
*****
Di dalam mobil Zena.
"Bunda, Bunda yang sabar ya Bun," ucap anak ku, Sherin.
"Sayang kenapa kamu merahasiakan masalah sebesar ini Nak? Bunda tau kamu udah tau dari awal tentang perselingkuhan ayah kamu kan? Tolong kamu jujur sama Bunda ya, apa yang kamu tahu tentang ayah? Bunda janji gak akan marah sama kamu kalau kamu bicara jujur sama Bunda, kamu cerita semuanya sama Bunda ya Nak? Jangan ada lagi yang kamu sembunyikan dari Bunda," sahutku.
Aku berusaha mengorek informasi lebih lanjut dari Sherin tentang perselingkuhan Mas Edi.
"Bunda maafin aku ya, aku nggak ada maksud buat sembunyi-sembunyi dari Bunda. Tapi … itu semua aku lakukin demi Bunda, aku nggak mau Bunda kenapa-kenapa apalagi Bunda lagi mengandung adikku. Buat aku, gak ada yang lebih penting daripada keselamatan dan kesehatan Bunda," jawab Sherin.
Mendengar jawaban itu, rasanya hati ku semakin sakit. Kenapa mas Edi tak sedikitpun mengagumi anaknya, Sherin.
"Tapi ini masalah besar Nak, jadi kamu tau semuanya kan? Jujur sama Bunda Sayang …" Aku sedikit memaksanya agar Sherin bersedia mengatakan semua hal yang dia ketahui.
"Iya Bunda maaf …" sahutnya, seraya menundukkan kepala.
"Sekarang kamu cerita dari awal kenapa kamu sampai tau kalau ayah kamu selingkuh?" Tanyaku, aku semakin mendesaknya.
Kemudian Sherin menceritakan semua hal yang dia ketahui sejak awal, lalu menunjukan hasil rekaman CCTV dan kamera pengintai yang dipasang Sherin padaku.
Aku sungguh kehabisan kata, lidahku terasa kaku mengetahui kenyataan yang begitu pahit ini, dan ternyata anak ku Sherin sudah jauh melangkah lebih awal dan melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri demi melindungiku.
Saat ini yang bisa ku lakukan hanyalah menangis, apalagi saat ku lihat rekaman video panas perbuatan Mas Edi dengan Isma, rasanya hancur sudah hatiku yang rapuh ini.
Tapi aku berusaha ikhlas menerima takdirku, aku yakin Tuhan mungkin memiliki rencana lain yang lebih baik untuk kehidupanku kelak.
Aku harus tetap tegar dan kuat menghadapi segalanya, karena aku masih memiliki Sherin dan anak yang masih berada dalam kandunganku, yang harus aku jaga dan aku lindungi walaupun tanpa Mas Edi.
Demi kedua buah hatiku, aku rela mengorbankan segalanya.
"Bunda, maafin aku ya? Aku benar-benar nggak ada niat buat sembunyiin ini semua dari Bunda, aku cuma takut Bunda kenapa-napa," ucap anak ku, kemudian memeluk ku.
"Jadi kamu melakukan semua itu sendiri Nak? Apa kamu tau, itu bisa membahayakan diri kamu sendiri? Kenapa kamu lakuin itu sendirian Sayang? Kalau kamu kasih tau Bunda dari awal, Bunda bisa menyuruh orang buat menyelidiki semuanya! Gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu? Bunda gak mungkin bisa maafin diri Bunda sendiri …" tegas ku.
"Maaf Bunda …" Sherin memelas.
"Lain kali kalau kamu melakukan hal yang membahayakan diri kamu sendiri, Bunda gak akan maafin kamu Nak!"
Aku memberi Sherin peringatan agar dia tidak merahasiakan apapun lagi dariku.
"Nggak akan Bunda, aku janji …" ucap Sherin. Sherin pun berjanji tidak akan melakukannya lagi.
"Sekarang kita pergi ke kantor polisi, kita harus secepatnya laporkan masalah ini biar wanita ****** itu bisa mendekap di penjara," Rasanya jika teringat pada si pelakor itu, membuat emosi ku naik hingga ke ubun-ubun.
