Langit Aurora

Langit Aurora
0.9 Langit Aurora


__ADS_3

..."Irama jantungku, selalu berdetak tanpa jeda ketika mata ini menatap indahnya matamu."...


......................


Happy Reading !!!


.


.


.


Aurora berdecak lidah dan melenggang begitu saja. Langit menghela nafas panjang, sepertinya ia baru saja membuat mood Aurora buruk. Langit mengangkat bahunya acuh, pemuda itu berbalik dan melenggang menuju kamarnya. Langit ingin segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.



Selepas kepergian Langit, terlihat Aurora menuruni tangga dengan pakaian yang berbeda. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah yang lebih sederhana.



Dress pink diatas lutut dengan cardigan putih berlengan, rambut coklatnya digulung keatas hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Gadis itu melirik jam yang menggantung didinding, waktu menunjukkan pukul 17.00. Itu artinya masih ada dua jam lagi sebelum makan malam.


Aurora berjalan kearah dapur. Karena Luna sedang tidak ada, artinya ialah yang bertanggungjawab untuk menyiapkan makan malam. Tapi Aurora bingung harus memasak apa mengingat jika dia tidak terlalu pandai dalam hal memasak.


Aurora mulai menyiapkan beberapa bahan yang akan ia masak untuk makan malam. Ia akan membuat telor mata sapi dan nasi goreng. Karena hanya itu masakan yang paling mudah dan tidak ribet saat membuatnya.



Setelah mencuci bersih semua bahan yang telah disiapkan, Aurora mulai meracik bumbu dan sayuran segar yang akan dia masukkan ke dalam nasi goreng.



“Ahhhh!!” Karena tidak terlalu berhati-hati, tanpa sengaja jarinya teriris pisau yang tajam.



Aurora menghisap darahnya kemudian menutupnya dengan plaster dan melanjutkan kembali kegiatan memasaknya.



Disaat Aurora sibuk dengan masakannya, Langit turun setelah membersihkan dirinya. Rambutnya masih setengah basah membuat pakaian bagian belakangnya sedikit basah. Laki-laki itu tersenyum tipis memandang Aurora yang begitu anggun dan cantik dengan celemek yang menggantung dilehernya.



“Boleh aku bantu?”



Aurora menoleh dan mendapati Langit berdiri disampingnya. Aurora menatap Langit dari ujung rambut sampai ujung kaki, pemuda itu memakai kaos hitam polos yang dibalut kemeja kotak-kotak berlengan pendek, jeans belel hitam. Aurora terpaku untuk beberapa saat melihat penampilan Langit. Pemuda itu begitu tampan dan tampak berbeda.



“Ti..tidak usah, Langit!! I..ini hampir selesai, sebaiknya kau menunggun dimeja makan saja!!” kata Aurora sambil menundukkan kepalanya.


__ADS_1


Langit menatap Aurora sejenak kemudian mengangguk. “Baiklah!!” balas pemuda itu dan meninggalkan Aurora sendiri didapur.



Tepat pukul 7 malam, semua masakan Aurora telah selesai dan gadis itu juga telah menatanya dengan rapi diatas meja. Aurora memanggil Langit dan keduanya menyantap makan malam bersama.



Ada yang berbeda dalam makan malam kali ini, jika biasanya suasana makan malam begitu ramai dengan adanya Ainsley yang suka teriak karena kejahilan ayahnya. Namun kali ini tidak ada, suasana begitu hening. Bahkan tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Langit maupun Aurora, keduanya terlalu sibuk dengan makan malamnya.



Setelah makan malam selesai. Aurora dan Langit sedang berada diruang tengah untuk menonton televisi. Dan untungnya mereka memiliki acara kesukaan yang sama. Jadi mereka tidak perlu berebut remote.



Sesekali Langit menoleh pada Aurora dan begitupun sebaliknya. Kebersamaan mereka hanya diisi keheningan dan kebisuan, sampai salah satu dari mereka ada yang buka suara dan mengakhiri keheningan diantara mereka.



“Kenapa kau membenci musim dingin?” tanya Langit memulai percakapannya.



Gadis itu menoleh dan menatap Langit sejenak. Aurora menundukkan wajahnya, jari-jarinya saling meremas.



“Aku memiliki kenangan buruk dengan musim dingin, terlebih pada salju!!” kata gadis itu parau seperti menahan tangis. Langit mengerutkan dahinya, mata abu-abunya menatap sisi wajah Aurora.




