
Happy Reading !!!
.
.
.
“Dia-“
“Aku calon suaminya.” Jawab Langit dan membuat Aurora membelalakkan matanya.
Langit bangkit dari duduknya dan menatap Andreas dengan tatapan menusuk. Begitupula tatapan yang di tunjukkan oleh Andreas pada Langit.
Langit melihat gelagat aneh Andreas ketika dia menatap Aurora, pemuda itu memindai Aurora dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan Langit tau jika pemuda itu memiliki niat yang tidak baik padanya. “Oh, sepertinya aku mengganggu kalian.” Andreas mundur beberapa langkah kebelakang dan kemudian pergi begitu saja.
“Akan aku jelaskan nanti.” Ucap Langit seolah mengerti apa yang Aurora pikirkan.
Aurora mengambil sepotong pastel dari piring besar di tengah dan memakannya. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan kegugupannya. Entah kenapa tiba-tiba Aurora merasakan panas dan gatal di tenggorokannya setelah memakan pastel tersebut.
Seketika dia merasa pusing dan tubuhnya mulai oleng ke kiri hingga menubruk seseorang. Yang terakhir kudengar adalah suara Amber dan Rona meneriakkan namanya.
“Aur.”
Gadis itu membuka matanya dan melihat Amber serta Rona yang duduk di sebelah tempat tidurnya. Aurora melihat sekeliling dan ia berada di sebuah kamar yang di dominasi oleh warna putih. Dan dia tau betul di mana ia berada sekarang.
“Jadi aku ada di rumah sakit?” ucap Aurora yang kemudian di balas anggukan oleh Amber dan Rona.
“Iya bodoh. Kenapa kau asal mengambil makanan tadi?” Amber bertanya kesal tapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Aurora memandang gadis bertubuh mungil itu sedikit bingung. Memang apa yang tadi ia makan? Seingatnya ia tidak aneh-aneh kan?
“Pastel yang kau makan tadi ada seafoodnya. Dan kau pingsan setelah memakannya.” Rona menjelaskan dan menjawab kebingungan Aurora.
Kini ia mengerti, Aurora memang alergi dengan segala jenis makanan laut, tapi biasanya tidak sampai pingsan seperti ini. Aurora melihat kulitnya dan hampir semuanya memerah.
“Untung saja wajahmu tidak ikut merah, bodoh. Kalau tidak, kamu sudah sama seperti kepiting yang direbus.” Amber berkomentar sambil tertawa. “Minum dulu obatmu.” Pintanya lalu mengambilkan obat di atas meja.
Aurora menyapukan pandangannya dan dia tidak menemukan keberadaan Langit sejak ia membuka mata dan sadar dari pingsannya. Ia hanya melihat mantel pemuda itu tergeletak di sofa. Itu mantel milik Langit.
“Kau mencari Langit? Dia sedang keluar untuk membeli minuman. Dan apa kau tau bagaimana panik dan cemasnya dia saat kau pingsan tadi. Hampir saja mobil yang dia kemudikan bertabrakan dengan mobil lain. Tapi untungnya dia masih bisa mengendalikannya.” Tutur Amber panjang lebar.
Aurora terdiam. Benarkah Langit sepanik itu? Dan tiba-tiba Aurora teringat apa yang Langit katakan tadi. Dengan entengnya dia mengatakan pada Andreas jika ia adalah tunangannya. Dan Aurora ingin tau kenapa Langit harus berbohong segala.
“Kau sudah sadar?” tegur Langit dari arah pintu.
“Ah, Pangeran Penyelamat sudah datang.” Amber menoleh ke arah pintu di belakangnya.”Ayo Ron, kita keluar.” Amber menggamit tangan Rona dan menariknya keluar meninggalkan kamar inap Aurora.
Setelah Amber dan Rona pergi. Langit berjalan menghampiri Aurora dan duduk di sebelah ranjang inapnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Langit dingin.
“Aku sudah merasa baik.” Jawab Aurora pelan.
__ADS_1
“Maaf, jika aku tadi sudah bersikap lancang dan mengaku sebagai calon suamimu. Aku melihat jika pemuda itu memiliki niat buruk padamu.” Jelas Langit menjawab kebingungan Aurora.