"Tapi Bun, gimana sama ayah? Dan lagi … Tante Isma itu adalah ..." Sherin (Terdiam)
"Kenapa Sayang? Ada apa sama wanita itu? Bunda sudah gak peduli lagi sama ayah kamu, apa kamu keberatan Sayang?" Tanyaku.
Aku refleks mengernyitkan dahi mendengar jawaban. Sepertinya masih ada sesuatu yang masih belum Sherin katakan padaku.
Namun tiba-tiba Zena teman anak ku, memotong obrolan ku dengan Sherin. "Nggak apa-apa kok Sher, kamu cerita aja semuanya sama Bunda kamu, aku sama sekali nggak keberatan kalau Tante Isma masuk penjara," timpal Zena, membuatku merasa bingung.
Aku semakin merasa penasaran, hal apa lagi yang belum Sherin ceritakan padaku.
"Ada apa sebenarnya ini Zen? Kamu kasih tau Tante apa yang terjadi sebenarnya?" Langsung saja ku tanyakan pada Zena dengan tak sabar dan akhirnya Zena pun membeberkan semuanya.
"Jadi gini Tante, sebenarnya Tante Isma itu Istri dari ayah tiri ku," Zena menjawabnya secara langsung.
"Astaga … jadi Isma itu Ibu tiri kamu Zen?" Aku refleks menutupi mulutku sendiri.
Jawaban Zena membuatku merinding setengah mati.
Ah, sungguh keterlaluan! Aku tidak menyangka ternyata masalah ini begitu rumit. Pantas saja Sherin begitu berani merahasiakan semuanya dariku, ternyata masalah ini juga berhubungan dengan keluarga temannya itu.
"Mungkin bisa dibilang begitu Tante. Tapi aku belum tau pasti Tan, entah ayah menikah lebih dulu dengan Tante Isma atau dengan ibu ku, lagipula ayah cuma ayah tiri dan siapa itu Tante Isma, kalau bukan tahu dari Sherin aku sama sekali gak kenal sama Tante Isma itu Tan," sahut Zena.
"Kapan Ibu sama ayah kamu menikah?" Tanyaku, penasaran.
"Sejak aku lulus SMP Tante, setelah ayah meninggal lalu Ibu menikah lagi dengan ayah tiri ku," Zena pun menjelaskan.
"Kalau begitu, berarti ayah kamu lebih dulu menikah dengan Isma. Karena setahu Tante, mereka menikah saat Sherin baru masuk SMP," pungkas ku.
__ADS_1
"Apa Tante punya bukti foto atau yang lain?" Tanya Zena, tampak berharap.
"Tunggu dulu, sepertinya Tante ingat pernah lihat di akun medsos Isma, biar Tante lihat semoga masih ada ya!"
"Oke Tan,"
Aku segera mengambil ponselku dan mulai mencarinya dalam akun media sosial milik Isma. Benar saja, foto itu masih ada di akun nya, bahkan video pernikahan Isma dan ayah tiri Zena pun masih ada, kemudian aku segera menyimpan foto dan video itu dalam ponsel ku dan memperlihatkan nya pada Zena.
"Ini Nak udah ketemu, Tante udah save di galeri, apa kamu mau lihat?"
"Mau Tante,"
Akupun segera memberikan ponsel ku pada Zena.
"Tante, boleh nggak aku minta share foto sama videonya?" Pinta nya.
"Boleh Nak! Nanti Tante share ya, tapi Tante nggak punya nomor kamu?"
"Ini nomor aku Tan, save aja," Zena pun menyimpan kontak nya dalam ponselku.
"Oh oke deh kalau begitu, kamu keberatan gak kalau Tante laporkan Isma ke polisi Nak?" Tanya ku sekali lagi untuk memastikan Zena tidak keberatan jika aku mengusut Isma.
"Enggak sama sekali Tante, sebaiknya jangan ditunda lagi. Aku malah bisa tenang kalau wanita keji seperti Tante Isma segera mendapatkan hukuman yang setimpal sama perbuatannya itu. Lagian Tante Isma bukan siapa-siapa kok, aku mana mungkin keberatan Tan," jawab nya. "Aku antar Tante ke kantor polisi!"
Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Zena dan mengangguk setuju.
