
...“Terkadang cinta harus saling melepaskan agar bisa saling menemukan.”...
......................
Happy Reading !!!
.
.
.
Hari yang paling tak Aurora harapkan pun akhirnya tiba juga. Hari dimana Langit akan kembali kenegara asalnya, yakni China.
Rasanya berat sekali untuk Aurora melepaskan kepergian pemuda berdarah China tersebut. Dan keputusan Aurora untuk menghindari Langit sejak semalam menimbulkan sebuah tanda tanya besar dibenak pemuda itu.
Sejak semalam Aurora tidak mau bicara padanya apalagi bertemu dan bertatap muka dengan Langit, bahkan gadis itu tidak ikut makan malam bersama keluarganya dan meminta pelayan untuk mengantarkan makan malamnya kedalam kamarnya.
Aurora benar-benar tidak ingin bertemu dengan Langit, bukan karena ia kecewa atau membencinya, tapi Aurora takut jika bertemu dengan pemuda itu akan membuatnya semakin tidak menginginkan Langit untuk pergi.
Tokk!! Tokk!! Tokk!!!
Ketukan keras pada pintu kamarnya sedikit mengalihkan perhatiannya, gadis itu menoleh dan menatap pintu berpelitur elegant itu sedikit datar. Aurora hanya menatap pintu itu tanpa berniat membukanya
“Aur, aku mohon buka pintunya, kita harus bicara!!”
Aurora menutup rapat-rapat telinganya menggunakan bantal. Ia tidak ingin mendengar suara itu, apalagi sampai bertemu si pemilik suara. Itulah kenapa Aurora mengunci pintunya dari dalam.
Tok!! Tok!! Tok!!
Ketukan itu kembali terdengar bersamaan dengan suara knop diputar, suara ketukan itu lebih kencang dari sebelumnya. Namun hal itu tak sedikit pun merubah keputusan Aurora.
“Aur, aku tahu kau ada didalam, aku mohon keluarlah. Dan kita harus bicara!!” seru Langit memohon.
“Pergilah, Langit!! Aku ingin istirahat jadi jangan menggangguku. Jika kau ingin pergi, pergilah. Tidak ada yang akan menahanmu!!” sahut Aurora dengan suara paraunya. Sangat jelas jika gadis itu berusaha menahan tangisnya.
__ADS_1
Langit mendengus kasar. Mungkin usahanya memang tidak akan berhasil, dan tak ada kesempatan untuk ia bisa bertemu dan berbicara dengan Aurora untuk yang terakhir kalinya. Pemuda itu menatap pintu di depannya dengan nanar.
Langit membalikkan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Aurora yang terkunci rapat. Perlahan pemuda itu menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang dingin dan keras.
Langit menarik salah satu kakinya dan menjadikan sebagai tumpuan lengannya. Pemuda itu menyandarkan punggung dan kepalanya pada pintu, sesekali pemuda itu melirik kebelakang menggunakan ekor matanya. Dalam hatinya Langit berharap agar Aurora berubah pikiran dan mau menemui dirinya.
Dua puluh menit telah berlalu. Dan Langit masih bertahan dalam posisinya, sedikitnya ada 4 puntung rokok yang berserakan dilantai bekas Langit. Pemuda itu menghela nafas panjang. Bangkit dari posisinya dan melangkah pergi.
Diruang tamu sudah ada Luna, Hans dan Ainsley yang sudah siap untuk mengantarnya ke bandara. Sesekali Langit menengok kebelakang dan berharap Aurora membuka pintu kamarnya. Namun harapan hanya tinggal harapan, karena pintu itu tidak terbuka dan tetap tertutup rapat.
“Sudah siap?” tegur Hans yang segera dibalas anggukan oleh Langit.
Luna mendesah panjang. Ibu satu anak itu bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Langit. Luna menepuk bahu tegap pemuda itu sambil mengulum senyum setinis kertas.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, aku mengenal Aurora dengan sangat baik. Saat perasaannya sudah mulai tenang, dia pasti akan kembali seperti biasanya lagi. Sudah waktunya kita pergi, kau bisa terlambat!!” Luna mengusap punggung Langit dan melenggang pergi.
