
Happy Reading !!!!
Hans, Luna dan Ains melambaikan tangannya pada Langit. Hans memeluk bahu sang istri.
Mereka berdua pun merasa berat untuk melepas Langit pergi, meskipun kebersmaan mereka begitu singkat, namun rasa saling menyayangi sudah tumbuh di hati mereka berdua untuk pemuda itu.
Terlebih lagi Langit adalah sepupu Hans dan hubungan mereka sudah terjalin dengan baik bahkan sebelum Langit dilahirkan dan melihat dunia ini.
Belum genap satu hari tapi Aurora sudah merasa begitu kesepian dan kehilangan tanpa kehadiran Langit di sisinya. Ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran pemuda itu yang selama tiga bulan terakhir ini selalu menghiasi hari-harinya.
Aurora merasa kosong tanpa kehadiran Langit. Kehadirannya memberikan arti tersendiri bagi hidupnya. Dan berkat Langit, perlahan Aurora bisa melupakan rasa sakit dan kepedihan hatinya.
Dan apakah musim dingin yang tersisa akan tetap terasa sama setelah Langit pergi dan kembali ke negerinya? Aurora tidak yakin.
“Bibi, kami pulang.” Seru Ains dari arah ruang tamu. Aurora yang sedang duduk termenung di ruang keluarga lantas menoleh dan mendapati keponakannya itu berlari menghampirinya.
“Sayang, kau sudah pulang?” tanya Aurora ketika Ains sudah ada di hadapannya.
“Bibi, kau sangat kejam. Padahal Paman tampan sangat ingin bertemu denganmu sebelum dia pergi. Tapi kenapa kau malah menolak untuk menemuinya?!” tanya Ains.
“Bibi, tadi sangat lelah. Jadi Bibi ketiduran, makanya Bibi tidak ikut mengantarkan Paman tampanmu itu.”
“Benarkah?” Ainsley menatap Aurora penuh selidik.
“Tentu saja benar. Memangnya ada alasan lain, Bibi tidak mau menemuinya.” Dengan gemas Aurora menarik ujung hidung Ainsley.
Terpaksa dia berbohong dan tidak mengatakan apa alasannya tidak menemui Langit apalagi mengantarkannya. Aurora sangat mengenal keponakannya itu, Ains adalah anak yang pintar dan sering kali membaca apa yang dia pikirkan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Langit tiba juga di China. Pemuda berwajah cantik itu dijemput oleh kedua sahabatnya yakni Benerd dan Tommy. Tidak ada satu pun dari keluarga Langit yang tahu kepulangannya termasuk Jayden, kakak kandung Langit. Leega Langit Purnama—pemuda itu sengaja tidak memberi tahu kepulangannya pada mereka.
Saat ini ketiga pemuda itu berada disalah satu club malam yang cukup ternama di China. Dan di club malam itu mereka bertiga biasa berkumpul dan menghabiskan waktunya.
__ADS_1
Terlihat seorang bartender berdiri dibalik konter bar sedang menyiapkan minuman pesanan mereka.
“Wah, sudah lama kau tidak datang kemari?” kata sang bartender sambil menyerahkan minuman pesanan Langit.
Bungsu keluarga Purnama itu meraih gelas cocktailnya lalu menyesap sedikit isinya. “Hm! Aku pergi ke Korea dan menghabiskan sisa liburanku di sana!” ujar Langit lalu meletakkan kembali gelas cocktailnya.
Membahas masa liburannya membuat Langit teringat pada sosok gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Satu-satunya gadis yang mampu membuka hatinya yang sudah ia tutup rapat dan kini memegang kunci hatinya. Wajah Aurora yang berlinang air mata ketika gadis itu menangis di tepi kolam renang tiba-tiba melintas dipikiran Langit. Pemuda itu menutup matanya sejenak, meraih gelas cocktailnya lalu meneguk isinya hingga tandas tak tersisa.
Langit meletakkan gelasnya yang telah kosong di atas Bar Stool. “Berikan aku satu gelas Flaming Lhamborghini!” kata Langit dengan suara terlewat datar. Sontak saja Ben dan Tommy mengangkat wajahnya, keduanya menatap Ken dengan tatapan tak percaya.
“Hey, kau yakin??” tanya Ben memastikan. Langit menoleh, menatap pemuda yang terkenal karena kepikunannya itu datar.
“Apa aku terlihat bercanda?” katanya dingin.
Lirikan tak berminat Langit berikan pada salah satu dari kedua sahabatnya itu. Dan keduanya hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata lagi.
