
*****
Setelah dirasa cukup puas seharian bersama Zena berkeliling taman, Zena pun mengantarku pulang sampai rumah.
Tapi sesampainya di rumah ternyata bunda hanya sendirian saja karena ayah sudah pergi lagi entah kemana. Beruntung tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada bunda.
Setelah kecelakaan itu sepertinya Tante Isma sekarang menjadi buronan, karena berita kecelakaan itu sudah tersebar hampir di seluruh media, baik itu secara online maupun offline.
Namun hingga saat ini belum terdengar berita tentang penangkapan Tante Isma, sepertinya Tante Isma sudah merencanakan semuanya dengan baik, hingga polisi saja kesulitan untuk melacak nya.
Saat makan malam bersama bunda, aku mulai menjalankan rencana ku.
Aku mengajak bunda untuk pindah rumah, karena aku tahu bunda kurang suka dengan liburan dan mungkin saja akan menolak ajakanku jika aku mengajaknya berlibur.
"Bunda … boleh nggak aku mau bicara sesuatu sama bunda?" Tanyaku, memulai obrolan.
"Iya Nak, boleh dong, emang mau bicara apa Sayang?" Bunda pun meresponku dengan santai.
"Bunda, apa Bunda tau siapa orang yang sengaja mencelakai kita kemarin?"
"Nggak Sayang, emang nya siapa? Kamu tau?" Bunda mengerutkan dahinya.
"Tau Bun, itu Tante Isma!" Jawabku, tak ingin banyak basa-basi.
"Hah, Tante Isma? Apa kamu serius Nak?" Bunda menatapku dengan tatapan tak percaya.
"Aku serius Bunda, bahkan aku bisa buktiin," aku pun menjawab pertanyaan bunda dengan santai.
"Memang nya, kamu dapat bukti darimana Nak?" Bunda tampak penasaran dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Teman aku Bun, kebetulan ayah nya pengelola keamanan, jadi ada rekaman CCTV." Aku sengaja berbohong pada bunda.
"Ya Tuhan, kenapa Tante Isma tega berbuat kayak gitu sama kita ya Nak, apa salah kita sama dia?" Bunda tampaknya percaya dengan ucapanku, bahwa Tante Isma penyebab segala petaka yang terjadi.
"Bunda … kita udah nggak aman lagi disini Bun, kita harus pindah sementara waktu!"
"Pindah? Tapi pindah kemana Sayang?" Bunda kembali mengerutkan dahinya.
"Ke Luar Negeri Bun atau ke luar kota, apa Bunda mau?"
"Tapi pindah itu nggak gampang Sayang,"
"Aku tau Bun, tapi ini demi keselamatan kita,"
"Bukan Gitu Sayang, terus yang ngurusin Toko sama Perusahaan Bunda siapa kalau kita pindah ke luar Negeri?"
"Ya kalau Bunda percaya, aku bisa kok Bun, aku siap gantiin Bunda sementara waktu sampai Bunda lahiran nanti,"
"Ah kamu ada-ada aja Nak! Bunda bukan nya nggak percaya sama kamu Sayang, tapi mengelola perusahaan itu nggak mudah Sayang,"
"Bunda aku serius Bun, kita udah nggak aman lagi Bun tinggal disini, please Bunda kita pindah ya?" pintaku. "Kalau soal perusahaan, kan Zena bisa bantu kita juga, dia paham kok Bun gimana cara mengelola perusahaan …"
"Hmm ... tapi kita kan belum persiapan apa-apa Sayang, tempat tinggal belum ada, persiapan yang lainnya juga belum ada Nak,"
"Tapi, Bunda setuju kan kalau kita pindah?"
"Iya Sayang, kalau memang demi keselamatan kita lebih baik kita pindah aja dulu untuk sementara waktu, sampai keadaan disini aman lagi,"
"Oke Bunda, pokoknya Bunda tinggal berangkat aja kalau udah waktu nya, biar aku yang siapin semuanya ya Bun?"
