
*****
"Sher aku pamit pulang ya? Kalau ada apa-apa kamu kabarin aku atau besok aku kesini lagi," pamit Zena.
"Oke, makasih ya Zen udah nengokin bunda ku … besok pagi aku juga mau pulang dulu kok Zen, soalnya aku lupa nggak bawa baju ganti hihi ..." cetusku.
"Berarti kamu belum mandi dong? Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Tau gitu sekalian aku bawain keperluan kamu!" Ucap Zena.
"Belum hihi ... nggak ah, masa iya aku minta kamu bawain keperluan ku sih!" Aku pun terkekeh.
"Tapi kamu nggak mandi juga tetap fresh kok," Zena pun terkekeh. "Lagian nggak apa-apa juga kalau sekalian aku bawain keperluan kamu kan, emangnya kenapa?" Tanya Zena.
"Hmm ngeledek ... nggak lah Zen, biarin besok aku pulang dulu aja!" sahutku.
"Ya udah deh, kalau gitu aku pulang dulu ya Sher?"
"Oke deh, hati-hati di jalan ya Zen …."
Setelah pamit padaku, Zena pun kemudian pamit pada bunda dan Bi Isah.
*****
Pukul 6.30 pagi.
Aku meminta izin pada bunda untuk pulang ke rumah bersama Bi Isah, mengambil semua keperluan selama di Rumah Sakit.
Sementara bunda dijaga oleh perawat juga Om Syam dan Om Joko.
Sesampainya di rumah, Bi Isah segera mengemas semua keperluan nya selama di Rumah Sakit. Sementara aku segera bersih-bersih mandi. Aku hanya membawa beberapa pakaian ganti saja, tak banyak.
Usai sarapan pagi, aku mengantarkan Bi Isah kembali ke Rumah Sakit. Tapi aku langsung bergegas pergi, aku ingin menjenguk ayah di kantor polisi, karena sejak terakhir bertemu ayah 6 bulan yang lalu aku belum menjenguk ayah lagi, aku tidak tahu bagaimana kabar ayah saat ini.
"Loh … Non Sherin mau kemana? Kok nggak ikut masuk Non?" tanya Bi Isah.
"Aku ada urusan sebentar Bi, jadi aku nggak ikut masuk dulu," jawabku.
"Tapi, nanti kalau Bibi di tanyain sama bunda Non Sherin gimana?"
"Nanti Bibi bilang aja aku mau ke Bank dulu,"
"Oh … ya udah kalau gitu, Bibi masuk dulu ya Non?"
"Iya Bi, makasih ya …"
Kemudian aku segera bergegas membeli beberapa makanan untuk ayah dan langsung pergi ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, aku pun bertemu dengan ayah.
Setelah beberapa bulan ayah berada di sel tahanan, ayah terlihat lebih kurus, kumis dan jenggot ayah semakin lebat dan panjang, tidak terurus. Melihat kondisi ayah, aku jadi merasa iba.
"Ayah? Gimana kabar ayah sekarang? Ayah sehat-sehat aja kan?" sapa ku.
"Ayah baik-baik aja kok Nak! Ayah sehat, kabar kamu juga sehat kan?" ayah kembali bertanya akan kabarku.
"Syukurlah kalau Ayah sehat dan baik-baik saja disini, aku juga baik-baik aja Yah, sehat kok. Oh iya, ini aku bawain makanan buat Ayah maaf ya aku baru sempat nengokin Ayah kesini?" sambil ku sodorkan makanan yang ku bawa pada ayah.
"Syukur lah, makasih banyak ya Nak? Dengan kamu datang kesini nengokin Ayah aja, Ayah udah senang Nak, kamu jangan repot-repot kalau mau nengokin Ayah. Oh iya, kabar bunda gimana? Apa bunda sehat?" tanya ayah.
"Iya Yah, gak apa-apa kok Yah, aku gak repot cuma bawain makanan aja sedikit. Emm ... bunda sekarang lagi di rawat di Rumah sakit Yah!" sahut ku.
"Hah di rumah sakit? Bunda sakit apa Nak, kok sampai di rawat?" Ayah terlihat khawatir.
"Bunda kan habis lahiran Yah! Bunda lahirannya di Sesar jadi sekarang masih dirawat di Rumah Sakit," Akupun memberitahu ayah jika bunda saat ini sudah melahirkan.
"Bunda udah lahiran? Tapi bunda dan anak ayah baik-baik aja kan?" tanya ayah.
"Iya Yah, alhamdulillah semuanya baik-baik saja, sekarang aku punya adik bayi Yah, adik aku ganteng mirip ayah loh!" cetusku.
