Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Kembali di teror


__ADS_3

*****


1 minggu berlalu.


Hari-hari ku terasa berat setelah mengetahui perbuatan ayah, seperti ada tekanan di batin ku, beban untuk ku karena harus tetap menyimpan rahasia sebesar ini.


Tapi aku harus lah kuat, masih banyak hal yang belum terbongkar termasuk motif kejahatan Tante Isma, dan lagi ternyata suami Tante Isma itu adalah ayah tiri dari teman ku, Zena.


Ternyata kehidupan orang dewasa itu begitu rumit, benar-benar menguras pikiran dan tenaga, sulit mencari orang yang benar-benar jujur dan tulus.


Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan sembarang memilih pasangan, aku akan fokus mengejar mimpi-mimpi ku.


Apa lagi untuk menikah, itu tidak akan terjadi sebelum aku benar-benar mempersiapkan diri dan segala sesuatunya.


Hari ini, aku harus pergi ke sekolah untuk menerima surat kelulusan, aku pun segera bergegas untuk pergi ke sekolah.


Tapi sebelum pergi, seperti biasa keamanan bunda ku serahkan pada pegawai bunda, Mang Nanang dan Mang Barus.


Saat aku hendak keluar dari rumah, ternyata sudah ada Zen yang menungguku di luar.


Dia menjemputku untuk bersama-sama pergi ke sekolah.


"Hai Sherin, Selamat pagi," sapa Zen, dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Eh, Zen, kamu ... ?" sahutku. Aku merasa heran kenapa Zena datang tak memberiku kabar sebelumnya.


"Masuk yuk …" ajaknya padaku. Sambil membuka pintu mobilnya untuk ku.


Aku pun tak banyak bertanya terlebih dahulu dan langsung saja masuk ke dalam mobil Zena. "Makasih,"


"Aku sengaja jemput kamu, aku gabut nih sendirian pergi ke sekolah," Zena memberiku alasan yang menurutku itu aneh.


"Emm .. gitu ya," Aku sedang tak ingin banyak berbicara dengan siapapun, jadi aku hanya merespon Zena seperlunya saja.p


"Kamu kenapa Sher? Pagi-pagi kok udah galau aja, kenapa sih cerita dong sama aku?" Tanya Zen.


Sepertinya Zena merasa heran padaku karena sikapku yang sedikit acuh padanya.


"Nggak kok, aku biasa aja," jawabku, masih seperlunya saja.


"Kelihatan kok dari raut wajah kamu, apa karena masalah waktu itu?" Zena tampaknya masih merasa penasaran padaku.


"Emm ... nggak, aku nggak apa-apa kok Zen," sahutku, masih dengan jawaban yang sama.


"Hmm, yaudah kalau belum mau cerita, senyum dulu dong biar aku nggak bete," Akhirnya Zena pun menyerah dan tidak lagi banyak bicara padaku.


Tapi Zena terus saja menghiburku dengan tingkahnya yang konyol, hingga akhirnya sampai di sekolah.


Sesampainya disekolah, aku diperlakukan layaknya seorang ratu oleh Zena, hingga aku sudah seperti artis saja dan menjadi sorotan semua teman-teman ku.


Aku berusaha untuk tidak menghiraukan pandangan mereka, aku juga mengacuhkan Zena dan Zen sepertinya juga memahami sikap ku terhadap nya.


"Kamu malu ya Sher sama teman-teman?" Tanya Zena padaku, setengah berbisik di telinga ku.


"Bukan malu Zen, tapi aku harus menghargai mereka, aku tahu mereka sudah mengidolakan kamu sejak dulu, iya kan?" Sahutku, apa adanya.


"Hihi, kamu ternyata asyik juga ya orang nya, aku makin deh," Zena tiba-tiba saja terkekeh mendengar jawabanku.


"Makin apa? Kenapa kamu malah ketawa?" Tanyaku, sambil kutatap Zena dengan tatapan aneh.


"Makin gemes hihi," Jawaban Zena semakin terdengar ngawur saja.


Aku hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah anehnya pagi ini. "Ada-ada aja kamu, yaudah aku duluan ya? Makasih atas jemputan nya!"


"Ok deh, sampai ketemu lagi nanti ya," Zena pun melambaikan tangannya padaku, aku pun membalasnya, kemudian aku segera berlari dan memasuki kelas.

__ADS_1


Tak lama setelah aku duduk di dalam kelas, Guru Wali Kelas ku masuk dan memulai kegiatan hari ini.


Setelah Surat Kelulusan dibagikan dan semua siswa dinyatakan Lulus, lalu kami berkumpul di lapangan untuk merayakan Kelulusan.


Di lapangan kulihat Zen sedang disapa banyak teman-teman nya yang lain, mungkin ditanya soal kelulusan nya.


Aku hanya mengikuti kegiatan, kami bersuka ria, menyanyi bersama dan lain sebagainya.


