Langit Aurora

Langit Aurora
0.6 Langit Aurora


__ADS_3

..."Kenyamanan rasa dan cinta, satu momentum yang di kira tiada oleh luka."...


......................


Happy Reading!!!


.


.


.


Setelah Aurora duduk disamping jok kemudi. Langit berjalan memutar dan kembali ketempatnya, dan dalam hitungan detik. Mobil sport itu melesat jauh meninggalkan halte tempat Aurora menunggunya tadi.



Perjalanan menuju Myeongdong yang seharusnya terasa sangat menyenangkan justru terasa begitu membosankan. Bukan karena ia satu mobil dengan pemuda yang sifatnya 11-12 dengan musim yang tengah melanda negerinya. Tapi karena cuaca dan udara yang tidak bersahabat sama sekali.



Seperti hari sebelumnya. Seoul hari ini kembali di selimuti salju. Orang-orang nampak berlalu lalang menggunakan pakaian hangat mereka. Berusaha menutupi tubuh mereka dari dingin yang menusuk tulang.



Ini musim dingin. Jalanan pagi ini lumayan macet karena beberapa jalan utama Seoul tertutup salju sehingga sulit dilewati. Aurora mendesah untuk yang kesekian kalinya. Inilah alasan kenapa dia sangat benci keluar rumah ketika musim dingin tiba.



Meskipun dingin dan salju sedang turun. Tapi hal tersebut tak bisa menghambat aktivitas para warga. Tak sedikit warga kota yang tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa di tengah cuaca yang sangat esktrem seperti ini. Mereka harus bekerja. Keluarganya bisa kelaparan jika mereka hanya terus bermalas-malasan.



Langit menggulirkan pandangannya pada gadis yang duduk di sampingnya. Entah itu yang ke berapa kalinya dia menghela nafas dalam kurun waktu lima belas menit. Wajah ayunya tak menunjukkan eskpresi apapun. Aurora terus saja menekuk wajahnya.



“Jika kau tadi memang tidak ingin pergi, kenapa harus memaksakan diri?” ucap Langit di tengah kesibukannya mengemudi.



“Karena aku tidak ingin di salahkan jika kau sampai tersesat dan lupa jalan pulang. Bisa-bisa, Kak Luna dan Kak Hans mengomeliku habis-habisan jika dia tau aku menolak permintaanmu.”



Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Langit dan Aurora tiba di Myeongdong. Keduanya segera turun setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang tepat. Saat ini mereka berjalan kaki di antara hiruk-piruk warga.


__ADS_1


Kedua mata hazel Aurora berbinar melihat deretan mantel musim dingin yang cantik dan elegan memenuhi hampir disetiap boutique yang berjajar di sepanjang jalan. Gadis itu bahkan sudah melupakan rasa kesalnya setelah melihat deretan mantel cantik yang seolah berteriak memanggilnya.



“Kau ingin pergi ke sana?” tunjuk Langit pada salah satu boutique yang sejak tadi menyita perhatian Aurora.


Gadis itu mengangguk antusias. "Tentu saja, mantel-mantel cantik itu seolah memanggilku dan menarikku untuk menghampirinya!" ujar.



Blusshhhh!!! Wajah Aurora memerah saat Langit tiba-tiba mengacak rambut panjangnya dan mencubit hidung mancungnya. Tak ingin Langit melihat wajahnya yang saat ini mirip kepiting rebus. Buru-buru Aurora masuk ke dalam boutique itu, disusul Langit yang berjalan mengekor dibelakangnya.



Tak sedikit pun Langit melepaskan pandangannya dari sosok jelita berparas barbie yang sedang melihat dan memilih mantel musim dingin yang begitu indah di matanya. Sudut bibir Langit tertarik ke atas menciptakan lengkungan indah diwajah tampannya. Mata abu-abunya mengikut kemana pun kaki Aurora melangkah pergi. Saat pertama bertemu dengan gadis itu, pasti orang-orang akan berfikir bila Aurora adalah gadis yang dingin dan sombong. Namun tidak setelah kau mengenalnya, Aurora adalah gadis yang manis, bawel dan kekanakan. Aurora hangat dan mudah bergaul, hanya saja sifat aslinya itu tak pernah Aurora tunjukkan pada orang yang belum ia kenal. "Langit kemarilah, menurutmu lebih bagus yang mana? Hitam atau merah??" Aurora menunjukkan dua mantel pada Langit.



