
Happy Reading!!!
.
.
.
Bulan Desember—memanglah bulan yang sangat menyenangkan. Salju turun dengan menampakkan kristal-kristal putihnya yang indah.
Kebanyakan orang pasti akan menghabiskan waktunya dirumah, menghangatkan diri mereka masing-masing, atau bersantai dan menikmati the hangat dirumah. Hampir semua penduduk kota menyambut datangnya musim dingin dengan suka cita.
Namun, hal ini tidak berlaku untuk bagi gadis yang sedang menatap titik-titik putih yang terus berjatuhan dari langit dan membuat warna putih tersebar di mana-mana. Aurora kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
“Aur,”
Sebuah suara baritone membuyarkan lamunannya. Manik matanya membulat, detak jantungnya pun berdetak tak menentu saat menyadari wajah seorang pemuda sangat dekat dengannya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah cantik yang merona itu.
“Langit.” Bibirnya mengumamkan namanya pelan. Gugup terlihat jelas dari tatapan dan sikapnya.
“Apa yang sedang kau lamunkan?” tanya Langit. Tangannya terulur mengelus helaian coklat terang milik Aurora. Mata abu-abunya menatap lembut iris hazel itu, itu semua membuat nafas Aur tercekat di tenggorokan.
‘Ya Tuhan, bagaimana ini, hatiku luluh hanya dengan sikap nya yang lembut padaku, membuatku berharap padanya’ jeritnya dalam hati.
“Hidungmu memerah, dan tanganmu terasa sangat dingin.” Buru-buru Aurora menarik tangannya yang di genggam oleh Langit. Tangannya terasa begitu hangat. “A-Aku-“
Aurora tak melanjutkan ucapannya ketika melihat wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, membuat Aurora terbawa suasana.
Perlahan ia memejamkan kedua matanya dan meresapi setiap helaan nafas Langit yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Terasa hangat.
Sedikit lagi… ya, sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Sampai tiba-tiba….
“BIBI, PAMAN TAMPAN KAMI PULANG!”
Deg.
Kedua mata Aurora membelalak sempurna. Buru-buru dia mendorong tubuh Langit lalu beranjak dan meninggalkannya begitu saja. Akan sangat berbahaya jika Ains sampai melihat apa yang nyaris saja terjadi. Keponakannya yang cantik dan menggemaskannya itu pasti akan berteriak histeris dan dirinya akan menjadi bahan bullyan kakak iparnya.
“Apa!! Princess akhirnya kau pulang juga. Bibi, sangat merindukanmu.” Aurora memeluk Ainsley dengan erat. Sambil mencium pipi kanan dan kirinya secara bergantian.
__ADS_1
“Bibi, kau berlebihan sekali. Dan kau membuatku tidak bisa bernapas.” Protes Ains karena pelukan Aurora yang terlalu erat.
“O’Oh maaf, Bibi terlalu bahagia karena akhirnya kalian bertiga pulang juga.”
“Bibi, kau terlihat sangat mencurigakan. Ahh, pasti terjadi sesuatu antara dirimu dan paman tampan ya?” tebak Ainsley dengan gerlingan nakalnya. “Bibi, hayo ngaku. Pasti kalian berdua sudah berciuman ya?”
“Astaga bocah, apa yang kau bicarakan?! Jangan mengada-ada, deh. Di mana ibu dan ayahmu?”
“Dia masih di teras. Sebentar lagi juga masuk.” Ainsley memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar melihat Langit yang berjalan menghampirinya. “PAMAN TAMPAN!!!” seru Ains dan langsung menubruk tubuh Langit hingga pemuda itu terhuyung ke belakang.
“Bagaimana perjalanamu?”
“Sangat menyenangkan, tapi aku merasa kesepian di sana. Dan ternyata Swiss lebih dingin dari pada Korea. Untung saja Bibi Aur tidak ikut. Kalau ikut, aku jamin pasti dia mengeluh sepanjang hari.” Langit terkekeh, lalu pandanganya bergulir pada Aurora dan tersenyum tipis. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan ketika sedang menekuk wajahnya.
Melihat Langit yang terus memandang ke arah Aurora membuat Ains tersenyum misterius. Gadis kecil itu mencium aroma cinta dari pancaran mata pemuda berdarah China tersebut.
“Paman, bukankah Bibi Aur sangat cantik.” Ucap Ainsley dan membuat Langit tersentak. Ains terkekeh geli melihat wajah kaget Langit. “Paman menyukai bibi Aur ya? Sepertinya, bibi Aur juga menyukai Paman. Dia selalu merona dan salah tingkah saat Paman menatapnya.”
“Bibi mau bertaruh?!”
“Soal apa?”
