Langit Aurora

Langit Aurora
1.0 Langit Aurora


__ADS_3

...“Tidak ada yang lebih indah dari rasa. Tidak ada yang lebih nelangsa dari rindu. Selain hatiku, andai kau tahu itu.”


...


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


Setibanya di balkon, mata Aurora langsung disambut oleh Langit yang tengah bermain basket dihalaman belakang. Pemuda itu memakai cenala panjang hitam, kaus dalaman putih yang dibungkus rompi abu-abu bertudung, yang memamerkan lengan berototnya. Rambutnya sedikit lepek karena keringat.



“Paman ganteng!!!”



Sosok Ains muncul dengan sebotol air minum dan handuk kecil yang kemudian ia berikan pada Langit. “Kapan bocah itu pulang??” gumam Aurora sambil memandang Ainsley yang tengah berbincang dengan Langit.



Aurora mengerutkan dahinya saat Ains membisikkan sesuatu pada Langit. Sesekali laki-laki itu tersenyum. Memiliki firasat buruk dengan keponakannya itu, buru-buru Aurora membalikkan tubuhnya sehingga hanya punggungnya yang terlihat ketika pemuda itu memandang kearahnya. Dengan ragu Aurora menoleh dan mendapati Langit tengah menatap padanya, buru-buru Aurora menoleh dan menghindari tatapan Langit.



“BIBI!!” panggil Ains, membuat Aurora mau tidak mau membalikkan tubuhnya. Terlihat Rain yang melambai padanya. “Turunlah, kita main basket sama-sama. Bukankah kau ingin berlatih basket? Paman tampan bisa mengajarimu!!” ujar gadis kecil itu.



“Me..me..mang…nya kapan Bibi mengatakannya? Jangan ngaco, bocah!” kata gadis itu sambil menekuk mukanya.



“Hahahha, paman tampan!! Lihatlah wajah Bibi Aur yang seperti kepiting rebus!!” Ainsley terkekeh membuat Aurora semakin kesal.



Dengan menahan malu. Gadis itu berbalik dan berjalan masuk.



Aurora merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Ponselnya kembali berdering. Saat Aurora memeriksanya, sedikitnya ada 17 panggilan tak terjawab dan semua panggilan itu dari mantan kekasihnya.



Aurora berdecak lidah, gadis itu membuka ponselnya kemudian mengeluarkan card dari dalamnya dan memotongnya menjadi dua bagian lalu membuangnya. Aurora bangkit dari posisinya, menyambar handuknya dan melesat menuju kamar mandi.



Tiga puluh menit kemudian Aurora keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dadanya sampai atas lututnya. Tangan kanannya sibuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.


__ADS_1


Aurora terkejut saat melihat ada dress cantik tergeletak diatas tempat tidurnya. Aurora mengenali dress itu, itu adalah dress yang Langit pilih kemarin untuk ia mencobanya. Aurora tidak tau bila Langit akan tetap membeli dress itu untuknya.



“Dasar keras kepala!!” kata Aurora sambil tersenyum tipis.



Aurora mengambil dress berlengan panjang itu dan membawanya ke dalam kamar mandi. 10 menit kemudian ia kembali dengan dress pemberian Langit, gadis itu memperhatikan penampilannya dicermin. Dress itu begitu pas ditubuhnya, Aurora tersenyum manis.



“Ternyata seleranya bagus juga!!” ucapnya entah pada siapa.



Aurora memoles make up tipis pada wajah cantiknya dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah. Gadis itu beranjak dari depan cermin kemudian melenggang keluar.



“Apa?!!”



Aurora terlonjak kaget. Di depan pintu ia berpapasan dengan Langit yang juga baru keluar dari kamarnya. Aurora menatap penampilan Langit dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pemuda itu memakai jeans hitam yang tampak robek di lututnya, singlet hitam dan vest abu-abu berleher tinggi. Langit terlihat begitu tampan dan cool.



“Dress itu sangat cocok untukmu!!” kata Langit sambil mengulum senyum tipis. Aurora tersipu malu mendengar pujian Langit.




“Itu karena aku ingin kau memakai dress ini!!” ucap Langit, Aurora mengangkat kembali wajahnya dan mendapati Langit tengah tersenyum padanya.



