
PoV Rahma
Namaku Rahma Anindita, Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kedua orang tua ku sudah meninggal sejak aku Sekolah Dasar.
Sejak saat itu, aku dan kakak ku diasuh dan dibesarkan oleh asisten rumah tangga ibu ku, bi Isah.
Kakak ku seorang laki-laki namanya Raditya. Kakak begitu menyayangi ku, walaupun sifat kakak keras kepala dan pemarah tapi dia tidak pernah sedikitpun membentak ku.
Dia selalu melindungi dan membela ku setiap kali aku terkena masalah, entah itu masalah dengan teman-teman ku yang iri atau masalah lainnya.
Sayang nya, setelah aku lulus SMA kakak sakit keras akibat tumor otak di kepalanya dan akhirnya meninggal dunia.
Aku sudah terbiasa hidup sendiri sejak ditinggalkan oleh semua orang yang aku sayang, aku berjuang sendirian meneruskan perjuangan kedua orang tua ku, mengelola perusahaan milik ayah dan sampai saat ini akhirnya perusahaan itu berkembang pesat.
Aku juga berhasil menempuh pendidikan ku hingga ke tingkat S2. Aku menjadi Sarjana termuda pada zaman ku dulu.
Setelah lulus, kemudian aku menikah dengan laki-laki yang pendidikan nya di bawah ku, Mas Edi hanya lulusan SLTA.
Suamiku hanya orang biasa-biasa saja, tapi dia begitu perhatian terhadapku dan mencintai ku hingga aku melahirkan seorang putri, putri yang sangat cantik jelita.
Namun sejak saat itu, sikap suamiku mulai berubah. Mas Edi lebih sering mengacuhkan ku apalagi pada putrinya, Sherina Leonicera.
Bahkan sewaktu Sherin masih bayi, suami ku Mas Rendi Prasetyo, aku lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan Mas Edi, sejak saat itu Mas Edi sudah jarang sekali pulang ke rumah dengan alasan mencari nafkah.
Tapi, aku percaya bahwa Mas Edi adalah laki-laki yang setia.
Sampai pada saat itu Mas Edi mengalami kecelakaan parah 2 tahun yang lalu, aku yang menggantikan peran suamiku dam menjadi tulang punggung keluarga.
Tapi sejak saat itu pula aku bisa lebih leluasa untuk lebih fokus mengembangkan perusahaan peninggalan ayahku, hingga puncak kesuksesan ku saat ini.
Mas Edi sama sekali tidak mengetahui tentang perusahaan itu, karena sejak awal menikah, Mas Edi melarang ku untuk bekerja mencari uang, karena hal itu aku pun memutuskan untuk mengembangkan perusahaan secara diam-diam.
Beruntung ada orang kepercayaan ayah yang membantu ku mengelola perusahaan tersebut, jadi akupun bisa mengontrol semuanya dari rumah, hingga suami ku tak mengetahuinya.
Sejak Mas Edi berbaring koma di rumah sakit, aku mulai membangun Toko Grosir makanan agar mas Edi tidak menaruh curiga darimana aku mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dan setelah pulih dari kecelakaan itu, Mas Edi selalu ingin membangun bisnis nya sendiri. Aku memberikan modal berkali-kali pada nya, tapi alhasil bisnis yang dijalani nya selalu ambruk dan rugi besar.
Aku sebenarnya tak perlu mas Edi memberiku uang, aku sudah punya semua yang aku butuhkan, rumah mewah, kendaraan mewah, uang, semuanya sudah ku miliki, aku sekarang sudah jadi pengusaha sukses.
Tapi aku begitu menghargai usaha suami ku dan memang sudah menjadi kewajiban nya untuk menafkahi aku dan anak nya.
Aku juga lebih nyaman dengan kehidupanku yang sederhana, karena aku tidak pernah kekurangan materi.
