Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Hari yang buruk


__ADS_3

*****


Terdengar suara bunda memanggil-manggil namaku, aku pun segera menghampiri bunda dengan di papah oleh Zena, karena kaki ku sudah mulai sedikit membengkak.


Sementara Mang Barus segera membantu Mang Nanang membasmi hama kiriman itu.


"Iya Bunda, ada apa?" Tanya ku pada bunda. 


"Ya ampun Sayang, itu kaki kamu kenapa Nak? Kenapa bisa bengkak?" Bunda tampak panik melihat keadaanku.


"Ini Tante, tadi Sherin di sengat kalajengking," timpal Zen.


"Ya tuhan, kok bisa sih Sayang kaki kamu disengat kalajengking, gimana ceritanya? Udah, kamu ke Klinik ya Nak? Obati kaki kamu, Bunda khawatir racun nya semakin menjalar," 


"Inshaallah aman Tante, racun nya nggak akan sampai menjalar, tadi sudah aku keluarin racun nya," ucap Zen.


"Di keluarin gimana Zen? Ini bengkak gini kok kaki Sherin," bunda setengah marah pada Zena, mungkin karena terlalu khawatir padaku.


"Udah Bunda, jangan panik dulu ya? Tadi Zen udah hisap racun nya kok Bun, kaki aku juga udah nggak se sakit dan sepanas tadi. Bun, Bunda tadi lari-lari ya? Sekarang perut Bunda sakit ya?" Aku pun menjelaskan semuanya pada bunda agar bunda sedikit lebih tenang, kemudian kutanyakan kembali kondisi kesehatan bunda.


"Tapi kaki kamu harus di obatin Nak, biar nggak bengkak! Bunda nggak apa-apa kok, cuma sakit sedikit aja Sayang, cuma tegang aja kok mungkin tadi Bunda terlalu panik," sahut bunda.


"Maaf Tante, aku potong dulu ya … aku izin mau bantu basmi kalajengking nya dulu di belakang," cetus Zen.


"Oh iya Zen, makasih banyak ya Nak? Udah nolongin Sherin juga udah mau bantu kita," ucap bunda pada Zena.


"Sama-sama Tante, Sherin kan teman aku jadi aku ikhlas kok bantu Sherin dan Tante, kalau gitu aku permisi dulu ya, Tan?"


Bunda pun tersenyum dan mengangguk, setelah Zen pergi kami melanjutkan obrolan.


"Sayang, pokoknya kamu harus berobat ya? Nanti diantar sama Mang Barus,"


"Iya Bun, tapi Bunda juga harus periksa kandungan Bunda ya? Aku takut terjadi apa-apa sama Bunda dan adik aku,"


"Bunda nggak apa-apa Sayang, serius, cuma keramas doang itu pun tadi, biar Bunda istirahat aja kamu yang berobat ya Nak?"


"Ya udah deh kalau gitu, tapi Bunda janji ya kalau Bunda ngerasain sesuatu, Bunda langsung ngomong sama aku ya?"


"Iya Sayang, kamu tenang aja,"


"Bunda, aku rasa ini perbuatan Tante Isma lagi deh," pekik ku. 


Aku benar-benar tak habis pikir dengan perbuatan bejat teman bunda yang bernama Isma itu. 


Rasanya ingin sekali aku membongkar semuanya di depan hukum agar teman bunda itu mendapatkan hukuman yang seadil-adilnya.


"Iya Nak mungkin aja, soalnya nggak mungkin tiba-tiba ada banyak kalajengking dan ulat bulu di rumah kita," tutur bunda. 


Sepertinya bunda sekarang mulai mempercayai ucapanku kalau Tante Isma lah  yang berniat mencelakai bunda.


"Bun, aku rasa sudah saat nya kita balas perbuatan jahat nya, ini sudah keterlaluan Bun, udah nggak bisa di biarin!" 


"Balas gimana Sayang? Kamu jangan buat yang aneh-aneh ah,"


"Maksud aku kita laporin gitu Bun, ke polisi biar polisi yang menangani,"


"Tapi kita nggak punya bukti Sayang, kalau kita lapor bisa aja Tante Isma melaporkan balik kan Sayang?"


