Langit Aurora

Langit Aurora
2.8 Langit Aurora


__ADS_3

...“Ku harap ada seseorang akan dan membuatku amnesia melupakan dirinya.”...


......................


Tegang ga nih??


😅😭😷


...----------------...


“Hai tampan, sendirian saja!”



Seorang pemuda yang sedang duduk di depan Bar Stoll sambil menikmati segelas cinder menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berpenampilan sexy berdiri disampingnya mencoba untuk menggodanya.



Pemuda itu mendengus sinis, diamati penampilan wanita itu yang hanya memakai mini dress super pendek yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Mengabaikan wanita itu, pemuda tersebut kembali disibukkan dengan gelas minumannya.



Sikapnya yang cuek seolah mengatakan jika ia tidak memiliki ketertarikan pada apa pun yang wanita itu coba tawarkan.



“Pergilah nona! Aku tidak minat denganmu!” katanya ketus. Wanita itu mendecih, dengan perasaan kesal ia meninggalkan pemuda itu seorang diri.



“Langit! Aku heran denganmu! Disaat kedua sahabat gilamu itu berlomba-lomba untuk mendapatkan mereka, kau dengan entengnya malah menolaknya. Apa wanita-wanita itu tidak ada yang menarik dimatamu?” ujar seorang bar tender yang berdiri dibalik Bar Stoll. Pemuda itu ‘Langit’ mengulum senyum sinis.



“Mereka hanyalah kumpulan \*\*\*\*\*\* yang tidak berharga, mereka rela menjual diri hanya demi mendapatkan kepuasan dan mengejar materi. Memangnya apa istimewanya wanita seperti itu, dan lagi pula bagaimana aku bisa membiarkan wanita lain dengan mudah mendekatiku disaat kunci hatiku sudah ada yang menggenggamnya!” tutur Langit sebelum meneguk kembali cindernya hingga tandas tidak tersisa.



Dahi bar tender itu mengerut, mata hitamnya menatap Langit penuh selidik. “Apa! Jadi kau sudah memiliki kekasih? Kenapa aku tidak pernah tahu!” Langit mendengus sinis, wajah itu terangkat membuat mutiara abu-abu miliknya bersiborok dengan mutiara hitam milik si bartender itu.



“Kekasih? Kau lucu sekali, memangnya kau pernah melihat aku berkencan selama empat tahun ini?” pemuda itu menggeleng. Muncul sebuah tanda tanya besar dibenaknya.



“Jika kekasih saja kau tidak punya, lalu siapa sebenarnya wanita yang memegang kunci hatimu itu?” tanyanya memastikan.



“Aurora!” Langit menjawab cepat. Mata abu-abunya menerawang jauh, otaknya mencoba memutar memori masa lalunya hingga semua kenangannya bersama Aurora kembali berputar dan memenuhi pikirannya. Langit tersenyum hampa, sungguh betapa ia sangat merindukan gadis itu.



“Aurora? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Memangnya dia gadis seperti apa, Langit? Sampai-sampai membuatmu jatuh cinta pada--?” pemuda itu tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat sorot tajam dari mata kanan Langit.

__ADS_1



‘Aurora’ adalah sebuah nama itu terukir dengan indah dihati dan pikirannya. Nama yang membuat Langit tidak bisa berpaling kemudian menggantinya dengan nama lain. Begitu sempurna terpahat indah didalam hatinya.



Drett!! Drett!! Drett!!



Dering ponsel disaku jaket kulitnya mengalihkan perhatian Langit. Dengan segera ia mengeluarkan benda tipis itu dan mendapati satu nama menghiasi layar ponselnya. Sedikit malas, Ia menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.



“Apa ada?”



“Dibar, tumben kau menghubungiku? Tidak biasanya!!”



“Aku malas, bukannya kau bisa menjemput mereka sendiri dan bukankah kau bilang mereka rekan bisnis papa, kenapa tidak dia saja yang menjemputnya?”



“Ck! Berhentilah mengganggu kesenanganku, Jayden Hadrenda Zhang!” Langit memutuskan sambungan telponnya dan memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku jaketnya.