Walaupun aku kecewa dengan suami ku, bukan karena suami ku orang miskin, tapi karena dia tidak menerima kehadiran putri ku, Sherin.
Padahal Sherin anak yang baik, dia putri yang sangat cantik melebihi kecantikan ku.
Sherin juga anak yang jenius karena sejak usia 4 tahun dia sudah bisa khatam Al-Qur'an berikut arti nya dan juga menguasai beberapa bahasa internasional.
Sherin selalu membuatku bangga dengan prestasi nya yang melebihi ku, dia tak pernah mengecewakan ku sedikit pun.
Orang tua mana yang tak bangga memiliki anak seperti Sherin. Bagiku, anakku Sherin adalah anugerah terindah yang paling sempurna.
Tapi sayang nya Mas Edi tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki nya, dia tetap tak menginginkan anak perempuan, karena hal itu pula aku belum ingin memiliki keturunan lagi.
__ADS_1
Namun takdir berkata lain, tanpa di duga aku ternyata hamil lagi di usia ku yang sudah memasuki masa tua, padahal aku tak pernah terlambat memakai alat kontrasepsi atau KB.
Aku pun menerima takdir ku, aku juga bersyukur anakku Sherin begitu melindungi dan menjagaku sepenuh hati.
Tapi sejak aku dirawat beberapa waktu lalu di Klinik Dokter Spesialis Kandungan, aku melihat gelagat aneh yang dilakukan oleh anak ku Sherin, seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Sampai waktu itu, Sherin meminta uang padaku yang katanya untuk Shopping bersama teman-temannya.
Tapi dia menghabiskan banyak uang dengan total puluhan juta hanya untuk membeli 1 buah handphone saja.
****
Pada sore hari, saat aku hendak menemui Sherin di kamar nya, tampaknya Sherin sedang di kamar mandi, aku pun berniat untuk kembali.
Tapi ketika aku hendak pergi dari kamar anakku, tak sengaja ku lihat ada sesuatu dalam tas nya yang terbuka, akupun merasa penasaran dan segera melihatnya, ternyata ada sweater, topi, kacamata, masker dan juga barang-barang lainnya.
Sejak saat itu aku mulai menaruh curiga pada Sherin karena barang-barang itu belum pernah aku lihat sebelumnya, tapi aku berusaha berpikiran positif karena selama ini Sherin tak pernah berbuat sesuatu yang tak lazim. Aku pikir mungkin barang-barang itu dibeli nya saat sedang belanja bersama teman-teman nya.
Namun hal itu tidak hanya terjadi satu kali. Aku lihat ada barang-barang mewah di kamar anakku, tak mungkin anakku memiliki uang sebanyak itu untuk membeli semua barang-barang mewah nya itu.
Barang-barang semewah itu mungkin menghabiskan uang puluhan juta Rupiah untuk membelinya, namun Sherin mengatakan itu diberikan oleh teman nya sebagai hadiah perpisahan sekolah.
Aku mulai mengkhawatirkan anak ku, aku sempat akan menyuruh seseorang untuk mengawasi anak ku dari jauh, tapi aku urungkan karena aku masih percaya, anakku Sherin tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh yang dapat merugikan diri sendiri.
Tapi, semakin hari aku semakin merasa ada yang tidak beres yang disembunyikan oleh Sherin, aku juga menaruh curiga terhadap suami ku karena setiap kali dia pulang, Mas Edi tak pernah membawa apapun apalagi uang.
Katanya kerja, tapi tidak pernah memberiku uang sepeserpun.
Akhirnya saat Sherin mengajak ku pindah ke luar kota, aku memutuskan untuk menyuruh anak buah ku mencari tahu dan memantau kegiatan suami dan anak ku di luar sana, lalu melaporkan nya pada ku.
Aku sangat kecewa, hati ku terasa tercabik-cabik, rasa sakit ini tak bisa aku jelaskan rasanya hancur sudah hubungan rumah tangga ku bersama suami ku Mas Edi selama ini.
