Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Pergi dari rumah


__ADS_3

****


Malam hari, kala sedang asyik menonton TV.


"Bunda punya uang berapa?"


"Emang nya kenapa, Yah?"


"Ayah butuh modal buat usaha!"


"Usaha apa?"


"Bikin pemancingan ikan!"


"Modal nya pasti nggak sedikit, kalau bikin pemancingan ikan,"


"Iya makanya ayah tanya sama Bunda, punya uang berapa?"


"Bunda mana punya uang banyak, Yah! Apalagi buat modal, ada juga buat biaya Sherin, kan sebentar lagi mau masuk kuliah,"


"Ayah pinjam dulu aja uang nya ya, Bun? Kuliah, kan masih lama, nanti keburu ke ganti,"


"Emm ... ah Bunda gak berani ganggu, Yah! Apalagi uang nya udah Bunda atur khusus buat sekolah Sherin."


"Bunda harus nya dukung kalau suami mau usaha, ayah usaha buat keluarga kita bukan buat orang lain, harus nya Bunda mikirin suami, Sherin aja yang kamu pikirin." bentak ayah pada bunda.


Aku hanya menyimak saja percakapan ayah dan bunda, sambil nonton TV.


Bunda hanya diam tak menjawab apapun lagi. Ayah mulai kesal dan jengkel dengan sikap bunda yang tak menanggapi ucapannya itu, lalu bergegas pergi ke kamar dengan sedikit membanting pintu.


Bunda pun segera menyusul ayah masuk ke kamarnya, akhirnya aku pun kembali ke kamarku setelah mematikan TV.


****


Keesokan pagi setelah persiapanku selesai, aku pun pamit pada bunda.


"Bunda aku berangkat sekolah ya?" ucapku sembari menghampiri bunda yang sedang membersihkan piring di dapur.


" Ya sudah, kamu hati-hati ya dijalan," sahut bunda.


"Oke Bunda, Assalamualaikum,"


" Waalaikumsalam, pulang nya jangan kesorean," tegas bunda.


Aku menganggukan kepala. Kemudian aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, di tengah perjalanan, mobil yang aku tumpangi tiba-tiba mogok, aku pun hanya bisa menunggu sampai mesin nya selesai diperbaiki, hampir dua jam lamanya akhirnya angkutan umum ini sudah bisa berjalan kembali, aku pun melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah ternyata aku sudah terlambat, gerbang sekolah pun sudah digembok, aku tidak diizinkan untuk masuk.


Akhirnya aku hanya bisa kembali ke rumah, sebenarnya aku punya kesempatan untuk main dulu sampai jam pulang sekolah, tapi aku pikir lebih baik pulang lagi, takut kena masalah apa lagi aku sudah mau Ujian Nasional.


Tanpa pikir panjang, aku pun melanjutkan kembali perjalanan pulang. Akhirnya aku pun sampai di rumah, namun sesampainya di rumah aku tak menyangka akan mendapatkan hal yang tidak aku pikirkan sama sekali.


Langsung saja aku menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.


"Assalamualaikum ...." sapa ku.


"Waalaikumsalam, loh kok kamu udah pulang lagi jam segini?" sahut bunda, heran melihat aku sudah pulang sekolah, padahal masih jam 10 pagi.


"Iya Bun, tadi mobil umum nya mogok Bun jadi aku kesiangan, aku gak dikasih izin masuk, jadi nya pulang lagi aja deh, nggak apa-apa kan, Bunda?" jelasku pada bunda.


Namun sebelum bunda menanggapi, Ayah tiba-tiba keluar dari kamar dengan matanya yang merah.


Plak plak plak


Degh.


Aku kaget seketika. Tiga kali tamparan keras jatuh di wajahku, lalu ku tutupi kepala ku dengan tangan agar tidak di tampar lagi, kemudian ayah mengambil sapu lidi dan lanjut memukul juga memarahi aku.


Bugh bugh bugh


"Udah mulai besok gak usah sekolah, capek-capek orang tua cari duit, malah begini kelakuan kamu!"


Bugh, suara pukulan itu membuatku ngeri. Hidungku mulai menetesk darah karena tamparan ayah.


"Mulai besok cari kerja kamu, jangan cuma minta doang, ngapain sekolah juga, gak ada hasil nya!" bentak ayah.


Aku hanya bisa menangis dan meringkuk, sambil meringis kesakitan karena pukulan ayah yang lumayan keras, kemudian setelah memarahi aku, ayah mengambil jaket dari kamar kemudian pergi dari rumah, entah kemana.


Bunda syok melihat aku disiksa oleh ayah dan segera merangkul aku.


