
Happy Reading !!!!
Jangan lupa, like, komen, sama follow ya sebagai dukungan buat saya sendiri. Terima kasih.
...----------------...
“Hanya ingin saja. Lalu apa yang kau lakukan di luar tengah malam begini?” bodoh, tanpa bertanya pun tentu Aurora tau apa yang Langit lakukan tadi.
“Tidak ada, hanya bertelepon dengan teman saja. Masuklah, udara di sini sangat dingin. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini. Aku juga akan masuk,”
“Ya, itu juga yang akan aku lakukan.” Aurora beranjak dari hadapan Langit dan pergi begitu saja. Meninggalkan pemuda itu sendiri di balkon kamarnya.
Tak lama kemudian. Langit pun mengikuti jejak Aurora dan pemuda itu melenggang meninggalkan balkon kamar Aurora. Langit merasa sangat lelah dan ingin segera tidur. Ia berencana tidur lebih awal malam ini.
Tokk!!! Tokkk!!! Tokk!!!
Ketukan keras pada pintu kamarnya mengalihkan perhatian Langit. Pemuda itu meletakkan ponselnya lalu bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju pintu. Pintu terbuka dan sosok Aurora yang pertama tertangkap oleh mata abu-abu miliknya.
Gadis itu datang sambil membawa nampan berisi teh panas dan cemilan. Langit membuka pintu itu dengan lebar dan mempersilahkan Aurora untuk masuk
“Kak Luna memintaku untuk mengantarkan in!!” kata Aurora lalu meletakkan nampan yang ia bawah di atas meja kecil samping tempat tidur Langit.
“Maaf sudah merepotkan!” sesal Langit. Aurora menggeleng.
“Tidak apa-apa. Bukan hal yang besar, maaf sudah mengganggu waktumu. Minum tehnya selagi masih hangat, aku keluar dulu!” kata Aurora dan beranjak dari hadapan Langit.
Namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Aurora. Gadis itu berbalik badan dan posisi mereka saling berhadapan. “Cuaca diluar cukup cerah, kau tidak keberatan jika aku memintamu menemaniku jalan-jalan. Aku ingin menikmati suasana Seoul saat malam hari!!”
Aurora menatap Langit sejenak kemudian mengangguk. “Baiklah, aku akan mengganti pakaianku dulu!!” kata Aurora dan berlalu begitu saja.
Lima belas menit kemudian Aurora keluar dari kamarnya dengan pakaian berbeda. Dress brukat berlengan sepanjang lutut yang dibalut mantel cantik berwarna pastel, leging hitam yang membingkai kaki jenjangnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah dan wajah cantiknya dipoles make up tipis.
“Bibi, rapi sekali? Bibi, mau pergi berkencan dengan paman tampan ya?!!” tebak Ainsley saat menyadari kedatangan Aurora.
Alih-alih menjawab, Aurora malah mencubit gemas pipi gembil Ains. “Bibi, sakitttt!!” jerit gadis kecil itu sambil mengusap pipinya.
“Makanya jangan sok tau Sayang, Bibi bukannya mau pergi berkencan tapi mau menemani paman tampanmu itu jalan-jalan!” ujar Aurora menegaskan.
__ADS_1
“Memangnya apa bedanya, Bibi! Itu sama saja dengan kencan!” kata Ainsley tak mau kalah.
“Terserah Ains saja, maaf cantik. Bibi, harus pergi sekarang!” Aurora mencium pipi gembil Ains dengan senyum merekah. Aurora tak ingin membuat Langit menunggu dirinya terlalu lama.
Dari kejauhan, Aurora melihat Langit sedang berbincang diruang tamu bersama Hans. Jantung Aurora berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya saat melihat senyum manis yang menghiasi wajah tampan dan cantik pemuda itu.
Dengan langkah ragu Aurora menghampiri Langit. Menyadari kedatangan Aurora, Langit bangkit dari duduknya. Pemuda itu terpaku melihat penampilan Aurora, dia memakai dress dan mantel yang ia pilihkan hari itu. Langit mengulum senyum tipis.
“Sudah siap?” Aurora mengangguk.
“Jangan pulang terlalu malam, kakak dengar akan ada badai salju malam ini!!” papar Luna dari arah belakang. Keduanya menoleh pada sumber suara kemudian mengangguk.
“Kak, kami pergi dulu!!” pamit Aurora seraya melambaikan tangannya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kediaman Hans.
Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Langit maupun Aurora. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Langit sibuk pada jalanan sementara Aurora memusatkan pandangannya pada pemandangan kota.
Suasana berbeda begitu terasa ketika malam tiba. Seluruh kota diteringai dengan lampu yang menerangi disepanjang jalan. Sesekali Langit melirik ke arah Aurora menggunakan ekor matanya dan begitu pun sebaliknya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya mereka tiba di Sungai Han. Langit menghentikan mobilnya kemudian turun diikuti Aurora yang kini berdiri disampingnya. Masih tidak ada perbincangan antara mereka, mereka berdiri dalam keheningan. Langit memutar lehernya, pemuda itu memicingkan matanya melihat perubahan pada raut wajah Aurora.