Aku pun segera bergegas menuju kantor polisi dan langsung memberi laporan serta menyerahkan semua bukti kejahatan Isma pada polisi.
Usai di proses, polisi pun langsung bergegas untuk menangkap Isma ke kediamannya. Aku, Sherin dan Zen pun ikut serta dalam penangkapan Isma.
Sesampainya di lokasi, polisi langsung mengepung kediaman Isma dan sebagian dari Kru nya bergegas menuju rumah bordil milik Isma untuk menangkap semua orang yang terlibat.
Isma tidak merespon panggilan polisi saat polisi mengetuk pintu rumahnya.
Karena tak ada jawaban, akhirnya polisi pun terpaksa mendobrak pintu rumahnya, Isma sempat bersembunyi dari polisi tapi pada akhirnya polisi berhasil menangkap Isma.
Sepertinya Isma sudah bersiap untuk melarikan diri dari kejaran polisi, dilihat dari beberapa barang-barang yang sudah dikemasnya. Entah darimana Isma mengetahui jika polisi akan datang mencarinya, atau mungkin Isma berencana pindah hanya sekedar untuk berjaga-jaga saja jika sewaktu-waktu polisi datang menggerebek rumahnya.
Aku hanya menunggu di luar, menyaksikan Isma dibawa paksa keluar dari kediamannya oleh polisi.
Saat aku dan Isma saling berpapasan, Isma menatapku dengan tatapan penuh kebencian, kemudian berteriak memaki padaku.
"Dasar wanita sialan gak tau diri, awas aja kamu Rahma, aku akan balas perbuatan kamu!" Teriak Isma pada ku.
Aku pun tak mau diam saja dan segera membalas perkataan nya itu. "Heh pelakor ******, aku bakalan bikin kamu membusuk di penjara, lihat aja!" Sambil ku lemparkan senyuman sinis padanya. "Dasar wanita murahan, pelakor ******! Sampah masyarakat yang munafik ini enaknya di apa kan ya? Oh aku tahu, dibikin menderita dalam sel tahanan sampai membusuk aja kali ya … Eh tunggu, kayaknya masih kurang deh … " Ku buat ekspresi wajahku se menyebalkan mungkin.
Aku sengaja membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun.
Tapi tiba-tiba Isma meludahi aku. Aku pun segera menampar nya sekuat tenaga, lalu melempar kembali Saliva ku tepat di wajah Isma.
Aku belum puas dan ingin melampiaskan semua emosi ku, namun polisi menahan ku. Begitupun dengan Isma, dia sepertinya ingin bertarung mati-matian dengan ku, tapi tangan nya terikat oleh borgol.
Polisi pun segera membawa Isma masuk ke dalam mobil tahanan.
"Dasar sialan kalian tunggu saja, aku akan balas dendam, aku akan balas perbuatan kalian, aku akan balas!" Teriak Isma sambil memberontak dan pergi menjauh.
Tak lama Kru polisi yang lain datang bersama para tahanan yang ditangkap dari rumah bordil milik Isma.
Aku meminta tolong pada Zena untuk mengantarku mengawal Isma hingga ke kantor polisi, aku ingin memastikan Isma tidak melakukan aksi kabur dalam perjalanan nanti.
Sesampainya di kantor polisi, Isma langsung di masukan ke dalam sel tahanan sementara karena harus menunggu proses hukum yang berlaku.
Akupun meminta izin pada pihak kepolisian untuk menemui Isma di dalam sel tahanan itu dan polisi pun mengizinkan.
Ku lihat Isma terus berteriak meminta tolong agar polisi membebaskannya, kemudian aku pun langsung menghampirinya tanpa basa-basi.
"Hai pelakor ******, gimana rasanya mendekam di balik jeruji besi itu? Enak kan?" Sapa ku pada Isma.
Isma pun langsung menatapku dengan tatapan penuh emosi dan dendam.
"Kenapa? Marah? Mau balas dendam?" Sambungku.