Aurora menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku justru sangat berterima kasih padamu.”
“Sebaiknya sekarang kau istirahat, dokter masih belum mengijinkanmu pulang hari ini. Aku akan menghubungi Kak Luna.” Ucap Langit yang kemudian di balas anggukan oleh Aurora.
“Baiklah.”
Butiran-butiran putih lembut kembali berjatuhan membentuk gumpalan. Kota yang semula ramai kini nampak lengang. Jalanan, taman, kebun, halaman, atap rumah, semua tertutup salju. Dingin, itulah yang Aurora rasakan ketika menginjakkan kakinya di halaman rumah sakit.
Setelah di rawat selama dua hari di rumah sakit. Akhirnya hari ini Aurora di ijinkan untuk pulang. Sayangnya Luna tidak bisa ikut menjemput adik kesayangannya itu.
Ia harus ikut suaminya ke luar negeri untuk menghadiri acara penting. Hanya Langit dan kedua sahabatnya yang menjemputnya di rumah sakit.
Salju turun perlahan-lahan. Mendarat lembut di atas tanah kecoklatan. Menutupi seluruh kota dengan warna putih polos. Musim dingin, salju terlihat dimana-mana. Gadis itu mendesah berat. Kenapa harus turun salju lagi? Pikir Aurora.
Bukan lagi rahasia jika seorang Jessica sangatlah membenci salju. Dia sangat membenci musim dingin. Karena salju dan musim dingin bisa membunuhnya untuk yang kesekian kalinya.
Berkali-kali dia merasakan kematian ketika musim dingin datang. Bukan kematian dalam arti yang sebenarnya, tapi kematian dalam arti lain.
“Kalian yakin akan naik taxi saja?” sekali lagi Aurora bertanya dan menatap kedua sahabatnya.
“Tentu saja yakin. Berapa kali lagi kau akan bertanya dengan pertanyaan yang sama, Nona Aurora? Sudahlah, cepat masuk, udaranya sangat dingin. Kami tahu kau sangat membenci salju, jadi jangan terlalu memaksakan diri.”
“Baiklah, kami duluan. Kalian hati-hati, ya.” Aurora memeluk kedua sahabatnya itu secara bersamaan kemudian masuk ke dalam mobilnya yang di kemudikan oleh Langit.
Putih. Satu kata untuk mendeskripsikan keadaan kota Seoul saat ini. Bulan Desember apalagi menjelang natal, bulan yang rutin untuk salju menyambangi negara berjuluk negeri Ginseng tersebut.
Jalan tertutupi salju. Taman-taman juga akan penuh dengan tumpukan salju. Tak jarang, banyak anak kecil atau bahkan para remaja yang bermain lempar bola salju hungga berlomba untuk membuat boneka salju. Canda tawa melebur menjadi satu bersama dengan butiran-butiran lembut salju yang jatuh dari angkasa.
Sesekali Langit menoleh. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Sedari tadi Aurora terus diam dan tidak mengatakan apapun, dia hanya terus menghela napas. “Kau baik-baik saja?” tanya Langit memastikan.
“Buruk. Aku sangat menyesalkan salju yang sedang turun. Lihatlah jalanan dan semua pohon-pohon yang mengeras itu, dan karena salju aku tidak bisa melihat kuncup bunga bermekaran. Bukankah itu sangat menyebalkan!!”
Langit mendesah berat. “Cobalah untuk bersahabat dengan musim dingin. Aku tahu musim dingin meninggalkan luka dan kenangan pahit di hatimu. Tapi sampai kapan kau akan membenci musim dingin? Lagipula musim dingin tidaklah seburuk apa yang kau pikirkan selama ini.” Tutur Langit panjang lebar.
“Memang mudah mengatakannya, Langit. Tapi kau tidak tahu apa yang aku rasakan dan aku alami ketika musim dingin datang. Aku kehilangan di musim dingin, dan rasanya itu sangatlah menyakitkan.”
