Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Menyusun rencana


__ADS_3

*****


"Tante Isma? Sedang apa Tante di sini?" tanyaku.


Tante Isma hanya menunjuk ke bawah jurang sambil tertawa, aku terkejut saat melihat ternyata di tepi jurang itu ada mobil Taxi yang aku dan bunda tumpangi.


"Tante, apa maksud Tante menunjukan mobil itu?"


"Aku akan membunuhmu, aku akan membunuh Rahma, aku akan menghancurkan keluarga mu hahaha"


Tante Isma tertawa mengerikan, sambil mengeluarkan pisau dari dalam saku celana nya, lalu mengarahkannya ke arah bunda yang tengah berdiri di samping ku.


Kemudian tante Isma menusukan pisau itu ke perut bunda, aku pun berteriak histeris (Tidaaaak ... Tolooooong ... Tolooooong ...) Namun, tiba-tibaTante Isma terhuyung lalu tubuhnya ambruk.


Ternyata, ada seseorang yang lebih dulu melempar pisau dari arah belakang tepat di jantung Tante Isma, sebelum ujung pisau milik


Tante Isma itu menusuk ke perut bunda. Setelah kulihat ternyata orang itu adalah Zen dan ayah ku.


Aku terbangun dari mimpi ku, karena mendengar suara Zen memanggil-manggil namaku, sekujur tubuh ku di banjiri oleh keringat dingin.


"Sher … Sherin … Sherin, bangun Sher, kamu kenapa? Hei Bangun Sher …" Zen membangunkan aku, sambil menepuk-nepuk wajah ku dengan lembut


Aku Pun akhirnya terbangun.


"Zen …" ucap ku.


Nafasku masih memburu, seakan mimpi itu terasa begitu nyata. Ku lihat setiap sudut ruangan untuk memastikan bahwa apa yang terjadi itu hanyalah mimpi.


"Hei, kamu kenapa Sher? Kamu mimpi ya?" tanya Zen, dengan raut wajah orang panik.


"Syukurlah itu cuma mimpi," tutur ku. Sambil ku usap-usap dadaku.


"Kamu mimpi apa Sher? Kok sampai teriak minta tolong?" Tanya Zen.


Sepertinya Zena penasaran dengan apa yang aku mimpikan.


"Eh nggak Zen, nggak apa-apa kok …" sahutku. "Mungkin aku cuma kecapean aja, jadi mengigau,"


"Nggak apa-apa gimana Sher? Itu tadi kamu sampai teriak-teriak gitu kok," tanya Zena, tampaknya Zena khawatir padaku.


"Iya Zen, barusan aku mimpi buruk," akhirnya aku pun mengakuinya.


"Mimpi apa Sher?" Tanya Zena kembali dengan raut penasaran.


Kemudian aku pun menceritakan apa yang aku mimpikan baru saja pada Zena.


*****


3 hari berlalu.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, akhirnya aku dan bunda diperbolehkan untuk kembali ke rumah oleh Dokter.


Aku sudah bisa berjalan kembali seperti sediakala dan kondisi bunda juga janinnya pun sudah sehat.


Aku, bunda dan Zen pun bergegas untuk pulang ke rumah.


Akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar, setelah beberapa malam menginap di rumah sakit, membuatku merasa jenuh dan bosan.


Sesampainya di rumah, Zena memberitahu bahwa akan ada polisi yang datang ke rumah untuk menemui aku dan bunda. Aku sedikit terkejut mendengar kata polisi.


Kemudian Zena menceritakan bahwa pihak dari keluarga supir taksi itu mengusut kasus kecelakaan kemarin dan sekarang polisi sedang menyelidiki kasus itu.


Sebenarnya Zena sendiri menjadi saksi mata kejadian waktu itu, dia melihat dengan jelas bagaimana kronologi kejadian.