“Kalian berdua, sampai kapan mau diam di sana dan membiarkan kami menunggu kelaparan disini!!” teriak Luna dari ruang tamu.



Buru-buru Aurora beranjak dan meninggalkan Langit begitu saja. Pemuda itu lalu berjalan mengekor di belakangnya. Aurora tidak ingin dibully habis-habisan oleh Luna karena berbincang dengan Langit.



“Huaaa kelihatannya lezat!!” Luna memukul tangan Aurora menggunakan sendok saat gadis itu ingin mencoba masakannya.



“Jangan kurang ajar, tunggu Langit dulu kemudian kita sarapan bersama-sama!!” Aurora menekuk wajahnya karna teguran Luna.



“Ckk!! Kenapa dikit-dikit jadi dia sihh!” protes Aurora sambil menatap Luna kesal.


__ADS_1


“Karena dia tamu dirumah ini, Aur!!” ujar Luna. Aurora mendengus, gadis itu mengambil tempat disamping Luna.



“Duduklah Langit!! Kakak masak banyak hari ini. Kamu makan yang banyak ya!!” kata Luna sambil mengulum senyum manis.



“Terimakasih, Kak!!” Dari Luna, pandangan Langit bergulir pada Aurora yang tengah melipat tangannya sambil membuang muka. Melihat ekspresi gadis itu membuat Langit terkekeh pelan. Rasanya Langit ingin sekali menjitak kepala Aurora saking gemasnya. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Langit yang juga menatap padanya. Berbicara tanpa suara.



“Apa? Siapa yang kau lihat?” tanya Aurora tanpa suara.



“Kau,” Langit menunjuk Aurora dan membuat mata gadis itu membelalak.



"Bibi, kita tukeran tempat. Aku ingin duduk dengan Ibu!!" kata Ains yang kemudian bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Luna.



Aurora menghela nafas. Dengan terpaksa ia berpindah tempat dan merelakan tempatnya ditempati oleh keponakannya, yang artinya ia akan duduk bersebelahan dengan Langit. Aurora menoleh membuat mata abu-abunya bersirobok dengan mata abu-abu milik Langit. Aurora tersenyum tipis, semburat merah muncul dipipinya melihat senyum Langit yang menurutnya menyesatkan itu.



"Ekhem!! Uhuk!!! Uhukk!!" Hans tiba-tiba terbatuk-batuk, ayah satu anak itu terkekeh melihat Langit dan Aurora yang sama-sama kelabakan. Sepertinya Hans memang sengaja.



"Oya!! kemarin kalian kemana? Kenapa saat pulang, kalian malah tidak ada dirumah?" Aurora menatap Hans dan Luna bergantian.



"Ohh!! Kemarin, Ains merenggek ingin jalan-jalan. Makanya kemarin kami pulang sampai larut malam!!" ujar Luna. Aurora mengangguk-angguk.



Setelah perbincangan singkat itu. Tidak ada lagi perbincangan antara mereka berempat, semua sibuk dengan sarapannya begitu pula dengan Ains. Ainsley makan dengan lahapnya sambil sesekali menggoyang-goyangkan kakinya. Ainsley menatap polos Aurora dan Langit secara bergantian.



Ains tersenyum melihat wajah bibinya yang suka memerah saat Langit menatap ke arahnya "Hayo!! Bibi sedang jatuh cinta ya? Lihatlah, wajah Bibi memerah setiap kali ditatap sama paman tampan!!" kata Ainsley dengan polosnya.



"A-pa maksudmu, princess? Memangnya siapa yang jatuh cinta??" kata Aurora sedikit tersipu. "Bibi!!" tunjuk Ains pada Aurora. "Jangan ngaco! Memangnya siapa yang jatuh cinta padanya!!" kata Aurora yang pura-pura sibuk dengan sarapannya.



"Sudah-sudah!! Ini meja makan, sebaiknya kalian tidak ribut. Ains kamu juga, berhenti mengganggu dan menggoda Bibimu!!" Ainsley menundukkan wajahnya dan mengangguk.



"Baik, Bu!!" balas gadis kecil itu. Luna tersenyum lalu mengusap kepala Ains penuh sayang, semua pun kembali pada sarapannya. Tidak ada lagi perbincangan, semua sibuk menikmati sarapannya. Meskipun sesekali Aurora mencuri pandang kearah Langit.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2