Yang lebih mengejutkan lagi, anak ku Sherin ternyata sudah mengetahui perbuatan ayah nya selama ini, tapi dia menyembunyikan nya dari ku.
Hingga pada akhirnya anak buah ku memberi laporan bahwa Bas Edi membawa Isma ke rumahku, aku tak mungkin hanya diam saja.
Aku tak tahan dengan semua itu, kemudian aku memutuskan untuk kembali ke kotaku di sore hari dan langsung menginap satu malam di penginapan.
Di malam hari aku tak dapat tertidur dengan pulas, hatiku gelisah, pikiranku terasa kalut berantakan, rasanya aku tak sabar ingin segera pulang ke rumah dan menunggu pagi tiba.
***
Sampai pada pagi hari, aku segera bergegas pulang ke rumah untuk memergoki perselingkuhan Mas Edi dengan Isma.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Namun aku terkejut karena ternyata sudah ada Sherin, Zena dan juga mas Edi di ruang tamu dan aku sama sekali tak melihat Isma disana.
"Bunda?" Tanya Sherin dan Mas Edi dengan serempak.
"Sherin, Zen, kok ada disini?" Tanyaku. Aku sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku ... Bunda kok pulang? Bunda sama siapa kesini? Kok nggak bilang-bilang sama aku kalau Bunda mau pulang?" Sahut Sherin.
"Bunda kesini mau ketemu Ayah kamu," ulas ku, singkat.
__ADS_1
Langsung saja aku menginterogasi suami ku, yang sejak tadi hanya diam saja.
"Mas, mana Isma? Bukannya Mas semalaman bersama Isma?" Tanya ku pada suami ku. Aku tak ingin banyak basa-basi lagi.
"Nggak ada Bunda, kata siapa Ayah semalam bersama Isma, kamu ada-ada aja!" Sahut mas Edi, masih berusaha mengelak.
"Cukup Mas, aku udah tau semuanya, aku nggak nyangka kamu tega sama aku Mas, kenapa kamu khianati aku Mas? Apa Isma jauh lebih baik daripada aku?" Teriak ku. Rasanya aku tak tahan ingin meluapkan semua perasaanku pada mas Edi.
"Kamu ngomong apaan sih Sayang? Aku nggak ngerti maksud kamu," Mas Edi masih bisa-bisanya tidak mengakui perbuatannya.
"Oh, kamu nggak mau ngakuin kalau kamu selingkuh Mas? Oke,"
Aku segera memanggil anak buah ku untuk menjadi saksi dan mereka pun langsung datang menghampiri.r
"Syam, joko, apa benar kamu melihat suami saya bersama wanita ini?" Tanya ku sambil memampang foto Isma yang ku dapat dari medsos nya.
"Benar Bu, beberapa waktu lalu beberapa kali saya melihat Bapak membawa wanita itu ke sebuah rumah tak jauh dari sekolah Non Sherin dengan memakai sepeda motor, dan kemarin saya melihat Bapak membawa wanita itu ke sini Bu, saya ada rekaman videonya," Jawab Syam, orang yang aku suruh untuk memata-matai suamiku.
"Kamu dengar Mas apa yang dikatakan Syam? Kamu nggak usah ngelak lagi Mas, aku udah tau semuanya," ucap ku pada Mas Edi.
"Sayang, Bunda, maafin Ayah ya? Ayah nggak ada maksud buat hianatin kamu Sayang, Ayah cuma ..." (terdiam)
"Cukup Mas, aku nggak nyangka sama kamu Mas, kamu benar-benar keterlaluan, kamu tega berbuat seperti itu, kenapa kamu khianati pernikahan kita Mas? 20 tahun kita hidup bersama, tapi sekarang kamu hancurin gitu aja keluarga kita, aku sangat kecewa sama kamu Mas. Mulai besok aku akan urus perceraian kita," bentak ku.
