
...“Kadang hanya dibutuhkan satu pertemuan untuk menyadari bahwa rasa itu masih bertahan.”...
......................
Mau nangis..... Ya ampun Langit sama Aur!!!
.
.
.
Langkah kakinya terhenti diujung tangga melingkar dimansion mewahnya. Langit mengerutkan dahinya, pemuda itu melihat seluruh keluarganya berkumpul diruang keluarga. Ada ibu, ayah serta kakaknya! Jayden yang sepertinya baru saja pulang dari menjemput tamu ayahnya.
Langit sudah hendak berlari menuruni tangga, jika saja mata abu-abunya tidak menangkap 4 sosok asing yang duduk bersama keluarganya dalam posisi memunggungi.
Langit memicingkan matanya, ia seperti mengenali sosok-sosok itu terutama sosok bersurai coklat terang yang duduk disamping wanita bersurai coklat gelap, namun Langit tidak mau terlalu awal menyimpulkannya.
Dengan ragu dan tak yakin, Langit melangkahkan kakinya menuruni tangga melingkar itu dan menghampiri seluruh keluarganya juga tamu ayahnya.
“Sudah bangun, Nak?” tegur sang Ibu saat melihat kedatangan putra bungsunya.
Victoria tidak heran lagi melihat putra bungsunya itu susah bangun pagi setiap akhir pekan. Langit selalu pulang lewat tengah malam dan tidur menjelang pagi jika menjelang akhir pekan. Langit masih memakai pakaian yang sama dengan pakaian yang dia pakai semalam.
Kemeja kotak-kotak merah tanpa lengan dan jeans hitam panjang. Wajahnya sedikit lembab dan rambutnya basah dibagian depannya. Tak ada ekspresi apa pun pada wajah itu, Langit hanya memasang wajah stoic tanpa ekspresinya.
“Berhenti memasang wajah menyebalkan itu, Langit Denandra Zhang!” seru Jayden melihat wajah dingin sang adik.
Deg!!
Aurora tersentak kaget, refleks Aurora bangkit dari duduknya dan membalikkan tubuhnya. Dan sekarang Langit dapat melihat wajah orang itu. “Aur?” seru Langit pelan.
Aurora membekap mulutnya, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Aurora sangat terkejut begitu melihat pemuda yang sedari tadi dibahas oleh kakak serta kakak iparnya adalah Langit.
Langit mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Langit menarik Aurora ke dalam pelukannya dan mendekap tubuhnya dengan erat. Aurora mencengkram kuat kemeja yang membalut tubuh pria itu tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karena ulahnya.
Langit melonggarkan pelukannya dan menatap Aurora tanpa berkedip. Sungguh, betapa ia sangat merindukan gadis ini. Begitu pula dengan Aurora, ia hanya bisa menatap Langit penuh kerinduan. Rindu yang selama lebih dari empat tahun ia tahan bahkan berulang kali ia coba musnakan.
Langit mengangkat tangannya, jari-jari besarnya menghapus air mata yang membasahi pipi Aurora. Dan sebuah tanda tanya besar muncul di benak Aurora ketika melihat sesuatu menyembul di balik poni yang menutupi mata kiri Ken.
“Bibi! Bagaimana perasaanmu setelah bertemu kembali dengan paman tampan? Pasti kau sangat bahagia bukan? Paman tampan tahu tidak? Bibi Aur, seperti orang gila setelah kepergian paman!” ujar Ains panjang lebar, dan gadis kecil itu langsung mendapatkan delikan tajam dari bibinya.
“Jadi, Ice Princess yang selama ini kau bicarakan adalah Aurora?” tanya nyonya Zhang, Langit hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Aurora mendorong tubuh Langit sedikit kasar, membuat pelukan yang belum sepenuhnya terlepas itu lepas begitu saja. Mata hazelnya menatap Langit dengan berbagai macam tatapan, seperti kesal, marah, kecewa, bahagia, rindu semua menjadi satu.
Gadis itu mengisak lebih kencang dari sebelumnya sambil memukul dada bidang Langit dengan brutal, bahkan Aurora menghiraukan akan keberadaan orang tua serta kakak Langit di sana karena yang terpenting untuknya saat ini adalah meluapkan semua rasa sesak yang selama ini menghimpit hatinya.
“Dasar, Langit bodoh, apa kau merasa puas setelah menyiksaku selama empat tahun lebih? Kenapa kau tidak menghilang saja, aku membencimu Langit. Aku sangat-sangat membencimu!!”
Grepp!!
Langit menahan kedua tangan Aurora yang terus memukul dadanya dan membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya. Dan dengan senang hati Aurora membalas pelukan Langit.
“Aku merindukanmu!” ucap Aurora pelan dalam pelukan Langit. Langit memejamkan mata kanannya dan semakin mengeratkan pelukannya
“Aku juga!” balasnya berbisik.
.
Kali ini Langit tidak ingin melepaskan Aurora lagi, ia takut jika pelukan itu terlepas maka Aurora juga akan menghilang dari pandangannya.
Dan jika saja tidak ada keluarganya juga keluarga Aurora ditambah dengan kehadiran Rain di sana, pasti Langit sudah menyambar bibir Aurora sejak tadi untuk menyalurkan semua perasaan yang selama ini terpendam dan membuncah didalam hatinya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Langit membawa Aurora jalan-jalan berkeliling Shanghai, mereka masih sama-sama ingin melepas rindu. Dan sepanjang perjalanan, Aurora tidak melepaskan tatapannya dari Langit yang sibuk mengemudikan mobilnya.
