Langit Aurora

Langit Aurora
0.8 Langit Aurora


__ADS_3

..." Antara perasaan dan perkataan, seringkali menjadi sebuah kontroversi dalam kehidupan."...


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


“Aur, siapa pemuda tampan itu?” bisik Ellena menunjuk Langit menggunakan dagunya. “Apa dia kekasih barumu!!” sambungnya.



“Ngaco. Tentu saja bukan, dia bernama Langit. Dia sepupu Kak Hans yang baru tiba dari China!” Ellena mengangguk tanda jika ia sudah mengerti.



Sembari menunggu Langit mendapatkan pakaian yang dia inginkan. Aurora juga melihat-lihat pakaian untuk wanita yang memenuhi boutique milik Ellena, ada beberapa dress, gaun pesta dan blus cantik yang cukup menyita perhatian Aurora.


2


Aurora mengambil gaun pesta berwarna putih gading berhias mutiara dan berlian yang begitu cantik dan elegant.



Aurora membawa gaun itu keruang pas untuk mencoba gaun itu.



“El, bagaimana menurutmu?” Aurora menghampiri Ellena dan menunjukkan gaun yang melekat ditubuhnya. Ellena mengamati penampilan Aurora dari ujung sambut sampai ujung kaki, Ellena menggeleng.



“Itu tidak cocok untukmu, Aur!” kata Ellena yang kemudian beranjak dari hadapan Aurora.



Tak berselang lama, Ellena kembali dengan sebuah gaun cantik berwarna biru laut berkombinasi putih lalu menyerahkan pada Aurora. “Coba yang ini!!” pinta Ellena.



Aurora membawa gaun itu menuju ruang ganti lalu mencobanya. Aurora tersenyum lebar. Ellena memang memiliki selera yang bagus. Aurora keluar dari kamar ganti dan berpapasan dengan Langit. Laki-laki itu diam terpaku melihat Aurora yang begitu cantik dan anggun.



“Gaun itu sangat cocok untukmu!!”



Aurora tersipu mendengar ucapan Langit. “A..aku akan mengganti gaun ini!!” namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Aurora.



Gadis itu berbalik. “Coba dress ini juga. Sepertinya dress ini cocok dengan mantel yang kita beli tadi!” ujar Langit. Aurora menggeleng, ia merasa tidak enak pada Langit jika harus membayar pakaiannya.



“Tidak usah, Langit!! Dressku masih terlalu banyak yang belum pernah aku pakai!” Aurora menolak halus dan berlalu begitu saja. Alih-alih meletakkan kembali dress itu. Langit malah membawanya kekasir.



Tak lama setelah Langit membayar belanjaannya, termasuk dress untuk Aurora. Aurora datang dengan gaun yang dia coba sebelumnya dan membawanya pada Ellena.


__ADS_1


“Aku ambil yang ini, El!!” kata Aurora lalu memberikan cardnya pada Ellena. “Ini saja, Aur?” tanya Ellena yang kemudian dibalas anggukan oleh Aurora.



“Aku akan menunggumu diluar!!” Aurora menoleh lalu mengangguk.



“Kalian terlihat sangat serasi. Aur, kenapa tidak kau kencani dia saja??” kata Ellena ditengah kesibukannya.



“Ck, jangan asal bicara Ellena Alexander. Lagi pula siapa yang ingin berpacaran?? Aku tidak ingin sakit hati dan terhianati lagi!” ujar Aurora.



Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, Aurora kembali teringat pada kejadian beberapa tahun lalu saat sang kekasih dan sahabatnya sendiri melakukan hal gila dibelakangnya.



“Aurora!! Aur,.. Aur..!!”



“Apa?” Aurora tersadar dari lamunannya setelah mendapat guncangan pada bahunya



“Kenapa, El?” tanya Aurora setelah sadar dari lamunan panjangnya.



“Aur, kau baik-baik saja??” tanya Ellena cemas. Aurora tersenyum tipis lalu mengangguk.




“Aur!!” Aurora menghentikan langkahnya kemudian berbalik. “Aur kau harus bangkit, melupakan masa lalu yang menyakitkan memang sulit. Tapi jangan pernah takut untuk memulainya kembali. Tidak semua laki-laki itu sama, dan aku lihat Langit adalah laki-laki yang baik!” ujar Ellena.