Namun di tengah kegembiraan ku, tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi ponselku dari balik saku bajuku, setelah kulihat ternyata ada notifikasi dari kamera CCTV.


Aku pun segera membukanya, setelah kulihat ternyata ada banyak aktivitas di beberapa tempat, kulihat Mang Nanang sedang membuat obor, sementara Mang Barus sedang menunggu bunda yang tengah berbaring di ruang family.


Aku heran mengapa Mang Nanang membuat obor, setelah ku putar ulang rekaman CCTV, ternyata kejadian lalu terulang lagi, Tante Isma kembali membuat ulah pada bunda, namun kali ini dia bukan memasukan ular melainkan ulat bulu dan kalajengking dari halaman belakang rumah.


Aku panik dan langsung bersiap untuk pulang, kemudian aku segera pamit pada teman-teman ku.


Namun sesampai nya di depan gerbang sekolah, Zena datang menyusul ku dengan mobil nya, lalu menawarkan diri untuk mengantarku pulang, akupun tak menolak tawarannya dan segera bergegas masuk ke dalam mobil Zen.


"Sher, kamu kenapa? Kok kelihatan panik?" Tanya Zen, matanya menatap heran padaku.


"Bunda ku Zen, apa aku bisa minta tolong di percepat laju nya?" Jawabku dengan cepat. Benakku sudah dipenuhi dengan hal-hal negatif, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada bunda, karena aku melihat bunda tengah berbaring di ruang family, sementara di halaman belakang sedang terjadi kericuhan.


"Bunda kamu kenapa Sher?" Tanya Zen kembali, kemudian memperbaiki posisi duduknya. "Oke kamu siap ya aku mau ngebut,"


Aku tak sempat menjelaskan karena aku terpaku dengan aksi gila Zen mengendarai mobil nya, Zen ngebut habis-habisan, sampai kendaraan lain pun dia seret dengan klakson nya.


"Ya ampun Zen, jangan kencang-kencang bawa mobil nya," teriakku pada Zena, sambil ku genggam erat sabuk pengamanku.


"Udah tenang aja Sher, aku hati-hati kok," jawabnya dengan santai.


Akhirnya hanya 15 menit di perjalanan, kami pun sampai ke rumah, tanpa pikir panjang aku langsung saja masuk ke rumah bersama Zena, ku lihat bunda sedang berbaring dan di sekujur tubuhnya banyak sekali bentol-bentol bahkan terlihat beberapa wajah bunda.


"Bunda, Bunda kenapa?" Aku pun langsung bertanya pada bunda, sambil mengatur kembali nafasku yang sedikit tak terkendali karena panik.


"Sherin, kamu udah pulang? Bunda nggak apa-apa kok, gimana hasil kelulusan nya Nak?" Sahut bunda.


"Bunda, itu sekujur tubuh Bunda bentol-bentol, nggak apa-apa gimana? Aku lulus kok Bunda …" Aku hanya bisa menatap iba pada bunda, karena rasa bentol itu pastinya sangat gatal sekali.


"Syukurlah kalau kamu lulus, selamat ya Sayang? Bunda nggak apa-apa, cuma gatal aja, udah di olesin minyak kayu putih kok tadi,"


"Makasih Bunda, aku ke belakang dulu ya Bun, mau ambil air minum buat Zen,"


"Oh, ada Zen juga ya di depan?"


"Iya Bunda,"


Kemudian, aku pergi ke belakang menemui Mang Nanang, ternyata mang Nanang sedang keteteran menangkap kalajengking juga membunuh ulat-ulat bulu itu, bulu kudukku sampai merinding karena melihat banyak sekali ulat bulu berjalan di sekitar dinding halaman belakang.


Ukurannya yang besar dipenuhi bulu-bulu berwarna hitam yang lebat dan panjang, tubuhnya menggeliat membuatku bergidik ngeri saat melihatnya.


Sementara beberapa ekor kalajengking terlihat sedang merayap di beberapa tempat.


Akupun segera bertanya pada Mang Nanang bagaimana kronologi kejadian saat diketahui ada hewan-hewan itu di halaman belakang, karena aku belum sempat melihat seluruh kejadian dalam rekaman CCTV.


"Mang ini gimana ceritanya, kok bunda bisa sampai gatal-gatal?" Tanyaku pada Mang Nanang.


"Jadi gini Neng ceritanya, tadi ibu ke belakang mengambil jemuran, lalu berteriak sambil lari dari belakang karena ada kalajengking banyak Neng, hampir saja ibu jatuh tapi untung nya selamat Neng, keburu ketahan sama Mang Barus," sahut Mang Nanang, berusaha menjelaskan.


"Hah, tapi Bunda gimana Mang?"


"Katanya perutnya agak sakit tadi Neng, sama Mang Barus di papah ke dalam, tapi ibu tiba-tiba gatal-gatal badannya, pas dilihat ternyata ada beberapa ulat bulu di baju yang dijemur, mungkin bulunya nempel juga di baju ibu,"


Jawaban Mang Nanang membuatku jadi khawatir pada bunda. "Ya ampun, kenapa nggak buru-buru di bawa ke Klinik Mang?"


