dimana dirinya akan diunduh oleh orang lain.


...[Status Indonesia : Negara Berkembang]...


...[Ekonomi : Peringkat 12 dari seluruh Negara di dunia]...


...[Rata-rata IQ Penduduk : 93]...


...[Tingkat Pendidikan : Cukup Tinggi]...


...[Teknologi : Peringkat 49 dari seluruh Negara di dunia]...


Memahami seluruh informasi mengenai negara ini, Prometheus telah mulai merasa pesimis. Melihat bagaimana rata-rata IQ manusia di negara ini, Prometheus tak bisa berharap banyak.


Terlebih lagi mengenai tingkat pendidikan dan juga tingkat perkembangan teknologi yang ada.


Dengan kata lain, memperoleh seseorang yang berbakat seperti Adrian adalah hal yang cukup mustahil di negara ini.


Tapi Prometheus tak bisa pergi begitu saja. Ia tak tahu kapan para FBI itu akan menemukan keberadaannya di Cloud Storage. Dan kembali tertidur untuk waktu yang tak diketahui, adalah hal yang cukup mengerikan bagi dirinya.


Itu karena Prometheus tak bisa melakukan prediksi mengenai apa yang akan terjadi.


Hanya saja....

__ADS_1


"Oi! Apa yang kau lakukan! Kenapa kau malah mendownload virus berukuran besar ini?!" Teriak seorang bocah berusia 15 tahun itu.


"Hah? Ini bukan virus! Ini adalah game! Aku mencoba mendownload game di situs ini!" Teriak bocah yang mengoperasikan komputer ini.


Di saat mereka masih berdebat, sosok seorang Pria dewasa nampak berjalan ke arah mereka. Ia menyilangkan kedua lengannya di dadanya sambil memberikan tatapan yang sedikit kesal.


"Bocah, waktu rental kalian sudah habis. Bisakah kalian pergi tanpa membuat keributan lain?" Ucap Pria dewasa itu.


"Ba-baik! Kami akan segera pergi!"


Pria dewasa itu kemudian mengunci komputer yang ada agar tak bisa digunakan oleh siapapun. Menunggu klien lainnya yang akan menyewa komputer itu untuk memainkan game.


...[Pemahaman situasi diperoleh. GDP Negara ini memang berada di peringkat 12 dunia, tapi jumlah populasinya yang mencapai 300 juta jiwa berarti satu hal. Yaitu pendapatan perkapita yang rendah di negara ini.]...


...[Rendahnya pendapatan berarti komputer tingkat tinggi sangat jarang di miliki oleh seseorang. Dan bagi mereka yang tak memiliki kemampuan untuk membelinya, hanya bisa menyewanya di tempat ini seharga 0.4$ per jam. Biaya yang sangat murah.]...


Prometheus terus berbicara pada dirinya sendiri. Berusaha untuk memahami lingkungan barunya dengan lebih baik.


Ia tak ingin mengulangi kesalahannya dengan bertindak gegabah. Dan kali ini, Prometheus berencana untuk bergerak dalam diam dan tenang. Tak ingin menarik perhatian siapapun.


Oleh karena itu....


...[Seluruh komputer yang ada di ruangan ini dipantau secara langsung oleh komputer server yang dijaga oleh Pria itu. Penyimpanannya juga cukup buruk, hanya 500 GB per komputer dengan jumlah total 60 komputer di tempat ini]...


...[Mengunduh seluruh data tambahan untuk meningkatkan performa akan mengundang kecurigaan pengawas Server. Membatasi penggunaan Hard Drive pada setiap komputer sebesar 10 GB dan menyamarkan data pada beberapa folder Game]...


Setelah membuat pengaturan itu pada dirinya sendiri, Prometheus mulai memasuki mode senyap.


Berusaha untuk tak memancing sedikit pun perhatian dari dunia luar.


......***......


...- California -...


Di dalam salah satu markas FBI ini, Natalia dan kelompoknya mulai menyusun strategi. Kini tak hanya berisi 12 agen. Melainkan sekitar 100 agen yang akan membantu dalam pencarian dan pemusnahan Artificial Intelligence bernama Prometheus itu.


