
PoV Sherin
*****
Sherina Leonicera, itu lah nama pemberian dari ayah dan bunda ku. Ayahku bernama Edi atau nama lengkapnya Rendi Prasetyo dan bunda bernama Rahma.
Aku anak tunggal dalam keluarga ku saat ini, namun sebentar lagi aku akan memiliki seorang adik.
Saat ini aku baru saja lulus SMA dan akan segera melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas ternama sesuai mimpi ku.
Aku memiliki prestasi yang cemerlang sedari kecil, guru-guru ku menjuluki aku 'Si Anak Jenius'. Bahkan saat aku lulus SMP, aku sudah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA.
Begitupun saat ini, setelah lulus SMA aku di rekomendasikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Luar Negeri.
Aku juga kembali mendapatkan Beasiswa karena mendapatkan nilai rata-rata tertinggi dari semua siswa di sekolah ku.
Aku selalu dikagumi oleh semua Guru dan teman-teman ku di sekolah. Tapi sayangnya, aku tidak pernah mendapatkan sedikitpun rasa bangga dan perhatian dari ayah ku.
Semenjak aku kecil ayah ku memang jarang sekali berada di rumah, karena kerja di Perkebunan Teh.
Sementara bunda merintis usaha kecil-kecilan, hingga kini bunda memiliki Toko Grosir makanan.
Sebenarnya bunda masih memiliki perusahaan lain, tapi ayah tidak tahu karena semenjak ayah mengalami kecelakaan parah, ayah menjadi pengangguran.
Setiap kali bunda memberikan modal usaha untuk ayah, usaha ayah tidak pernah berjalan mulus dan akhir nya selalu ambruk, ayah hanya tahu kehidupan kita sederhana dengan mengandalkan penghasilan dari Toko Grosir milik bunda.
Entah apa yang sebenarnya bunda rencanakan, mengapa bunda tidak memberitahu ayah tentang perusahaan bunda yang sebenarnya lumayan besar.
Semakin hari sikap ayah juga semakin buruk terhadapku, entah apa salahku ayah juga selalu kasar terhadapku, sebenarnya bukan hanya yang pertama kali ayah memukuli aku seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, hanya karena kesalahan kecil.
Setiap kali ayah punya masalah atau pun kesal pada bunda, aku selalu yang menjadi korban amarah nya, seakan aku ini hanyalah bahan untuk melampiaskan amarah ayah.
Aku juga mengetahui bahwa ayah sudah menghianati bunda, ayah selingkuh dengan wanita lain yang masih merupakan tetangga kami, dan parahnya wanita itu memiliki suami, suami nya merupakan ayah tiri dari teman ku, Zena.
Entah apa yang ayah pikirkan, kenapa ayah mau saja dengan Tante Isma yang punya suami, padahal bunda jauh lebih cantik dari Tante Isma, bunda memiliki apa yang tidak wanita lain miliki, bunda sangat cantik, molek, mandiri, pintar dan juga berpendidikan.
Hanya saja bunda terlalu baik pada semua orang. Sementara Tante Isma tampang nya biasa-biasa saja, standar, kulit nya juga tidak seputih dan sehalus bunda ku, hanya saja Tante Isma berpenampilan sexy juga belum memiliki seorang anak.
Sementara bunda ku selalu berpenampilan tertutup, selalu memakai hijab.
Sejak kecil aku tidak pernah dibelikan apapun oleh ayah, termasuk kebutuhan sekolah dan lain sebagainya.
Tapi Tuhan maha adil, saat usia ku memasuki 19 tahun, aku bertemu seorang teman laki-laki, walaupun dia hanya lah seorang teman saat ini, tapi dia selalu memberiku perhatian lebih, memberikanku rasa aman dan nyaman, bahkan dia memberikan apa yang aku butuhkan layak nya saudara.
Memasuki Universitas masih beberapa bulan lagi. Waktu senggang ku penuh sebelum aku kembali menjalani aktivitas kuliah nanti, jadi aku akan memulai kembali aksi gila ku, menjalankan misi untuk membongkar perbuatan Tante Isma.
Hari ini bunda meminta aku menemaninya untuk melakukan rutinitas pemeriksaan kandungan.
Aku pun segera mempersiapkan diri, kemudian aku memesan Taxi Online karena aku belum bisa mengendarai mobil baru ku. Aku berencana untuk kursus menyetir setelah menemani bunda periksa kandungan.
Tapi saat aku dan bunda sedang menunggu Taxi datang, aku bertemu dengan Tante Isma. Entah apa yang dia inginkan dari bunda, dia seakan menaruh perhatian terhadap bunda. Memang teman bunda itu bermuka dua. 'Munafiq'
Lalu bunda dan Tante Isma pun saling menyapa seperti biasanya.
"Eh Mbak Rahma sama Sherin mau kemana?" Tanya Tante Isma, dengan raut wajah penasaran.
