Langit Aurora

Langit Aurora
2.4 Langit Aurora


__ADS_3

Happy Reading !!!


Tepat pukul 12 malam Langit tiba di rumahnya. Kepulangan Langit yang sangat tiba-tiba tentu saja mengejutkan semua orang yang bekerja dimansion mewah itu. Semua orang memberi salam hormat kepada tuan mudanya yang berjalan di depan mereka. Langit berjalan santai menaiki tangga rumahnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.



Langit meletakkan kopernya disamping tempat pakaiannya, melepas jaket kulitnya menyisahkan singlet hitam yang melekat pas ditubuhnya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya pada kasur king size miliknya.



Mata abu-abunya menatap langit-langit kamarnya. Pemuda itu menutup matanya saat tatapan sendu Aurora ketika menyaksikan kepergiannya kembali melintas dipikirannya. Langit menghela nafas panjang.



Pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya. Dengan santai ia berjalan menuju lemari pendingin yang ada disudut kamarnya lalu mengeluarkan sebotol wine dan membawanya menuju sofa yang ada ditengah-tengah ruangan megah itu.



Dengan lincah jari-jarinya menuangkan cairan berwarna merah itu pada gelas yang sebelumnya telah ia isi potongan es batu lalu meneguknya.



Langit berharap bisa mabuk detik ini juga agar bisa melupakan Aurora untuk sedetik saja. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Ia tetap tidak bisa melupakan gadis itu.



“AAARRRKKKHHHH!!!”



Brakkk!!!



Langit menggeram lalu melempar botol wine itu pada pintu kamarnya, membuat pecahannya berserakan dimana-mana dan cairan merah yang berasal dari botol tersebut mengotori lantai kamarnya yang semula berwarna putih bersih.



Langit mengacak rambutnya kasar, ia benar-benar seperti orang yang tidak waras sekarang. Dan mungkin keputusannya meninggalkan Korea adalah keputusan yang salah.



Dan kegaduhan yang pemuda itu ciptakan membuat seluruh penghuni dalam rumah itu terusik, terutama penghuni yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Langit.



Brakkk!!!



Pintu kamar Langit dibuka dengan tiba-tiba dari luar dan sosok Jayden-lah berdiri diambang pintu dengan tatapan terkejutnya.



“Ya Tuhan!!” pekiknya berlebihan “Apa yang terjadi pada kamarmu, Langit!!! Dan kapan kau pulang?? Kabur dari rumah selama tiga bulan, dan pulang-pulang malah membuat keributan!!” tegur Jayden sambil menggelengkan kepalanya.



Langit mendecih dan menatap kakaknya itu tidak suka. Pemuda itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang kakak yang tak beranjak satu inci pun dari posisinya.

__ADS_1



“Tidak usah berlebihan, Kak! Lagi pula siapa yang kabur? Aku pergi hanya untuk berlibur!!” ujar Langit membela diri.



Pemuda itu berbicara dengan nada sedikit tak bersahabat, kebenciannya pada Jayden terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam.



“Ada apa ini?” tegur seseorang dari arah belakang.



Jayden menoleh, terlihat kedua orang tua menghampiri kedua putranya yang saat ini sedang terlibat perdebatan. Tuan Zhang menggelengkan kepalanya melihat keadaan kamar putra bungsunya yang berantakan. Banyak pecahan beling yang berserakan dimana-mana dan aroma tak sedap yang berasal dari cairan wine yang tumpah dilantai.



“Jelaskan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tuan Zhang seraya menatap Langit dan Jayden bergantian. “Dan ini?? Kenapa banyak sekali pecahan beling dilantai, kau juga Langit?? Pergi kemana saja selama tiga bulan ini?” Tuan Zhang mencoba menuntut penjelasan dari Langit.



Terlihat pemuda itu menghela nafas. “Kenapa semua orang harus berlebihan sih? Lagi pula aku pergi hanya untuk berlibur dan menenangkan diri!” kata Langit kemudian beranjak dan berjalan menuju sofa yang ada didalam ruangan itu.



Nyonya Zhang mendesah panjang. Wanita itu mengayunkan kedua kakinya dan berjalan menghampiri putra bungsunya, Nyonya Zhang duduk disebelah Langit, wanita yang memiliki kecantikan yang tak lekang oleh waktu itu meraih tangan Langit dan menggenggamnya. Senyum hangat tersungging dibibir tipisnya.



“Hei, ini tak terlihat seperti putra, Mama. Mama tau, jika putra Mama ini memang pemarah dan arogan. Tapi dia tidak seperti ini, ada apa nak? Apa yang membuatmu seperti ini?? Apa karena---?”




