
...“Natal adalah saatnya masa lalu seseorang dilupakan, dan kehadirannya hari ini di kenang.”...
......................
Happy Reading !!!
.
.
.
Malam Natal, adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Kota-kota sudah mulai terang dihiasi berbagai macam lampu, dan juga pohon natal. Dan ada juga seseorang yang berpenampilan seperti Sinterklas untuk menghibur anak-anak.
Bersama dengan turunnya salju, Seoul semakin bertambah semarak. Meskipun cuaca dingin, tapi mereka bisa merasakan kehangatan bersama sanak saudara dan keluarga di malam natal. Toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan kota ramai dilewati orang-orang yang sedang menikmati malam indah tersebut.
Seorang gadis berambut coklat panjang berjalan menyusuri trotoar yang banyak dilalui orang-orang seorang diri. Tubuhnya dalam balutan dress hitam yang di bungkus mantel cantik berenda.
Aurora memandang keindahan kota Seoul di malam Natal, sungguh meriah. Terdengar lagu-lagu Natal mengalun
Lembut di telinganya, juga lampu kelap-kelip yang membuatnya terpana. Sungguh, itu sangat menyenangkan. Dia memang sangat membenci salju dan musim dingin, tapi malam natal adalah sebuah pengecualian.
Aurora tersenyum tipis. Natal kembali membawa kenangan indah masa lalu ketika ibunya masih ada. Mereka selalu menghabiskan malam natal dengan mendekor pohon natal atau meminum coklat panas di depan perapian. Dan kepergian ibunya, membuat malam-malam Natal yang dia lewati terasa berbeda.
Tapp….!!
Aurora menghentikan langkahnya ketika mata hazelnya menangkap siluet seorang pemuda berjalan menghampirinya di antara banyaknya pejalan kaki yang memadati trotoar jalan. Aurora menatap sosok itu tanpa berkedip sedikit pun. Hatinya mulai berdebar dan matanya tak bisa lolos sedikit pun dari sosok itu.
Dia sangat menonjol bagiku….
Di antara banyak orang….
Saat dia mendekatiku dari kejauhan….
Hatiku mulai berdegup kencang….
Saat hal-hal kecil yang dia lakukan….
Mulai memiliki makna besar dan kecil bagiku…
Akhirnya aku sadar, bahwa aku jatuh cinta kepadanya.…
Aurora masih tak berkedip bahkan ketika sosok itu berdiri dihadapannya dalam jarak yang begitu dekat. Kedua tangannya memegang dadanya yang terus berdegup kencang.
Jantungnya rasanya ingin meledak hanya dengan melihat tatapan dingin namun terasa meneduhkan.
__ADS_1
“Aku menemukanmu.” Ucap Langit dan segera membuyarkan lamunan panjang Aurora.
“Langit?! Bagaimana kau bisa ada di sini?” kaget Aurora.
“Aku mencarimu,”
“Kau mencariku?” Langit mengangguk. “Kenapa?”
“Karena aku ingin menghabiskan malam natal bersamamu. Ayo,” Langit meraih tangan Aurora lalu menggenggamnya. Aurora menatap tangannya yang di genggam oleh Langit dan tersenyum lebar.
“Kau ingin mengajakku kemana? Jangan bilang jika Sungai Han lagi?! Aku sudah terlalu bosan jika harus pergi ke sana lagi dan lagi,”
Langit terkekeh. “Tentu saja bukan,” jawabnya.
Bohong jika mengatakan jika dirinya tidak menyukai Aurora, karena pada kenyataannya cinta di hatinya untuk gadis itu telah mekar dan bersemi. Bisa saja Langit menyatakannya sekarang. Tapi dia berpikir dua kali untuk melakukannya. Dia takut Aurora akan menolaknya dan terluka karena dirinya harus kembali ke China Minggu depan. Langit memilih memendam perasaan itu di hatinya dari pada harus mengungkapkannya.
“Baiklah, ayo.” Langit kembali menggenggam tangan Aurora. Dan keduanya berjalan beriringan menuju kedai aksesoris yang di maksud oleh Aurora.
“Huwaaa….”