"Kamu serius Nak?"
"Aku serius Bunda, pokoknya Bunda tinggal duduk manis aja, biar semua kebutuhan kita aku yang urus Oke?" Aku berusaha meyakinkan bunda agar bunda setuju dengan ajakanku.
"Ya udah deh, Bunda percaya kok sama kamu …" Akhirnya bunda menyetujui ajakanku untuk segera pindah rumah secepatnya, walaupun aku dan Bunda sempat terlibat perdebatan kecil.
"Makasih ya Bunda," ucapku pada bunda.
"Iya Sayang … oh iya, kamu pasti butuh uang kan buat biaya pindahan kita? Nanti Bunda kasih ATM Bunda sama kamu ya!"
"Emm ... Iya Bunda, tapi aku punya tabungan kok Bunda, InsyaAllah cukup buat kebutuhan kita selama 3-4 bulan,"
"Nggak usah Sayang itu uang kamu Nak, kamu simpan saja biar Bunda aja kalau soal keuangan ya?"
"Emm ... oke deh Bunda, aku nurut aja sama Bunda,"
Usai berbincang-bincang dengan bunda, aku segera bergegas kembali ke kamar untuk memberi kabar pada Zena.
__ADS_1
Zena pun menyuruh ku menunggu sekitar dua hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Sementara aku harus memastikan keadaan aman terkendali.
Usai mengabari Zena, aku pun segera kembali ke ruang family dan tidur bersama bunda.
Pukul 06.00 pagi.
Aktivitas di pagi hari ini seperti biasanya aku mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu bunda mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pergi nanti.
****
Dua hari pun tak terasa akhirnya berlalu.
Hari ini aku dan bunda akan pindah untuk sementara waktu. Semua perbekalan sudah selesai disiapkan, aku tak membawa banyak pakaian, hanya membawa beberapa helai saja dan barang-barang penting.
Aku memastikan terlebih dahulu bahwa Tante Isma tidak tahu akan kepergian bunda dan ku lihat dalam rekaman CCTV, sepertinya Tante Isma sedang bersama ayah di rumah kelam itu.
Tak lama setelah memastikan semuanya aman terkendali, Zena pun menghubungi ku dan siap untuk menjemput ku.
Bunda pun sudah siap untuk berangkat, tapi tiba-tiba bunda sepertinya lupa akan sesuatu.
Aku dan bunda berbincang-bincang di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Zena.
"Sayang, Bunda lupa belum hubungi ayah!" Cetus bunda, sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Nanti aja Bunda, kalau sudah sampai. Oh iya Bun, nanti tolong jangan bilang sama ayah ya, kalau kita pindah?" Tegas ku pada bunda.
Aku lupa belum sempat melarang bunda untuk memberitahu ayah tentang kepindahan kami, beruntung bunda memang belum memberitahu ayah sama sekali, mungkin bunda lupa.
"Loh, kenapa Sayang? Terus ayah gimana?" Bunda menatapku heran.
"Bunda … ayah nggak sepaham sama kita, ayah nggak tau apa-apa, kalau kita bilang tiba-tiba mau pindah yang ada nanti ayah malah salah paham Bun, biarin aja ayah mah disini, lagi pula kan ayah jarang pulang," Aku berusaha meyakinkan bunda dengan alasan yang logis.
"Terus kalau gitu Bunda harus bilang apa sama ayah Nak?" Tanya bunda, tampaknya bunda merasa bingung dengan permintaanku.
"Bunda bilang aja kalau di sekolah aku ada Tur Khusus untuk kelas 12 dan lamanya itu kurang lebih selama 3 bulan. Jadi, Bunda ikut untuk membimbing, gitu aja kali ya Bun?" Aku mengusulkan bunda untuk berbohong pada ayah.
"Ok deh Sayang, nanti Bunda cari alasan sama ayah kamu!" Ucap bunda.
Bunda ternyata setuju dengan saranku dan tak marah padaku karena membohongi ayah.