"Tadi udah mau dibawa, malahan mobil juga udah di siapin, tapi ibu nya nolak Neng, katanya nggak apa-apa biar istirahat aja di rumah,"

__ADS_1


Saat sedang mengobrol, tiba-tiba seekor kalajengking merayap di kaki ku, sontak aku terkejut! Aku langsung menghempaskan kaki ku dan berlari kocar kacir sambil berteriak. Mang Nanang pun panik dan langsung mengarahkan obor nya ke kalajengking itu.


"Tolong ... tolong ... ada kalajengking, tolong ... ada kalajengking."


Seisi rumah langsung panik karena teriakanku, bunda pun panik dan langsung ingin segera menghampiriku, namun Mang Barus menahan bunda untuk bangun.


Zena pun karena mendengar teriakan ku langsung menghampiri ku ke dapur.


"Sher, kamu kenapa?" Tanya Zena dengan raut wajah panik.


"Tolong Zen, ada banyak kalajengking di sana," sahut ku. Sambil ku tunjukan ke arah halaman belakang.


"Loh, kok bisa ada kalajengking di rumah kamu, tapi kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Zen kembali, dengan tatapan heran.


Kakiku terasa sangat perih dan panas akibat sengatan kalajengking itu. "Kaki aku Zen, aduh sakit!" Rintihku.


"Ya ampun, mana sini aku lihat dulu, bahaya Sher, kalau kamu sampe disengat kalajengking," ucap Zena dengan raut wajah khawatir.


Aku memperlihatkan bekas sengatan kalajengking itu pada Zen. Tak lama, Mang Barus datang menghampiri dan menanyakan keadaanku.


"Ada apa Neng, Neng Sherin kenapa?" Tanya Mang Barus, dengan raut wajah yang juga terlihat panik.


"Banyak kalajengking di belakang Mang, kaki aku di gigit." Jelasku.


"Ya ampun, yaudah Neng, kita ke Klinik aja ya? Takutnya Neng kenapa-kenapa."


"Tunggu sebentar, kamu sini duduk dulu ya!" cetus Zena.


Zen segera mengambilkan kursi, kemudian menyuruhku duduk, kemudian tiba-tiba Zen menghisap racun kalajengking di kaki ku tanpa banyak bicara, lalu membuangnya lagi.


Hal itu dilakukannya berulang kali.


Aku hanya melongo saja karena terpaku, aku benar-benar terkejut dengan aksi Zen yang sembarangan menghisap racun dengan mulutnya sendiri, aku khawatir dia terkena racun nya juga.


"Jangan Zen, udah cukup, nanti kamu ikut keracunan juga kalau kamu kayak gini," Aku meminta Zena segera berhenti melakukan hal itu.


"Udah, kamu diem aja, tahan sebentar ya sakit nya," sahut Zen, sama sekali tak menghiraukan ucapan ku dan melanjutkan kembali aksinya.


"Tapi kan Zen, kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Aww sakit!" lirih ku.


Zen menghisap kaki ku sekuat tenaga, aku hanya bisa meringis menahan rasa sakit ku.


"Sudah selesai, sekarang kamu minum ya Sher," ucap Zen.


"Biar Mamang ambilin air nya ya Neng," timpal Mang Barus.


"Makasih Mang, sekalian buat Zena juga ya Mang, Maaf," sahutku.


"Iya Neng …" Mang Barus pun dengan cepat segera bergegas mengambil air minum sesuai permintaanku.


Usai minum, air mata ku bercucuran tak terbendung lagi, karena aku merasa sedih, panik, marah, benci, dan juga sakit yang seakan dikemas menjadi satu dalam hatiku.


Tapi, tiba-tiba Zen mengusap air mataku dengan lembut, lalu memeluk ku. Aku hanya diam terpaku, ini kali pertama aku merasakan pelukan dari seorang laki-laki.


Ada rasa hangat dan nyaman kurasakan dari pelukan Zena, aroma wangi tubuhnya membuatku merasa lebih tenang.


"Sabar ya, jangan nangis dong, kalau nangis nanti hilang loh cantik nya," ucap Zen, telapak tangannya menyentuh lengan bahu ku.


"Dasar kamu ya, bisa aja bikin orang pengen ketawa," akhirnya aku pun tersenyum.


Gombalan Zena itu justru membuatku ingin tertawa, lalu aku segera melepaskan pelukan Zen.


Tak lama Mang Barus pun datang dengan membawa air minum dan pel untuk membersihkan bekas lepehan racun kalajengking itu.


Aku segera meneguk habis segelas air yang dibawakan oleh Mang Barus.

__ADS_1


Zena pun segera berkumur untuk membuang sisa dari racun kalajengking itu dari mulut nya.


__ADS_2