Zena mengatakan waktu itu tiba-tiba saja ada mobil Agya berwarna merah terang dengan plat nomor ujung nya 38 Leter B, Zena lupa-lupa ingat dengan nomor plat mobil itu, tapi dia ingat dengan jelas bahwa ujung nya adalah 38.


Hatiku mencelos ketika mengingat bahwa Tante Isma juga memiliki mobil agya warna merah. Rasanya aku ingin sekali menunjukan rekaman CCTV di rumah Tante Isma itu pada Zena.


Dalam rekaman itu, terlihat jelas mobil itu terparkir tepat di halaman rumah nya.


Tapi ada bunda yang selalu bersamaku beberapa hari ini, aku tak mungkin memberitahu bunda soal itu.


Siang hari, benar saja apa yang dikatakan Zen, polisi datang mengintrogasi, menanyakan kronologi kejadian waktu itu.


Aku dan bunda hanya menceritakan apa ada nya. Tapi Zena hanya diam saja tak berbicara sepatah katapun, mungkin Zena sudah menjelaskan semuanya terlebih dahulu pada polisi.


Setelah selesai menginterogasi, polisi pun pamit pergi.


Di sore hari, mang Nanang dan mang Barus juga karyawan yang lain nya datang beramai-ramai ke rumah untuk menjenguk bunda.


Sementara ayah belum pulang sama sekali, bahkan selama aku dan bunda di rawat di rumah sakit.


Usai menjenguk bunda, Tak lama mereka pun pamit pulang begitupun dengan Zena. Akhirnya aku hanya tinggal berdua dengan bunda.


****


Di pagi esok hari, ternyata teman-teman dan beberapa perwakilan dari guru-guru ku juga datang ke rumah untuk menjenguk.


Suasana rumah menjadi begitu ramai, ditambah lagi dengan para tetangga, merekapun juga ikut datang menjenguk.


Tak lama setelah beberapa waktu mereka pergi, ayah ternyata pulang.

__ADS_1


Seperti biasa ayah hanya menanyakan kabar aku dan bunda, aku tidak ingin terlalu banyak berbicara dengan ayah, aku lebih banyak berdiam diri di kamar sembari merenungi apa yang sudah terjadi.


Sekitar pukul 19:30, aku berniat menghampiri ayah dan bunda yang tengah asyik menonton TV dan mengobrol di ruang family.


Tapi langkahku terhenti ketika mendengar sesuatu dari obrolan mereka, lalu aku mendengarkan di balik tembok sembelum kakiku melangkah masuk.


"Bun, Bunda udah USG belum?" Tanya ayah.


"Udah Yah, emang kenapa?" Tanya bunda, terdengar santai.


"Jadi, anak kita ini laki-laki atau perempuan?"


"Ayah penasaran ya? Coba tebak?"


"Laki-laki kan Bun?" Ayah tampaknya ingin sekali memiliki seorang anak laki-laki.


Aku masih tetap berdiri di balik tembok mendengar percakapan mereka, walaupun kakiku sudah gatal ingin segera menghampiri ayah dan bunda di dalam.


"Emm ... kalau perempuan gimana Yah?"


"Ayah mau nya laki-laki Bun!"


"Loh, kan perempuan juga sama aja Yah?"


"Ayah kan udah bilang, dari dulu ayah itu nggak mau punya anak perempuan, tapi ternyata anak pertama yang lahir malah perempuan, ayah kecewa!"


Aku reflek menutupi mulutku sendiri dengan kedua tanganku saat mendengar ucapan ayah yang membuatku tiba-tiba merasa lemas.


"Loh kok gitu sih Yah? Tapi kan ayah lihat sendiri Sherin itu anaknya baik, rajin, soleha, dan juga pinter. Waktu kelulusan kemarin, Sherin jadi juara umum ke-1 loh Yah! Tuh ayah lihat sendiri kan piala sama hadiahnya, terus ... Sherin juga dapet beasiswa buat kuliah. Kalau Ayah kayak gitu, bunda yang kecewa sama Ayah, bunda yang udah lahirin anak pertama kita, Ayah harus nya hargai perasaan bunda dong." Bunda terdengar sedikit marah pada ayah.


