
......“Jarak mengajarkan
banyak hal, saling percaya walau tak bertatap mata, saling mengerti walau tak bersama.”
......
......................
Happy Reading !!!
.
.
.
Orang-orang berlarian menghampiri Langit yang tengah tidak sadarkan diri dalam keadaan bersimbah darah. Hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya dan darah mulai menggenang terbawa air hujan. Orang-orang semakin panik, mereka melakukan panggilan darurat untuk meminta ambulans.
Salah seorang diantara orang-orang tersebut melepas syalnya dan melilitkannya ke kepala Langit yang banyak mengeluarkan darah. Ia meletakkan dua jarinya di bawah lobus telinga Langit dan menghitung denyut jantungnya.
“Jangan pindahkan tubuhnya. Ia bisa saja mengalami patah tulang, lebih baik kita tunggu bantuan medis datang agar kondisinya tidak semakin buruk karena kesalahan penanganan dari orang awam seperti kita. Dan pendarahan hebat pada kepala, perut serta mata kirinya.” Ujar seorang pria.
Kerumunan orang-orang yang sudah bersiap untuk memindahkan tubuh Langit segera berhenti. Mereka mengikuti saran yang dikatakan dan menjauh dari tubuh pemuda malang itu.
Dua orang diantaranya membuka payung mereka dan berdiri di samping tubuh Langit agar hujan tidak menerpa tubuh yang sudah basah kuyup itu. Air hujan hanya akan membuat luka-lukanya serasa seperti tersiram air garam.
Ambulans datang dengan cepat. Beberapa perawat segera keluar dari dalam ambulans dan memindahkan tubuh Langit. Dalam waktu singkat Langit sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk pertolongan gawat darurat. Keadaannya benar-benar kritis dan tim medis sedang berusaha keras untuk menyelamatkan nyawanya.
Prankkk…
Aurora terlonjak karena terkejut. Bingkai foto Langit yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya tiba-tiba terjatuh dan membuat kacanya pecah dan berserakan di mana-mana. Padahal saat itu tidak ada angin sama sekali.
Berdiri dan mengambil bingkai foto tersebut. “Ahhh,” tapi tanpa sengaja pecahan kacanya malah melukai ujung jarinya dan darahnya jatuh tepat di atas wajah Langit dalam foto tersebut.
__ADS_1
Dan seketika perasaan Aurora menjadi tidak tenang, apalagi Langit memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Firasat Aurora sangat buruk. Dan Aurora hanya bisa berharap semoga Langit baik-baik saja.
“Aur, apa yang sedang kau lakukan? Cepat turun, tamunya sudah menunggu.” Seru Luna dari arah pintu. Aurora mengangkat wajahnya dan mengangguk.
Setelah membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Aurora bergegas keluar dan menghampiri Luna serta Hans yang sudah menunggunya di ruang tamu. Dari ujung tangga, Aurora melihat kakak dan kakak iparnya tengah berbincang dengan seorang pemuda yang Aurora ketahui bernama Ray.
“Aur, kemarilah.” Panggil Luna ketika melihat kedatangan Aurora. “Sayang, duduklah.” Pinta Luna.
“Aur, Ray datang untuk mendengar jawaban darimu. Bagaimana, apa kau menerima lamarannya atau tidak?” tanya Hans to the poin.
Aurora mengambil napas panjang dan menghelanya. “Bukankah sudah jelas, Kak. Sejak awal aku sudah menolak untuk di jodohkan. Kalau kalian masih bersikeras untuk melanjutkannya. Maka jangan salahkan aku jika aku sampai memutuskan untuk meninggalkan rumah. Dan untukmu, Ray. Maaf, tapi aku sedang menunggu seseorang. Jadi lupakan mengenai rencana perjodohan itu.” Aurora beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
Langit dinyatakan koma setelah dirawat di unit perawatan intensif. Selain koma, Langit juga mengalami kelumpuhan sementara pada kedua kakinya dan mata kirinya mengalami kebutaan karena tertusuk pecahan kaca yang merusak syaraf dan retinanya.
