Langit Aurora

Langit Aurora
1.1 Langit Aurora


__ADS_3

......"Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta,


kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta."......


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Karena ini masih libur musim dingin. Jadi tidak banyak yang bisa Aurora lakukan selain malas-masalan di rumah.



Rumah terlihat begitu sepi, Hans pergi kekantor, Luna dan Ains pergi untuk menghadiri acara, rumah hanya menyisahkan Langit dan Aurora. Saat ini Langit sedang duduk santai ditaman belakang, sementara Aurora membaca majalah diruang tengah.



Sesekali Aurora menengok kearah taman. Langit masih berada di sana, meletakkan majalahnya. Aurora bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Langit.



Langit membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah saat melihat kedatangan Aurora. Ia tidak ingin jika asap rokok yang dia hisap akan mengganggu gadis itu dan membuatnya tidak nyaman.



“Boleh aku duduk disini?”



Langit mengangkat wajahnya, memandang Aurora sejenak kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan persetujuan dari Langit, Aurora duduk disamping pemuda itu. Langit sedikit menggeser duduknya memberi ruang lebih untuk gadis itu.



“Tidak ingin pergi jalan-jalan?” tanya Aurora memecah keheningan.



Langit menggeleng. “Aku sedang tidak ingin pergi kemana pun!!” jawab pemuda itu datar. Aurora menggigit bibir bawahnya. Gadis itu memutar otaknya mencoba mencari pertanyaan yang tepat untuk mengakhiri keheningan ini.



Jika saja yang bersamanya adalah teman-temannya, mungkin keadaannya akan sangat berbeda. Tapi masalahnya yang saat ini adalah Langit, Langit adalah tipe pria yang tidak banyak bicara dan tidak suka basa-basi.



“Emm!! Langit, setelah liburan musim dingin berakhir, apa kau akan kembali lagi ke China?” tanya Aurora hati-hati. Takut bila Langit akan salah menyimpulkan pertanyaannya.



“Ya!!” jawab Langit singkat. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?” Langit menoleh, membuat pandangannya dan Aurora saling bertemu. Gadis itu menggeleng lalu membuang muka ke arah lain.



Raut muka Aurora berubah sedih setelah mendengar jawaban Langit. Rasanya ia tidak rela jika pemuda itu harus kembali secepat itu, namun Aurora sadar jika ia tidak memiliki hak untuk menahan Langit agar tetap tinggal. Langit memiliki keluarga yang dia rindukan. Lagipula ia dan Langit tidak memiliki hubungan apa-apa. Mereka hanya berteman.

__ADS_1



Dan liburan musim dingin hanya tersisa kurang dari dua minggu, yang artinya ia akan segera berpisah dengan pemuda itu. Membayangkan perpisahan itu saja membuat Aurora merasa sedih, lalu bagaimana jika hal itu sampai terjadi?



“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam?” tanya Langit melihat kediaman gadis yang duduk di sampingnya. Aurora menggeleng.



“Tidak apa-apa. Aku masuk dulu.” Aurora bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Langit sendiri di taman belakang.



Langit yang baru kembali dari taman tampak memicingkan matanya melihat Aurora menuruni tangga dengan pakaian berbeda. Gadis itu memakai dress selutut yang di bungkus mantel cantik berwarna putih berhiaskan pita dan tiara. Kaki jenjangnya di balut heels yang senada dengan warna dressnya dengan balutan stoking hitam yang mengikuti kaki jenjangnya.



Langit mendekati Aurora yang sepertinya masih belum menyadari keberadaannya. “Kau mau pergi ke mana?” tegur Langit dan mengejutkan Aurora.



“Apa!!” gadis itu sedikit terlonjak kaget. “Yakk!! Kau mengejutkanku!!” amuk Aurora sambil mencerutkan bibirnya.



Langit tersenyum. Dengan gemas Langit mengacak rambut coklat Aurora dan membuatnya merona. “Maaf, aku tidak bermaksud. Perlu aku temani?” tanya Langit memberi tawaran. Tampak Aurora menimbang tawaran pemuda itu dan kemudian mengangguk.



“Sepertinya tidak buruk.”




“Baiklah.”



