
...“Menunggu mungkin menjemukan, tapi waktuku pasti akan datang. Aku tak percaya akan kesia-siaan.”...
......................
Satu Tahun Kemudian …
Pagi ini harum bunga khas musim semi benar benar tercium, dinginnya salju telah pergi digantikan oleh hangatnya sapaan mentari musim semi.
Musim semi ...
Adalah musim dimana bunga-bunga kembali bermekaran, berkuncup kembang dengan indah di pohonnya, menguarkan aroma khas di indera penciuman para manusia, menebarkan udara nyaman saat melihatnya ataupun merasakannya, itulah musim semi.
Dihari pertama musim semi tahun ini, semua masih terasa sama bagi Aurora. Tak ada yang berubah dalam hari-harinya. Di kala sebagian teman-temannya sudah mulai merajut benang tali asmara atau masuk ke dalam jenjang pernikahan, ia justru masih betah menyendiri.
Bukannya ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan romansa asmara penuh cinta, namun ia masih setia menunggu seseorang.
Seorang pemuda yang telah lama mengisi kekosongan hatinya, seorang pemuda yang entah sejak kapan menjadi begitu berarti baginya. Dan sulit untuk ia enyahkan dari hati dan pikirannya meskipun satu tahun telah berlalu.
Seolah-olah membuat Aurora menjadi buta jika masih ada jutaan pemuda lainnya yang menginginkan memiliki dirinya. Dan pemuda itu adalah Langit Denandra, pemuda berdarah China yang memiliki paras Androgini (Cantik dan Tampan) dan satu-satunya pemuda yang mampu membuat ia menunggu dalam kesendirian selama ini.
“Aur.”
Aurora menghentikan langkahnya karena teriakan Amber dan Rona. Kedua gadis cantik itu terlihat menghampiri Aurora yang sedang membaca novel di taman belakang kampus. Aurora menutup novelnya dan menatap sinis kedua sahabatnya itu.
“Selalu saja membuat kehebohan. Lihatlah, apa kalian tidak sadar jika sekarang kalian sedang menjadi pusat perhatian.” Ujarnya.
Keduanya menyapukan pandangannya dan benar apa yang Aurora katakan. Tapi mereka tak mau ambil pusing. “Masa bodoh dengan mereka. Oh iya, apa kau sudah dengar jika kampus kita akan kedatangan mahasiswa baru pindahan dari China. Katanya dia adalah Senior kita.” Ujar Amber dan membuat kedua mata Aurora membelalak saking kagetnya.
“Apa kau bilang? Dari China?” Amber mengangguk. “Lalu di mana dia sekarang? Apa dia sudah datang?” tanya Aurora yang terlihat begitu penasaran.
__ADS_1
“Kenapa? Sepertinya kau sangat penasaran. Aku tau… Pasti kau berharap itu adalah, Langit?” tebak Rona seolah mengerti apa yang tengah Aurora pikirkan saat ini.
“Jangan sok tau, aku ‘kan hanya penasaran saja.” Aurora menundukkan wajahnya.
“Tapi sayangnya orang itu bukanlah, Langit. Namanya Dhafi. Aku sudah bertemu dengannya.” Jelas Amber memaparkan.
Dan raut wajah Aurora seketika berubah sendu saat mengetahui jika mahasiswa baru itu ternyata bukanlah Langit, tapi orang lain. Padahal Aurora sangat berharap jika itu adakah Langit. Tapi harapan tinggallah harapan, yang sampai kapanpun tidak akan menjadi kenyataan.
“Aur, kau mau ke mana?” seru Rona melihat Aurora yang pergi begitu saja.
“Pulang, tiba-tiba aku merasa kurang enak badan.” Jawabnya tanpa menghentikan langkahnya. Rona dan Amber hanya bisa mendesah berat. Mereka paham betul dengan perasaan Aurora saat ini.
Semilir angin musim semi membelai lapisan epidermis Langit Denandra. Pemuda itu berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka, ia terlihat memejamkan mata melawan lara.
Musim semi membawa hawa sejuk dan ratusan bunga-bunga menerbangkan kelopaknya dari pohon-pohon yang ditanami. Musim semi, waktu di mana jalan-jalan mendapat sentuhan warna merah muda karena tinta alami.
