
...“Banyak makna dari pertemuan tak terduga itu.”...
......................
Happy Reading !!!
Detik-detik Terakhir Nih,
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Namun Aurora masih tetap terjaga. Berkali-kali ia mencoba untuk menutup matanya tapi hasilnya selalu nihil. Dan pada akhirnya, karena bosan, ia pun berjalan menuju balkon kamar.
Aurora melihat salju tengah turun. Gadis itu mengulurkan tangannya dan membiarkan salju itu mendarat diatas telapak tangannya. Aurora tersenyum tipis. Entah sejak kapan Aurora menjadi begitu menyukai salju, padahal dulu dia sangat membencinya.
Malam ini langit terlihat lebih gelap dibandingkan malam-malam sebelumnya. Hawa dingin yang berhembus menyentuh kulit wajah sampai menusuk ketulang. ‘Padahal musim dingin belum sampai puncaknya tapi kenapa malam ini begitu dingin! Batin Aurora karena suhu udara yang terus menurut ketika malam tiba.
“Kenapa belum tidur?!”
“Siapa itu?” Aurora terlonjak kaget karena teguran seseorang. Sontak ia menyapukan pandangannya dan tidak melihat keberadaan siapa pun.
“Apa aku hanya berhalusinasi? Aku yakin jika aku mendengar suara, Langit. Ya, pasti itu karena aku masih sangat merindukannya. Jadi aku terus mendengar suaranya.” Ujar Aurora dengan mimik wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
Dan hal itu membuat sosok pemuda yang sedari tadi berdiri di ambang pintu penghubung antara kamar dan balkon mendengus geli. Langit beranjak dari posisinya lalu berjalan menghampiri Aurora.
“Dasar bodoh, tentu saja kau tidak sedang berhalusinasi. Aku memang ada di sini.” Ucap Langit sambil menyandarkan dagunya pada bahu kanan Aurora.
Aurora tersenyum. “Jadi aku tidak sedang berhalusinasi?”
“Tentu saja tidak, karena aku memang nyata, Sayang.” Langit melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Aurora, posisinya dan Aurora kini saling berhadapan. Langit tersenyum tipis.”Lihatlah betapa cantiknya dirimu, Aur. Pantas saja jika aku begitu tergila-gila padamu.” Ujar Langit sambil membelai pipi Aurora dengan jari-jari besarnya.
Aurora tersipu. Gadis itu membuang muka ke arah lain. Kemana saja asalkan jangan mata Langit. “Berhentilah menggombal, Langit. Kau membuatku malu saja.” Ucapnya tersenyum.
Langit menyentuh dagu Aurora, memaksa gadis itu menatap padanya. Kedua mata berbeda warna mereka saling bersirobok dan saling mengunci. “Aku mengatakan yang sebenarnya, Aur. Dan aku hampir gila karena merindukanmu. Dan sekarang aku tidak akan membiarkanmu jauh lagi dariku.” Tuturnya.
Aurora tersenyum. Gadis itu maju dua langkah dan kemudian memeluk Langit. “Kalau begitu jangan pernah lepaskan aku apapun yang terjadi. Karena aku juga tidak ingin jauh lagi darimu.” Ujarnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Langit.
__ADS_1
“Tidak akan, untuk itu menikahlah denganku.” Pinta Langit.
Langit melonggarkan pelukannya. Matanya kembali mengunci mata Aurora. Gadis itu tampak berkaca-kaca. “Bagaimana jika aku sampai menolak?”
“Maka aku akan memaksamu.” Jawab Langit kemudian mengecup singkat bibir tipis Aurora.
“Benarkah? Lalu bagaimana jika aku sampai kabur dan melarikan diri?” Aurora memainkan jari-jarinya di atas benda hitam yang menutup mata kiri Langit.
“Maka aku akan mencari dan menemukanmu.” Jawab Langit.
“Ayo kita menikah, Aur. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dan jauh lagi darimu.”
Aurora tersenyum miris. “Astaga, sebenarnya kau ini ingin mengajakku menikah atau bermain monopoli sih? Masa iya tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Setidaknya bawakan aku bunga jika ingin melamarku.”
Langit merogoh saku celananya dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya lalu menyematkan pada jari manis Aurora. Dan sebuah cincin berlian bertengger cantik di jari manis gadis itu.
“Aku serius dengan perkataanku, Aur. Dan aku sungguh-sungguh ingin menikahimu.” Ucap Langit sambil mengunci sepasang mutiara hazel milik Aurora.
