
...“Di antara sanjungan dan kekaguman sering kali mengalir sungai penghinaan.”
...
......................
Happy Reading !!!
.
.
.
“Aur, tunggu!!”
Aurora menghantikan langkahnya karena panggilan itu. Ia tak bergeming sedikit pun, menoleh saja pun tidak. Bahkan gadis itu tak bergeming sedikit pun, ia hanya menatap datar sosok pria yang berdiri menjulang didepannya. Tatapannya begitu dingin dan tajam, sorot matanya penuh dengan kebencian.
“Maaf, apa aku mengenalmu??” tanya Aurora pada orang itu, laki-laki tersebut terkejut dan menatap Aurora tak percaya.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu, Aur-ya kenapa kau berpura-pura tidak mengenaliku??” tanya laki-laki itu sambil mencengkram bahu Aurora.
Merasa tidak nyaman, Aurora menepis tangan laki-laki itu dengan kasar seraya menatapnya tajam.
“Sopanlah sedikit, Tuan! Anda sudah bertindak keterlaluan!!” amuk Aurora penuh penekanan
“Kita pergi dari sini!!” Aurora menggenggam tangan Langit dan membawa laki-laki pergi meninggalkan taman Sungai Han.
“Aur, Aurora tunggu, beri aku kesempatan untuk bicara!!”
Aurora menutup kedua telinganya tanpa menghentikan langkahnya, gadis itu berlari kecil meninggalkan Langit yang mengejar dibelakangnya. Langit tahu bila Aurora tidak baik-baik saja, dan laki-laki itu!! Langit yakin bila Aurora hanya berpura-pura saja tidak mengenalnya.
“Tunggu!!”
Tubuh Aurora tertarik karena cengkraman pada pergelangan tangannya dan sentakan yang membuat tubuhnya berbalik hingga posisinya dan Langit kini saling berhadapan.
Langit tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap manik hazel Aurora dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Langit menarik Aurora kedalam pelukannya.
Aurora tidak menolak pelukan itu, dicengkramnya pakaian Langit. Aurora menyandarkan wajahnya pada dada bidang Langit. Isakan mulai terdengar dan Langit merasakan bahu Aurora yang gemetar.
__ADS_1
“Aku membencinya, Langit!! Aku membenci bajingan itu, kenapa? Kenapa semua orang menghianatiku? Apa salahku? Pertama ayah, lalu dia!! Apa aku tidak layak mendapatkan cinta? Apakah aku tidak layak bahagia? Padahal aku ingin dicintai dengan tulus!!” Langit menengadahkan wajahnya mencoba menghalau cairan yang menggenang dipelupuk matanya. Diusapnya punggung Aurora dengan gerakan naik turun.
“Semua orang berhak mendapatkan cinta termasuk kau, Aur!! Kau layak dicintai dan mencintai. Mungkin dibalik semua perestiwa memilukan itu, Tuhan sudah merencanakan ending yang bahagia untukmu!!” tutur Langit.
Langit merasa sesak melihat Aurora yang seperti ini. Hatinya seperti diremas ketika mendengar isakannya dan melihat air matanya. Entah kenapa muncul keinginan dalam hatinya untuk menjaga gadis itu dan mengembalikan semua senyum diwajahnya.
Langit melepaskan pelukannya dan menakup wajah Aurora, mata abu-abunya mengunci manik hazel milik gadis itu. Perlahan, jari-jari besarnya menghapus sisa air mata diwajah Aurora.
“Sudah malam, sebaiknya kita pulang. Aku tidak ingin membuat kak Luna merasa cemas!!” tutur Langit, Aurora mengangguk. Gadis itu tidak memberikan perlawanan saat Langit merangkul bahunya dan menuntunnya pulang.
Rintik salju yang cukup lebat kembali mengguyur kota Seoul malam ini, menaburkan putih sucinya menyelubungi seluruh bumi Seoul. Banyak polisi yang berpatroli disepanjang jalan, tak sedikit mobil yang memutuskan untuk berbalik arah karena desas-desus akan adanya badai yang datang malam ini.
“Selamat malam Tuan, Nona!! Jalanan kami tutup karena badai salju, sebaiknya kalian berbalik arah!!” ujar salah satu petugas kepolisian saat menghampiri mobil Langit yang terparkir ditepi jalan.
“Apa jalanan ini benar-benar tidak bisa dilewati?” tanya Aurora memastikan.
“Maaf Nona, ini demi keselamatan Anda berdua. Sebaiknya kalian berbalik arah dengan segera, badai malam ini cukup lebat!!”
Mereka berdua benar-benar tidak bisa pulang dan harus menginap diluar. Mereka terjebak badai salju yang tengah melanda kota.
Lima belas menit kemudian mereka berdua tiba disebuah penginapan. Langit dan Aurora tidak memiliki pilihan selain menginap dipenginapan. Dan pilihan Langit jatuh pada hotel berbintang lima, alasan utama dia adalah kenyamanan.