Tampak pemuda itu menimbang kemudian menggeleng, dan respon Langit membuat Aurora merenggut kesal. Dengan terpaksa, Aurora meletakkan kembali kedua mantel itu pada tempatnya.



Pemuda itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Aurora, Langit meraih mantel berwarna putih gading yang tampak cantik dan begitu elegan. Mantel itu dihiasi tiara dan pita, tak lupa kancing berukuran besar sebagai pemanisnya. Lalu Langit menyerahkan mantel itu pada Aurora.



“Aku rasa yang ini lebih cocok untukmu!!” ucap Langit.




Aurora tiba-tiba menghentikan langkahnya, saat mata hazelnya tanpa sengaja melihat sepasang pria dan wanita yang berasal dari masa lalunya berjalan beriringan memasuki boutique tempatnya berada. Kedua tangan Aurora terkepal kuat disisi tubuhnya, mata hazelnya menatap pasangan itu penuh kebencian.



Meskipun beberapa tahun telah berlalu, namun insiden menyakitkan itu masih segar di dalam ingatan Aurora. “Aur!!” teguran dan sentuhan pada bahunya segera menyadarkan



Buru-buru Aurora menyeka air matanya dan kembali menarik sudut bibirnya. "Ayo!" Aurora meraih tangan Langit dan membawanya menuju kasir.



Langit menatap pasangan suami-istri yang baru saja memasuki boutique, lalu pandangan Langit beralih pada Aurora. Meskipun dari sisi, namun ia tahu bila gadis itu mencoba menyembunyikan perasaannya. Dan kepedihan terpancar dari sorot matanya.


__ADS_1


Langit menahan pergelangan tangan Aurora ketika gadis itu hendak mengeluarkan credit card dari dalam dompetnya. Kemudian Langit memberikan sebuah platinum card pada wanita yang berdiri dibalik meja kasir. "Langit," Langit tersenyum tipis. "Anggap saja mantel itu sebagai hadiah pertemanan kita!" kata Langit seolah tak ingin dibantah.



"Sayang, menurutmu lebih bagus yang mana? Bagaimana jika aku ambil dua-duanya saja!!"



"Terserah kau saja, yang penting itu membuatmu senang!" Aurora mengepalkan tangannya, hatinya terbakar melihat pemandangan yang begitu menyakitkan itu. Gadis itu celingukan seperti mencari sesuatu, sampai la melihat cup berisi minuman yang ada diatas meja sudut ruangan.



Aurora beranjak dan meninggalkan Langit begitu saja, Aurora menyambar gelas itu lalu membawanya pada pasangan suami istri tersebut. Aurora meletakkan minuman itu di depan dadanya, lalu pura-pura menabrak wanita awal empat puluh tahunan yang tengah mencoba dua mantel ditangannya.



Wanita itu berdiri di depan kaca sambil menempelkan mantel itu ditubuhnya, senyum tak pudar dari wajah cantik yang tak lekang oleh waktu itu



“YAKKKK!!!” wanita itu memekik saat Aurora menubruknya dari belakang dan menumpahkan minuman pada pakaiannya.



“Upss, maaf Nyonya, saya tidak sengaja!” ucap Aurora tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan bibirnya menyeringai meremehkan.



“Kau pikir kata maaf saja cukup? Kata maafmu tidak akan mampu mengganti pakaianku. Apa kau tau berapa mahal pakaian ini!” teriak wanita itu emosi.



Mendengar keributan itu, perhatian Langit dan laki-laki yang datang bersama wanita yang Aurora kotori pakaiannya, pria setengah baya itu menghampiri sang istri yang tengah marah-marah pada Aurora.



“Ada apa ini??” tanya laki-laki itu.



“Sayang, lihatlah gadis tidak punya sopan santun itu. Masa dia menumpahkan minuman dipakaian imporku. Pakaian ini sangat mahal!” adu wanita itu pada sang suami.



Bukannya merasa takut, Aurora malah tersenyum meremehkan. Melewati wanita itu begitu saja, dan menghampiri laki-laki paruh baya yang berdiri berhadapan dengan wanita yang sudah pasti adalah istrinya. Sedangkan Langit, pemuda itu menatap Aurora penuh kebingungan.


__ADS_1


Aurora mengulurkan tangannya pada laki-laki paruh baya itu “Apa kabar Ayah!!!!!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2