“Aku memahami betul bagaimana perasaanmu, Aur!! Dan aku sangat mengerti apa yang kau rasakan. Karena aku juga memiliki kenangan menyakitkan di musim dingin. Tapi aku tidak sepertimu, kau begitu mendendam sementara aku tidak.”
Sontak Aurora menoleh dan menatap Langit yang juga menatap padanya. “Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku tidak nyaman, Nona.” Ujar Langit melihat tatapan Aurora.
“Aku hanya merasa sedikit penasaran saja.”
“Tentang apa?”
“Kehidupan pribadimu. Tapi kau tenang saja, aku masih sadar dengan batasanku. Aku akan tidur sebentar. Setelah tiba di rumah bangunkan aku.”
__ADS_1
“Hm.”
Setelah berkendara kurang dari satu jam. Akhirnya mereka tiba di rumah. Waktu perjalanan kali ini lebih panjang dari biasanya karena sebagian jalanan yang tertutup salju. Aurora segera turun dari mobilnya begitu pula dengan Langit. Gadis itu merasa sangat kedinginan.
Setibanya di dalam rumah. Langit melihat Aurora yang sedang duduk di depan perapian. Pemuda itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Melangkahkan kakinya secara perlahan dan berjalan menghampiri Aurora.
“Kau sudah merasa lebih hangat?” tegur Langit yang entah sejak kapan sudah ada di samping Aurora.
“Hm, lumayan.” Jawabnya.
“Aur,” panggil Langit. Sontak Aurora menoleh. Pemuda itu menggeleng. “Tidak jadi, aku masuk dulu.” Langit menepuk kepala Aurora dan pergi begitu saja.
Aurora terpaku. Ia mengangkat sebelah tangannya yang kemudian Aurora arahkan pada kepalanya dan tersenyum tipis. “Dasar pemuda itu. Bagaimana bisa dia selalu menyentuh kepalaku? Apa dia tidak tahu jika hatiku hampir saja meledak.” Tutur Aurora dengan wajah bersemu merah.
Aurora sering kali merasa aneh dengan apa yang dia rasakan akhir-akhir ini. Entah itu ketika sedang bersama Langit, ketika menatap matanya atau ketika melihat senyum di bibirnya. Aurora tidak tahu, sejak kapan pemuda itu menjadi begitu istimewa di hatinya.
“Nona, ini teh Anda.” Seorang pelayan datang membawakan teh hangat untuk Aurora.
“Tolong buatkan juga untuk, Langit.” Pinta Aurora yang kemudian di balas anggukan oleh pelayan tersebut.
“Baik, Nona.”
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatian Langit dari ponsel pintarnya. Pemuda itu lantas menoleh dan mendapati Aurora menghampirinya sambil membawa secangkir teh yang masih mengepul.
“Aku meminta bibi membuatkan teh hangat untukmu. Udara hari ini sangat dingin, cepat minum selagi masih hangat. Dan satu lagi, pakai pakaian dengan benar. Kau bisa sakit jika memakai pakaian lengan terbuka di tengah cuaca ekstrem seperti ini.”
“Jangan cemas, aku baik-baik saja.” Ujar Langit menyela ucapan Aurora.
Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Aurora maupun Langit. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan. Sesekali Aurora menatap pemuda di sampingnya.
“Langit, kapan kau akan kembali ke China?” tanya Aurora memecah keheningan.
“Ada seseorang yang menungguku di China. Untuk itu aku harus pulang secepatnya.” Jawab Langit dan membuat mimik wajah Aurora berubah sendu.
“Ahh, pasti kekasihmu ya?” Aurora membuang muka ke arah lain. Kemana saja, asalkan jangan mata Langit.
“Bukan, tapi Ibu.” Jawab Langit cepat.
“Ibumu?” Langit mengangguk. “Oh, aku pikir kekasihmu.”
Aurora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Entah kenapa dia merasa begitu lega saat tahu jika orang yang menunggu Langit adalah ibunya. Dan apakah salah bila ia berharap jika Langit masih belum memiliki kekasih?
“Minum tehmu, aku akan keluar sekarang. Aku mau membantu bibi menyiapkan makan malam dulu.” Aurora bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Langit sendiri di kamarnya.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu, Aur.”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...