Entah sebuah kebetulan atau memang sudah takdir, kamar untuk perorangan sudah penuh dan hanya menyisahkan kamar untuk pasangan. Dan karena tidak lagi memiliki pilihan, akhirnya mereka berdua pun mengambil kamar itu.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam kamar, Langit meminta Aurora untuk tidur ditempat tidur dan dia akan tidur disofa. Langit tidak ingin memanfaatkan keadaan dan membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
Langit melepas coat hangatnya menyisahkan turtleneck tipis yang dibalut sweatercoats yang melekat pas ditubuhnya. Langit membaringkan tubuhnya disofa, salah satu tangannya menutupi sebagian wajahnya. Aurora benar-benar merasa tidak enak pada pemuda itu, bagaimana tidak. Pemuda itu yang menyewa kamar tapi dia malah tidur disofa.
“Langit.” Panggil Aurora. Pemuda itu menoleh dan menatap Aurora dengan datar. “Sebaiknya kita berbagi tempat tidur saja!” kata Aurora malu, dan hal itu terlihat dari wajahnya yang memerah. Langit menautkan alisnya dan menatap gadis itu penuh tanya.
“Kau yakin??” tanya Langit memastikan, Aurora memgangguk malu-malu.
__ADS_1
“Ya!!” Gadis itu menjawab singkat.
Langit pun bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Aurora, entah mimpi apa semalam hingga ia harus tidur satu kamar dan berbagi tempat tidur dengan seorang laki-laki. Dengan ragu dan perlahan, Aurora membaringkan tubuhnya di atas kasur samping Langit dalam posisi memunggungi.
Langit mematikan lampu tidur membuat seisi ruangan menjadi gelap gulita, hanya ada cahaya bulan yang temaram menyinari ruangan itu.
Jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul tengah malam, namun Aurora masih tetap terjaga. Gadis itu tetap tidak bisa menutup matanya meskipun sudah berusaha menutupnya berulang-ulang, namun nihil hasilnya. Mata itu tetap saja terbuka.
Derit ranjang lagi-lagi terdengar dan hal itu membuat Ken sedikit terusik dan terganggu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Aurora. Tubuhnya tertutup selimut tebal, sedari tadi gadis itu bolak-balik kekanan dan kekiri yang jelas membuat ‘tetangga’ disampingnya terganggu.
Derit ranjang terdengar untuk yang kesekian kalinya, Jessica kembali membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat cemas, entah karena suasana kamar yang tiba-tiba memanas atau karena cara tidurnya yang tidak elit.
“Ck!” Langit yang merasa terganggu membuka matanya dengan terpaksa. Dipandangnya tubuh Aurora yang memunggunginya. Gadis itu hendak berbalik lagi namun segera dihentikan oleh Langit.
Kedua mata Aurora terbelalak sempurna saat merasakan ada tangan kekar yang melingkari perutnya dan dada seseorang yang menempel sempurna dengan punggungnya.
“Langit, apa yang kau lakukan!!” tanya gadis itu menahan kegugupannya.
“Ck, diamlah! Karena ulahmu aku tidak bisa tidur!” jawabnya ketus.
Dan apa yang Langit lakukan berhasil. Aurora diam seketika dan tidak bolak-balik lagi seperti sebelumnya. Gadis itu pasrah dibawah kunkungan tangan kekar Langit. Aurora mencoba menutup kembali matanya, ia berusaha untuk tidur.
Meskipun awalnya sulit, namun pada akhirnya gadis itu terlelap didalam mimpinya. Langit tersenyum kecil, menutup matanya dan kembali melanjutkan mimpinya yang tertunda karena ulah Aurora.
Malam berlalu begitu cepat, dan pagi sudah datang menjelang. Matahari mulai merangkak dan menuju cakrawala, cahayanya yang hangat mulai menyinari bumi membuat warna kapas putih yang memenuhi setiap sudut kota mulai mencair.
“Eungg!!” Aurora yang belum sepenuhnya terbangun melengkuh pelan.
Gadis itu menggeliat dalam posisinya, namun ada yang membatasi pergerakannya. Perlahan kelopak mata itu terbuka dan mendapati sebuah tangan besar melingkari perut ratanya. Melirik kebelakang menggunakan ekor matanya, tampak sosok pemuda yang masih terlelap dalam mimpinya.
Rasanya Aurora ingin menjerit, namun suaranya tertahan ditenggorokannya. Ada rasa hangat yang memenuhi ruang kosong dalam hatinya, dewi batinnya berjingkrak riang. Aurora membiarkan pemuda itu tetap memeluknya.
Aurora merasakan pelukan Langit mulai mengendur. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mendapati posisi Langit kini terlentang, mata abu-abunya mengerjap berulang-ulang mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Aurora pun segera bangun dan posisinya duduk dengan kedua kakinya berpijak pada lantai kamar yang dingin
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...