Langit menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam mobil milik Hans. Wajahnya mendongak menatap lurus pada jendela kamar Aurora yang terbuka.
Dari tempatnya, Langit melihat gadis itu berdiri di sana dengan tatapan sendunya. Mereka tidak saling berbicara, hanya mata mereka saling mengunci. Mereka berdua berbicara melalui bahasa non verbal. Cinta terlihat jelas dari sorot mata mereka berdua.
Langit dan Aurora memiliki perasaan yang sama, namun hati mereka masih sama-sama merasa ragu karena pertemuan mereka yang teramat singkat. Sedetik kemudian, sosok Aurora menghilang dari sana dan hal itu mengakhiri kontak matanya dengan Langit.
“Langit, cepat naik. Dan sampai kapan kau akan berdiri di sana. Kita bisa terlambat!” seru Hans dari dalam mobilnya. Langit mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Mobil mewah itu perlahan meninggalkan halaman menuju jalanan kompleks yang tak padat kendaraan. Terlihat Aurora berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Mata hazelnya mengikuti kemana mobil itu pergi hingga siluetnya tak lagi terjangkau oleh matanya.
Aurora menutup matanya, setitik kristal bening jatuh dan membasahi wajah cantiknya. Gadis itu meratapi kepiluan hatinya, dan sekali lagi orang yang ia sayangi meninggalkan dirinya. Dan apa yang selama ini dia takutkan menjadi kenyataan.
__ADS_1
Seperti Ibu dan mantan kekasihnya. Langit sudah pergi, dan Aurora tidak tau apakah masih ada kesempatan untuk ia bertemu kembali dengannya.
Aurora mengharapkan waktu berhenti berputar agar la dan Langit memiliki lebih banyak waktu untuk bersama dan berbagi kisah, namun Aurora tidak pernah menyesali pertemuannya dengan Langit. Karena disetiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Sepanjang perjalanan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Langit, pemuda itu terus-terusan diam dengan kedua mata terpejam. Tapi Langit tidak tidur, pemuda itu hanya sekedar menutup matanya saja.
Sebenarnya Langit juga merasa berat untuk berpisah dengan Aurora. Namun ia juga tidak bisa untuk tetap tinggal, banyak hal yang harus Langit selesaikan di China. Ia juga merindukan kedua orang tuanya, kehidupan yang ia tinggalkan selama berada di Korea serta teman-temannya. Langit tidak ingin bersikap egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
“Yaa!! Akhirnya kita sampai juga!!” kata Hans setelah memarkirkan mobilnya. Ayah satu anak itu segera keluar diikuti Luan, Langit, dan Ainsley.
Hans mengeluarkan koper Langit dari bagasi mobilnya dan menyeretnya memasuki bandara.
Langit merasakan langkah kakinya semakin berat. Rasanya baru kemarin ia menginjakkan kakinya dikota Seoul, dan hari ini ia harus pergi. Langit pergi membawa semua kenangannya yang tercipta selama berada di Korea dan meninggalkan hati serta cintaya di negeri ini.
“Paman tampan, ini hadiah dariku. Ainsley, harap paman tampan tidak pernah melupakan kami terutama aku yang cantik ini. Paman tampan juga tidak boleh marah pada bibi Aur karena tidak ikut mengantar paman tampan pulang. Bibi Aur, sedang bersedih karena harus berpisah dengan paman tampan!!”
Langit tersenyum tipis. Diusapnya kepala Ains penuh sayang. “Tentu saja Paman tidak akan melupakan kalian semua. Kalian adalah keluarga Paman, Ains harus jadi gadis yang baik dan tidak boleh nakal. Tolong jaga bibi cantik untuk, Paman ya!!”
Ainsley mengangguk antusias. “Tentu saja, Paman.”
“Janji??” Langit mengangkat kelingkingnya lalu ia tautkan pada kelingking mungil milik Ains.
Langit tersenyum lebar. Pemuda itu bangkit dari posisinya dan menghampiri pasangan suami istri itu. Langit memeluk Hans dan Luna secara bergantian.
“Hubungi kami setelah kau tiba disana!!” pesan Hans.
Langit mengangguk. “Pasti, Kak!!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1