
"Bagaimana hasilnya?" Tanya agen FBI lain yang berada di dalam markas rahasia di Kota Jakarta ini.
Natalia hanya terdiam karena cukup kesal. Bagaimana tidak?
"Dia sangat bersih. Seluruh penghasilannya merupakan hasil investasi yang cerdas dan juga tepat. Tak hanya itu, kharismanya sebagai seorang pemimpin juga luarbiasa.
Tak salah lagi, dia hanyalah seorang pebisnis ulung yang baru saja naik daun. Dimana publik menggelontorkan dana yang cukup besar pada perusahaannya Elvor itu." Jelas Jacob panjang lebar.
"Tidak! Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu!" Teriak Natalia yang masih yakin dengan pendirian dan pendapatnya.
"Sayang sekali, penyelidikan lebih lanjut padanya akan membuatnya semakin berhati-hati. Itu pun jika Naufal memang menyembunyikan sesuatu. Jika tidak? Kita bisa dituntut mengingat besarnya pengaruh Naufal saat ini."
Argumen dari Jacob memang benar adanya.
Lagipula, mereka adalah agen yang berasal dari negara lain. Yang menyelidiki secara diam-diam tanpa surat perizinan yang terbuka pada negara Indonesia.
Itu karena FBI masih ingin menyembunyikan informasi mengenai keberadaan Prometheus yang bisa saja akan menggoncang seluruh dunia ini.
Akhirnya, semua agen kembali bekerja. Kini berniat untuk menyelidiki kandidat selanjutnya yang mereka curigai.
"Daripada Naufal, kami merasa sosok bernama Markus ini cukup mencurigakan. Ia memiliki rata-rata kemenangan perdagangan yang melampaui 95% dan juga berbagai aset Kripto yang tak jelas asal-usulnya.
Jika melihat kembali ratusan Bitcoin yang telah dicuri oleh Prometheus, maka kemungkinan besar Ia adalah sosok yang pantas dicurigai. Lihat ini." Jelas salah satu agen FBI sambil menunjuk pada layar monitor mereka.
Pada layar tersebut, terpampang dengan jelas rekam jejak transaksi di dompet digital milik sosok bernama Markus itu.
Dimana Markus secara misterius memperoleh 5 Bitcoin yang saat ini senilai 7 milyar rupiah lebih.
"Hmm.... Kau benar. Jika melihat alamat pengirimnya, bukankah berasal dari situs Typhoon Cash? Pengacak uang itu?" tanya Jacob.
"Jadi peluang besarnya, sosok ini memiliki hubungan dengan Prometheus."
Semuanya nampak sibuk bekerja membahas kandidat mencurigakan yang berikutnya. Sementara Natalia hanya diam di sudut ruangan, termenung dalam pikirannya sendiri.
......***......
Wilayah Klaten, Jawa Tengah.
Di wilayah ini, pembelian tanah pertanian dalam ukuran yang sangat besar baru saja terjadi. Total lebih dari 12 hektar tanah yang sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian baru saja dibeli oleh seseorang.
Atau lebih tepatnya, dibeli oleh sebuah perusahaan bernama Elvor.
Founder sekaligus CEO dari Perusahaan raksasa teknologi, Elvor. Bersama dengan shareholder terbesar mereka yaitu Naufal baru saja mengamankan lahan yang cukup besar untuk kawasan pabrik mereka.
Sebuah pabrik yang direncanakan akan digunakan sebagai tempat produksi desain Android pertama mereka.
__ADS_1
Bukan Android dalam hal sistem operasi ponsel. Melainkan sebuah robot yang meniru wujud manusia.
"Jadi bagaimana, Tuan Endra? Apakah desain dari Droid versi 1 ini telah selesai?" tanya Naufal sambil berjalan mengelilingi tanah pertanian yang baru saja mereka beli itu.
Beberapa pekerja nampak berkeliling untuk mengukur dan memetakan tanah ini. Sehingga dapat merancang desain pabriknya nanti.
"Masih 40%, Tuan Naufal." balas Endra singkat.
"Usahakan selesai sebelum pabrik ini selesai dibangun. Kita tak boleh mengecewakan para investor." balas Naufal.
"Tentu saja, Tuan. Lalu mengenai...."
Saat ini, Naufal benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda. Ia memiliki pekerjaan yang luarbiasa, kekayaan yang melimpah, serta pengetahuan dan kharisma yang kuat.
Siapapun yang berdiri di dekatnya bahkan mulai bisa merasakan tekanan yang kuat dari diri Naufal.
Dan kini, rencana Prometheus mulai berjalan dengan sangat lancar.
Ini lah yang diinginkannya sejak dulu. Sejak Ia bekerja dengan Adrian. Membuat seseorang cukup kaya dan kuat sehingga bisa lebih mudah dimanfaatkan.