Gadis itu sungguh tidak kuasa menahan air matanya. Tanpa mengatakan apapun, Aurora berhambur ke dalam pelukan Langit, dia terlalu bahagia, saking bahagianya sampai-sampai Aurora tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Langit mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aurora. “Apa itu artinya kau menerima lamaranku yang tidak romantis ini?” Langit melonggarkan pelukannya dan menatap gadis dalam pelukannya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Aurora mengangguk. “Tentu saja aku menerimanya.” Aurora menakup wajah Langit dan mengunci manik kanannya. “Kau tidak perlu menjadi orang lain untuk mencintaiku. Cintai aku dengan caramu, bukankah lebih baik menjadi diri sendiri.” Aurora tersenyum tipis. Kembali Langit membawa Aurora ke dalam pelukannya.
Sang surya mulai menampakkan wujudnya. Udara pagi masih terasa sejuk. Embun-embun masih timbul di dedaunan. Biasanya, orang-orang masih terlelap dengan tidurnya. Tapi tidak dengan gadis cantik satu ini. Aurora sudah bangun dan berdiri di ambang jendela kamar nya.
Semilir angin musim dingin menyapanya dengan lembut. Daun-daun kering yang berguguran di tanah ikut terbang terbawa angin, menghiasi kanvas biru yang ada diatas sana sambil ditemani oleh cahaya mentari yang begitu hangat.
Udara pagi ini tidak sedingin pagi-pagi sebelumnya.
__ADS_1
Mungkin karena sang mentari bersinar lebih terang dari biasanya. Di tambah lagi dengan suasana hati Aurora yang sangat baik membuat lagi ini terasa berbeda.
Tokk… Tokk… Tokk…
Ketukan pada pintu kamar sedikit menyita perhatiannya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pelayan datang menghampirinya.
“Nona, tuan muda ingin supaya Anda segera bersiap. Beliau sudah menunggu Anda di bawah. Dan beliau berpesan, supaya Anda memakai pakaian yang telah beliau persiapkan.” Ujar pelayan itu.
Aurora mengangguk. “Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi.” Pelayan itu membungkuk kemudian melenggang meninggalkan kamar yang di tempati oleh Aurora sejak semalam.
Aurora membuka kotak merah yang ada di atas tempat tidur. Sebuah gaun cantik berbahan brukat dan berhias mutiara terlipat rapi di dalam sana. Aurora mengeluarkan gaun tersebut lalu menempelkan pada tubuhnya. Gaun itu begitu indah dan sesuai dengan seleranya.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Aurora segera meninggalkan kamar. Dari arah tangga dia melihat seluruh keluarga Zhang dan keluarganya tengah berkumpul di meja makan termasuk Langit.
Pemuda itu terlihat tampan dengan pakaian formalnya. Kemeja putih yang di bungkus vest hitam, dia tetap terlihat tampan meskipun tanpa jasnya.
Aurora mengambil nafas panjang dan menghelanya. Ia mencoba menekan kegugupannya dengan bersikap setenang mungkin. Dan setelah di rasa mulai tenang. Aurora menghampiri kedua keluarga itu dan bergabung bersama mereka untuk menyantap sarapannya.
Usai sarapan. Langit langsung mengajak Aurora pergi ke suatu tempat. Langit sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini dan menyerahkan pekerjaannya pada asisten pribadinya.
Aurora menyernyitkan keningnya saat Langit menghentikan mobilnya di depan sebuah Boutique yang hanya menyediakan gaun dan setelan jas pernikahan. Dengan ragu, Aurora menerima uluran tangan Langit setelah laki-laki itu membukakan pintu mobil untuknya.
“Langit, untuk apa kita datang ke sini?” tanyanya bingung. Aurora menatap Langit dengan sejuta pertanyaan yang terpancar dari sorot matanya yang teduh.
“Menemukan gaun pernikahan untukmu!” jawab Langit santai.
“Apa?” dan membuat Aurora kaget, garis itu membelalakan matanya. “Ja-ja-di maksudmu kita---?”
“Aku akan menikahimu hari ini juga, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Aur. Dan satu-satunya cara agar kita bisa selalu bersama adalah dengan menikah!” tutur Langit menjelaskan. Aurora membekap mulutnya dan menatap Langit dengan mata berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Aurora tahu jika Langit memang akan menikahinya. Tapi ia tidak tahu jika Langit akan menikahinya secepat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1