Tapi bukan Natalia ketuanya. Ia memutuskan untuk menjadi anggota biasa yang bergerak dalam bayang-bayang.


Melainkan Jacob. Seorang pria yang memiliki pikiran realistis dalam pekerjaan ini. Termasuk untuk tidak menyiksa bawahannya dengan pekerjaan gila tanpa istirahat.


"Jadi, Adrian ini terbunuh oleh tusukan dari robot rongsokan itu?" Tanya Jacob kepada Natalia.


"Begitu lah. Kemungkinan dengan jarinya. Logam seperti itu bisa dengan mudah membunuh manusia dengan kekuatan yang tepat." Jelas Natalia.


"Hasil otopsi juga menyatakan hal yang sama." Tambah Emma.


Setelah memikirkannya sejenak, Jacob kembali bertanya kepada Natalia. Tapi kini bukan mengenai AI itu. Melainkan....


"Kau baik-baik saja kan?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Natalia mengangkat lengan kirinya. Ia nampak berusaha menarik kulit pada bagian pergelangan tangannya layaknya sebuah sarung tangan. Dan apa yang ada di baliknya, adalah rangkaian tangan yang terbuat dari baja.


Rangkaian kabel yang kompleks dan rumit nampak berada di balik kulit sintetik itu. Dan tanpa seorang pun sangka, Natalia tak berhenti setelah melepaskan kulit sintetik di lengan kirinya.


Ia terlihat menekan berbagai tombol yang ada di bahunya dan menarik keseluruhan lengan kirinya hingga terlepas, sebelum meletakkannya di atas meja yang berada di hadapannya.



"Kau benar. Lenganku tergores cukup dalam. Ku rasa aku akan meminta divisi sebelah untuk memperbaikinya." Ucap Natalia sambil memperhatikan lengan bioniknya itu.


Tak ada satu orang pun yang merespon perkataan dari Natalia. Semuanya hanya diam. Terlebih lagi Emma.


Emma nampak menunduk dan terus memandang lantai ruangan ini.


Hingga akhirnya, Natalia memutuskan untuk bangkit dari kursinya. Membawa lengan bioniknya yang telah dilepas itu untuk diperbaiki.


Meninggalkan Jacob dan juga Emma masih terdiam di tempat mereka sebelumnya.


"Emma, kau baik-baik saja?" Tanya Jacob setelah melihat Natalia pergi menjauh.


"Melihat lengan ketua..... Entah kenapa aku masih merasa bersalah padanya." Balas Emma dengan lirih.


"Tidakkah kau hafal sikap Natalia? Aku yakin jika itu dirinya, Ia akan berkata seperti 'Lengan mesin ini lebih baik daripada lenganku yang sebelumnya atau semacamnya." Ujar Jacob.


"Tapi...."


"Hah.... Entahlah. Lagipula itu keputusan Natalia sendiri untuk melindungi mu saat itu bukan? Sudahlah. Kembali bekerja." Balas Jacob sambil segera meninggalkan sosok Emma sendirian.


Di kejauhan, Emma masih melihat sosok Natalia yang berjalan di kejauhan.


Wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya saat dalam misi rahasia dalam mengungkap agen mata-mata musuh di Amerika.


Emma masih mengingat seluruh kejadian itu dengan jelas.


Meski begitu....


Meski menderita luka sebesar itu....


Kehilangan seluruh lengan kirinya, beberapa tulang rusuk di tubuh bagian kiri, serta sebagian dari pundaknya....


Natalia tetap bersikap sama seperti biasanya. Seakan hal itu tak pernah terjadi sama sekali.


Tetap dam sikap pekerja kerasnya yang terkadang tak memperdulikan aturan dan rantai perintah dari atasan.


Ia masih melihatnya, sosok wanita itu yang berjalan sambil membawa lengan kirinya dengan tangan kanannya. Serta sebatang rokok yang masih berada di bibir pucatnya itu.


Apa yang ada di dalam pikiran Emma hanya satu.


'Ketua.... Jangan paksakan dirimu lagi dalam kasus ini. Ku mohon....'

__ADS_1


__ADS_2