"Iya Nak kamu tenang aja, Bunda tau kok!" tutur bunda.
Aku beruntung memiliki bunda yang selalu berusaha memahamiku.
Tak lama, Zena pun akhirnya datang untuk menjemputku dan bunda. Tak banyak basa-basi lagi kami pun segera bergegas pergi meninggalkan rumah bunda yang sederhana ini.
Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan bagaimana rencana ku selanjutnya.
Bunda sepertinya penasaran, kemana Zena akan membawaku dan bunda pergi.
Sama halnya denganku, aku pun merasa penasaran karena Zena belum sempat memberitahu aku kemana kita akan pindah.
"Sayang, sebenarnya kita mau pindah kemana sih?" Tanya bunda padaku.
"Ke luar kota Tante," timpal Zena.
"Luar kota? Memangnya disana sudah ada tempat buat kita tinggal?" Bunda tampak sedikit terkejut dan khawatir.
"Ada Tante, aku udah siapin semua nya, sesuai sama permintaan Sherin," sahut Zena dengan santai.
"Oh gitu, oke deh makasih banyak ya Zena? Maaf ya Tante sama Sherin jadi banyak ngerepotin kamu Nak …"
"Sama-sama Tante, aku sama sekali nggak pernah merasa repot kok,"
****
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami sampai pada tujuan dengan selamat.
Dari halaman terlihat sebuah bangunan dengan desain yang modern. Ternyata Zena menyiapkan Villa itu untuk ku dan bunda tinggal nantinya, Villa yang tidak terlalu besar, namun terlihat mewah dengan fasilitas yang lengkap, sepertinya bunda akan nyaman tinggal disini.
"Akhirnya kita sampai juga, langsung masuk aja yuk?" Ajak Zena, sambil membantuku membawakan barang-barang bawaanku dan juga bunda.
Aku dan bunda pun segera mengikuti langkah Zena yang menuntunku masuk ke dalam Villa itu. 'Wah ... sungguh mewah.' gumamku.
"Zena Villa semewah ini pasti nya mahal kan Nak?" Tanya bunda pada Zena.
__ADS_1
Ternyata pertanyaan yang bunda lontarkan pada Zena itu sama seperti apa yang ada dalam pikiranku.
"Nggak kok Tante … Villa ini punya ku, pemberian dari ayah dulu, jadi Tante boleh tinggal disini selama Tante mau," jawab Zena.
"Oh gitu ya, aduh … Tante benar-benar jadi nggak enak sama kamu atau entar biar Tante sewa aja ya Nak?"
"Udah Tante, nggak usah dipikirin ya? Sekarang Tante langsung istirahat aja di kamar, Tante pasti capek kan habis perjalanan jauh?"
"Ya udah deh, nanti biar kita bicarakan lagi soal itu ya? Kalau gitu Tante istirahat dulu, badan Tante rasanya pegal semua, kamu juga istirahat ya?"
"Apa Tante mau aku panggilkan tukang urut?"
"Nggak usah Zen, Tante cukup istirahat aja nanti juga baikan kok,"
"Beneran Tante? Kalau Tante sakit biar aku panggilkan aja Tan,"
"Nggak Nak makasih, Tante istirahat aja,"
"Oke deh Tante, kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa, Tante jangan sungkan bilang sama aku ya Tante?"
"Iya Zen, makasih banyak ya udah mau direpotkan sama Tante dan juga Sherin …"
"Iya Tante, sama-sama aku gak repot sama sekali kok Tante …"
Bunda hanya membalas ucapan Zena dengan senyuman, kemudian aku pun segera mengantarkan bunda ke kamarnya, lalu aku berbincang-bincang di luar bersama Zena, sambil menikmati suasana yang terasa damai disini.
"Sherin, sini deh! Aku mau nunjukin sesuatu," ajak Zena sambil menarik tangan ku.
"Iya Zen, ada apa sih? Kamu mau bawa aku kemana?" Tanyaku, sambil berusaha mengimbangi langkah Zena yang tiba-tiba itu.
