Langit Aurora

Langit Aurora
1.9 Langit Aurora


__ADS_3

...“Saatnya berbagi hati dengan cinta dan kasih sayang.”...


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


We wish you a merry Christmas


We wish you a merry Christmas


We wish you a merry Christmas and a happy new year


Good tidings we bring to you and your kind


We wish you a merry Christmas and a happy new year


Oh, bring us some figgy pudding


Oh, bring us some figgy pudding


Oh, bring us some figgy pudding


And bring it right here


Good tidings we bring to you and your kind


We wish you a merry Christmas and a happy new year


We won't go until we get some


We won't go until we get some


We won't go until we get some


So bring it right here


Good tidings we bring to you and your kind


We wish you a merry Christmas and a happy new year


We all like our figgy pudding


We all like our figgy pudding


We all like our figgy pudding


With all its good cheers


Good tidings we bring to you and your kind


We wish you a merry Christmas and a happy new year


We wish you a merry Christmas


We wish you a merry Christmas


We wish you a merry Christmas and a happy new year


Terdengar alunan lagu We Wish You A Merry Christmas di sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Seorang bocah kecil berusia tujuh tahun terlihat begitu antusias menyanyikan lagu natal bersama kedua orang tua, bibi dan sosok pemuda yang dia panggil sebagai ‘paman tampan’ yang pastinya adalah Langit.

__ADS_1



Keluarga kecil itu sedang merayakan Hari Natal, Hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Natal memang selalu identik dengan salju dan musim dingin, jadi tidak salah bila mereka menyambut malam natal dengan berselimut salju yang terus berjatuhan dari langit malam.



Hari Natal selalu disimbolkan dengan adanya Pohon Natal yang berhiaskan bola-bola warna-warni, lampu-lampu kelap-keliap dengan berbagai warna juga ada kue jahe dan berbagai ornamen yang sangat identik dengan Hari Natal. Selain Pohon Natal. Natal juga identik dengan bertukar hadiah antara teman atau keluarga.


“Bibi,kenapa kau tidak terlihat semangat sama sekali? Ayolah, kau harus menyanyi dengan lantang. Aku merindukan suaramu yang sangat indah itu.”



“Maaf, Sayang. Tapi saat ini Bibi sedang tidak berminat untuk menyanyi, jadi kau saja ya yang bernyanyi.”



“Ahhh, Bibi tidak asik.”



Ainsley menghampiri Langit kemudian mengajak pemuda itu bernyanyi bersama. Dan Langit menyetujuinya. Baik Aurora maupun Ains cukup terkejut dengan keindahan suara Ken ketika sedang menyanyi, mereka sama-sama tak menduga bila Langit memiliki suara seindah itu.



Diam-diam Aurora mengulum senyum tipis. Langit benar-benar memiliki suara yang lembut dan begitu khas. Gadis itu beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Langit.



“Bagaimana jika kita berduet dan menyanyikan satu lagu?” usul Aurora seraya menatap Langit penuh harap.



“Aku rasa buka ide buruk. Kau ingin menyanyikan lagu apa?” tanya Langit pada Aurora. Gadis itu tampak berpikir kemudian menggelengkan kepala.




Langit menggeleng. “AKU TAU!!” seru Ainsley dengan begitu antusias. “Bagaimana jika, Bibi dan Paman tampan menyanyikan lagu Everytime saja?” usul Ainsley sambil menatap keduanya.



“Sepertinya ide yang bagus.” Keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum tipis.



Dan akhirnya mereka menerima usulan dari Ainsley. Langit dan Aurora berduet menyanyikan lagu Everytime milik Punch dan Chen. Dan lagu itu begitu mewakili perasaan mereka saat ini.



Suara tepuk tangan langsung menggema setelah Langit dan Aurora menyelesaikan lagu yang mereka nyanyikan. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Ainsley begitu heboh dan langsung berteriak histeris.



“KKYYYAAA!! ITU TADI SANGAT LUAR BIASA. BIBI, PAMAN, KALIAN BEGITU MENGHAYATI DAN AKU SUDAH MEREKAMNYA.”