"Pokoknya ayah dari dulu nggak pernah ngarepin punya anak perempuan. Ayah itu mau nya anak laki-laki Bun, biar kalau ayah usaha itu ada yang bantuin! Udah lah gak usah dibahas, bikin pusing aja." Ayah pun terdengar sedikit membentak bunda.


Lututku semakin terasa lemas mendengar apa yang dikatakan ayah.


Kata-kata ayah seperti belati yang menyayat-nyayat hatiku, rasanya sangat menyakitkan.


Sekarang aku baru mengerti alasan dari semua sikap ayah terhadapku, ternyata ayah tidak pernah mengharapkan kehadiran ku dalam hidup ayah, ayah tidak menerima aku sebagai putri nya, aku hanyalah anak yang tak pernah diharapkan untuk hidup di dunia ini.


Aku segera bergegas kembali ke kamarku, dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan hanya dengan kata-kata.


Kemudian aku mengunci diri di dalam kamar, aku sedang tak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.


Akupun hanya bisa menangis sejadi-jadinya, sambil ku telungkupi kepala ku dengan bantal.


Aku bersumpah akan membuktikan pada ayah, bahwa anak yang tidak pernah diharapkan nya ini, suatu hari akan menjadi kebanggaan semua orang dan anak yang tidak pernah diharapkan ini, suatu hari akan menjadi anak yang paling ayah harapkan dalam hidupnya.


Aku menangis hingga berjam-jam lamanya. Tanpa kusadari ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam.


Belum saat nya bunda mengetahui rahasia itu, aku takut akan berpengaruh buruk terhadap kondisi kehamilan bunda.


Tapi tiba-tiba terpikirkan sesuatu di benakku, besok aku akan memulai kembali menjalankan misi untuk melindungi bunda.


Aku sudah memutuskan untuk memberitahu soal CCTV tersembunyi itu pada Zena, tapi tidak termasuk kamera pengintai yang ada di rumah kelam itu, biarlah itu menjadi rahasiaku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, mataku sudah mulai diserang rasa lelah dan kantuk setelah menangis juga memikirkan masalah yang begitu rumit itu sampai akhirnya aku pun terlelap.


****


Pagi hari, setelah urusan rumah selesai aku pun segera menghubungi Zena.


[Halo, Zen?]


[Halo Sherin … selamat pagi Sher?]


[Pagi juga Zen,]


[Tumben nih pagi-pagi udah ngontek aku? Kabar kamu sama bunda baik kan?]


[Iya sorry ya Zen kalau aku ganggu kamu pagi-pagi gini, aku dan bunda baik-baik aja kok, kabar kamu juga baik kan?]


[Nggak kok, sejak kapan aku keganggu sama kamu? Aku malahan senang karena dapat panggilan masuk dari kamu, kabar aku baik kok Sher …]


[Emm apa iya? Syukur deh kalau kabar kamu baik … oh iya Zen, hari ini kamu sibuk nggak? Atau ada acara?]


[Kenapa emang Sher? Kangen ya sama aku?]


[Uh dasar, pede banget sih kamu! Nggak kok aku cuma mau ajak ketemu aja kalau kamu nggak sibuk,]


[Tuh kan bener … emang bener kan kamu kangen sama aku? Itu bukti nya ngajak ketemu? Hihihi,]


[Ih kamu ...]


[Canda Sher ngambek mulu! Habisnya kamu pagi-pagi gini udah serius amat sih! Emm ... bisa kok Sher, mau ketemu dimana? Aku juga lagi gabut banget nih di rumah,]


[Ya udah deh kalau kamu nggak sibuk, nanti kita ketemu di sekolah aja ya? Gimana?]