"Ya Tuhan ... syukurlah kalau semuanya baik-baik saja, Ayah bahagia dengar kabar ini, andai Ayah bisa ketemu sama bunda dan adik kamu ..." ayah memelas.
"Ayah yang sabar ya? Kalau Ayah sudah bebas, nanti pasti bisa ketemu sama adik bayi dan bunda," tutur ku, memberi ayah semangat. "Oh iya, Ayah udah makan belum?" Aku hampir lupa bertanya hal itu pada ayah.
Ayah hanya menggelengkan kepalanya. "Hmm … Ayah rasanya gak sabar pengen cepat-cepat ketemu bayi dan bunda kamu …" ayah kembali memelas.
Terlihat jelas dari sorotan matanya, ayah pasti sangat merindukan keluarga nya dan ayah sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Iya Yah, Ayah nanti pasti bisa ketemu kok sama bunda juga adik aku, ayah yang sabar ya? Yaudah sekarang Ayah makan dulu ya?"
Aku segera membuka makanan yang ku bawa untuk ayah kemudian menyerahkan nya pada ayah.
"Nanti aja Nak, Ayah belum lapar!" Ayah menolak tawaranku.
"Ayah ... ayo makan dulu Yah! Apa mau aku suapin?" Aku pun memaksa ayah agar dia segera menyantap makanan yang ku bawa itu untuknya.
"Ah kamu bisa aja! Ya udah deh Ayah makan, tapi kamu juga makan ya? Sini bareng Ayah …" ajaknya.
"Ayah aja ah, aku kan tadi udah makan Yah, masih kenyang masa makan lagi! Nanti aku bisa gendut hihi," akupun terkekeh.
"Ya nggak apa-apa Nak, gendut kan pertanda sehat, sini biar Ayah suapin ..." ayah akhirnya menyodorkan satu sendok nasi ke dalam mulutku ku.
Walaupun perutku masih terasa kenyang tapi aku sangat bahagia, karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya dimanja oleh ayah. "Emm ... enak Yah! Cobain deh Ayah makan,"
Akhirnya ayah pun menyantap makanannya, Ayah terlihat memakan makanannya dengan lahap, aku sungguh tak tega pada ayah, pasti ayah sangat menderita berada dalam sel tahanan penjara. Tapi apa daya, aku pun tak mampu berbuat apa-apa untuk membebaskan ayah dari dalam penjara.
'Apa bunda bisa menerima ayah kembali? Ayah sekarang sudah berubah, sudah tidak seperti dulu lagi, ayah sudah menerima ku sebagai putrinya. Andai ayah dan bunda bisa bersama lagi, aku pasti akan memiliki keluarga yang utuh.'
__ADS_1
Usai makan ayah pun harus kembali ke dalam sel tahanan, karena waktu kunjungan sudah hampir habis.
Sebenarnya aku masih ingin bersama ayah, mengobrol banyak, aku ingin menceritakan kalau aku sebentar lagi akan mulai masuk kuliah. Tapi ... mungkin waktunya belum tepat, aku akan menunggu beberapa bulan lagi sampai ayah dibebaskan.
Akhirnya aku pun pamit pada ayah dan kembali ke Rumah Sakit.
"Bunda ..." sapa ku.
"Eh, Sayang? Kamu dari mana aja, kok baru kesini sih?" tanya bunda, menginterogasi.
"Aku tadi habis dari Bank dulu Bunda," sahut ku, berbohong pada bunda.
"Dari Bank?" bunda mengernyitkan dahinya.
"Iya Bunda … Oh iya, beberapa hari lagi aku udah harus mulai masuk kuliah loh Bun?" aku segera mengalihkan pembicaraan, agar bunda tidak menanyakan soal Bank.
"Oh ya? Kapan Sayang kamu mulai masuk kuliah?" Bunda tampak antusias.
"Emm ... seminggu lagi Bunda," jawabku.
"Kamu udah persiapan belum?" tanya bunda.
"Belum, hihi … nanti aja Bunda, kan masih lama!" Aku tersenyum nakal pada bunda.
"Ya nggak apa-apa, kalau persiapan dari sekarang kan nanti nggak repot Sayang,"
"Bunda tenang aja, masih keburu kok, aku masih pengen disini ngabisin waktu sama Bunda dan Adik bayi," tutur ku.
"Dasar kamu tuh ya ... bisa aja alasan nya," cetus bunda.
Akhirnya aku bebas dari interogasi bunda.
Aku menghabiskan waktu di Rumah Sakit bersama bunda dan adik bayi.