"Kurang ajar kamu Rahma, berani kamu ya sama aku? Kamu lihat aja, aku bisa lakukan hal apapun buat bikin hidup kamu sengsara Rahma! Haha aku tahu hidup kamu sekarang sudah hancur kan? Mas Edi lebih milih aku daripada kamu yang sok alim itu! Kamu lihat aja nanti, sebentar lagi aku pasti akan bebas lagi dari sini dan kamu tunggu pembalasanku, aku akan bikin hidup kamu hancur sampai ke akar-akarnya." Sahut Isma, sambil tertawa sinis padaku.
__ADS_1
Ucapan Isma membuat hatiku seakan terasa teriris-iris, tapi aku sedikitpun tidak memiliki rasa takut pada ancamannya itu. "Silahkan saja lakukan kalau memang kamu mampu keluar dari balik jeruji besi ini Isma. Tapi aku pastikan setelah aku keluar dari sini, kamu akan selamanya mendekam disitu sampai membusuk! Lagipula disinilah tempat yang paling cocok untuk pelakor sekaligus seorang germo kaya kamu Isma. Asal kamu tahu, aku sama sekali tidak keberatan kehilangan suamiku, lagipula laki-laki miskin yang tak punya moral seperti Mas Edi lebih cocok berdampingan sama wanita pelacur sampah masyarakat kayak kamu kan? Hahaha …." Aku tergelak melihat ekspresi wajah Isma yang sepertinya tak bisa menerima ucapanku itu. "Selamat tinggal Isma si pelakor ******, betah-betah kamu di dalam sana ya, selamat menikmati sisa hidup kamu dalam sel tahanan ini." Sambungku, sambil ku lemparkan senyum sinis padanya, kemudian segera bergegas pergi meninggalkannya.
Sementara Isma terus meneriaki aku dengan segala makiannya, aku tak ingin lagi melihat wajahnya dan terus melangkahkan kaki hingga kudengar suara salah satu petugas polisi menegurnya karena kegaduhan yang dibuat Isma.
Setelah memastikan semuanya aman, aku memutuskan untuk pulang ke rumah mewah ku, karena aku tak sudi menempati rumah kenangan bersama suamiku selama 20 tahun itu.
Kabar Isma masuk penjara pun segera menyebar di semua Media, bahkan sampai menjadi berita viral di wilayah tempat tinggalku hingga diketahui oleh ayah tiri Zena.
Hanya berselang 2 hari setelah aku menjebloskan Isma ke dalam sel tahanan penjara itu, aku mendapatkan kabar bahwa ayah tiri Zena pun melaporkan Mas Edi atas kasus perselingkuhan bersama istrinya ke kantor polisi, dan akhirnya Mas Edi pun ikut mendekam di dalam sel tahanan penjara.
*****
3 hari berlalu.
Setelah usai sarapan pagi, tiba-tiba terdengar suara bell pintu berdering.
Sherin pun segera membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah Zena bersama ayah nya.
Aku pun segera bergegas menghampiri mereka yang tengah menunggu di ruang tamu.
Ku lihat dari jauh wajah laki-laki yang tengah duduk bersama Zena itu tampak tak asing bagiku.
Ku putar kembali memori otakku untuk mengingat dimana aku pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya, dan ingatan ku jatuh pada masa-masa saat aku menempuh pendidikan tinggi. Aku ingat ternyata ayah tiri Zena adalah teman lama ku, teman semasa kuliah dulu, hanya saja ayah tiri Zena berusia sedikit lebih tua dari ku. Sungguh dunia ini ternyata memang sempit.
Tak banyak berpikir lagi, aku pun tak sabar ingin segera menyapa mereka.
"Loh, ini Bang Aris kan? Teman waktu kuliah dulu?" Langsung saja ku lontarkan pertanyaan yang membuatku penasaran pada laki-laki tua yang tengah duduk bersama Zena itu.
Pria itu terlihat mengernyitkan dahinya. "Benar saya Aris, maksud anda teman kuliah dulu?" Sahutnya, kembali bertanya. Sepertinya dia tak mengenaliku dan dia pun terlihat sedang berusaha untuk mengingat ku. "Ohhh aku ingat sekarang, kamu Rahma kan?" Sambungnya.
"Iya Bang aku Rahma, ya ampun Bang … lama ya kita nggak ketemu, Bang Aris apa kabar?" Tanya ku.