“Lantas?” Langit menatap langsung manik hazel milik sang Ibu.



Melihat warna mata wanita yang telah melahirkannya itu membuat Langit kembali teringat pada Aurora yang memiliki warna mata sama dengan ibunya. Segera Langit mengakhiri kontak mata itu dan menundukkan wajahnya.



“Karena sesuatu yang lain!!” jawab Langit datar.



Tuan Zhang mengurai senyum tipis. Ayah dua anak itu beranjak dari posisinya lalu menghampiri Langit.



“Hei, anak nakal. Apa kau tidak ingin memeluk Papa tercintamu ini? Selama tiga bulan minggat dari rumah apa kau tidak merindukan, Papa??” tanya Tuan Zhang masih dengan senyum yang sama.



Langit mendengus geli. Pemuda itu menghampiri sang ayah lalu memeluknya. Sekeras apa pun Tuan Zhang pada putra-putranya, namun ia tetaplah seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya. Senakal apa pun Langit, baginya dia tetaplah permata hatinya, harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini.


__ADS_1


“Sudah pelukannya. Biarkan putramu istirahat, dia terlihat lelah!!” kata Nyonya Zhang sambil menarik suaminya agar dia segera melepaskan pelukannya pada sang putra.



“Sebentar, Sayang. Aku masih belum puas memeluk bocah nakal ini!!” kata tuan Zhang dan kembali memeluk Langit.



“Dasar rakus, kau pikir hanya kau saja yang merindukannya. Aku ini Ibunya, aku yang melahirkannya. Minggir, biar aku memeluk putraku juga!!” Nyonya Zhang menarik lengan suaminya dan menjauhkan dia dari Langit.



Melihat hal itu membuat Jayden tersenyum haru. Meskipun kini Langit membencinya, namun sebagai seorang kakak tentu saja ia tidak bisa berbalik membenci Langit. Lagi pula semua itu salahnya. Dia memang layak dibenci oleh adiknya itu, ia sudah sangat jahat sebagai seorang kakak.



Jayden telah merebut kekasih Langit dan hal itulah yang membuat sang adik yang semula sangat menyayanginya kini berbalik membencinya. Meskipun pada kenyataannya Langit tidaklah benar-benar membencinya. Ia hanya merasa kecewa padanya.



Kemudian Langit mengalihkan tatapannya pada Jayden yang berdiri diambang pintu. Pemuda itu menghela nafas.



“Kau tidak ingin memelukku juga? Apa kau tidak merindukanku?” ucap Langit setengah datar. Sontak saja Jayden mengangkat kepalanya dan menatap Ken dengan tatapan tak percaya. “Langit, apakah kau-“



“Dasar cerewet. Sudah, kemarilah!!” pinta Langit sambil merentangkan sebelah tangannya. Meminta supaya Jayden menghampirinya. Jayden menyeka air matanya. Dan dengan langkah 1000, ia menghampiri sang adik kemudian memeluknya.



Melihat kedua putranya kembali akur membuat tuan Zhang dan Victoria—nyonya Zhang tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis haru, setelah berbulan-bulan Langit mendiami Jayden, akhirnya hari ini mereka akur kembali.



Victoria tak tau apa yang membuat Langit bisa memaafkan Jayden dengan tiba-tiba, namum hal itu tidaklah penting. Karena yang terpenting untuknya adalah kedua putranya bisa kembali akur seperti dulu.



“Aur, di sini.” Seru Amber ketika melihat kemunculan sahabatnya itu. Aurora tersenyum lebar. Dengan segera ia menghampiri kedua sahabatnya.



“Maaf, aku telat. Apa kalian sudah menunggu lama?” tanya Aurora para kedua sahabatnya.



Keduanya menggeleng dengan kompak.”Belum lama, kita berdua juga baru saja tiba.” Jawab Rona.



“Karena, Aur sudah datang. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin sampai terlambat dan tidak kebagian barang yang bagus dan berkualitas.” Ujar Amber begitu antusias.



Hari ini Mall sedang mengadakan diskon besar-besaran. Jadi tidak salah jika Amber dan Rona yang di kenal sebagai maniaknya berbelanja menjadi begitu bersemangat ketika mendengar Mall mengadakan diskon besar-besaran.


__ADS_1


Ketiganya bangkit dari kursinya masing-masing dan bergegas meninggalkan café setelah membayar apa yang mereka pesan dan mereka makan. Waktunya sangat terbatas dan karena itulah Amber dan Rona tak ingin melewatkan kesempatan emas yang mereka miliki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2