“Terimakasih, El. Akan aku coba!!



Langit membuang putung rokoknya yang tinggal setengah saat melihat kedatangan Aurora, pemuda itu beranjak dari atas kap depan mobil lalu membukakan pintu untuk gadis itu.



“Maaf sudah membuatmu menunggu lama!” sesal Aurora merasa tidak enak.



Langit menggeleng. “Tidak masalah!” katanya acuh tak acuh.



“Kau merokok?” tanya Aurora hati-hati, gadis itu takut menyinggung perasaan Langit.



“Hhm!” sahut Langit membenarkan.



“Jujur, aku bukanlah tipe pria yang suka bersikap manis di depan orang lain terlebih di depan wanita hanya demi membuktikan jika aku adalah pria baik-baik. Aku memang seperti ini dan selalu apa adanya, aku tidak suka berpura-pura baik hanya untuk menutupi keburukanku. Dan selain merokok aku juga memiliki kebiasaan lain yang lebih buruk. Minum, minuman beralkohol, balap liar dan kadang aku terlibat tawuran antar geng!!” ujar Langit menuturkan.

__ADS_1



Aurora mengerutkan dahinya. “Benarkah? Tapi semua itu tak tampak padamu!” Langit tersenyum meremehkan mendengar ucapan Aurora.



“Aku masih memiliki otak, Nona! Aku tidak mungkin membuat keributan di negeri orang. Lagi pula aku menghormati, Kak Hans dan istrinya. Aku tidak ingin mempermalukan mereka yang sudah berbaik hati menampungku di rumahnya selama aku liburan di sini!” tutur Langit memaparkan.



“Aku salut padamu, Langit! Jarang sekali ada orang jujur sepertimu. Seburuk apa pun dirimu, tapi dimataku kau tetaplah pria yang baik!” ucap Aurora sembari tersenyum tipis.



Langit menatap Aurora dalam diam, ia tidak melihat ada kebohongan dari sorot mata gadis itu. Sorot matanya penuh ketulusan. Dan baru kali ini ada orang yang berkomentar dan menyebutnya baik.



Padahal keluarganya sendiri selalu menyebutnya brandalan, dan tak jarang mereka mengatakan jika pemuda seperti dirinya tidak memiliki masa depan. Dan Langit tidak menampiknya.



“Kau terlalu banyak bicara, Nona.”



Blush!!!



Wajah Aurora bersemu merah saat tiba-tiba Langit mengacak rambutnya dan mengurai senyum tipis. Langit menyalakan mesin mobilnya, dan dalam hitungan detik, mobil mewah itu melesat jauh meninggalkan parkiran boutique dan melaju pulang kembali ke kediaman keluarga mereka.



“Kakak!! , kami pulang!!”



Aurora mengerutkan dahinya melihat keadaan rumah yang begitu sepi. Tidak ada sahutan, bahkan lampu ruangan juga belum dinyalakan. Setelah masuk semakin dalam, Aurora tidak mendapati Ains yang sedang bermain-main, kakak iparnya yang bermalas-malasan sambil membaca korang maupun Luna yang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Aurora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



“Sepertinya mereka sedang keluar!!” kata Langit tiba-tiba.



“Apa!!”



Aurora terlonjak kaget karena kemunculan Langit yang sangat tiba-tiba, gadis itu mengusap dadanya. “Yakk!!! Langit, apa kau ingin membuatku jantungan??” amuk Aurora.



Langit mengusap tengkuknya dan menatap Aurora penuh sesal. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu!!” kata Langit penuh sesal.



Aurora berdecak lidah dan melenggang begitu saja. Langit menghela nafas panjang, sepertinya ia baru saja membuat mood Aurora buruk. Langit mengangkat bahunya acuh, pemuda itu berbalik dan melenggang menuju kamarnya. Langit ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.



Selepas kepergian Langit, terlihat Aurora menuruni tangga dengan pakaian yang berbeda. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang lebih sederhana.



Dress pink diatas lutut dengan cardigan putih berlengan, rambut coklatnya digulung keatas hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Gadis itu melirik jam yang menggantung didinding, waktu menunjukkan pukul 17.00. Itu artinya masih ada dua jam lagi sebelum makan malam.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2