Langit Aurora

Langit Aurora
2.0 Langit Aurora


__ADS_3

...“Ketika aku jatuh cinta, aku merasa malu terhadap semua. Itulah yang dapat aku katakan terkait cinta.”...


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa tiga bulan telah berlalu, liburan musim dingin hampir saja berakhir. Dan itu artinya sudah hampir tiba waktunya untuk Langit kembali kenegara asalnya yakni ‘China’.



Rasanya berat sekali untuk Langit kembali ke China dan meninggalkan Korea. Langit sudah mulai betah apalagi dengan kehadiran Aurora yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Entah sadar atau tidak, Langit memang telah jatuh hati pada gadis itu.



Saat ini keluarga Hans sedang berkumpul dirumah kaca yang ada ditaman milik mereka. Tampak Ainsley yang sedang bermain bersama Aurora, sementara Langit, Hans dan Luna berbincang dengan tenang.



“Kau yakin akan pulang lusa, Langit??” tanya Hans memastikan,



Langit mengangguk. “Ya, banyak yang harus aku persiapkan sebelum memasuki ajaran baru. Lagi pula aku juga sudah sangat merindukan mama dan papa!!” ujar Langit memaparkan.



Luna dan Hans dapat mengerti, mereka juga tidak memiliki hal untuk menahan Langit agar tetap tinggal atau membujuk dia untuk pindah kuliah. Mereka merasa tak memiliki hak untuk melakukan hal itu.



Sebenarnya liburan hanyalah alasan untuk Langit meninggalkan China dan keluarganya. Ada alasan lain kenapa dia pergi meninggalkan negara kelahirannya itu. Langit ingin menghindari sesuatu, dan satu-satunya cara adalah dengan kabur dari China. Beruntung dia memiliki kerabat yang tinggal di Korea.



“Kakak, harap kau tidak pernah melupakan kami, Langit! Dan jika ada waktu berkunjunglah kemari. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu!” Luna menepuk bahu Langit yang duduk disampingnya.



“Tentu saja tidak!! Bagaimana bisa aku melupakan kalian semua, Kak!! Kalian begitu baik padaku dan selalu memperlakukanku dengan baik selama aku di sini. Aku pasti akan sering-sering berkunjung ketika memiliki waktu!!” Luna tersenyum mendengar jawaban Langit.



Sementara itu. Ketidakrelaan menyelimuti hati Aurora, rasanya ia tidak rela melepaskan Langit untuk pergi. Berat sekali rasanya untuk Aurora berpisah dengannya. Aurora sudah merasa nyaman dengan kehadiran Langit, dan pasti akan sangat berbeda jika laki-laki itu tak ada lagi disisinya. Tiga bulan yang mereka lewati bersama memberi banyak arti bagi Aurora.



“Bibi, kenapa kau nangis?” tanya Ains penasaran.



Buru-buru Aurora menghampus air matanya kemudian memaksakan untuk tersenyum. “Bibi, tidak nangis kok, Sayang!! Hanya kelilipan!” kata Aurora menyakinkan. Ainsley mengarahkan jari mungilnya kewajah Aurora.



“Bibi bohong, jelas-jelas Bibi menangis!!” Ains beranjak dari hadapan Aurora dan berlari menghampiri Ibunya.

__ADS_1



“Ibu!!” Luna membawa sang putri masuk ke dalam pelukannya.



“Ada apa, Sayang?” tanya Luna.



Ainsley mengangkat wajahnya menatap Luna dengan tatapan polosnya. “Bibi Aur, menangis tapi tidak mau ngaku. Bibi, bilang hanya kelilipan!” ujar Ains dan otomatis semua mata kini tertuju pada Aurora termasuk Langit. Aurora membuang muka dan berpura-pura melihat bunga-bunganya.



“Aur,” panggil Luna.



“Kak, aku mau mengambil pupuk dulu. Beberapa bunga terlihat layu!!” kata Aurora dan melenggang pergi.



Melihat hal itu tak lantas membuat Langit tinggal diam. Pemuda itu bangkit dari duduknya setelah meminta ijin pada Luna dan Hans untuk menyusul Aurora. Langit melihat Aurora berdiri ditepi kolam renang sambil memegang dadanya dan tangan yang lain menutupi mulutnya untuk menyamarkan isakannya.



Langit melangkah perlahan menghampiri gadis itu. Disentuhnya bahu Aurora, hingga mau tidak mau gadis itu membalikkan tubuhnya.



“Kenapa kau menangis?” tanya Langit sambil menyeka air mata Aurora.




Langit membiarkan Aurora menangis di dalam pelukannya, bahkan ia tak peduli jika pakaian mahalnya akan kotor dan basah karena air mata Aurora.