"Sherin sayang, kamu gak apa-apa, Nak?" tanya bunda.


"Sakit Bun," sahutku. Sembari terisak.


"Ya ampun, hidung kamu berdarah, Nak! Kaki kamu juga sampe luka-luka gini, sebentar ya, Bunda ambilkan P3K dulu," bunda pun segera beranjak pergi untuk mengambilnya.


Aku hanya terisak-isak sambil memegangi kaki ku yang terasa perih, tak lama bunda pun datang dan segera membersihkan darah di hidungku, juga mengobati luka di kaki ku, yang berdarah bekas ujung-ujung sapu lidi yang tajam itu.


Setelah itu, aku tidak ingin banyak bicara dengan bunda, aku hanya ingin menangis sendirian, aku pun segera pergi ke kamar dan beristirahat.


Semenjak ayahku mengalami kecelakaan parah di jalan raya 2 tahun lalu, sikap ayah berubah total.

__ADS_1


Ayah jadi pemarah, seringkali membentak bunda dan mulai berani bertindak kasar terhadap aku. Sebenarnya ayah orang baik, hanya saja setelah kecelakaan itu terjadi, semuanya sudah berubah.


Ayah jadi pemalas, mudah marah dan juga kasar, usaha nya pun selalu gagal dan gagal, sejak 2 tahun lalu, bunda yang menggantikan ayah mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga.


Bunda, wanita yang tegar dan kuat, walaupun harus menjalani hidup yang pahit, tapi dia selalu menghadapi segalanya dengan kesabarannya yang sangat besar, termasuk menghadapi sikap ayah yang sudah sangat keterlaluan terhadap bunda.


****


Pagi hari, seperti biasa aku bersiap untuk pergi ke sekolah, meskipun mata ku bengkak karena menangis seharian, tapi aku tetap ingin pergi ke sekolah, karena aku malas bertemu ayah.


Walaupun seperti nya ayah tidak pulang semalam, aku tetap merasa was-was.


Usai sarapan, aku pun pamit pada bunda.


Di perjalanan, tak sengaja aku melihat ayah yang tengah berhenti di seberang jalan dengan sepeda motor nya, entah apa yang dilakukan nya, tapi seperti sedang menunggu seseorang, aku tak ingin berburuk sangka dan berpikir aneh-aneh, lalu aku fokuskan diri untuk sekolah.


Sekitar pukul 14.00, akhirnya aku pulang ke rumah, di rumah aku hanya melihat bunda, tampak nya ayah belum juga kembali ke rumah. Aku langsung saja segera bersih-bersih, mandi dan melanjutkan aktivitasku.


Saat sedang asyik memainkan Handphone di sofa ruang family, bunda datang menghampiri.


"Sherin, Bunda mau keluar sebentar, takutnya pulang ke sorean, nanti kamu jangan kemana-mana ya!" ucap bunda.


"Emang nya Bunda mau kemana? Aku ikut Bunda ya?"


"Bunda mau ada urusan sebentar, Tante Isma minta di anter sama Bunda, katanya pengen beli parfum kesukaan Bunda, pengen sama an, kamu di rumah aja, Bunda cuma sebentar kok,"


"Tapi, kalau ayah pulang gimana? Aku gak mau ketemu ayah kalau gak ada Bunda!"


"Ayah nggak pulang kok, semalam kan ayah bilang sama Bunda, kata nya ayah nginep di rumah temannya di luar kota, pulang nya juga lama katanya mau sekalian ikut kerja sama temen nya,"


Degh.


Aku merasa ada yang janggal dengan sikap ayah, tapi aku menutupinya dari bunda.


"Oh, ya udah deh, tapi Bunda jangan lama-lama ya?"


"Iya, Bunda nggak lama kok." sahut bunda.


Kemudian bunda pun pergi, perasaanku mengatakan ada yang aneh dengan ayah, karena ku lihat ayah tadi pagi ada di jalan, tak jauh dari sekolahan ku, itu berarti ayah tidak pergi ke luar kota.


Ayah berbohong pada bunda, itu jelas. Mata ku tak mungkin salah mengenali orang apalagi itu ayah ku sendiri.


Dan lagi kenapa Tante Isma, tetangga kita itu mendadak akrab dan sok dekat dengan bunda, sampai ingin couple lan parfum segala.


Namun aku berusaha tak peduli, aku tak ingin ikut campur urusan orang tua, aku berusaha positif thinking saja, biarlah waktu yang akan menjawab segalanya. Aku fokus saja dengan urusanku.

__ADS_1


__ADS_2