
Happy Reading !!!
todo vuelve a ti mismo—
“Langit!! Sebaiknya kau segera bangun, i-i-ni sudah siang. Kita harus segera pulang, bagaimana jika kak Luna dan kak Hans mencemaskan kita!!” Aurora bangkit dari ranjang lalu membuka tirai.
“Kau mandilah dulu, aku akan memesan sarapan dan pakaian ganti untuk kita!” kata Langit sambil berjalan menuju sofa yang ada ditengah ruangan.
Gadis itu mengangguk. Tanpa membuang banyak waktu, Aurora segera melesat kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tokk!! Tokk!! Tokk!!
Langit segera bangkit dari duduknya saat mendengar ketukan keras pada pintu. Pintu terbuka dan pegawai hotel datang membawakan pesanan Langit. Setelah memberi uang tips orang itu, Langit membawa masuk makanan dan pakaian ganti miliknya juga Aurora ke dalam kamar. Langit meletakkan pakaian itu diatas tempat tidur.
Cklekkk!!
Pemuda itu mengangkat wajahnya saat mendengar decitan pintu kamar mandi terbuka. Buru-buru Langit berbalik badan saat melihat Aurora keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut tubuhnya. Wajah gadis itu merona karna menahan malu.
“Pakaianmu aku letakkan diatas tempat tidur!!” kata Langit tanpa menatap lawan bicaranya.
Secepat kilat Aurora mengambil dress berlengan panjang itu dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Langit kini dapat menghela nafas lega, pemuda itu memegangi wajahnya yang sedikit memanas dan memerah.
Sepuluh menit kemudian Aurora keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Rona merah diwajahnya masih belum hilang sepenuhnya. Gadis itu berjalan sambil menundukkan wajahnya.
“Sarapan sudah siap, jika kau lapar kau makanlah lebih dulu. Aku akan membersihkan tubuhku!!” tutur Langit yang kemudian melangkah pergi.
Aurora tak menyentuh sedikit pun makanan itu, gadis itu menunggu Langit. Aurora merasa tidak enak jika harus makan tanpa menunggu Langit terlebih dulu. Cukup lama Aurora menunggu Langit, sekitar 20 menit. Meskipun ia sudah sangat lapar namun Aurora masih mencoba menahannya.
Dan beberapa saat kemudian sosok Langit muncul dari balik pintu dengan pakaian lengkap. Jeans hitam dan kemeja putih lengan terbuka yang dibalut waiscoats hitam sebatas paha. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.
“Kau belum makan??”
Aurora menggeleng “Aku menunggumu, kita sarapan sama-sama!!” Langit menatap Aurora sejenak kemudian mengangguk.
__ADS_1
“Baiklah!!”
Setelah sarapan. Langit dan Aurora meninggalkan hotel tempat mereka menginap dan kembali ke kediaman keluarganya. Langit merangkul bahu Aurora dan keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.
Namun langkah keduanya terhenti saat mata hazel Jessica melihat kedatangan beberapa pemuda yang salah satunya adalah Andreas. Andreas menyeringai, menatap keduanya dengan tatapan meremehkan.
Andreas menghampiri Aurora dan Langit dengan seringai yang sama. Pemuda itu terlihat memindai Aurora dari ujung rambut sampai ujung kaki dan kembali menyeringai.
“Tidak di sangka jika kau murahan juga, Aur. Bagaimana jika malam ini kau menemaniku tidur? Aku berani membayarmu dengan harga yang sangat tinggi. Kau hanya perlu memuaskanku di atas ranjang, bagaimana?”
“Apa maksudmu?” Aurora menatap sinis pemuda itu.
“Apa masih belum jelas yang aku katakan? Aku ingin menyewamu dan membayarmu dengan harga tinggi. Bukankah kau sangat murahan?!”
Plak!!
“Sebaiknya jaga mulutmu, Andreas!! Kau pikir kau siapa bisa menilai diriku dengan seenak jidatmu. Apa kau pikir pria dan wanita yang tidur di hotel adalah pasangan mesum? Apa kau amnesia jika semalam terjadi badai? Dan sebaiknya jangan asal bicara jika kau tidak tau apa-apa!! Langit, ayo!” Aurora meraih tangan Langit, dan mengajaknya pergi dari sana.