Walaupun adik bayi masih belum bisa keluar dari inkubator, tapi setiap waktu aku memantau nya dari luar.
*****
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah satu minggu aku menemani bunda melewati masa pemulihan nya di rumah sakit.
Hari ini aku harus mempersiapkan semua keperluan ku untuk kuliah besok, bunda menyuruhku pulang ke rumah agar aku bisa fokus untuk kegiatan ku.
Usai pamit pada bunda dan adik bayi, aku pun pulang ke rumah meninggalkan bunda dan adik bayi, sementara bunda ditemani oleh Bi Isah dan anak buahnya.
Aku tinggal di rumah hanya seorang diri, tapi ada Pak Satpam yang menjaga di luar sepanjang malam.
Malam hari, aku pun sudah bersiap untuk tidur.
Tring ... tiba-tiba ku dengar suara ponsel ku berdering.
Setelah kulihat ternyata Zena mengirimkan pesan chat padaku.
Akupun segera membalas nya. [Malam Zen, belum nih, ini baru mau.]
[Aku ganggu dong?]
[Nggak kok, kan aku belum tidur ck ck.]
[Hihi bisa aja kamu, besok kuliah ya?]
[Kok kamu tau?]
[Ya … tau dong!]
[Tau darimana? Aku kan nggak kasih tau!]
[Ada deh! Rahasia.]
[Ya udah kalau gitu.]
[Jangan marah dong?]
[Siapa juga yang marah sih!]
[Kamu.]
[Nggak.]
[Ck ck iya deh, aku punya teman di kampus kamu,]
[Hmm ... Pantesan!]
[Ya udah, kamu tidur gih istirahat.]
[Hmm ... Ya udah, aku tidur ya?]
[Oke! Selamat tidur Sherina Leonicera.]
[Selamat tidur Zen.]
'Gak jelas banget sih Zena! Cuma basa basi doang!' gerutu ku.
*****
Pukul 6.30 pagi.
__ADS_1
Usai sarapan, aku pun segera bergegas pergi ke kampus.
Hari ini, hari pertama aku masuk ke Universitas.
Menghadapi masa Ospek selama 3 hari, aku mulai mengenal lingkungan baru, teman-teman baru dan juga dosen-dosen di kampus ku.
Di hari ke-tiga Ospek, aku akan menghadapi pelantikan selama 1 malam di Kampus.
Kegiatan pun dimulai dari jam 7.30 malam setelah Isya.
Di puncak acara sekitar tengah malam, di adakan moment drama, setiap orang di bagi menjadi beberapa kelompok. Aku, Rita, Deira, Zaky, Dani dan 3 orang lainnya, menjadi kelompok terakhir yang akan tampil.
Pembimbing memberikan waktu 30 menit untuk menentukan drama apa yang akan ditampilkan.
Aku dan teman-teman pun mulai berdiskusi.
Setelah waktu habis, setiap kelompok pun mulai menampilkan drama nya, disaksikan oleh semua calon mahasiswa dan mahasiswi.
Hingga tiba saatnya giliran kelompokku yang akan maju untuk tampil.
Kelompok ku akan menampilkan drama percintaan, aku dan Zaky sebagai tokoh utama.
Adegan yang dramatis pun dimulai.
Zaky mulai menekuk lututnya dan memperlihatkan sebuah cincin lamaran. "Sherin, maukah kamu menikah dengan ku?" tanya Zaky dengan lembut.
"Tapi Zak, aku ..." (terdiam)
"Sher, aku cinta sama kamu. aku sangat mencintaimu dari dulu, aku ingin menikah sama kamu Sherin, apa kamu bersedia menjadi istriku?" tutur Zaky.
"Zak, aku juga sebenarnya suka sama kamu dari dulu. Iya Zak aku ma ..." (Terputus) karena tiba-tiba Rita datang dan merebut cincin lamaran itu dari tangan Zaky.
"Tega kamu Zak, dari dulu aku cinta sama kamu, tapi kamu beberapa kali menolak ku, kamu bilang kamu belum ingin menikah tapi apa buktinya Zak? Kamu malah melamar dia!" bentak Rita, sambil menunjuk ke arahku.
"Rita ... aku ... tapi aku cinta sama Sherin dari dulu." sahut Zaky pada Rita.
"Nggak Zak, kamu gak boleh nikah sama Sherin. Kalau kamu nggak nikah sama aku, kamu gak boleh menikah sama siapapun." teriak Rita.
"Zak lebih baik kamu terima saja Rita, aku akan pergi." timpalku.
Tiba-tiba Zaky menggenggam erat tanganku. "Nggak Sher jangan pergi, sampai kapanpun aku akan tetap cinta sama kamu Sherin, tolong jangan pergi …" Zaky memohon padaku.