Berbinar melihat begitu banyak aksesoris yang menyilaukan matanya. Mulai dari anting, gelang, kalung, jepitan rambut sampai gantungan tas. Aurora yang begitu antusias masuk terlebih dulu dan meninggalkan Langit begitu saja. Sedangkan Langit hanya bisa menghela napas dan mendengus geli. Tingkah Aurora terkadang bisa membuatnya geli setengah mati.
Pemuda itu menurunkan niatnya untuk masuk ke dalam saat merasakan getaran pada ponselnya yang tersimpan di dalam saku long vestnya. Dan nama Naoza menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Alih-alih menerimanya. Langit malah menolak panggilan tersebut.
“Langit, apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah dan bantu aku memilih ini.” Seru Aurora yang kemudian di balas anggukan oleh Langit.
Langit menghampiri Aurora yang sedang sibuk memilih anting dan jepitan rambut. Gadis itu menunjukkan beberapa dan meminta Langit untuk membantu memilihkannya. “Langit, menurutmu lebih bagus yang mana?” tanya Aurora begitu antusias.
“Aku rasa keduanya bagus. Kau bisa mengambil keduanya.” Jawab Langit memberi saran.
__ADS_1
“Menurutmu begitu?” Langit mengangguk.
Aurora tersenyum lebar. “Baiklah, aku akan mengambil keduanya.”
Langit melihat sebuah kalung cantik berliontin kelopak bunga sakura. Pemuda itu mengambil kalung tersebut dan kemudian memakaikan pada Aurora. “Langit, apa ini?” seru Aurora sedikit kaget.
“Aku ingin supaya kau tetap mengingat diriku meskipun nantinya kita akan terpisah oleh jarak dan waktu.”
Hati Aurora seketika mencelos setelah mendengar apa yang baru saja Langit katakan. Apakah itu artinya mereka berdua tidak bisa bertemu lagi? Apakah Langit pergi dan tidak akan kembali lagi? Memikirkannya saja sudah membuat Aurora ketakutan setengah mati.
Gadis itu berbalik. Posisinya dan Langit saling berhadapan. “Apakah itu artinya tidak tidak bisa bertemu lagi? Apakah kau pergi dan tidak kembali lagi?” tanya Aurora sambil mengunci mata abu-abu milik Langit. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tidak menangis.
“Aku belum tau. Jika aku memiliki alasan untuk kembali lagi ke negeri ini, pasti aku akan kembali.” Jawab Langit.
“Apakah aku tidak bisa kau jadikan alasan untuk kembali, Langit?” jerit Jessica membatin.
Aurora menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir di pelupuknya. “Sepertinya aku kelilipan,” buru-buru Aurora menyeka air matanya sebelum Langit menyadarinya. Kemudian gadis itu berbalik dan meninggalkan Langit begitu saja.
Langit menyusul Aurora yang sedang membayar barang belanjaannya. Langit mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya yang kemudian dia berikan pada kasir yang sedang menghitung jumlah yang harus Aurora bayar.
“Kau ingin kemana lagi setelah ini?” tanya Langit.
Aurora menatap pemuda itu. “Mungkin pulang. Aku ingin menghabiskan natal bersama keluargaku.” Ucapnya. Dan Langit mengangguk sebagai jawabannya.
Sepanjang perjalanan pulang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aurora maupun Langit. Keduanya sama-sama diam dan larut dalam kesibukan masing-masing. Seperti Aurora yang hanya diam sambil menatap ke luar jendela. Sementara Langit fokus pada jalanan bersalju di depan sana.
Sesekali Langit melirik gadis yang duduk disampingnya dan mencoba membaca apa yang gadis itu pikirkan. Tapi tidak bisa. Langit sungguh ingin tahu apa yang tengah Aurora pikirkan saat ini. Tapi tidak bisa, dia benar-benar tidak bisa membaca pikiran Aurora.
Gadis itu menutup matanya dan menghayati lagu yang dia putar melalui sepasang headset yang menggantung di telinganya. First Love milik Sondia yang Aurora dengarkan saat ini.
__ADS_1
Ia merasa jika lagu itu mewakili perasaannya saat ini, meskipun Langit bukanlah cinta pertamanya. Tapi setiap bait dalam lirik lagunya menggambarkan apa yang gadis itu rasakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...