Langit tidak tau apa yang membuat gadis ini menangis, Langit ingin sekali bertanya sekali lagi namun lidahnya terasa keluh. Dan Langit membiarkan Aurora tetap menangis di dalam pelukannya.



“Hentikan aku, Aur. Hentikan jika kau memang tidak ingin aku pergi. Jika kau menghentikanku, aku pasti tidak akan pergi.” Ujar Langit membatin.



“Jangan pergi, Langit. Aku mohon!!!” Jerit Aurora membatin.



Aurora ingin sekali memohon supaya Langit tidak pergi. Tapi entah kenapa suaranya malah tidak mau keluar. Ia benar-benar tidak rela jika pemuda itu kembali ke negeri asalnya. Aurora sudah terbiasa dengan kehadiran Langit di sisinya. Pasti akan sangat berbeda setelah pemuda itu pergi.



Langit melepaskan pelukannya dan menatap Aurora dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. Pemuda itu mengurai senyum setipis kertas. “Kau terlihat jelek saat menangis, jadi tersenyumlah.” Pinta Langit seraya menyeka air mata yang mengalir di pipi Aurora.



Gadis itu merenggut dan meninju pelan dada bidang Langit. “Dasar menyebalkan.” Langit terkekeh. “Apa yang kau tertawakan?”

__ADS_1



“Kau,”



“Aku? Kenapa?”



“Kau sangat menggemaskan. Saat kita jauh, aku pasti akan sangat merindukanmu, Aur. Aku harap kau tidak melupakan diriku.” Ujar Langit dengan tatapan sendunya.



Mendengar ucapan Langit rasanya Aurora ingin menangis lagi. Tapi sebisa mungkin dia tahan. Aurora tidak ingin jika Langit kembali melihatnya menangis.



“Dasar bodoh!! Tentu saja aku tidak mungkin melupakanmu. Kau adalah pemuda paling menyebalkan yang berhasil membuatku merasakan kehangatan di musim dingin. Sudahlah, aku kembali dulu. Aku tidak ingin membuat, Kak Luna berpikir yang tidak-tidak.” Aurora beranjak dari hadapan Langit dan pergi begitu saja.



Langit menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Aurora menghentikan sejenak langkahnya dan mendesah panjang. Sebisa mungkin Aurora terlihat baik-baik saja di depan semua orang, meskipun pada kenyataannya dia tidak baik-baik saja.



“Jika saja kau menghentikanku. Mungkin aku akan berpikir dua kali untuk pergi. Setidaknya aku memiliki alasan untuk tetap tinggal. Tapi sepertinya kau memang tidak ingin aku tetap di sini.” Ujar Langit bergumam.



Langit menarik napas panjang dan menghelanya. Pemuda itu melanjutkan langkahnya dan segera menyusul Aurora yang sudah lebih dulu meninggalkan kolam renang. Dari kejauhan Langit melihat Aurora yang sedang memberikan pupuk pada bunga-bunganya yang tampak layu.



Beruntung bunga-bunga itu di tanam di dalam sebuah rumah kaca sehingga tak begitu terpengaruh dengan cuaca dingin yang sedang melanda kota.



“Paman tampan,” seru Ains melihat kedatangan Langit. Pemuda itu tersenyum lebar menyambut bocah perempuan itu. “Bibi Aur, sudah bisa tersenyum lagi. Aku rasa kau adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan suasana hatinya yang sedang buruk.”



Langit tidak memberikan jawaban apa-apa. Sebagai gantinya pemuda itu mengacak rambut panjang Ains yang berwarna kecoklatan. Langit berdiri dan menatap Aurora yang sedang memberi pupuk pada bunga-bunganya. Langit mengeluarkan ponselnya lalu mengambil beberapa potret Aurora. Sudut bibir Langit tertarik ke atas melihat hasil jepretannya.



“Kak, bagaimana kalau kita berfoto bersama.” Usul Langit saat tiba di hadapan pasangan suami-istri itu.



“Bukan ide buruk. Langit, panggil Aurora dulu.” Langit mengangguk.



Setelah memasang timer. Langit meletakkan ponselnya di atas meja. Pemuda itu menarik Aurora untuk berdiri di sampingnya. Sebelah tangan Langit melingkari pinggang Aurora.



Dan apa yang Langit lakukan tentu saja membuat Aurora terkejut bukan main. Gadis itu menoleh, mata mereka saling bersirobok. Dan tepat pada saat itu timer yang Langit pasang habis. Foto mereka saling memandang dalam diam.


__ADS_1


“Ya Tuhan, cabut saja nyawaku detik ini juga.” Jerit Aurora membatin. Gadis itu melepas pelukan Langit dan pergi begitu saja. Ia merasa gugup sekaligus malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2