"Tidak, kalau kamu tetap melamar dia," sambil menunjuk ke arahku. "Aku akan bunuh diri Zak." Rita mengancam akan bunuh diri jika Zaky tidak menikahinya.
"Tapi aku gak bisa nikah sama kamu Rita, aku gak cinta sama kamu." Zaky tetap pada pendirian nya bahwa dirinya hanya ingin menikah denganku.
"Udahlah Zak, kamu lebih baik terima saja Rita, aku akan mundur Zak, tolong biarin aku pergi." ucapku, mengalah.
"Nggak Sher, ku mohon jangan pergi, aku benar-benar gak bisa nikah sama Rita." Zaky tetap memohon padaku.
"Oke Zak, kalau kamu emang mau menikahi dia, aku akan bunuh diri sekarang juga." Rita semakin mengancam dengan pisau di tangannya.
Rita sudah siap memotong urat nadi di tangannya dengan pisau itu.
"Jangan Rita, kumohon jangan lakukan itu." bujuk Zaky.
Saat Rita akan memotong urat nadi tangannya sendiri, tiba-tiba Dani datang dan langsung merebut pisau itu dari tangan Rita, kemudian memeluknya. "Tidak Rita kamu jangan lakukan itu lagi kumohon … aku gak sanggup kehilangan kamu Rita, aku cinta sama kamu!" ungkap Dani.
Semua orang terkejut melihat adegan Dani yang datang menyatakan cinta dan memeluk Rita secara tiba-tiba.
Tapi Rita dengan cepat melepaskan pelukan Dani. Rita sedikitpun tak menghiraukan keberadaan Dani.
Kemudian berjalan ke arahku, kemudian Rita mendorongku hingga aku terjatuh. "Pergi kamu dari sini, jangan pernah kamu rebut Zaky dari aku. Dasar wanita perebut laki orang." hardik Rita padaku.
Zaky pun segera merangkul aku dan membantuku berdiri.
"Rita, jangan keterlaluan kamu! Kamu tau diri sedikit, jangan paksa Zaky menikah sama kamu, Zaky gak cinta sama kamu Rita." balas ku pada Rita.
Saat Rita sudah bersiap melayangkan tangannya untuk menamparku, Dani datang dan menangkis tangan Rita. Lalu menarik Rita menjauh dariku.
"Rita, jangan bertindak kasar ka ..." (terputus)
Zaky tak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Deira dan 3 teman lainnya datang.
"Dani, sudahlah ... kamu gak usah ngejar-ngejar Rita lagi, aku juga mau kok sama kamu Dan," timpal Deira.
Dani refleks langsung menoleh ke arah Deira dan membulatkan matanya. "Apa kamu serius Deir?" tanya Dani.
"Aku serius Dani, aku udah lama suka sama kamu, tapi kamu malah ngejar Rita." tegas Deira.
Tiba-tiba Deira menyatakan cintanya pada Dani dan akhirnya Dani pun menerima cintanya Deira.
Memang Deira lebih baik daripada Rita, Deira sifatnya kalem dan juga apa adanya, tidak seperti Rita yang suka bar-bar dan emosian.
Setelah Deira dan Dani akhirnya saling menjalin hubungan, Zaky pun merebut kembali cincin yang diambil oleh Rita. Pada awalnya Rita menolak memberikan cincin itu pada Zaky, tapi di bantu oleh 3 teman Deira, akhirnya cincin itu berhasil direbut kembali.
Kemudian Zaky pun melanjutkan adegan melamar ku.
"Sherin, jadi bagaimana? Apa kamu bersedia menikah sama aku? Aku janji Sher, sampai kapanpun aku gak akan pernah mengkhianatimu, biarlah langit dan semua orang yang ada disini menjadi saksi janji ku Sher?" ucap Zaki. Kakinya berlutut dan tangannya menggenggam sebuah kotak cincin lamaran di hadapanku.
'Terima ... terima ... terima' teriak para hadirin.
Semua orang menatapku dengan tatapan berharap aku menerima lamaran Zaky. "Iya Zak, aku mau jadi istri kamu" jawabku, sambil tertunduk malu.
Dan akhirnya aku pun menerima lamaran Zaky. Sementara Rita, akhirnya ditinggalkan oleh Zaky dan Dani, kemudian Rita pun melengos pergi dengan rasa kesal dan malu oleh semua orang.
__ADS_1
Drama pun selesai.
Semua penonton bersorak-sorai dan bertepuk tangan menyaksikan persembahan drama dari kelompok ku.