Aurora menghampiri keponakannya itu. Dengan gemas dia mencubit pipi gembilnya. “Kenapa kau begitu heboh, Sayang? Baiklah, kalian lanjutkan saja, aku mulai ngantuk dan sangat lelah. Good Night.” Aurora memisahkan diri dari semua orang dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Gadis itu sudah sangat mengantuk dan matanya sulit untuk di ajak kompromi lagi.



Gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidurnya yang super nyaman. Kedua matanya benar-benar terasa berat, dan sangat sulit bagi Aurora untuk di ajak kompromi.


__ADS_1


Dan tidak sampai lima menit, gadis itu sudah pergi ke alam mimpi. Aurora berusaha tidur lebih awal karena dia ada janji dengan kedua sahabatnya untuk pergi berbelanja besok pagi. Karena jika dia sampai terlambat, pasti Aurora akan di sidang habis-habisan oleh mereka berdua.



Burung-burung gereja tampak berterbangan di atas langit Kota Seoul menyambut datangnya pagi. Matahari bersinar hangat yang membuat siapapun tertegun pada sosoknya. Keadaan pagi yang begitu cerah membawa suasana baru bagi sosok gadis yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.



Aurora turun dari ranjang empuknya dan berjalan lurus menuju jendela yang ada di samping kanan tempat tidurnya. Udara yang begitu sejuk serta semilir angin langsung menyapa ketika jendela itu terbuka.



“Ahhh, segarnya.” Gadis itu berseru pelan.



“BIBI!!!”



“Ahh!!” Aurora terlonjak kaget karena teriakan seorang bocah yang memanggilnya.



Aurora menurunkan pandangannya dan mendapati Ains tengah melambai padanya. Bocah perempuan itu tidak hanya sendirian, ada sosok tampan juga cantik yang menemaninya. Siapa lagi jika bukan Langit, si pemuda berwajah Androghini.



Pandangan mereka bertemu. Seutas senyum tersungging di bibir merah muda tipisnya. Sedangkan Langit hanya menatapnya dengan datar, tanpa ekspresi. Aurora memperhatikan apa yang Langit pakai pagi ini. Celana selutut, singlet yang di bungkus rompi bertudung. Pemuda itu sedang bermain basket di halaman belakang.



“Bibi, turunlah. Ayo kita bermain bersama. Paman tampan akan mengajarimu bagaimana caranya bermain basket yang benar.” Seru Ainsley dengan sedikit keras.



“Maaf, Sayang. Lain kali saja, oke. Bibi,harus membantu ibumu menyiapkan sarapan.” Jawabnya.



Pandangan Aurora kembali bergulir pada Langit. Lagi-lagi Aurora tersenyum tipis. Dan kali ini di balas senyuman pula oleh Langit, meskipun tak lebih lebar dari selembar kertas. Aurora beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia harus membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua.


...


Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa tiga bulan telah berlalu, liburan musim dingin hampir saja berakhir. Dan itu artinya sudah hampir tiba waktunya untuk Langit kembali kenegara asalnya yakni ‘China’.



Rasanya berat sekali untuk Langit kembali ke China dan meninggalkan Korea. Langit sudah mulai betah apalagi dengan kehadiran Aurora yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Entah sadar atau tidak, Langit memang telah jatuh hati pada gadis itu.



Saat ini keluarga Hans sedang berkumpul dirumah kaca yang ada ditaman milik mereka. Tampak Ainsley yang sedang bermain bersama Aurora, sementara Langit, Hans dan Luna berbincang dengan tenang.



“Kau yakin akan pulang lusa, Langit??” tanya Hans memastikan,



Langit mengangguk. “Ya, banyak yang harus aku persiapkan sebelum memasuki ajaran baru. Lagi pula aku juga sudah sangat merindukan mama dan papa!!” ujar Langit memaparkan.



Luna dan Hans dapat mengerti, mereka juga tidak memiliki hal untuk menahan Langit agar tetap tinggal atau membujuk dia untuk pindah kuliah. Mereka merasa tak memiliki hak untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2