
Happy Reading !!!
.
.
.
Jangan lupa like, follow, koment, vote, saran sama kritik di persilahkan ya kakak semua.
...----------------...
“Sial, habisi pemuda itu!” teriak Andreas.
Andreas semakin kaget, ketika melihat dua anak buahnya tumbang setelah tertancap pisau lempar pada lengan masing-masing.
Andreas makin kaget dengan kecepatan lawan. Seperti pisau yang dilempar itu sampai sasaran, yang lain sudah tumbang dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.
Belum habis rasa kaget Andreas, Langit tiba tiba sudah berada diantara mereka. Dengan tangan kosong Langit berhasil menumbangkan mereka. Gerakan yang dilakukan Langit sangat cepat, sehingga membuat mereka tak sempat berbuat apa-apa. Mereka tumbang dalam waktu yang relatif singkat.
Yang tersisa kini adalah Andread, ia gemetaran melihat bagaimana pemuda itu beraksi. Ia sungguh tidak menyangka jika pemuda berwajah Androgini seperti Langit ternyata memiliki kemampuan bela diri yang begitu luar biasa.
“Ingat, aku belum kalah darimu. Bangun kalian semua, kalian sudah mempermalukanku!!” geram Andreas pada teman-temannya.
“Langit….”
Tubuh Langit terhuyung kebelakang karena pelukan Aurora.
Sebuah perban membebat kening Langit dengan bercak darah tepat di atas alis kirinya. Luka yang ada di bawah mata kanannya di tutup plaster. Sedangkan luka di lengan kiri atasnya di bebat dengan perban.
Luka-luka itu dia dapatkan dalam perkelahian yang tak seimbang tadi. Dia terkena sabetan senjata lawan. Beruntung luka yang dia dapatkan hanya luka kecil saja dan tidak terlalu serius.
“Langit, maaf. Karena aku kau jadi terluka seperti ini.” Ucap Aurora penuh sesal.
“Kenapa kau harus minta maaf? Itu bukan salahmu, lagipula aku tidak tahan melihatmu di hina dan di rendahkan seperti itu oleh mereka. Bagus aku tidak langsung menghabisi mereka semua.” Tutur Langit dan membuat Aurora sedikit merinding.
“Kau mengerikan. Hampir saja aku terkena serangan jantung karena ulahmu. Siapa yang menyangka di balik wajahmu yang Androghini, ternyata bersemayam monster yang menyeramkan.” Langit terkekeh. Dengan gemas ia mengacak rambut Aurora.
“Kau terlalu banyak bicara, Nona. Lagipula bukankah aku sudah mengatakannya padamu, jika aku bukanlah pemuda baik-baik. Aku adalah brandalan yang sering terlibat tawuran.”
“Cih. Terserah, ayo pulang.” Aurora beranjak dari hadapan Langit dan masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi pemuda itu terkekeh.
Aurora memang sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang dia kenal dan dia temui selama ini, dan Langit tidak menyesal meskipun terluka dan babak belur demi melindungi gadis tersebut. Langit berjalan memutar kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
__ADS_1
“Kau ingin langsung pulang atau ingin ke suatu tempat?” tanya Langit pada gadis di sampingnya.
“Entah, sepertinya pulang saja. Aku tidak memiliki rencana dan aku rasa kau juga butuh istirahat. Kau tidak dalam keadaan baik,” tutur Aurora.
“Aku baik-baik saja, luka seperti ini bukan apa-apa bagiku.”
“Ck, terserah.”
Langit tersenyum. Diacaknya rambut panjang Aurora dan membuat gadis itu kembali merona. Lagi-lagi Langit berhasil membuatnya mengalami sport jantung. Langit menghidupkan mesin mobilnya, dan dalam hitungan detik mobil mewah keluaran terbaru itu meninggalkan parkiran rumah sakit.
Sepanjang perjalanan pulang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Langit sibuk dengan jalanan di depan sana, sedangkan Aurora tampak terlelap. Sesekali Langit menggulirkan pandangannya dan menatap gadis disampingnya, pemuda itu tersenyum tipis.
Gadis itu terlihat sangat berbeda ketika sedang tertidur. Wajah cantiknya terlihat polos seperti anak kecil, sangat berbeda dengan saat dia membuka matanya.
Langit menepikan mobilnya dan berhenti. Diamatinya wajah ayu Aurora selama beberapa saat, mulai dari mata, hidung, pipi dan terakhir bibir ranum tipisnya. Dan entah sebuah dorongan dari mana tiba-tiba Langit mendekatkan wajahnya dan \*\*\*\*\*\*\* singkat bibir tipis Aurora.
Dan apa yang Langit lakukan membuat Aurora terkejut bukan main. Kedua matanya tetap tertutup rapat. Kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya terkepal kuat. Aurora berpura-pura tetap tertidur dan tidak menyadari apapun.
“Bodoh, apa yang sudah aku lakukan?!” ujar Langit bergumam.