[Jangan dong! Biar aku jemput kamu ya?]


[Emm ... oke deh kalau gitu!]


[Ya udah 15 menit lagi aku otw jemput kamu, sampai ketemu ya,]

__ADS_1


[Oke deh, hati-hati di jalan ya Zen, bye …]


[Siap boss Qiu hihi, bye …] Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Zena.


Akhirnya aku dan Zena pun sepakat untuk bertemu, setelah aku mempersiapkan diri, aku meminta izin terlebih dahulu pada bunda untuk pergi ke keluar bersama Zena, bunda pun memberi izin dengan memberi pesan agar aku lebih berhati-hati.


Karena ada ayah di rumah jadi aku bisa sedikit lebih tenang meninggalkan bunda.


Tak lama Zena pun datang menjemput ku dan kami segera bergegas pergi.


Aku meminta Zena untuk membawaku ke tempat yang tenang, tapi Zena malah membawaku ke taman bermain dan mengajakku menaiki kereta gantung, aku pun hanya bisa mengikuti nya saja.


Baru pertama kali nya aku merasakan moment berada dalam kereta yang tergantung tinggi, dan ternyata cukup tenang dan nyaman, apalagi untuk para pasangan kekasih yang sedang berkencan.


Sayangnya aku dan Zena bukanlah pasangan yang sedang memadu kasih, aku dan Zena hanya berteman saja tak lebih.


Di dalam kereta aku dan Zena mulai berbincang-bincang panjang lebar sambil sesekali menikmati pemandangan indah yang terlihat luas dari atas sana.


"Sher sebenarnya ada hal apa kamu mengajak ku ketemu? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan ya?" Tanya Zena, memecah keheningan.


Akupun segera beralih menatap Zena.


"Eh Iya Zen, aku mau cerita sesuatu sama kamu," sahutku, tak basa-basi lagi.


"Cerita aja Sher, aku seneng kalau kamu mau berbagi cerita sama aku, cerita soal apa?" Tanya Zena kembali.


Sejenak aku memantapkan hati untuk menceritakan masalah yang tidak seharusnya itu.


"Emm … soal yang waktu itu kita bahas di atas bukit!" jawabku.


"Gimana? Udah ada kabar baru?" Tanya Zena, terlihat antusias mendengarkan jawabanku.


"Maaf Zen, waktu itu aku belum bisa cerita semuanya sama kamu. Ini, aku kasih lihat," sambil ku perlihatkan rekaman kejahatan Tante Isma. "Sebenarnya dari awal aku udah pasang kamera CCTV di rumah ku dan juga rumah Tante Isma, makanya aku bisa tau semuanya Zen," Aku pun akhirnya memberitahu rahasia yang selama ini aku pendam sendiri pada Zena.


Aku sangat berharap Zena orang yang bisa dipercaya saat ini. Karena hanya Zena satu-satunya teman yang selalu ada


disaat yang tepat.


"Jadi kamu menyamar waktu itu juga ada sangkut paut nya sama hal ini Sher?"


"Iya Zen, aku..." (terputus karena Zen menimpali ucapanku.)


"Sher bicara jujur aja sama aku, semuanya, jangan ada yang kamu tutupi lagi, aku janji pasti bakalan bantu kamu, oke?" Tutur Zena, sambil menggenggam erat tanganku.


"Emm ... oke deh! Jadi awalnya aku menyamar bukan untuk mengintai Tante Isma, tapi untuk mencari tahu soal ayahku Zen,"


"Ayah kamu?" Zena mengerutkan dahinya, menatapku dengan tatapan heran.


"Iya, setelah aku cari tahu ternyata ayah menjalin hubungan sama Tante Isma," aku pun melanjutkan ucapanku.


"What? Ini bener-bener ... Hmm, terus?"