Aurora mengangkat wajahnya dan mengangguk. “Dua kali aku dihianati saat musim dingin, pertama oleh ayahku, kemudian kekasihku yang selingkuh dengan sahabatku. Dan dimusim dingin pula aku kehilangan ibu. Dan sejak saat itu aku membenci musim dingin apalagi salju!!” tutur Aurora. Langit melihat ada kepedihan dan rasa sakit yang terpancar dari sorot mata hazel Aurora yang teduh.



“Jadi itulah kenapa kau menjadi membenci salju dan musim dingin??” tanya Langit lagi. Aurora mengangguk.



“Oya!! Ini sudah malam, aku tidur dulu!!” pamit Aurora dan beranjak dari duduknya. Meninggalkan Langit sendiri diruangan itu.



Langit tersenyum tipis, menatap punggung Aurora yang semakin menjauh dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Langit mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya lalu menyulutnya.



Asap putih mengepul dari sela-sela bibir Langit saat pemuda itu menghembuskan asap putih itu. Ia tidak menyangka bila gadis seperti Aurora ternyata memiliki kisah yang begitu rumit.



Langit mematikan rokoknya yang tinggal setengah kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang menuju kamarnya yang ada dilantai dua.

__ADS_1



Sinar matahari mulai menyusup masuk melewati sela-sela jendela kamar Aurora yang terbuka. Menghantarkan sinar itu menerangi sebagian kamar yang didominasi warna putih dan gold. Aurora berkerut merasakan cahaya yang menganggu tidurnya, memaksanya membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat.



Gadis itu menguap lebar, kemudian bergerak untuk membuka gorden jendela kamarnya. Salju berguguran dengan lembut.



Aurora menyentuh permukaan kaca jendela yang terasa lembab, ia bisa merasakan hawa sedingin es dibalik tepalak tangannya sendiri. Ini terlalu dingin untuk hari natal. Lebih baik Aurora kembali bergumul dengan selimutnya yang tebal.


Dug.. Dug.. Dug…



Suara pantulan bola yang berasal dari halaman belakang sedikit mengusik tidurnya. Tapi Aurora tak mau terlalu ambil pusing. Gadis itu kembali menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.



Perhatian Aurora kembali teralihkan dan kali ini karena dering pada ponselnya. Gadis itu memicingkan matanya saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Alih-alih mengangkat panggilan itu, Aurora malah melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya dan mengabaikannya.



Aurora menyibak selimut yang membungkus tubuhnya kemudian beranjak menuju balkon. Ia membuka perlahan pintu balkon, angin segar menyambut gadis itu ketika kaki berlapis sendal bulu itu menginjak lantai balkon.



Setibanya di balkon, mata Aurora langsung disambut oleh Langit yang tengah bermain basket dihalaman belakang. Pemuda itu memakai cenala panjang hitam, kaus dalaman putih yang dibungkus rompi abu-abu bertudung, yang memamerkan lengan berototnya. Rambutnya sedikit lepek karena keringat.



“Paman ganteng!!!”



Sosok Ains muncul dengan sebotol air minum dan handuk kecil yang kemudian ia berikan pada Langit. “Kapan bocah itu pulang??” gumam Aurora sambil memandang Ainsley yang tengah berbincang dengan Langit.



Aurora mengerutkan dahinya saat Ains membisikkan sesuatu pada Langit. Sesekali laki-laki itu tersenyum. Memiliki firasat buruk dengan keponakannya itu, buru-buru Aurora membalikkan tubuhnya sehingga hanya punggungnya yang terlihat ketika pemuda itu memandang kearahnya. Dengan ragu Aurora menoleh dan mendapati Langit tengah menatap padanya, buru-buru Aurora menoleh dan menghindari tatapan Langit.



“BIBI!!” panggil Ains, membuat Aurora mau tidak mau membalikkan tubuhnya. Terlihat Rain yang melambai padanya. “Turunlah, kita main basket sama-sama. Bukankah kau ingin berlatih basket? Paman tampan bisa mengajarimu!!” ujar gadis kecil itu.



“Me..me..mang…nya kapan Bibi mengatakannya? Jangan ngaco, bocah!” kata gadis itu sambil menekuk mukanya.



“Hahahha, paman tampan!! Lihatlah wajah Bibi Aur yang seperti kepiting rebus!!” Ainsley terkekeh membuat Aurora semakin kesal.


__ADS_1


Dengan menahan malu. Gadis itu berbalik dan berjalan masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2