"Emm ... aku punya bukti Bunda, tapi butuh proses,"


"Bukti apa Nak?" Bunda menatapku penasaran.

__ADS_1


"Ada pokoknya Bun, nanti kalau udah ada aku kasih lihat sama Bunda,"


"Loh kok bisa gitu sih Sayang?" Tanya bunda, semakin menatap heran padaku.


"Iya Bun pokok nya kita lihat nanti aja! Oh iya, Bunda ada nggak kontak Cleaning Service? Rumah kita harus benar-benar di bersihin, takut ulat bulu nya masuk ke rumah,"


"Iya deh, ada Sayang, nanti Bunda hubungi deh,"


****


Sore hari, Mang Nanang, Mang Barus dan juga Zena selesai membunuh para kalajengking dan ulat bulu itu, lalu menumpuk bangkai hewan-hewan itu di dalam tong sampah.


Setelah dihitung ternyata ada 23 ekor kalajengking dan ulat bulu tidak bisa dihitung jumlah nya.


Aku merasa heran pada Tante Isma, darimana dia mendapatkan kalajengking dan ulat bulu sebanyak itu. 


Mang Nanang berniat untuk membakar mayat-mayat hewan itu, namun aku menyarankan agar jangan dulu dibakar, untuk dijadikan barang bukti. 


Akhirnya Mang Nanang hanya menyimpannya dalam plastik sampah dan sengaja disimpan dipojokkan halaman belakang agar nanti jika bangkainya mulai membusuk, aromanya tidak tercium sampai ke dapur.


Setelah semuanya selesai, Zena pun mengantarku ke Klinik untuk mengobati kaki ku.


Aku pikir perbuatan Tante Isma sudah harus cepat diatasi.


'Apa mungkin aku harus kasih tau tentang suami Tante Isma pada Zen? Tapi aku khawatir Zen marah dan nggak bisa mengontrol emosi nya.' pikir ku.


"Hei, Sherin, kenapa bengong?" Zena tiba-tiba membuat ku terperanjat karena kaget.


"Eh iya, nggak kok," 


"Udah, nggak usah di pikirin, semuanya baik-baik aja kok," ucap Zen, seakan mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan.


"Bukan gitu Zen, masalah tadi kayaknya udah nggak bisa di biarin, ini menyangkut keselamatan Bunda!"


"Iya," jawabku, singkat.


"Siapa?" Ada rasa penasaran yang dalam dari tatapan Zena padaku.


"Ada, seseorang," 


"Kamu tau orang itu siapa Sher?"


"Iya, aku tahu Zen,"


"Kalau gitu kita lapor saja ke polisi, kamu punya bukti nggak atau apa gitu?"


"Punya Zen, tapi aku nggak bisa laporin gitu aja,"


"Loh, kenapa Sher?"


"Cerita nya panjang Zen, dan masalah ini rumit,"


"Ya udah, selesai berobat kita cari tempat yang nyaman, kamu ceritain semuanya sama aku ya Sher? Aku pasti bantu sebisa ku, aku janji! Apalagi ini menyangkut keselamatan kamu dan keluarga kamu, kamu percaya kan sama aku Sher?"


Aku berpikir sejenak lalu mengangguk.


Setelah berobat, Zen membawa ku ke suatu tempat yang nyaman, di atas bukit sembari menikmati pemandangan senja dari atas bukit itu.


"Sherin, gimana, kamu udah bisa tenang belum? Sekarang disini cuma ada kita berdua, kamu bisa cerita semuanya sama aku ya?"


"Iya Zen, tapi aku nggak tau harus mulai darimana,"

__ADS_1


"Hmm, dari orang yang meneror keluarga kamu?"


"Oke, kalau gitu aku mau nunjukin sesuatu sama kamu,"


Lalu aku mulai membuka ponselku dan menunjukan rekaman CCTV di rumah Tante Isma pada Zen.


"Ayah? Ini kan ayah ku Sher, iya … ini ayah ku, sedang apa dia disana?" Zena tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya dalam rekaman CCTV itu.


"Orang ini yang pernah aku bilang sama kamu, mirip dengan orang yang ada di foto waktu itu Zen," 


"Sher kamu jujur sama aku, darimana kamu dapatkan video ini?"


