
...“Kau tahu, selama aku menunggumu di sini, pikiranku sering bercabang-cabang, merambati ingatan demi ingatan.”...
......................
Empat tahun kemudian …
Empat tahun telah berlalu, namun Aurora masih tetap tidak bisa mengenyahkan Langit dari pikirannya. Aurora tidak bisa berhenti memikirkan pemuda itu dan hal itu sangat mengganggunya. Berbagai cara telah Aurora lakukan agar bisa melupakan Langit, namun semua usahanya selalu nihil.
Aurora benar-benar tidak bisa membuang Langit dari dalam hatinya dan menggantinya dengan orang lain. Disadari atau tidak, yang Aurora rasakan pada Langit adalah cinta.
Banyak sekali hal yang terjadi selama empat tahun ini. Salah satunya adalah terkuaknya insiden dibalik kematian sang Ibu. Wanita itu meninggal bukan karena dibunuh melainkan murni karena kecelakaan.
Sidik jari yang ditemukan oleh polisi bukanlah sidik jari milik sang pelaku melainkam sidik jari Ibu jessica sendiri. Dan hal itu diperkuat dengan ditemukannya CCTV tersembunyi dikediaman lama mereka.
Tidak hanya itu saja, kini sang Ayah sudah kembali kedalam pelukannya dan Luna. Tuan Will—ayah Aurora Clarissa Will juga memutuskan untuk meninggalkan istri mudanya dan kembali pada kedua putrinya. Meskipun awalnya Aurora sempat menolak tapi akhirnya ia bisa menerima dan memaafkan sang ayah. Rain pun sangat bahagia setelah mengetahui jika ia masih memiliki seorang kakek.
Tokk!! Tokk!! Tokk!!!
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Aurora yang sedang sibuk dengan kanvas dan kuasnya. Terdengar sebuah teriakan dari luar kamar Aurora.
“Bibi, apa kau di dalam??” teriak Ainsley dari luar kamar Jessica.
“Masuk saja, princess!! Pintunya tidak, Bibi kunci!!” seru sang empunya kamar dengan suara sedikit meninggi. Saat ini Aurora berada dibalkon kamarnya, menikmati udara pagi dimusim dingin ini.
Derap langkah yang semakin mendekat menyita perhatian Aurora. Gadis itu menoleh dan sosok Ains yang kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik berdiri dibelakangnya. Saat ini Ainsley telah berusia 11 tahun.
“Kenapa, Bibi belum bersiap juga? Bukankah hari ini kita akan mengunjungi nenek??”
Pukkk!!
Aurora menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting ini. “Maaf, Princess, Bibi lupa!!” tandasnya.
Ains mendengus berat. “Aku sudah menduganya, makanya jangan terlalu banyak memikirkan paman tampan!!” kata Ains yang seolah mengerti apa yang tengah Aurora pikirkan.
Mata gadis itu terbelalak “Hei, memangnya siapa yang memikirkan dia. Jangan sok tau, keluarlah dulu, Bibi mau bersiap-siap!” ujar Aurora.
Ains mengembungkan pipinya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Rain melenggang meninggalkan kamar Aurora. Aurora mengambil nafas panjang dan menghelanya. Gadis itu menggenggam liontin dari kalung yang melingkari lehernya. Kalung itu adalah kalung pemberian Langit ketika mereka pergi berjalan-jalan ke Hongdae empat tahun yang lalu.
“Langit, aku merindukanmu.”
Aurora mengusap foto dirinya dan Langit yang mereka ambil empat tahun yang lalu ketika mereka jalan-jalan di kawasan Hongdae.
__ADS_1
Dan tanpa Aurora sadari. Air matanya jatuh dan membasahi wajah cantiknya. Foto itu hanya membuat dia semakin merindukan Langit. Rindu yang selalu menyiksanya selama empat tahun ini.
Pernah sekali Aurora mencoba menghubungi Langit. Tapi telponnya terputus sebelum mereka sempat berbincang. Dan sejak saat itu Aurora tidak pernah menghubungi Langit lagi karena nomornya selalu di luar jangkauan. Aurora tidak pernah tahu bagaimana kabar Langit apalagi yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.
“Aur, cepat sedikit. Kita bisa kesiangan.” Seru Luna dari lantai satu kediaman mereka.
Aurora mendengus berat. “Iya, aku datang.”
Mereka semua berencana untuk mengunjungi makam nyonya Will. Aurora dan Luna sangat merindukan ibunya. Mereka memakai pakaian serba hitam, dengan 5 buket bunga mawar putih kesukaan Ibu mereka.
Aurora berjalan dengan kaki gemetar ketika memasuki area pemakaman. Semua kenangan tentang ibunya kembali berputar di kepalanya. Dan hal itu membuat dada Aurora terasa sesak seperti dihimpit dua batu besar.
Itulah alasan kenapa Aurora jarang sekali datang ke makam Ibunya. Bukan karena ia tak peduli, tapi karena rasa sesak di dada menguasai keberaniannya.
“Bibi, sampai kapan kau akan terus menangis?” tegur Ains melihat air mata Aurora yang tak henti-hentinya menetes bahkan setelah mereka masuk ke dalam mobil.
Tidak ada jawaban. Aurora hanya menatap sekilas keponakannya itu dan kembali menangis tersedu-sedu. Dan kali ini di iringi isakan yang lumayan keras.