“Soal yang Bibi katakan tadi. Bibi bilang tidak mungkin menyukai Paman tampan. Bagaimana jika Bibi sampai menelan ludah sendiri?!”
“Jangan ngaco, sudahlah Bibi ke kamar dulu.”
Ainsley terkekeh. Dia merasa geli sendiri melihat sikap bibinya yang terlihat begitu menggemaskan itu. “Paman, lihat itu? Bibi Aur, terlihat sangat gugup dan malu. Jelas-jelas dia sudah jatuh cinta pada Paman tampan, tapi tidak kau mengakuinya.” Tutur Ains panjang lebar.
Dan Langit hanya menyikapi ucapan Ains dengan senyum tipis. “Kau terlalu banyak bicara, Nona kecil.” Langit mencubit pipi Ains lalu menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya. Langit menghampiri sepasang suami-istri yang terlihat berjalan beriringan memasuki rumah.
Luna langsung pergi ke kamarnya sementara Hans dan Langit berbincang di ruang tamu. Perjalanan kali ini begitu melelahkan dan Luna sudah sangat merindukan kasur empuknya.
“Soal yang Bibi katakan tadi. Bibi bilang tidak mungkin menyukai Paman tampan. Bagaimana jika Bibi sampai menelan ludah sendiri?!”
__ADS_1
Aurora menutup matanya dan menggeleng kuat-kuat. Kata-kata Ains begitu membekas dan terus mengganggu pikirannya.
Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Langit? Benarkah yang dia rasakan itu adalah cinta? Tapi Aurora masih ragu, dia terlalu takut membuka kembali hatinya. Dia tidak siap jika harus terluka lagi.
Aurora berjalan menuju balkon kamarnya dan berdiri di sana. Hawa dingin yang begitu menusuk langsung menyambutnya ketika dia menginjakkan kakinya yang terbalut heels di lantai balkon.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, bulir-bulir salju kali ini turun dari langit yang menghampar kelabu dengan begitu cepat. Seolah berlomba, tak memerlukan waktu lama baginya untuk dapat membius seluruh penjuru kota dengan nuansa beku. Dalam sekejap saja salah satu negara tersibuk di dunia itu telah disulap menjadi sebuah padang putih yang sunyi.
Meskipun para penduduk negeri Ginseng terkenal dengan daya tahannya terhadap dingin, tetap saja mereka tak mampu melawan suhu udara yang hanya beberapa lebihnya di atas nol derajat celcius, dan dikabarkan akan semakin turun menjelang tengah malam nanti. Itulah kenapa banyak warga yang memilih untuk mengalihkan saja seluruh aktivitas ke dalam ruangan daripada harus berkonfrontasi dengan cuaca.
Beruntung ini adalah zaman yang serba modern. Sehingga paradoks dengan kondisi di luar sana, para insan kini bisa menghadirkan kehangatan pulau tropis ke dalam rumah. Atau setidaknya itulah yang ditawarkan alat penghangat yang beberapa minggu terakhir sering menghiasi layar kaca.
Akan tetapi, tak peduli betapa pun praktisnya kehidupan modern ini, Aurora tetap tidak menyukai musim dingin.
“Kita bisa membahasnya nanti setelah aku kembali ke China.”
Suara familiar itu langsung menarik perhatian Aurora untuk menoleh pada asal suara. Di sana, dalam jarak lima meter Aurora melihat sosok pemuda yang sedang berbicara di telfon. Tidak terlihat seperti apa ekspresi pemuda itu, hanya punggung yang tertutup rompi tebalnya yang tertangkap oleh netra mata Aurora.
“Sebaiknya kau segera tidur, jangan sering keluar di musim dingin seperti ini. Aku tutup dulu telfonnya,”
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Aurora mendengar Langit yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telfon. Terdengar suara manja seorang wanita yang samar-samar tertangkap oleh telinganya.
“Aur, kau belum tidur?” Aurora tersentak kaget. Teguran Langit menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya.
“Langit, kau membuatku terkejut.” Seru Aurora sambil mengusap dadanya dengan gerakan naik turun.
“Maaf, aku tidak bermaksud.”
Langit menghampiri Aurora kemudian berdiri di sampingnya. Aurora memperhatikan apa yang Langit pakai. Celana panjang, sweater hitam yang di bungkus rompi tebal. “Tumben kali ini dia waras?” ujar Aurora membatin. Biasanya Langit memakai pakaian lengan terbuka, tapi kali ini tidak.
“Apa yang kau lihat?”
“Tidak ada.” Aurora menggeleng.
__ADS_1
“Bukankah kau sangat membenci salju, lalu kenapa kau malah berdiri di sini dan melihat salju tutun?” tanya Langit penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...