Sepuluh menit kemudian Langit datang dengan pakaian berbeda. Celana panjang hitam, turtleneck putih yang di balut mantel hitam. Aurora tersenyum lebar. Gadis itu segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Langit.



Aurora menyerahkan kunci mobilnya pada pemuda itu. “Kau saja yang mengemudikan mobilnya.” Langit mengambil kunci mobil itu, keduanya berjalan beriringan menuju halaman.



Rencananya Aurora akan bertemu dengan teman-teman lamanya. Ada reuni kecil-kecilan yang diadakan di café milik salah satu teman lamanya juga tempat nongkrong Aurora dan kedua sahabatnya.



Dan setelah berkendara hampir tiga puluh menit. Mereka tiba di lokasi. Banyak mobil-mobil sport mewah keluaran terbaru terparkir di halaman café. Café juga sudah ramai dan kedua sahabat Aurora juga sudah ada di dalam sana.



Langit sedikit terkejut saat tiba-tiba Aurora memeluk lengannya. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Keduanya berjalan beriringan memasuki café. Dan kedatangan mereka di sambut heboh oleh kedua sahabat Aurora, bagaimana tidak… Ini pertama kalinya mereka melihat Aurora bersama seorang pria sejak dia di khianati beberapa tahun lalu.


__ADS_1


“Aur, akhirnya kau datang juga.” Seru seorang gadis bertubuh mungil saat melihat kedatangan gadis itu. “Kami pikir kau tidak akan datang. Dan siapa pemuda tampan ini?” tunjuk Amber pada pemuda yang datang pada Aurora.



“Oya, perkenalkan ini Langit. Sepupu kakak iparku yang dari China.”



“Hai, Langit. Kau sangat tampan dan juga cantik, perkenalkan aku Amber.” Gadis itu mengulurkan tangannya pada Langit. Langit membalas uluran tangan Amber dan memperkenalkan diri.



Berkali-kali Amber mencuri pandang pada Langit sambil sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Kebiasaan yang selalu dia lakukan demi menarik lawan jenisnya. Amber berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala.



“Dasar mata keranjang. Jangan heran, Langit. Amber adalah pengagum pria tampan. Matanya langsung ijo jika melihat yang bening. Semoga kau menikmati acaranya.” Ucap Rona.



“Yak!! Aku hanya mengikuti naluriku saja. Lagipula pemuda tampan seperti ini tidak boleh di abaikan.” Tuturnya.



Aurora mendengus. Sahabatnya yang satu itu memang tidak bisa melihat yang bening sedikit. Penyakitnya pasti akan langsung kambuh ketika matanya melihat pria tampan. Tidak salah jika Amber di juluki sebagai playgirl oleh Rona.



“Sudah-sudah, kau membuatnya tidak nyaman, Nona Amber.” Ucap Aurora menengahi. Aurora dan Langit duduk satu meja dengan Rona dan Amber.



Aurora menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Hampir semua teman SMP nya hadir ke acara itu termasuk mantan kekasih Aurora yang mengkhianatinya beberapa tahun lalu.



Beberapa pasang mata yang hadir di sana menatap antusias ke arah Aurora. Dan Aurora hanya melemparkan senyum manis untuk membalas tatapan mereka. Beberapa dari mereka berbisik-bisik sambil menatap ke arah Aurora.



Mungkin mereka lupa dengan wajah gadis itu. Wajar saja, sudah lima tahun Aurora tidak pernah menghadiri acara reuni SMP ini. Sejak lulus SMP, Aurora pindah ke America bersama kakaknya dan melanjutkan sekolah di sana.



Dengan jelas Aurora bisa melihat beberapa gadis terlihat mencuri-curi pandang pada Langit yang duduk di sebelah kanannya. Gadis itu mendengus berat, kenapa gadis-gadis itu sangat hapal mana yang berlian dan mana yang batu krikil.



“Aur, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tegur seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Aurora.



“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana denganmu, Andreas?”



“Beginilah aku, aku juga sangat baik. Oya, siapa pemuda yang datang bersamamu itu? Dia kekasihmu?” dan tatapan tidak suka langsung Andreas tunjukkan ketika menatap Langit.


__ADS_1


“Dia-“


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2