Buru-buru gadis itu menatap kearah lain, kemana saja asal jangan mata abu-abu milik Langit yang begitu menyesatkan.
“Kau terlalu percaya diri Tuan Muda Zhang!! Memangnya siapa yang menatapmu. Itu hanya perasaanmu saja!” elak Aurora tanpa menatap lawan bicaranya.
Langit mendengus mendengar elakan Aurora, jelas-jelas ia sudah menangkap basah Aurora ketika sedang menatapnya, padahal sudah jelas dari tadi jika gadis itu memang menatap Langit.
“Sudah tertangkap basah masih ingin berbohong?” cibir Langit.
Aurora manutkan bibirnya mendengar cibiran Langit. Setelah empat tahun pemuda itu tetap saja menyebalkan, pikirnya. Langit menarik sudut bibirnya dan tersenyum kecil.
‘Kau tidak pernah berubah, Aur!’ pikirnya.
Langit menepikan mobilnya membuat Aurora kebingungan. Tanpa mengatakan apapun, Langit menarik tengkuk Aurora dan menyatukan bibir mereka, membuat mata Aurora terbelalak sempurna saking kagetnya. Matanya terkunci pada mata kanan milik Langit.
Tidak ada pergerakan, bibir itu hanya sekedar menempel saja. Namun semakin lama Aurora merasakan pagutan-pagutan kecil pada bibirnya, perlahan gadis itu menutup matanya ketika ciuman Langit semakin dalam.
__ADS_1
Aurora mencengkram lengan terbuka Langit ketika pemuda itu menekan kuat tengkuknya agar ciuman itu tidak mudah terlepas. Bibir Langit bergerak semakin liar, lidahnya menekan bibir bawah Aurora seolah mencari akses untuk masuk dan mengobrak abrik isi dalam rongga mulutnya.
Lidah Langit mengabsen deretan gigi putih Aurora dan sesekali mengajak lidah gadis itu menari bersama. Dan Langit benar-benar melepas ciumannya saat merasakan pukulan kecil pada dadanya.
Langit tersenyum tipis, jari-jarinya menghapus sisa air liur dibibir Aurora.
“Kenapa hari itu kau tidak mau menemuiku sama sekali?” Aurora menundukkan wajahnya mendengar pertanyaan Langit, gadis itu menggigit bibirnya dan jarinya saling meremas.
“Aku takut!” Langit memicingkan matanya mendengar pernyataan gadis itu.
“Takut? Memangnya apa yang kau takutkan?” tanyanya memastikan.
“Aku merasa tidak sanggup dan rasanya sangat berat untuk membiarkanmu pergi. Aku takut semakin tidak bisa mengendalikan diriku jika aku memaksakan untuk bertemu denganmu. Saat itu aku merasa ragu dengan perasaan yang kumiliki untukmu.”
“Tapi setelah kau pergi. Perasaan itu justru tumbuh semakin subur, berulang kali aku mencoba membunuh perasaan itu namun hasilnya selalu nihil. Aku tidak bisa membunuh perasaanku padamu apalagi membuangmu dari hatiku, dan aku sangat membencimu karena berhasil membuatku merasakan yang namanya jatuh cinta, kemudian membuatku merasakan patah hati, lalu kau membuatku merasakan bagaimana sakitnya mencintai dan beratnya menahan rindu.”
“Aku ingin sekali membunuhmu, tapi aku takut, setelah kau mati lalu bagaimana denganku!!” ujar Aurora panjang lebar. Langit terkekeh mendengar penuturan gadis itu.
“Dasar bodoh!” Ucap Langit setengah berbisik.
Langit menarik tubuh Aurora dan mendekap tubuh itu untuk yang kesekian kalinya. Menjadikan kepala Aurora sebagai tumpuan dagunya, Langit tersenyum lebar. Ia tidak pernah merasa sebahagia dan selega ini sebelumnya. Dan kehadiran Aurora mengakhiri penantian panjangnya.
Aurora melepaskan pelukannya saat ia teringat sesuatu. Aurora mengangkat tangannya dan menyibak poni yang menutupi mata kiri Langit, dan menemukan sebuah benda hitam bertali menutup mata kiri pemuda itu. Matanya membelalak.
“Langit, ini-“
Langit menggenggam tangan Aurora dari wajahnya lalu menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Mata kanannya tertutup rapat.
“Aku cacat, beberapa tahun yang lalu aku sempat mengalami kecelakaan yang nyaris saja merenggut nyawaku. Beruntung hanya mata kiriku, bukan nyawaku. Kecelakaan itu sempat membuatku koma selama satu bulan dan kedua kakiku sempat mengalami kelumpuhan selama beberapa bulan.” Tutur Langit memberikan penuturan.
Mimik wajah Aurora berubah sendu ketika menatap Langit. “Pasti sangat berat menjalani hidup hanya dengan satu mata saja yang berfungsi.” Ujarnya.
“Awalnya begitu, tapi sekarang aku mulai terbiasa dengan keadaanku.” Tutur Langit.
Aurora melepaskan sabuk pengamannya dan kemudian berhambur ke dalam pelukan Langit.”Aku tidak peduli dengan keadaanmu saat ini. Kau pria cacat atau bukan, itu tidaklah penting bagiku. Karena yang terpenting sekarang adalah kau ada di sisiku. Dan kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi, Langit.” Ujar Aurora sambil mengeratkan pelukannya.
Langit mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aurora. “Tidak akan!! Aku berjanji kita akan selalu bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, dan aku akan selalu berada di sisimu.” Ujar Langit dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...