Langit menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil yang ia kendarai melesat jauh menuju jalan raya yang padat dengan kendaraan. Dan sementara itu, Aurora yang masih berpura-pura menutup matanya berusaha mengatur detak jantungnya yang hampir meledak karena ulah Langit.
“Ciuman pertamaku. Langit mengambilnya?!”
Tiga puluh menit berkendara. Mereka tiba di kediaman keluarganya. Aurora sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu. Gadis itu berusaha bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Meskipun pada kenyataannya dia sedang gugup setengah mati.
“PAMAN TAMPAN, APA YANG TERJADI PADAMU?” dan kedatangan mereka langsung di sambut dengan pekikan keras Ainsley.
Dan tentu saja hal itu mengejutkan Luna dan Hans yang sedang berbincang di ruang keluarga. Keduanya saling bertukar pandang dan buru-buru keluar. Keduanya sama-sama terkejut melihat perban membebat kening dan lengan Langit, serta ada plaster yang menutup luka di bawah mata kanannya.
“Langit, kau terluka? Bagaimana bisa?” tanya Luna setengah panik. “Aur, apa yang terjadi pada, Langit?” tanya Luna meminta penjelasan.
Aurora pun menjelaskan semuanya pada Luna dan Hans, tanpa ada yang di kurangi atau di tambah-tambahkan. ”Dan begitulah ceritanya. Intinya dia terluka demi melindungiku dari brandalan-brandalan itu.” Ujar Aurora memaparkan. “Baiklah, aku ke kamar dulu.” Aurora beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
“Ada apa dengan gadis itu? Dia terlihat aneh, pipinya akhir-akhir ini selalu merona, mungkinkah dia sedang jatuh cinta?” tebak Luna sambil mengangkat Langit dan Hans bergantian. Dan keduanya sama-sama mengangkat bahunya tanda tak tahu.
__ADS_1
“Langit, sebaiknya kau istirahat saja. Pasti kepalamu sangat pusing.” Ucap Luna menasehati.
Langit mengangguk. Kemudian pemuda itu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Langit berjalan menuju kamar yang sudah ia tempati selama sepuluh hari.
Langit menghentikan langkahnya saat melihat pintu kamar Aurora yang sedikit terbuka. Pemuda itu mengintip ke dalam dan mendapati Aurora duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap sebuah bingkai foto yang dia pegang di salah satu tangannya.
Langit tidak tahu foto siapa itu, tapi dia yakin jika itu adalah foto seseorang yang berharga dalam hidupnya. Langit menutup kembali pintu kamar Aurora dan melanjutkan langkahnya. Langit merasa pusing dan ingin tidur sebentar.
Waktu berjalan begitu cepat. Matahari mulai menyingsing di ufuk barat. Perlahan tenggelam di balik bukit. Bintang-bintang mulai tampak bertaburan dan menghiasi langit malam musim dingin.
Aurora membuka pintu yang menghubungkan antara balkon dan kamarnya. Semilir angin dingin menyambutnya ketika Aurora menginjakkan kakinya di lantai balkon yang dingin.
Bulan terlihat berpendar sempurna di atas sana, dengan di temani beberapa bintang yang mengelilinginya. Itu adalah bintang pertama yang Aurora lihat selama musim dingin berlangsung.
“Aur,”
Aurora tersentak kaget mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berbaur di dalam telinganya. Sontak ia menoleh dan mendapati Langit berjalan menghampirinya. Letak balkon kamar mereka yang bersebelahan memudahkan Langit untuk berpindah dengan cepat.
“Oh, Langit. Hai,” sapa Aur sedikit canggung.
Dia teringat pada insiden yang terjadi siang tadi. Ketika pemuda itu menciumnya, tepat di bibirnya. Untung saja ia tetap berpura-pura tidur, jika tidak pasti saat ini Aurora sudah tidak memiliki muka di depan Langit.
“Ada apa denganmu? Sejak sore kau terlihat aneh,”
“A-Aku? Ahhh, mungkin hanya perasaanmu saja.” Aurora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah perbincangan singkat itu tak ada lagi perbincangan di antara mereka. Keduanya menikmati keheningan-seakan hanya ada mereka di dunia yang luas ini. Aurora menoleh, menatap pemuda di sampingnya. Aurora merasa hanya ada dirinya dan sosok pemuda yang berdiri di sampingnya.
“Udara di sini sangat dingin. Sebaiknya kau masuk.” Ucap Langit setelah cukup lama saling diam.
“Nanti dulu. Aku masih ingin menikmati bulan dan bintang. Sangat langkah melihat bulan dan bintang saat musim dingin begini.”
“Baiklah, aku akan menemanimu di sini.” Ucap Langit yang hanya di balas anggukan oleh Aurora.
Pandangan Aurora lurus pada langit malam, sementara jantungnya berdebar tak karuan. Sebisa mungkin Aurora menyembunyikan kegugupannya. Sedangkan Langit menatap mahluk manis di sampingnya tanpa bosan. Dan tak bisa Langit pungkiri jika dirinya telah jatuh dalam pesona seorang Aurora.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1