
*****
Pukul 6.30 pagi.
Hari ini hari pertamaku masuk kuliah, aku begitu bersemangat.
Seperti biasa, usai sarapan aku pun berangkat ke kampus.
Karena nilai ku masuk peringkat 2 terbaik semasa pengenalan, aku ditempatkan di ruang 1A Reguler bersama Zaky, Amira, dan lainnya yang termasuk peringkat 10 besar.
Sesampainya di kampus, aku pun segera memasuki kelas.
Hari pertama aku kuliah, aku mulai saling mengenal setiap karakter dari teman-temanku, juga para dosen ku.
Dari hari pertama, beberapa dosen sudah membuat tes wawasan kepada para Mahasiswa mahasiswi di kelas ku.
Seperti biasanya, aku selalu unggul dalam soal prestasi. Teman-teman baru ku pun memberikan respon kagum terhadap ku, termasuk beberapa dosen mata kuliah.
Aku senang dapat berbagi wawasan dengan teman-teman baru ku.
Hanya saja aku kurang suka memiliki sahabat yang biasanya selalu mengetahui tentang kehidupan pribadiku. Aku hanya ingin berteman biasa saja, tidak harus berteman sampai sedekat mungkin. Ya, kecuali Zena teman sejak masa SMA.
Hari demi hari aku semakin mengenal lingkungan dan teman-teman ku, bahkan dari teman beberapa kelas yang lain.
*****
Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah.
Akhirnya bunda sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Aku berencana menjemput bunda dari sejak pagi, karena kebetulan aku sedang libur kuliah.
Pukul 7.30 pagi.
Aku pun bergegas pergi ke rumah sakit. Sebenarnya ada pengawal bunda yang akan mengantarkan bunda pulang. Tapi lebih baik aku saja yang menjemput bunda, karena aku sudah rindu berat dengan Alfin.
Di hari libur kuliah, aku ingin menghabiskan waktu dengan adikku Alfin.
Sesampainya di rumah sakit, aku pun segera membantu Bi Isah mengemas semua barang-barang bawaan milik bunda, Bi Isah dan juga Alfin selama lebih dari 2 minggu di RSUD.
Usai dikemas, para asisten pribadi bunda pun membantu membawakan semua barang-barang bawaan itu ke dalam mobil mereka.
"Non, apa Ibu mau ikut sama Non Sherin?" tanya Om Joko padaku.
"Iya Om, gak apa-apa biar Bunda sama aku aja, Om Joko sama Om Syam biar kawal aja ya?" sahutku.
"Siap Non, kalau gitu silahkan Non," Ujar Om Joko, lalu membukakan pintu mobil untukku dan Bunda.
"Tidak usah Om, Om bantu Bunda aja!" cetus ku.
Setelah bunda, Alfin dan Bi Isah masuk ke dalam mobilku, akupun mulai mengemudi.
Tak butuh waktu lama dalam perjalanan karena jarak dari RSUD menuju rumah tidak terlalu jauh, akhirnya kamipun sampai di rumah.
Aku langsung saja mengajak Alfin masuk dan bermain, sementara bunda beristirahat di kamarnya.
"Alfin, kamu lucu banget sih, bikin kakak gemes tau," ucap ku pada alfin.
Alfin pun sepertinya suka pada ku, dia tidak menangis sama sekali selama bersama ku.
"Ahhh ... Kakak makin sayang aja deh sama kamu, kamu cepet gede dong … biar nanti kakak ajak kamu jalan-jalan beli eskrim, mau?" Tanya ku, sambil ku cubit lembut pipinya yang cabi dan menggemaskan.
__ADS_1
Aku tak menyadari, ternyata diam-diam bunda sedang mengawasiku dari belakang sambil terkekeh sendiri.
Akupun refleks menengok ke arah bunda ketika mendengar bunda terkekeh. "Loh … Bunda? Bunda sejak kapan berdiri di situ?" tanyaku.
"Belum lama kok, baru aja!" jawab bunda, sambil terus menertawakan aku.
"Terus, Bunda kenapa ketawa-ketawa sendiri?" Tanyaku kembali.
"Nggak kok Sayang, kamu lucu aja, masa Alfin di ajakin beli es krim hihi," sahut bunda.
"Emm … ya ntar Bunda kalau udah gede aku beliin Alfin es krim nya,"
"Hihi ... masih lama Sayang, kamu nggak sabar banget,"
"Emm ... ya biarin Bun, biar Alfin cepet gede kalau di ajakin dari sekarang hihi,"
"Ah kamu ada-ada aja! Emang bisa kayak gitu?"
"Ya ... bisa aja Bunda hihi,"
"Hmmmm dasar, bisa aja kamu!"
"Oh iya Bun, aku mau keluar sebentar pengen beli cemilan, Bunda mau sekalian aku beliin apa gitu?" Aku meminta izin pada bunda untuk pergi sebentar.
"Emm … lama nggak Sayang perginya?" tanya bunda.