Langit tidak akan dipindahkan dari unit perawatan intensif sampai kondisinya stabil. Kedua orang tuanya amat sangat terkejut ketika mendengar bahwa anak bungsunya berada dalam kondisi darurat dan harus segera menjalani bedah saraf di kepala dan mata kirinya.
Mereka meminta tim dokter untuk melakukan segala hal yang dibutuhkan untuk mengembalikan hidup Langit dan tidak membiarkannya meninggal. Dan berkat tangan ajaib para dokter bedah. Nyawa Langit terselamatkan meskipun masih dalam keadaan koma.
Enam Bulan Kemudian …
Langit merapatkan syal yang ia kenakan. Angin berhembus cukup kencang hari ini, ia merasakan dingin sesaat menyergap kedua tangan yang tidak terselimuti sarung tangan yang seharusnya ia kenakan saat musim gugur seperti ini.
Angin berhembus kencang menerbangkan helaian daun ke udara. Musim gugur di Kota Shanghai terlihat begitu kelabu dengan adanya awan hitam yang memayungi langit Kota Shanghai di sore ini.
__ADS_1
Langit berjalan seorang diri menyusuri jalanan kota dengan wajah datar tanpa eskpresi. Membuat pemuda tersebut terlihat begitu dingin dan suram.
Pemuda itu menghentikan langkahnya kemudian duduk di sebuah kursi taman, tepat di bawah pohon maple tua yang tak henti-hentinya menggugurkan daunnya, membiarkan helaian daun itu terbang dan jatuh tepat di atas pangkuan pria tersebut.
Akan tetapi, pemuda tersebut tampak tak terganggu. Justru, ia tampak menikmati pemandangan di depannya ini. Melihat gugurnya daun di musim gugur adalah salah satu kegiatan yang biasa Langit lakukan ketika musim gugur tiba.
Enam bulan pasca kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Kini Langit terlihat baik-baik saja, bahkan dia bisa berjalan dengan normal setelah mengikuti serangkaian terapi yang dianjurkan oleh dokter.
Satu bulan Langit mengalami koma, dan tepat di hari ke tiga puluh pemuda itu membuka kembali matanya. Langit pikir ia sudah berakhir, tapi ternyata Tuhan masih menyayangi dirinya sehingga Tuhan memberikannya kesempatan untuk hidup lebih lama. Meskipun kini dia tidak lagi sempurna.
Langit mengalami kebutaan permanen pada mata kirinya. Yang membuatnya harus rela menjalani hidupnya hanya dengan satu mata yang berfungsi. Tapi hal itu lebih baik di bandingkan jika ia harus mengalami kelumpuhan apalagi kematian.
“Langit, apa kau sudah menunggu lama?” seru seorang gadis yang entah sejak kapan sudah ada di hadapan Langit.
“Aku baru saja tiba.” Jawabnya datar.
Gadis itu terlihat begitu gembira, tapi hal berbeda justru di tunjukkan oleh Langit. Langit menunjukkan sikap dingin dan datar. Dan jika bukan karena permintaan ibunya, dia tidak akan sudi mengikuti acara kencan buta semacam ini.
“Sebaiknya jaga sikapmu. Dan jangan sembarangan menyentuhku!!” Langit menyentak tangan gadis itu dan melewatinya begitu saja.
Dari sikap yang dia tunjukkan. Sangat jelas jika Langit tidak menyukai keberadaan gadis itu. Ia merasa terganggu. “Langit, tunggu.” Seru gadis itu dan segera mengejar Langit. “Kenapa aku di tinggalkan? Bukankah kita ada di sini untuk berkencan?” Langit menghentikan langkahnya dan mendesah panjang.
Pemuda itu berbalik. Posisinya dan gadis itu saling berhadapan. “Begitukah yang kau pikirkan? Kau terlalu berharap, jika bukan karena mama yang terlalu memaksaku. Aku tidak akan sudi mengikuti acara konyol seperti ini. Kencan buta ini sebaiknya kita batalkan saja.” Langit menatap gadis itu dan pergi begitu saja. Bahkan Langit tak menghiraukan teriakannya, dan gadis itu hanya bisa mendesah berat. Lagi-lagi pemuda itu menolaknya.
__ADS_1
“Aku pasti akan mendapatkanmu, bagaimana pun caranya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...