Musim semi, adalah musim yang paling di nantikan oleh sebagian penduduk bumi. Karena saat musim semi tiba banyak keajaiban yang bisa mereka temukan, salah satunya adalah mekarnya bunga sakura. Bunga yang hanya mekar ketika musim semi tiba.
“Langit, apa yang sedang kau pikirkan?”
Langit mengangkat wajahnya dan menatap tak berminat pada Jayden yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. Jayden memperhatikan adiknya itu dan mengernyit heran.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Langit datar.
“Aku merasa aneh denganmu. Sejak kepulanganmu malam itu, aku jadi sangat sering melihatmu terdiam dan termenung. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” tanya Jayden penasaran.
“Tidak ada.” Jawab Langit singkat, sedikit acuh tak acuh.
Jayden menatap pemuda itu sekali lagi dan mencoba membaca apa yang sedang dia pikirkan. Tapi tidak bisa. Pikiran Langit terlalu sulit untuk ia selami. Sehingga Jayden tidak tau apa yang sebenarnya tengah dipikirkannya.
Dari Langit kemudian pandangan Jayden bergulir pada bingkai foto yang terletak di atas nakas samping tempat tidur adiknya. Jayden sangat penasaran dengan foto itu, selama ini Langit tak pernah mengijinkan dirinya untuk melihatnya.
__ADS_1
“Jangan coba-coba menyentuhnya atau kau akan tau sendiri akibatnya,” ujar Langit seraya melirik Jayden melalui ekor matanya. Dan lagi-lagi Langit bisa menebak apa yang di pikirkan oleh kakaknya itu.
Langit menyambar foto itu lalu menyimpannya. Ia tidak ingin sampai Jayden melihat foto tersebut. Ia mengenal betul seperti apa kakaknya itu. Pasti Jayden akan langsung penasaran dan banyak melayangkan pertanyaan-pertanyaan tak berguna padanya.
Dan tanpa mengatakan apapun, Langit menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja. Mungkin mencari angin segar akan membuat perasaannya menjadi lebih tenang.
Langit mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ugal-ugalan di jalan raya adalah satu-satunya cara terbaik untuk memperbaiki suasana hatinya yang sedang buruk selain minuman beralkohol.
Mobil Langit melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Menyalip beberapa mobil yang ada di depannya. Tak jarang Langit mendapatkan makian dari pengendara lain dan beberapa kali ia nyaris mengalami kecelakaan, tapi hal itu Langit hiraukan.
Suara dering pada ponselnya sedikit mengganggu fokus Langit dalam mengemudi. Langit mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku long vestnya dan sebuah nomor asing tertera menghiasi layarnya yang menyala terang. Dianggap tidak penting, Langit mengabaikan panggilan tersebut dan kembali fokus pada jalanan beraspal di depan sana.
Namun beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering. Langit berdecak sebal. Dengan terpaksa dia mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, apa kau tidak memiliki otak menghubungiku di saat aku sedang menyetir? Apa kau berniat membunuhku?!” bentak Langit dengan nada sinis dan tak bersahabat.
“Langit”
Deg ...
Langit tersentak kaget. Suara familiar bak lonceng menggema di dalam telinganya. Suara yang selama satu tahun ini tak bisa dia hilangkan dan dia enyahkan dari pikirannya. Suara gadis yang selalu dia rindukan siang dan malam. Suara gadis kini memegang kunci hatinya. Ya, suara itu adalah suara Aurora-nya.
“Aur,” lirih Langit setengah bergumam.
Tin… Tin… Tin…
Kedua mata Langit membelalak melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Buru-buru Langit mematikan sambungan telepon Aurora, belum sempat Langit menghindar, mobilnya lebih dulu terhantam bagian depan truk tersebut dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya mobil itu berakhir di tengah jalan.
Parahnya lagi mobil Langit terhantam mobil lain dan terseret sejauh puluhan meter. Mobil Langit ringsek parah dan tubuhnya terpental keluar setelah mobilnya menghantam kayu.
Tubuhnya yang penuh luka dan bersimbah darah terkapar dijalanan. Seketika orang-orang berkerumun untuk melihat keadaan pemuda itu yang berada diantara hidup dan mati. Dan bagaimana nasib Langit selanjutnya. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...