"Iya Zen, aku tahu semua kejahatan Tante Isma tapi sampai sekarang masih jadi rahasia, bunda nggak tahu aku pasang CCTV di rumah, karena kalau bunda tahu pasti semua nya bakalan terungkap, sementara bunda sedang hamil muda dan kondisi kesehatannya rentan Zen, aku nggak mau terjadi apa-apa sama bunda dan calon adik aku,"


"Jadi, itu alasan kamu, kenapa kamu berat buat ceritain semuanya sama aku?"


Aku hanya mengangguk.


"Ya ampun Sher, ternyata selama ini kamu rahasiakan masalah sebesar itu sendiri? Masalah sebesar itu harus nya bukan kamu yang nanggung sendirian Sher?"


"Aku bingung Zen, langkah apa yang harus aku ambil, aku sebenarnya nunggu adik ku lahir baru lah semuanya akan aku ungkap, tapi keselamatan bunda ku terancam kalau aku terus menunda. Coba kamu lihat Zen, apa mobil yang waktu itu menyeretku ke jurang mirip sama yang ada di sini?"


Aku menunjukan rekaman CCTV yang menunjukkan mobil agya warna merah milik Tante Isma pada Zen.


Zena pun segera melihatnya dengan seksama. "Ya tuhan … benar Sher, aku yakin ini mobil yang sama, iya benar ini nomor nya 2738," cetus Zena sambil menunjuk ke layar ponsel. "Jadi kamu tau kan sekarang? Semua kejadian dan teror itu ulah Tante Isma Zen!" tutur ku.


"Ini udah nggak bisa di biarin Sher, kalau gak segera diatasi aku khawatir terjadi hal buruk sama keluarga kamu, khususnya kamu Sher, aku nggak mau kamu celaka," ucap Zena, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Menurut kamu, aku harus gimana Zen?" Tanyaku pada Zena, berharap Zena memiliki pendapat ataupun saran untuk masalah itu.


"Aku ada ide Sher, gimana kalau ajak bunda kamu buat liburan? Kan sekarang kita lagi masa senggang sebelum masuk kuliah, dengan begitu bunda kamu bisa aman sementara waktu dan disini kita bisa hancurin Tante Isma sepuasnya, gimana Sher menurut kamu?"


Aku pun sejenak berpikir. "Tapi itu bisa makan banyak biaya Zen, dan lagi … belum tentu ayah ku kasih izin dan juga apa bunda nggak bakalan curiga?"


"Soal biaya nggak usah kamu pikirin Sher. Tapi … kalau soal izin aku nggak bisa bantu kamu Sher maaf ya,"


"Aku nggak enak sama kamu Zen kalau gitu, aku jadinya nyusahin kamu,"


"Sherin please itu juga buat keselamatan kamu sama bunda, aku nggak pernah sedikitpun merasa susah karena kamu. Sebagai teman, aku nggak bisa lihat kamu kayak gini Sher,"


"Zen … makasih banyak ya? Entah gimana aku bisa balas semua kebaikan kamu. Sementara, aku ... " aku termenung karena ucapan Zen.


"Udah Sher kamu nggak usah pikirin itu ya? Nanti kamu coba ajak dulu bunda kamu liburan, ya ... setidaknya 1-2 minggu atau kalau bisa lebih baik kamu sama bunda pindahan aja, biar bunda bisa aman,"


"Iya Zen, sekali lagi makasih banyak ya? Nanti aku coba bicara sama bunda, mudah-mudahan bunda setuju,"


"Nah … gitu dong!" tutur Zen. Sambil tersenyum padaku. "Nanti kabarin aku, biar aku yang siapin semuanya ya? Pokoknya nanti kamu tinggal siap saja, oke?"


Aku hanya mengangguk malu. Tapi, saat ini memang hanya Zena yang bisa aku andalkan.


Akhirnya aku merasa lega setelah menceritakan semuanya pada Zena, beban-beban yang merambat di kepala ku akhir nya bisa berkurang dengan berbagi cerita pada Zena.

__ADS_1


__ADS_2