Langit Aurora

Langit Aurora
0.7 Langit Aurora


__ADS_3

..."Karena seringkali kepercayaan disalahgunakan oleh sebuah keserakahan."...


......................


Happy Reading!!!!


.


.


.


“Upss, maaf Nyonya, saya tidak sengaja!” ucap Aurora tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan bibirnya menyeringai meremehkan.


“Kau pikir kata maaf saja cukup? Kata maafmu tidak akan mampu mengganti pakaianku. Apa kau tau berapa mahal pakaian ini!” teriak wanita itu emosi.



Mendengar keributan itu, perhatian Langit dan laki-laki yang datang bersama wanita yang Aurora kotori pakaiannya, pria setengah baya itu menghampiri sang istri yang tengah marah-marah pada Aurora.



“Ada apa ini??” tanya laki-laki itu.



“Sayang, lihatlah gadis tidak punya sopan santun itu. Masa dia menumpahkan minuman dipakaian imporku. Pakaian ini sangat mahal!” adu wanita itu pada sang suami.



Bukannya merasa takut, Aurora malah tersenyum meremehkan. Melewati wanita itu begitu saja, dan menghampiri laki-laki paruh baya yang berdiri berhadapan dengan wanita yang sudah pasti adalah istrinya. Sedangkan Langit, pemuda itu menatap Aurora penuh kebingungan.



Aurora mengulurkan tangannya pada laki-laki paruh baya itu “Apa kabar Ayah!!!!!”



Deg!!!!



Laki-laki setengah baya itu terkejut bukan main mendengar panggilan Aurora padanya. Dipandanginya wajah Aurora cukup lama, mulai dari mata, bibir, hidung sampai bentuk wajah. Gadis berparas ayu itu mengingatkannya pada sosok putrinya yang ia tinggalkan sepuluh tahun yang lalu.



Aurora menyeringai melihat keterkejutan laki-laki itu. Sementara sang wanita, dia memicingkan alisnya menatap Aurora dan suaminya bergantian. Meletakkan kembali gaun ditangannya ke tempat semula, wanita itu menghampiri Aurora.



“Apa maksudmu memanggil suamiku dengan sebutan, Ayah?” katanya meminta penjelasan.



“Kenapa kau terkejut nyonya? Bukankah wajar, jika seorang putri memanggil ayahnya dengan sebutan, Ayah?” balas Aurora menyeringai.



“Dasar sinting, Sayang kita pergi saja dari ini!!” Wanita itu memeluk lengan suaminya dan membawa sang suami pergi dari boutique itu tanpa penolakan.

__ADS_1



Aurora berbalik badan dan menatap kepergian laki-laki itu dengan tatapan meremehkan. “Dia ayahmu?” Aurora menoleh dan mendapati Langit berdiri disampingnya.



Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. “Ya!!” jawabnya singkat. Aurora melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan waktu menunjukkan pukul 10 pagi. “Bisa kita pulang sekarang, tubuhku hampir saja membeku!” ujar Aurora yang segera dibalas anggukan oleh Langit.



“Baiklah!!”



Keduanya berjalan beriringan meninggalkan boutique. Sesampainya diparkiran, mereka berdua langsung disambut oleh sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Aurora memicingkan matanya, ia seperti mengenali pasangan itu. Namun Aurora tidak mau ambil pusing dan melanjutkan langkahnya.



“Kau ingin langsung pulang??” tanya Langit. Saat ini keduanya sudah ada di dalam mobil.



Aurora menggeleng.



“Bagaimana kita bisa pulang, sedangkan kau belum mendapatkan apa pun. Bukankah kau memintaku ke sini untuk berbelanja!” kata Aurora menemanimu yang ternyata ingat dengan tujuan utamanya datang ke Myeongdong.



“Aku pikir lain kali saja. Sepertinya suasana hatimu sedang buruk!” ujar Langit yang seolah mengerti dengan perasaan Aurora. Gadis itu mengulum senyum tipis.




Langit terdiam, ia tau jika gadis ini tidaklah baik-baik saja. Lagi pula putri mana yang akan baik-baik saja ketika bertemu dengan ayah yang selama ini meninggalkannya disaat putrinya itu masih membutuhkan kehadiran dan kasih sayang darinya.