Ainsley merasa geli sendiri. Begitu pula dengan Hans dan Luna serta tuan Will. Dan Luna memiliki sebuah cara untuk membuat Aurora berhenti menangis.
Hans pun mengangguk dan kemudian memutar balik mobilnya. Hans tidak tau apa rencana istrinya. Tapi dia berharap itu berhasil membuat Aurora berhenti menangis.
“KYYYAAAA…..!!!”
Hans menjerit histeris. Saat ini mereka bermain Roller Coaster. Berbeda dari Hans yang histeris ketakutan. Ains justru sangat menikmatinya.
Dan setelah menaiki Roller Coaster, mereka memutuskan untuk menaiki Giant Swing, dan lagi-lagi Hans-lah korbannya. Permainan tersebut membuat Hans muntah-muntah karenanya.
Wahana yang kemudian mereka naiki adalah komedi putar, Hans merasa malu karena dia satu-satunya pria dewasa yang menaiki wahana tersebut. Sedangkan Aurora, Luna, dan Ains tampak begitu genbira sambil menikmati arum manis bersama.
Dan yang terakhir mereka naiki adahlah Ferris Wheel.
Duduk di ketinggian dengan latar belakang senja yg redup. Memandang indahnya sunset, persis berada diantara cahaya orange itu. Menyaksikan Korea perlahan mulai gelap. Melihat terangnya matahari digantikan oleh lampu-lampu gedung.
Luna berhasil membuat Aurora berhenti menangis. Gadis itu justru di buat takjub. Dan hal itulah yang dulu sering ibu mereka lakukan ketika Aurora sedang menangis. Wahana bermain adalah tempat paling tepat untuk membuat gadis itu berhenti menangis.
__ADS_1
Benda seputih kapas melayang dari langit yang kemudian jatuh menyentuh bumi. Angin bertiup membawa hawa dingin yang menyayat kulit.
Diambang jendela yang terbuka, berdiri seorang dara jelita bersurai coklat terang yang digulung ke atas dan memperlihatkan leher jenjangnya. Tak ada satu pun atribut yang mencerminkan musim dingin melekat ditubuh rampingnya.
Tubuh itu hanya berbalut blush tipis berenda berlengan panjang dengan rok sebatas lutut yang mengembang dibagian bawahnya.
‘Fyuhhh!’
Lagi! Gadis itu ‘Aurora’ menghela nafasnya, menimbulkan uap putih yang keluar dari bibirnya. Entah sudah berapa lama Aurora berdiri disana, memandang langit pekat tanpa ada satu bintang pun yang menghiasinya. Musim dingin akan segera berakhir, tidak ada yang istimewa pada musim dingin tahun ini semua terasa sama saja seperti dua tahun sebelumnya.
Empat tahun telah berlalu. Namun Aurora masih belum bisa mengenyahkan nama itu dari hati dan pikirannya. Perasaan yang ia miliki untuk orang itu tumbuh semakin subur dihatinya, berkali-kali Aurora mencoba menghapus nama itu dan membunuh cinta untuknya namun tidak pernah bisa.
Orang itu pergi sambil membawa kunci hatinya dan Aurora tidak tau apakah hatinya akan terbuka atau justru akan tertutup selamanya.
Tokk!! Tokk!! Tokk!!
“Aur kau sudah tidur?” Ketukan keras pada pintu sedikit menyita perhatian Aurora, gadis itu beranjak dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Masuklah Kak, pintunya tidak dikunci!” sahutnya dengan suara sedikit meninggi.
Cklekk!!
Decitan pintu terbuka dan sosok Luna masuk sambil menyunggingkan senyum hangat. Luna menghampiri Aurora lalu duduk dihadapan gadis itu. Pandangan Ibu satu anak itu bergulir pada koper berukuran sedang yang Aurora letakkan disudut ruangan.
Keluarga kecil itu berencana menghabiskan liburan musim dinginnya di negeri tirai bambu. Namun Luna dan Hans masih merahasiakan tujuan liburan mereka dari Aurora maupun Rain, karena mereka ingin memberikan kejutan pada mereka berdua terutama untuk Aurora.
“Kak, sebenarnya kemana kita akan pergi?” Aurora sungguh penasaran karena Luna masih merahasiakan tujuan kepergian mereka dari dirinya. Luna menggeleng.
“Jika kakak memberi tahumu sekarang, itu bukan kejutan namanya!”
‘Fyuhhh!!’
Aurora mendesah panjang. Lagi-lagi Luna bermain kucing-kucingnya dengannya. Apa kakak kesayangannya itu tidak tau jika ia nyaris saja mati karna penasaran.
“Ayolah Kak, jangan main rahasia-rahasiaan! Ayolah beri tau aku!” mohon Aurora sambil meletakkan kedua tangannya didepan dadanya, lagi-lagi Luna menggeleng dan hal itu membuat Aurora semakin kesal. “Tidak asik, itu menyebalkan!!” Dengan gemas Luna menjitak kepala adiknya, ia gemas sendiri melihat tingkah gadis itu.
“Ingat umur Aur, kau sudah bukan anak kecil lagi! Kau sudah tidak pantas merajak seperti bocah, sebaiknya lekas tidur atau kita besok akan terlambat!” ujar Luna.
__ADS_1
Dan kemudian ia bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan kamar Aurora termasuk gadis itu yang bersiap untuk pergi menuju alam mimpinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...