"Eh … Mbak Isma, Aku mau periksa kandungan Mbak, ditemani Sherin juga," sahut bunda, biasa-biasa saja.
Bunda sama sekali tak menunjukkan sikap kebencian atau permusuhan terhadap temannya itu.
"Oh hati-hati di jalan ya Mbak, oh iya Mbak, itu di dalam ada siapa Mbak, kok ada mobil?" tanya nya. Tante Isma tampak penasaran dengan mobil baru ku.
"Iya Mbak Isma makasih, nggak ada siapa-siapa Mbak, itu mobil baru Sherin," jawab bunda dengan santai.
"Waw … Sherin masih kecil udah punya mobil ya!" ujar Tante Isma.
"Iya Mbak itu hadiah perpisahan sekolah dari teman-teman nya." Jelas bunda.
__ADS_1
"Oh gitu ya, hebat ya Sherin, sampe di kasih hadiah mobil, padahal cuma perpisahan sekolah," cetus nya.
"Iya Mbak, ya udah kita duluan ya Mbak Isma, itu taxinya sudah datang!" pungkas bunda.
"Oke Mbak, hati-hati aja di jalan." Seakan Tante Isma mengisyaratkan sesuatu.
Ekspresi Tante Isma terlihat kekih, kami pun segera bergegas masuk ke dalam mobil, baru saja Taxi melaju, tiba-tiba ponselku berdering. Saat ku lihat ternyata Zena yang menghubungi ku.
[Halo,]
[Halo Sher, kamu mau kemana?]
[Aku mau nemenin bunda cek kandungan, kamu kok tau sih aku mau pergi?]
[Aku baru aja mau sampai ke rumah kamu, kamu keburu naik taxi,]
[Oh gitu, maaf ya Zen aku nggak tau kalau kamu datang,]
[Ya udah nggak apa-apa kok, tapi aku ikutin kamu di belakang boleh nggak?]
Aku pun segera melihat ke belakang, benar saja ternyata ada mobil Zen.
[Eh kamu ternyata di belakang? Yaudah deh,]
Zena terus mengikutiku dari belakang, aku tak tahu Zena ada keperluan apa, akupun tak ingin melarang Zena karena itu sudah jadi keinginannya.
[Atau kamu mau pindah kesini?] tawar Zen.
[Tanggung Zen,]
[Oh, yaudah deh.]
Mobil Taxi yang ku tumpangi tetap melaju, sampai pada saat memasuki jalanan sepi, tiba-tiba saja ada mobil yang menyalip dari belakang dengan cepat.
Supir Taxi pun spontan membanting setir nya ke arah kiri. Kemudian Taxi menabrak pembatas jalan lalu masuk ke jurang.
Aku yang sangat panik spontan memeluk bunda, untungnya bunda mengenakan sabuk pengaman. Sehingga tubuh bunda tidak ikut terseret gravitasi.
Tapi, aku tidak memakai sabuk pengamanan, sehingga aku jatuh tersungkur ke kursi depan.
Setelah menjerit, bunda akhirnya tak sadarkan diri. Sementara aku masih dalam keadaan sadar lalu berteriak meminta tolong.
Tak lama suara Zena pun terdengar memanggil-manggil dari atas, akupun terus saja berteriak meminta tolong.
Ku dengar suara yang semakin ramai di tepi jalan, sepertinya semakin banyak orang yang datang melihat.
Semakin lama kepalaku terasa semakin berat dan pandangan ku semakin kabur, aku masih ingat ada orang yang mengetuk-ngetuk kaca mobil, kudengar seseorang memanggil-manggil namaku, aku tak bisa melihat nya tapi aku mengenal suara itu, itu suara Zena.
"Sherin ... Sherin ... apa kamu bisa dengar suara aku?" panggilnya dari luar.
Zen berusaha membuka pintu, tapi pintu tidak bisa dibuka karena terkunci dari dalam.
Dalam kondisi darurat saat seperti ini, pikiran ku benar-benar tak bisa berpikir jernih.
Aku masih berusaha membuka salah satu pintu mobil dari dalam, tapi entah apa yang terjadi pintu mobil sama sekali tak bisa dibuka.
Dalam sisa kesadaranku, aku hanya bisa sekuat tenaga berteriak meminta tolong.
Setelah itu, tiba-tiba pandangan ku gelap dan aku tak bisa mengingat apapun lagi.
****
Setelah sadar, ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Ku lihat Zena sedang duduk dan tertidur di samping ku. Aku langsung saja memanggilnya untuk meminta air, karena tenggorokan ku rasanya sudah sangat kering.
"Zen ..." panggilku.
Zena seketika membuka matanya, pandangannya langsung tertuju padaku.
__ADS_1
"Sherin … kamu udah bangun? Syukurlah, akhirnya kamu siuman," ucap Zena.
Lalu Zena langsung berteriak memanggil Dokter.