"Astaghfirullah kok bisa sampai lupa ya sama kamu maaf ya, maklum faktor usia kali ya hihi, iya semenjak lulus kuliah gak pernah ketemu lagi sekitar 20 tahun kali ya Rah, tapi kabarku baik, kamu sendiri gimana? Sehat? Jadi Zen ini teman anak kamu ya?" Sahut Bang Aris.
"Iya Bang udah lama banget, aku aja tadi hampir gak ingat sama sekali sama Bang Aris, syukur deh kalau sehat, aku juga sehat Bang. Iya Bang Aris ini anak aku, kenalin namanya Sherin," Akupun memperkenalkan anakku padanya.
Bang Aris dan Sherin pun saling berkenalan.
"Iya syukur lah kalau gitu, Wah ... Sherin ini cantik sekali ya? Cocok kalau sama Zen!" Cetus Bang Aris sambil terkekeh.
"Ayah ..." timpal Zen. Tampak malu, wajahnya pun tiba-tiba memerah.
Akhirnya kami pun tertawa.
"Oh iya hampir lupa! Bang Aris sama Zen mau minum apa?" Tawar ku pada Zena dan Bang Aris.
"Nggak usah repot Ra, air putih aja cukup," jawab bang Aris.
"Oke deh, tunggu sebentar ya!"
Aku segera meminta tolong pada Bi Isah, Asisten rumah tangga yang mengurus ku sedari kecil, membawakan air minum dan beberapa cemilan.
"Makasih Ra … oh iya, maaf ya Ra aku mau tanya soal suami kamu, aku harap kamu nggak keberatan," Tanya Bang Aris.
Aku sudah menduga sebelumnya, kedatangan Bang Aris tak lain hanya untuk membahas persoalan Mas Edi.
Aku sedikit memelas dan menarik nafas panjang. Karena jika teringat Mas Edi, dadaku rasanya sesak.
"Sama-sama Bang, di minum dulu air nya Bang, nggak apa-apa kok Bang, Bang Aris mau tanya apa?" Sahutku.
"Sorry banget ya Ra, aku nggak bermaksud apa-apa. Tapi aku penasaran kenapa suami kamu bisa sampai menjalin hubungan dengan istri ku?" Bang Aris ternyata memikirkan hal yang sama merasa heran dengan perbuatan Mas Edi dan Isma.
"Iya Bang gak apa-apa, aku sama sekali nggak menyangka hal itu bisa terjadi sama aku. Padahal, aku sudah menikah dengan Mas Edi selama kurang lebih 20 tahun, hanya karena alasan yang tak masuk akal Mas Edi tega khianatin aku. Kalau Bang Aris mau tau gimana ceritanya, Bang Aris bisa tanya langsung sama Zen atau Sherin," paparku.
"Aku sudah bicara sama Zen, Zen juga yang kasih tau aku soal perselingkuhan istriku. Maaf ya Ra, aku nggak tau kalau itu suami kamu jadi aku menuntut dia ke dalam hukum, aku juga udah jujur semuanya sama Zen, sekarang aku cuma bisa pasrah apapun keputusan Ibunya Zen, aku akan terima. Sekarang Isma sedang hamil, aku sebenarnya gak tega, hmm ... Tapi, Isma gak mungkin mengandung anak ku, karena aku sudah divonis mandul sama Dokter," tutur nya.
"Maksud Bang Aris, Isma hamil anak Bang Edi?" Erangku, aku sama sekali tak menyangka jika Isma tengah hamil dan kemungkinan besar itu adalah anak dari Mas Edi.
"Iya Ra, kemungkinan begitu. Tapi kamu tenang dulu ya, nanti kita cari solusi bersama-sama?" Kata bang Aris, berusaha membuatku tenang
Jantungku berdegup cepat terasa seakan akan meloncat keluar mendengar jawaban Bang Aris. Rasanya bagai disambar petir di siang bolong, mulutku seakan kaku dan aku tak dapat berkata-kata lagi pada Bang Aris.
Entah kenapa dadaku tiba-tiba terasa sesak, jantungku sakit seakan mau pecah, kepalaku rasanya berat dan pandangan ku tiba-tiba saja kabur, aku tak tahan, lalu setelah itu aku tak dapat mengingat apapun lagi.
__ADS_1