"Udah ikut aja yuk," Zena tak memberitahuku kemana dia akan membawaku pergi.
Akhirnya aku hanya mengikutinya saja.
Ternyata Zena membawaku ke halaman belakang.
Tapi tiba-tiba mataku seakan terpana melihat hamparan luas, sungguh indah pemandangan alam dari atas sini.
Angin sepoi-sepoi dengan pemandangan alam yang terbuka, rasanya hati dan pikiran ku mendadak terasa tenang dan damai.
Kuhirup dalam-dalam udara yang sangat menyegarkan itu.
"Wah ... Indah banget Zen disini!" Sambil ku rentangkan kedua tanganku lebar-lebar menikmati hembusan angin yang sejuk dan pemandangan yang membuatku terpesona itu.
"Apa kamu suka Sher?" Tanya Zena.
"Aku suka banget disini Zen," jawabku.
Disini rasanya semua beban seakan hilang.
"Syukurlah kalau kamu suka, ada satu hal lagi Sher yang mau aku tunjukin sama kamu," tutur Zena.
"Apa?" Tanya ku.
Akupun segera mengalihkan pandanganku pada Zena.
"Nih handphone buat kamu!" Zena tiba-tiba menyodorkan ponsel itu padaku.
Akupun refleks mengernyitkan dahi. "Tapi, buat apa Zen? Aku udah punya kok!" Aku hanya diam tak menerima ponsel itu.
"Kita duduk dulu yuk di sana!" Ajaknya, sambil menunjukkan sebuah ayunan tak jauh dari tempat aku dan Zena berdiri. "Disana kita bisa ngobrol sambil menikmati suasana," lanjutnya, sambil kembali menarik tanganku dengan lembut.
Akupun hanya bisa mengikuti langkahnya, kemudian aku dan Zena duduk di atas kursi yang terbuat dari rotan yang dimodifikasi sedemikian rupa.
"Di Villa ini aku udah pasang CCTV dari berbagai arah, jadi kamu bisa lihat semuanya dari handphone ini. Tenang aja, nggak akan ada orang yang tahu kok termasuk bunda kamu. Terus aku juga udah sewa beberapa penjaga, ada satpam, ada asisten rumah tangga, dan juga beberapa bidan yang akan jagain bunda kamu selama berada disini, aku juga udah sambungkan beberapa kamera, ke handphone ku. Tapi kamu tenang aja, di handphone ku cuma bisa melihat area luar Villa aja kok." Zena kembali memecahkan keheningan dan melanjutkan ucapannya menjelaskan panjang lebar padaku.
"Ya ampun Zen kamu sampai segitu nya, makasih banyak ya Zen? Kamu selalu ada buat aku saat aku susah, aku nggak tau gimana caranya bisa balas semua kebaikan kamu Zen!" Aku memang tak habis pikir mengapa Zena selalu baik padaku, sementara aku tak tahu bagaimana cara membalas budi baik Zena pada ku dan keluargaku.
"Sama-sama Sher … udah ya gak usah dipikirin ah, aku pasti akan selalu ada buat kamu Sher," Zena melempar senyumannya yang menawan itu padaku.
"Tapi Zen … kenapa kamu sampai sebaik ini sama aku? Apa kamu nggak takut kalau ternyata aku ini orang jahat?"
"Karena kamu teman spesial di hati aku. Kalau kamu jahat aku juga nggak peduli, aku tetap bakalan baik sama kamu. Pokoknya, selagi ada aku, nggak boleh lagi ada yang nyakitin kamu Sher," sahut Zena.
"Makasih banyak ya Zen, aku juga pasti berusaha semampuku buat bantu kamu, kalau kamu lagi ada masalah,"
"Iya Sherin, udah nggak usah dibahas lagi, hmm … kita nikmati aja pemandangan disini, oke?"
__ADS_1
Aku pun hanya bisa mengangguk setuju pada Zena.