Flaming Lhamborghini sendiri bukanlah jenis minuman yang disajikan secara biasa, minuman itu memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi dengan api biru yang menyala di atasnya sangatlah berbahaya.
“Zay, kenapa kau menyajikan uman itu untuknya?” tanya Tommy. Nada khawatir sangat jelas dari bicaranya.
Senyum menenangkan Zay berikan pada Ben dan Tommy. Meyakinkan jika semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada hal serius yang menimpa Langit. Tangan kanan Zay memegang gelas berisi campuran Baileys dan Blue Curacao yang dia buat untuk Langit.
“Tenanglah, Langit!! Minuman ini tidak akan membunuhnya kok!!” kata Zay meyakinkan.
“Tapi---???”
“Kalian tidak usah berlebihan minuman semacam itu tidak akan membuatku mabuk apalagi membunuhku!” kata Langit menegaskan. Iris abu-abunya menatap kedua sahabatnya secara bergantian, meyakinkan pada mereka jika ia akan baik-baik saja.
Glukkk!!!
__ADS_1
Tommy dan Ben menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah. Mereka hanya bisa memandang kegilaan Langit dengan pandangan cemas dan khawatir. Kini beberapa pelanggan yang hadir berkumpul dan mendekat untuk melihat Langit meminum Flaming Lhamborghini-nya.
Dengan lihai dan secara perlahan, tangan putih Zay menuang cairan yang ada dalam gelas yang ia pegang ke dalam Shot Glass yang tersusun. Api biru ikut menyambar cairan di dalam gelas dan membakar seluruh permukaan Shot Glass tersebut.
Dan aksi gila Langit membuat beberapa pelanggan terpukau, tak menyangka jika ada orang yang mampu meminum, minuman itu tanpa beban. Dan parahnya lagi, Langit meminum cairan itu tanpa sedotan yang telah Zay siapkan. Kegilaan Langit membuat Ben dan Tommy menggelengkan kepalanya.
Cairan itu mulai memasuki kerongkongannya. Sensasi panas dan terbakar luar biasa langsung menggerogoti dada Langit. Kadar alkohol yang tinggi begitu terasa, jika orang biasa akan langsung mabuk tapi Langit tidak. Pemuda itu tetap terlihat baik-baik saja.
“Kau benar-benar gila, Langit!!” pekik Ben dan Tommy secara bersamaan.
Langit mendecih dan hanya menatap keduanya datar. Langit mengeluarkan dompetnya dan meletakkan sejumlah uang di atas konter bar lalu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan kedua sahabatnya itu.
“He, kau mau kemana?” seru Tommy.
“Pulang!!!” jawab Langit datar tanpa menghentikan langkahnya.
Luna menghampiri Aurora yang sedang termenung di kamarnya. Ia tau apa yang tengah gadis itu pikirkan, dan Luna sangat memahami betul apa yang ia rasakan.
“Memikirkan, Langit?” tegur Luna seraya menepuk bahu kanan Aurora.
Sontak saja ia menoleh dan mendapati Luna berdiri di sampingnya. “Kakak, kapan kau masuk? Kenapa aku tidak menyadarinya?” tanya Aurora penuh keheranan.
“Itu karena kau terlalu banyak melamun. Langit, baru saja menghubungi kakak dan mengatakan telah sampai di China dengan selamat.”
“Oh,”
Luna menatap Aurora dengan serius. “Aur, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Dan bagaimana perasaanmu pada, Langit yang sebenarnya? Apa kau sudah jatuh cinta padanya?” tanya Luna penasaran.
Aurora menggeleng. “Aku tidak tau. Hanya saja aku merasa sesak ketika melihatnya pergi. Jujur saja, Kak. Kehadirannya mulai memberikan sedikit banyak arti dalam hidupku. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya dan sekarang aku merasa hampa ketika dia sudah tidak ada.” Tutur Aurora panjang lebar.
Luna menepuk bahu Aurora dan menatapnya dengan seutas senyum lembut. “Jika kalian memang ditakdirkan untuk berjodoh. Pasti suatu saat nanti kalian akan bertemu lagi. Kakak, keluar dulu.” Luna menepuk bahu Aurora dan pergi begitu saja. Aurora menatap kepergian Luna dengan pandangan datar. Helaan napas berkali-kali terlontar dari bibirnya. Entah sudah ke yang berapa kalinya. Dan tanpa Langit kini ia merasa kosong dan hampa.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...