Rasanya aku sudah tak tahan ingin menangis, tapi laki-laki seperti Mas Edi tak pantas untuk ditangisi.
"Maafin aku rahma, tolong kamu jangan ceraikan aku ya? Aku minta maaf, aku khilaf, aku janji gak akan ngelakuin itu lagi, aku mohon maafin aku ya? Aku gak mau cerai sama kamu, tolong …" lirihnya, sambil menggenggam erat tanganku.
"Udah lah Mas aku capek, aku nggak mungkin mau hidup sama penghianat kayak kamu, kamu teruskan saja hubungan kamu dengan wanita ****** itu, aku akan tetap dengan keputusan ku, kita cerai saja!" Lalu ku hempaskan tanganku. Tapi Mas Edi tetap memohon tak melepaskanku.
"Rahma please, izinkan aku menjelaskan semuanya ya? Aku mohon sekali aja," Mas Edi terus memohon padaku.
"Apalagi yang mau kamu jelasin Mas? Semuanya sudah jelas, gak ada yang perlu kamu jelaskan lagi." Pungkas ku.
"Dari awal, Isma yang deketin aku. Sampai akhir nya aku tergoda oleh nya, setelah hubungan itu berjalan, aku mulai berpikir akan mengakhiri hubungan dengan Isma, karena aku tau kamu sedang mengandung anakku, tapi Isma gak mau lepasin aku, dia mengancam akan mencelakai kamu dan keluarga kita jika aku sampai mengakhiri hubungan ku dengan nya, bahkan jika aku pulang ke sini dia selalu mengancamku akan membunuh anak dalam kandunganmu, aku tak ingin kamu kenapa-kenapa apalagi anak yang tak bersalah, kamu percaya kan sama aku Rahma? Kali ini saja, aku mohon kamu harus percaya sama aku, aku gak bermaksud menghianatimu Rahma," Mas Edi memberikan penjelasan yang tak masuk akal menurutku.
"Kalau kamu memang masih menginginkan aku, kamu gak akan tergoda sama wanita lain Mas. Sudahlah semuanya sudah terlanjur Mas, mulai sekarang lebih baik kita jalani saja hidup kita masing-masing, di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu di pertahankan, aku nggak sudi hidup bersama laki-laki yang gak setia, apalagi bekas wanita ****** itu," tegasku.
Aku benar-benar sangat kecewa pada suamiku, selama ini aku selalu menghormatinya, aku selalu mempercayainya. Tapi semudah itu baginya menghancurkan kepercayaan yang sudah aku berikan padanya.
"Rahma aku mohon, maafin aku ya? Aku benar-benar menyesal sudah mengkhianati pernikahan kita, kamu boleh caci maki aku, kamu boleh pukul aku, kamu boleh marah sama aku, tapi aku mohon jangan ceraikan aku ya? Demi anak kita," mas Edi terus saja membujuk ku.
"Dari awal kamu gak pernah menerima kehadiran Sherin Mas, aku sanggup kok menghidupi anak-anak ku sendirian, sudah lah Mas aku lelah, tak ada yang perlu dibicarakan lagi," Ku lepas paksa tangan Mas Edi dan akupun segera mengakhiri perdebatan ku dengannya.
Walaupun aku belum merasa puas hati meluapkan semua emosi ku pada Mas Edi.
Ada Sherin dan Zena yang melihat ku, jadi aku masih berusaha menahan segalanya.
"Sherin, Zen, ayo kita pergi dari sini Nak …" Aku segera mengajak Sherin dan Zena untuk segera bergegas pergi meninggalkan rumah.
"Iya Bunda," sahut Sherin.
Aku segera pergi dari rumah ku bersama Sherin, Zena dan kedua anak buah ku meninggalkan suami ku, Mas Edi.
Mas Edi berusaha menghalangi ku dan terus memohon agar aku tidak pergi, tapi aku menghiraukannya dan mempercepat langkahku.
__ADS_1