“Kau baik-baik saja?”
“Dulu saat ibu masih ada, aku, kak Luna dan ibu sering datang ketempat ini! Sungai Han menyimpan 1000 kenangan untukku!!” ujar Aurora dengan nada pilu.
“Kau ingin menangis? Kemarilah, di sini, kau bisa menumpahkan semua kesedihanmu!!” kata Langit sambil menepuk bahunya. Aurora maju satu langkah dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Langit yang tersembunyi di balik kemeja dan long vest hitamnya. Isakan yang keluar dari bibir Aurora terdengar begitu pilu.
Langit mengangkat kedua tangannya dan memeluk Aurora dengan erat. Diusapnya punggung Aurora dengan gerakan naik turun, mencoba memberikan ketenangan pada gadis itu.
Setelah dirasa Aurora cukup tenang. Langit melepaskan pelukannya. Bersamaan dengan hal itu, ponsel yang ada dalam saku celananya berdering, menandakan ada satu panggilan masuk. Langit mengeluarkan ponselnya dan mendapati satu nama tertera dilayarnya yang menyala. Alih-alih mengangkat panggilan itu, Langit malah mematikan ponselnya.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Aurora. Sebenarnya dia merasa tidak enak jika harus mencampuri urusan pribadi Langit. Namun rasa ingin tau yang besar mengalahkan egonya.
“Bukan telfon yang penting!”
“Ahh!! Begitu ya, aku pikir dari kekasihmu!!”
“Lebih tepatnya mantan kekasihku!” kata Langit menyela ucapan Aurora.
__ADS_1
Sontak saja gadis itu menoleh seolah mencari penjelasan. “Kami berpisah sekitar 6 bulan yang lalu. Dia lebih memilih kakakku yang lebih mapan dan mungkin saja lebih baik dariku, dia malu berpacaran dengan brandalan sepertiku ini!!” ujarnya menambahkan.
“Tapi kau tidak terlihat seperti brandalan sama sekali. Bahkan kau selalu berpakaian sopan selama berada disini, ya meskipun terkadang kau berpakaian lengan terbuka. Sifatmu juga tidak mencerminkan jika kau itu seorang bad boy!” tutur Aurora.
“Karena aku masih waras!!” sahut Langit menimpali. “Seperti yang aku katakan padamu sebelumnya, aku menghargai kak Hans dan kak Luna! Aku tidak ingin mempermalukan mereka berdua.” Imbuhnya. Aurora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Bagaimana aku bisa lupa!!” Aurora menepuk jidatnya sendiri. Dengan gemas Langit menjitak kepala coklat Aurora.
“Dasar pikun!!” Aurora terkekeh, di usapnya jidanya yang baru saja dijitak oleh Langit.
“Aku tidak pikun Langit, tapi lupa!” tegasnya.
“Apa bedanya!” kata Langit dan berlalu begitu saja.
Aurora mendengus kesal karena ditinggalkan begitu saja oleh Langit. Dengan wajah ditekuk, Aurora bergegas mengejar pemuda itu dan membuat perhitungan dengannya.
Dari kejauhan. Aurora melihat Langit sedang duduk dibangku taman sambil menikmati sebatang rokok.
“Yakkk!! Rusa jelek kenapa aku malah ditinggal?” amuk Aurora saat sudah ada di depan Langit.
Langit mematikan rokoknya yang hanya tinggal setengah batang lalu bangkit dari posisinya.”Dasar gadis labil, tidak perlu berteriak, aku tidak tuli!” kata Langit sambil menyentil kening Aurora.
“Ahhhh!! Sakit bodoh!” Aurora memanyunkan bibirnya seraya menatap Langit tajam. Alih-alih marah, Langit malah terkekeh geli. Ia merasa terhibur dengan sikap Aurora yang berubah-ubah.
Glukkk!!!
Susah payah Aurora menelan salivanya karena Langit yang tiba-tiba berdiri di depannya dalam jarak yang begitu dekat. “Mana yang sakit?” tanya Langit sambil mengunci manik hazel Aurora.
Rasanya Aurora ingin menyumpah serapahi Langit karena sudah berani mengumbar senyum terkutuknya. Dengan gugup Aurora menepis tangan Langit dari keningnya. “Su—sudah tidak sakit kok!” katanya.
Aurora berusaha menyembunyikan kegugupannya. Gadis itu menundukkan wajahnya dan melewati Langit begitu saja. Pemuda itu terkekeh, Langit melangkahkan kakinya dan segera mengejar Aurora.
Tiba-tiba langkah Aurora terhenti saat ia tak sengaja berpapasan dengan dua orang yang paling ia benci di dunia ini. Bertemu dengan mereka berdua membuka luka lama dihati Aurora.
Langit memicingkan matanya, segera ia menghampiri Aurora. “Aur, ada apa?” tanya Langit lalu merangkul bahu Aurora. Gadis itu mengangkat wajahnya lalu menggeleng.
“Tidak ada apa-apa, kita pergi saja dari sini!!”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...