Langit hanya ingin merileks-kan tubuh dan otaknya setelah seharian dihadapkan dengan tumpukan dokumen yang membuat kepalanya ingin pecah.



Kini Langit menjabat seorang CEO muda disalah satu perusahaan milik Ayahnya. Dan perusahaan itu berkembang pesat sejak bergabungnya Langit dua tahun yang lalu diperusahaan itu.



Bersama kedua sahabatnya, Langit mendatangi bar langganan mereka. Tidak ada yang istimewa pada penampilan Langit malam ini apalagi yang mencerminkan jika ia adalah seorang pemimpin perusahaan besar.



Langit terlihat lebih tampan dengan jeans hitam dan kemeja kotak-kotak tanpa lengan yang tersembunyi apik di dalam jaket kulitnya. Tujuan ia mendatangi bar itu hanya untuk mendinginkan otaknya.



Toh esok hari adalah akhir pekan, hingga tidak ada alasan untuk dia bangun lebih awal.



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam 21 menit, akhirnya Aurora, Luna, Hans dan Ains tiba di China. Ini adalah pertama kalinya bagi Aurora menginjakan kakinya di kota Shanghai, kesan pertama untuk kota ini saat ia keluar dari bandara Pudong adalah ‘indah’.


__ADS_1


Gadis berparas ayu itu menatap datar orang-orang yang berlalu lalang didepannya, tepukan pada bahunya segera menyadarkan Aurora dari lamunannya. Gadis itu menoleh dan mendapati Luna tersenyum hangat padanya.



“Ayo! Jemputan kih tiba!” Aurora mengangguk.



Menarik kopernya, Aurora berjalan mengekori Luna. Dari jarak sekitar 5 meter, Aurora melihat kakak iparnya tengah berpelukan dengan seorang pria yang kira-kira usianya lima tahun lebih tua dari Langit. Aurora tetap tidak mengatakan apa pun meskipun sudah ada dihadapan orang itu.



“Pasti kalian sangat lelah! Mari, mama dan papa sudah menunggu kedatangan kalian!” ucap laki-laki itu sambil menatap Luna dan Aurora secara bergantian.



Bagi Aurora ini pertama kalinya ia bertemu dengan laki-laki asing itu, namun tidak dengan Luna, mengingat jika laki-laki itu adalah sepupu dari suaminya.



“Oh iya Jay, dimana adikmu? Kenapa dia tidak ikut denganmu?” tanya Luna tanpa melunturkan senyum hangat diwajah cantiknya.



“Dia menolak untuk ikut, Kak! Dan saat ini bocah itu masih tidur, maklumi saja. Kau sendiri tau betulkan bagaimana sifat aslinya!” Luna terkekeh kemudian mengangguk. “Oh iya! Kalian ingin langsung ke rumah atau jalan-jalan dulu?” tanya Jayden memberikan penawaran.



“Kita langsung kerumah saja, kami sangat lelah, Jay!” Jayden mengangguk.



Jayden membantu membawakan koper milik Luna dan Aurora lalu memasukkannya kedalam begasi mobilnya. Pria itu Aurora sambil melemparkan senyum tipis pada gadis itu namun hanya disikapi tatapan datar olehnya.



Aurora tak menghiraukan Jayden sama sekali, gadis itu bersikap acuh. Membuka pintu di depannya kemudian masuk ke dalam mobil mobil Jay, gadis itu duduk dijok belakang bersama Luna dan Rain.



Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Zhang, tak sedikit pun Aurora meloloskan pandangannya dari pemandangan kota yang tak jauh berbeda dengan kota Seoul. Banyak gedung-gedung menjulang tinggi yang terbangun dipusat kota Shanghai.



Entah kenapa Aurora merasa jantungnya berdebar tak karuan, seperti sesuatu akan terjadi. Gadis itu memejamkan matanya, dalam hatinya ia berharap agar ada keajaiban yang bisa mempertemukan dirinya dengan Langit.



Ia ingin sekali mencari Langit mumpung saat ini ia berada di China, tapi masalahnya Aurora tidak tau keberadaan Langit saat ini selain negara yang ia tinggali.



China itu luas, tidak mungkin Aurora berkeliling China tanpa petunjuk apa pun karena itu sama saja seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sulit, tapi tak mustahil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2