"Ceritanya panjang Zen, jadi apa kamu yakin orang itu adalah ayah kamu?"


"Iya Sher, ini jelas banget ayah ku,"


"Jadi, Om itu suami dari Tante Isma, tetangga ku Zen,"


"Hah? Apa benar ayah punya istri lain selain Ibu?" Zen tampak syok.


"Itu benar Zen, Om itu memang suami Tante Isma, kata bunda mereka menikah sejak aku masih SMP, tapi aku nggak tau cerita itu,"


"Jadi selama ini, ayah tiri ku itu mengkhianati ibuku, aku nggak pernah sangka ternyata ayah orang yang seperti itu Sher,"


"Kamu yang sabar ya Zhen, maaf aku nggak ada maksud buat memprovokasi kamu atau pun nyakitin perasaan kamu,"


"Nggak Sher, ini masalah yang harus diungkap, terus apa hubungan nya terror itu sama video ini Sher?"


"Tante Isma yang selama ini menerror bunda ku Zen."


"Astaga … ternyata gitu, tapi karena alasan apa Sher? Kenapa bisa kayak gitu?"


"Ini ... aku berat Zen cerita soal itu,"


"Sherin please trust me, aku janji bakalan bantuin kamu, kita hadapi masalah ini sama-sama ya? Ini menyangkut keluarga ku juga, kamu nggak harus hadapi masalah sebesar ini sendirian Sher ada aku, kamu cerita semuanya sama aku ya? Kita cari solusi nya sama-sama,"


Aku pikir, benar juga apa yang dikatakan Zen, aku memang tidak sanggup menyimpan rahasia sebesar ini sendirian, ada orang yang harus aku lindungi, dan masalah ini harus secepatnya diatasi, aku tidak bisa menunda waktu lebih lama lagi.


Akhirnya setelah berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Zen, kecuali masalah CCTV tersembunyi dan perbuatan ayah dengan Tante Isma.


Zen pun lalu mulai menyusun strategi, dia meminta ku untuk memasang CCTV di rumah ku, tapi strategi itu sudah jauh aku pikirkan dari awal, alasanku tetap menyimpan rahasia ini karena aku khawatir dengan kondisi bunda yang tengah hamil muda.


Aku khawatir kondisi kesehatan bunda akan memburuk jika bunda mengetahui rahasia besar ini, jadi aku memutuskan untuk merahasiakan semuanya sementara waktu.


"Sher, lebih baik kamu memasang CCTV di rumahmu, biar semuanya terbukti," saran Zen.


"Iya Zen, aku akan memasang CCTV di rumah ku."


"Kita diam-diam awasi Tante Isma itu, jika perlu kita pasang juga kamera pengintai di tempat Tante Isma,"


Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menangis mendengar saran-saran Zena yang sebenarnya sama sekali tidak membantu ku. Aku sudah memiliki semua bukti kejahatan Tante Isma, tapi hal itu pun menyangkut soal ayah, soal privacy keluarga.


Berat rasanya jika harus memberitahukan segalanya tentang keluarga ku pada Zen, Zena ini hanya sebatas teman, aku tidak tahu apa yang akan terjadi, bagaimana jika Zen suatu hari menghianati ku, bagaimana jika Zen ternyata orang yang tidak pantas aku percaya, semua rasa di hatiku bercampur menjadi satu, saat ini yang bisa aku lakukan hanya lah menangis.


Zen mungkin merasa bingung akan sikapku, tapi aku benar-benar belum bisa percaya sepenuh nya pada Zen.


Hanya ponselku yang menyimpan semua bukti, dan tinggal ku serahkan saja pada polisi. 


Tapi pada faktanya tak semudah itu, bagaimana dengan bunda, aku takut bunda tidak bisa menerima kenyataan itu hingga berefek buruk pada kesehatan bunda juga calon adik ku.


Zen hanya memeluk ku dan berusaha menenangkanku agar aku tak menangis lagi.

__ADS_1


Setelah aku merasa lebih baik, aku pun segera mengajak Zena untuk pulang. 


Zena pun setuju dengan ajakanku dan mengantarku pulang sampai rumah sebelum akhirnya Zena pun kembali pulang ke kediamannya.


__ADS_2