“Tapi matamu berkata lain!” kata Langit membuat Aurora diam tanpa suara. Gadis itu menundukkan wajahnya menatap kuku-kuku jarinya.



Memang benar apa yang Langit katakan. Dia memang tidak baik-baik saja. Selama ini dia hanya berusaha untuk terlihat tegar di depan semua orang terutama Luna, kakaknya. Namun pada kenyataannya Aurora sangatlah rapuh Aurora tidak menunjukkannya karena tidak ingin membuat kakaknya bersedih.



“Kau ingin menangis?” Langit menepuk bahunya sambil menatap Aurora. “Menangislah di sini, bahu ini siap untuk menampung semua air matamu!” ujarnya menambahkan.



Aurora benar-benar tidak bisa membendung lagi air matanya, semua yang sempat tertahan dipelupuk matanya tumpah begitu saja, pertahanan yang la bangun dengan sudah payah akhirnya hancur juga. Dalam pelukan Langit tangis Aurora pecah. Langit mengusap punggung Aurora dengan gerakan naik turun. Mencoba memberikan ketenangan pada gadis itu.



Saat dirasa mulai tenang. Langit melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu dengan senyum tipis. Langit mengangkat tangannya, jari-jarinya menghapus sisa air mata diwajah gadis itu. “Sudah merasa lebih baik?” tanya Langit. Aurora mengangguk.


__ADS_1


Gluk!!!



Susah payah Aurora menelan salivanya ketika Langit mendekatkan tubuhnya hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, Langit meraih sabuk pengaman Aurora dan memasangkannya. Buru-buru gadis itu membuang muka kearah lain. Untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, karena Aurora tidak ingin bila Langit sampai melihatnya.



“Kau ingin kemana setelah ini??” Aurora menoleh membuat mata hazelnya bersirobok dengan mata abu-abu milik Langit.



“Bukan kau, seharusnya aku yang bertanya!! Setelah ini kau ingin kemana??” Langit terkekeh diacaknya rambut coklat Aurora dengan gemas.



“Senang melihatmu telah kembali Nona!” kata Langit sambil tersenyum tipis.



Mobil mewah itu melewati jalanan perkotaan dengan kecepatan sedang. Membela kota yang dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang. Tidak ada percakapan dalam kebersamaan itu. Aurora dan Langit sama-sama dengan kesibukannya masing-masing, seperti Langit yang sibuk pada jalanan dan Aurora sibuk melihat jalanan bersalju.



Sesekali Langit menolehkan kepalanya kearah Aurora. “Ada beberapa pakaian yang harus kubeli, bisakah kau menunjukkan dimana boutique yang menyediakan pakaian untuk pria paling lengkap!!” Aurora memutar lehernya dan memandang wajah Langit.



“Kita bisa ke boutique milik sahabatku, di sana produknya sangat lengkap. Kau bisa menemukan pakaian pria dalam model apa-apun dan semua bermerek!” tutur Aurora memaparkan.



“Baiklah, kita kesana!”



Langit melirik ke belakang melalui spion. Saat di rasa aman. Langit menambah kecepatan pada mobilnya. Dan mobil sport mewah itu melaju kencang membela jalanan kota yang lumayan legang.



Tiga puluh menit kemudian mereka tiba diboutique milik sahabat Aurora. Kedatangan mereka langsung disambut oleh seorang wanita cantik bernama Ellena. Aurora dan Ellena langsung berpelukan dan cipika-cipiki. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan ketika bertemu atau saat Aurora berkunjung ke boutique miliknya.



“Aur, siapa pemuda tampan itu?” bisik Ellena menunjuk Langit menggunakan dagunya. “Apa dia kekasih barumu!!” sambungnya.



“Ngaco. Tentu saja bukan, dia bernama Langit. Dia sepupu Kak Hans yang baru tiba dari China!” Ellena mengangguk tanda jika ia sudah mengerti.



Sembari menunggu Langit mendapatkan pakaian yang dia inginkan. Aurora juga melihat-lihat pakaian untuk wanita yang memenuhi boutique milik Ellena, ada beberapa dress, gaun pesta dan blus cantik yang cukup menyita perhatian Aurora.



Aurora mengambil gaun pesta berwarna putih gading berhias mutiara dan berlian yang begitu cantik dan elegant.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2