“Berapa tinggi hargamu, Aurora?!” seru Andreas dan menghentikan langkah mereka berdua.
Langit yang benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Kedua tangannya terkepal kuat. Rahangnya mengeras, Langit sudah berada di batas kesabarannya. Rasanya ia ingin sekali merobek mulut Andreas yang sudah bicara yang tidak-tidak tentang Aurora.
Tanpa mengatakan apapun pemuda itu menghampiri Andreas dan melayangkan tinjunya pada wajah pemuda itu. Saking kerasnya pukulan itu sampai membuat Andreas tersungkur ke tanah. Sedangkan Aurora langsung membelalakkan mata saking kagetnya.
“Bangsat!! Kau sudah bosan hidup ya?! Apa yang kalian tunggu, cepat hajar dan habisi pemuda ini!!”
“Maju kalian semua,” pinta Langit menantang.
Wajah teman-teman Andreas mendadak menegang melihat tatapan membunuh Langit. Diam-diam tangannya bergerak meraba gagang pistol yang tersembul dari balik bajunya. Nalurinya mengatakan kalau ada bahaya mengancam sedang mengintainya.
__ADS_1
Dan perkelahian yang tak seimbang pun tak bisa terhindarkan lagi. Langit yang hanya sendiri di kelilingi sedikitnya tujuh orang dan mereka semua bersenjata.
“Kalian sudah membuat masalah dengan orang yang salah.” Ucap Langit sambil menatap ketujuh pria itu satu persatu. Tangan Langit sudah gatal ingin segera menghajar mereka semua.
“Langit, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Kau hanya sendiri dan mereka berkelompok. Ayo kita pergi saja,” Aurora mulai merasa cemas. Gadis itu takut hal buruk sampai menimpa Langit.
“Mundurlah, aku akan membereskan mereka dengan cepat.”
“Tapi Langit?”
“Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja.”
“Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat habisi pemuda itu!” perintah Andreas kepada teman-temannya.
Sesaat kemudian, mereka pun segera terlibat dalam pertarungan berat sebelah. Langit yang hanya sendiri di keroyok oleh beberapa orang, meski ternyata rata-rata memiliki kemampuan beladiri cukup tinggi. Tapi yang dihadapi adalah Langit, dalam beberapa waktu saja tiga orang itu tumbang dan babak belur.
“Brengsek!”
Dorr!
Berkali-kali Andreas melepaskan tembakannya tapi selalu di elakan oleh Langit dengan sangat cepat. Mereka yang menyaksikan hal itu menjadi terperangah. Bukan hanya mereka yang terperangah dengan kemampuan yang di miliki Langit, tapi Aurora juga. Gadis itu tidak menyangka jika Langit memiliki kemampuan sehebat itu.
Lesatan peluru saja bisa di hindari dengan mudah, apatah lagi kalau hanya ayunan tangan mereka. Mereka yang menghadapi Langit segera mundur dan bergabung dengan yang lainnya.
“Sial! Ternyata bocah ini tangguh juga!! Serang bersama-sama dan segera habisi dia!!” perintah Andreas lagi.
Langit yang berdiri ditempatnya, segera bergerak, gerakannnya sangat cepat ketika berondongan peluru kearahnya. Ia bergerak secara zig-zag, membuat para penembak itu kesusahan membidik sasaran. Sehingga mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk dapat mengimbangi permainan lawan.
Dan perkelahian sengit itu langsung menyita perhatian orang-orang yang berada di sana. Tak ada yang berani mendekat, mereka tidak ingin sampai menjadi korban dari peluru yang salah sasaran. Tak ada yang berani melapor pada polisi, bahkan beberapa sekuriti tampak terbengong-bengong melihat kemampuan Langit yang sangat luar biasa itu.
__ADS_1
“Sial, habisi pemuda itu!” teriak Andreas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...