"Air ..." lirih ku. Yang ada di pikiranku hanya air, entah kenapa aku merasa sangat haus.
"Air? Kamu haus ya Sher? Sebentar aku ambilkan ya?" Zena langsung bergegas pergi mengambilkan sebotol air untuk ku.
Aku pun langsung saja meneguk habis setengah botol air mineral itu. Setelah rasa haus ku terobati, Dokter pun datang dan memeriksa keadaan ku.
Usai memeriksa keadaanku, Dokter pun bergegas pergi.
"Sher, gimana keadaan kamu? Apa yang sakit Sher?" Tanya Zen. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Zena tampak sangat mengkhawatirkan keadaanku.
"Aku nggak apa-apa Zen," jawabku.
Tak ingin membuat Zena semakin merasa khawatir, walaupun rasanya seluruh tubuhku terasa sangat sakit.
Entah kenapa aku teringat kejadian terakhir kali saat aku dan bunda mengalami kecelakaan itu.
Tiba-tiba saja aku terperanjat karena teringat pada bunda, langsung saja ku tanya kan pada Zena bagaimana keadaan bunda saat ini.
"Zen, bunda … bunda dimana Zen? Gimana keadaan bunda? Aku mau ketemu bunda Zen aku harus pastiin kalau bunda baik-baik saja," tanyaku pada Zena.
Aku sangat ingin sekali segera bertemu dengan bunda dan berharap bunda dalam kondisi baik-baik saja.
"Kamu jangan bangun dulu Sher, kamu tenang dulu ya? Bunda kamu baik-baik aja kok Sher," sahut Zen, sambil menahanku untuk segera bangun.
"Kamu nggak bohong kan Zen? Bunda beneran baik-baik saja kan? Gimana sama kandungan bunda Zen, apa adik aku juga baik-baik saja? Aku mohon jangan larang aku Zen, aku mau ketemu bunda," aku tidak percaya dengan ucapan Zen.
"Kamu tenang dulu ya? Bunda kamu baik-baik aja kok Sher! Sekarang bunda kamu lagi di periksa sama Dokter, nanti aku temenin kamu ketemu sama bunda kamu. Sekarang kamu tenang, kamu istirahat dulu disini ya?" Tegas Zen.
Setelah mendapat izin dari Dokter, Zen akhirnya mengantarkan aku menemui bunda di ruang rawat nya.
"Makasih ya Zen? Oh iya, gimana keadaan supir taxi itu Zen?" Tanya ku.
Tiba-tiba aku teringat kembali dengan kejadian waktu kecelakaan.
Terakhir kali aku masih ingat saat supir taksi itu meringis kesakitan karena setengah badannya terhimpit oleh kursi mobil dan setir.
Suara lirih saat dirinya berusaha meminta pertolongan masih terdengar jelas ditelingaku.
"Emm ... dia mengalami cedera parah di kaki nya dan sekarang dia koma," sahut Zena. Zena sepertinya tak berbohong dan berbicara apa adanya.
"Ya Tuhan …" aku reflek mendekap mulutku sendiri.
Aku prihatin mendengar kabar itu dan tak menyangka kalau diriku masih baik-baik saja dengan beberapa luka yang masih terbilang wajar saja, sementara supir taksi itu mengalami cedera parah bahkan sampai koma akibat kecelakaan itu.
"Udah Sher jangan dipikirin ya? Dia sudah ditangani kok sama Dokter ahli, sekarang kamu fokus dulu ya sama kesembuhan kamu," ujar Zen berusaha menenangkan ku.
Sementara aku masih syok mendengar kabar itu, aku jadi ingin secepatnya melihat kondisi bunda.
Sepanjang jalan menuju ruang rawat bunda, hatiku diliputi rasa takut dan cemas terhadap kondisi bunda.
Sesampainya di ruang rawat bunda, ku lihat bunda sedang beristirahat aku langsung saja memeluknya dan menanyakan keadaan bunda, ternyata bunda baik-baik saja begitupun dengan calon adikku.
Aku sangat bersyukur ternyata semuanya baik-baik saja, aku dan bunda selamat dari maut waktu itu.
Perasaanku sudah jauh lebih tenang setelah bertemu dengan bunda dan memastikan bunda dalam keadaan baik dan sehat.
Setelah itu aku pun berpamitan dengan bunda, berat rasanya harus meninggalkan bunda sendiri tanpa ada yang mendampingi disisinya.
Tapi kepala rasanya sangat berat, punggungku mulai terasa sakit, rasa sakit di kaki ku sudah mulai membuatku tak tahan lagi.
Aku ingin segera tidur, siapa tahu hal itu bisa mengurangi rasa sakit ku.
Sesampainya di ruang perawatan ku, aku pun segera bangun dari kursi roda dengan dibantu oleh Zena. Lalu aku berbaring di atas ranjang kemudian tertidur.
__ADS_1
Begitupun dengan Zena, dia duduk dan tertidur di sampingku.