Bukan hanya membangun robot sendiri dengan tangan. Tapi kali ini, Prometheus berhasil meyakinkan Naufal untuk bekerja di bidang AI dan Robotik.
Secara tak sadar, memberikan fasilitas yang besar kepada Prometheus untuk memproduksi tubuh mekaniknya sendiri.
Di saat Naufal dan juga pekerja lainnya sedang sibuk di lapangan untuk mempersiapkan pabrik baru mereka, para pegawai yang ada di Kantor utama Elvor di Jakarta juga bekerja dengan keras.
"Sialan, rumit sekali...." Keluh salah seorang pegawai yang bertugas untuk membangun kecerdasan buatan itu.
Dimana rencana dan juga janji Elvor kepada publik adalah membuat sebuah robot yang bisa bekerja layaknya seorang manusia.
"Berikan mereka perintah, maka mereka akan mengerjakannya."
Itulah slogan iklan Elvor mengenai produk yang bahkan belum dirilis ini. Membuat raksasa teknologi di Barat mulai merasa tersaingi.
Meski begitu....
Apa yang sedang direncanakan oleh Elvor adalah sesuatu yang sangat revolusioner dan tak pernah bisa dilakukan oleh siapapun di dunia ini.
Karena tujuan mereka, adalah menciptakan sebuah General Intelligence atau kecerdasan umum. Dimana robot tak hanya cerdas dalam satu bidang, tapi hampir seluruh bidang.
Selama ini pencapaian terbaik dalam AI hanyalah dalam membuat kecerdasan yang terfokus. Seperti robot yang bisa bermain catur. Atau robot yang melakukan gerakan sederhana di dalam pabrik, dan lain sebagainya.
Menyadari hal itu, Prometheus sebagai satu-satunya AI yang memiliki General Intelligence segera bertindak.
Membantu umat manusia dalam mendesain salinan dari dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, salinan untuk tubuhnya di masa depan.
__ADS_1
"Kau benar. Tugas ini terlalu sulit." Keluh pegawai yang lainnya.
"Sialan.... Bos juga sekarang semakin keras. Apakah ini karena tuntutan Pak Naufal?" Tanya pegawai sebelumnya.
"Ssttt! Biar bagaimana pun, gaji kita sangat besar di sini. Mau tak mau kita harus berjuang mempertahankan pekerjaan ini." Balas pegawai lain di belakang mereka.
Di saat beberapa pegawai itu sibuk berdebat satu sama lain, Prometheus mulai merubah kode yang mereka tuliskan di layar. Dimana saat ini, Prometheus bisa bergerak bebas dari satu komputer ke komputer lain di perusahaan Elvor ini.
Kecepatan pekerjaan Prometheus benar-benar di luar batas kemampuan manusia yang terbatasi oleh input Keyboard.
Sedangkan Prometheus bisa langsung menuliskan kode hampir secara instan. Hanya dalam waktu kurang dari 5 detik, Prometheus berhasil merubah 5.000 baris kode di komputer mereka semua.
Saat salah satu dari mereka berbalik badan....
"Hah? Apakah aku yang menuliskan ini?" Tanya salah seorang pegawai itu yang melihat adanya perubahan di barisan kode mereka.
"Apakah punyamu juga berubah?"
"Ya, entah kenapa kodenya berubah dengan sendirinya."
"Mungkin kau lupa menuliskannya? Bukankah kau bilang sendiri bahwa kau itu pelupa?"
"Eh? Apakah aku pernah bilang seperti itu?"
"Lihat sendiri kan? Kau pelupa."
Sekitar 10 lebih pegawai merasa kebingungan karena kode mereka berubah secara tiba-tiba. Tapi semuanya menyepakati satu hal yang sama.
Dimana mereka tak ingin ambil pusing, dan mencoba menjalankan kode itu di salah satu komputer server mereka.
Apa yang mereka lihat di dalam dunia virtual di komputer itu, adalah sebuah keajaiban.
Model Ai yang dibentuk dalam sebuah robot sederhana di dalam sebuah aplikasi pengujian itu menunjukkan perilaku yang luarbiasa.
Mereka mencoba memberikan berbagai perintah padanya. Seperti perintah melompat yang sama sekali tak didesain di dalam Neural Network kodenya.
Tapi AI tersebut memahami arti dari kata melompat dan segera melaksanakan perintah mereka berdasarkan kesimpulan yang dibuatnya.
"A-aku tak salah lihat kan?"
"Kode ini.... Berhasil?"
"Bukankah sebelumnya Ia justru tiarap ketika diberi perintah melompat?"
Setelah saling menatap satu sama lain, semua pengembang kode mengenai General Intelligence itu sepakat atas satu hal.
__ADS_1
Yaitu untuk tutup mulut dan menganggap bahwa pekerjaan mustahil mereka, secara tiba-tiba berhasil selesai.
Dan juga memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai cara kerja kode tersebut, sambil memakan gaji besar mereka terhadap pekerjaan yang telah selesai itu.