"Agak lama Bun, soalnya sekalian mau kerjain tugas kuliah dulu," sahutku, berbohong.
"Loh kok ngerjain tugas di luar Sayang? Kenapa nggak di rumah aja?" Bunda tampak heran dengan alasanku.
"Di rumah teman Bun, tugas kelompok!" Aku pun menegaskan pada bunda.
"Oh ya udah deh, Bunda nanti titip beli pampers sama susu aja buat Alfin ya?"
"Oke deh Sayang,"
Setelah Alfin ku berikan pada bunda, aku pun segera bergegas pergi.
Tak lupa aku mengajak Zena untuk pergi ke kantor polisi melihat keadaan Tante Isma disana, Zena pun tak menolak ajakan ku dan segera bergegas menjemputku.
Sesampainya di kantor polisi, aku pun menunggu Tante Isma datang ke ruang kunjungan, dari jauh kulihat Tante Isma berjalan perlahan dengan perut nya yang besar dengan dikawal oleh 2 orang polisi.
Sepertinya tak lama lagi Tante Isma akan segera melahirkan.
Sesampainya di ruang kunjungan, Tante Isma langsung menatapku dengan sinis.
"Sherin, mau apa kamu kesini?" tanya Tante Isma.
"Aku cuma mau lihat keadaan Tante, gimana kabar Tante?" Aku pun dengan sopan menjawab pertanyaan Tante Isma dan menanyakan kabarnya.
Tapi Tante Isma tampaknya tidak menerima kehadiranku. "Alah, kamu gak usah sok baik sama saya, saya tau kamu puas kan melihat saya seperti ini?" sahutnya.
"Kok Tante malah kayak gitu sih, aku cuma mau tau keadaan Tante aja kok." tutur ku dengan lembut.
"Gak usah munafik kamu Sherin, saya muak lihat wajah kamu." bentak Tante Isma padaku.
Aku mulai kesal dengan sikap dan kata-kata Tante Isma, akhirnya aku pun tak segan berbicara kasar padanya.
"Aku juga jijik lihat muka wanita ****** kayak kamu. Tau diri sedikit Tan, udah mau busuk di penjara aja masih songong!" balas ku, dengan nada yang datar.
__ADS_1
"Dasar anak ******. Berani kurang ajar kamu sama saya ya?" bentaknya. Tante Isma semakin tersulut emosi oleh ucapanku.
"Kenapa Tan? Emang salah? Kamu itu pelakor ****** gak tau diri. Harusnya otak Tante di pakai buat mikir Tan, otak kok di simpan di kaki, gak tau malu banget kamu! Harusnya aku yang muak lihat muka haram kamu itu, kenapa jadi kamu yang gak tau diri, seakan kamu gak punya salah!" ucapku, masih dengan nada yang datar.
"Cukup! Kamu gak usah ikut campur urusan saya." cetus Tante Isma.
"Gak usah ikut campur Tante bilang? Gara-gara kamu aku hampir mati di sengat kalajengking, gara-gara kamu aku hampir mati kecelakaan di jalan, dan kamu berulang kali nyelakain bunda demi merebut ayah dari bunda. Otak kamu mati ya Tan? Mikir kamu Tan kalau memang masih waras." Bentak ku, sambil ku gebrak meja tempat khusus para kunjungan. "Kamu lihat ini Tan? Kalau Tante gak jujur sama aku anak siapa yang ada di dalam perut kamu itu, aku akan viralkan video ini." Ancam ku, sambil ku perlihatkan video hot perbuatannya dengan ayah.
"Kamu?" ucap Tante Isma terbata-bata, sambil menunjuk ke arahku.
"Kenapa? Marah? Aku tanya sama kamu, siapa yang sudah menghamilimu Tan? Yang jelas bukan suami kamu kan?" Tanyaku, dengan senyuman mengejek.
"Dasar kamu anak ****** kurang didikan! Berani sekali kamu sama saya? Saya gak takut sama ancaman bocah ****** kayak kamu!" sahutnya.
"Oh ... oke!" Aku pun membuka kembali ponsel ku. "Tante lihat ini kan? Ini akun Tante kan?" tanya ku, sambil ku perlihatkan akun media sosial miliknya.
"Kamu pikir saya takut?" sahut Tante Isma.
"Oh, oke ... kamu pikir aku cuma ngancam doang ya?" gertak ku.
Kemudian aku upload video itu ke medsos dengan tag akun Tante Isma.
"Kamu lihat ini? Selesai di upload! Selamat viral aja ya Tante." Aku pun tersenyum puas padanya.
"Kurang ajar kamu ya!" Bentak Tante Isma, dengan wajahnya yang memerah karena emosi dan marah padaku.
Tiba-tiba saja Tante Isma meraih hijab ku dan menariknya hingga terlepas. Zena pun dengan cepat mencengkram tangan Tante Isma sekuat tenaga.
Kemudian petugas polisi pun datang karena mendengar keributan yang terjadi di ruang kunjungan, lalu membantu Zena menghentikan Tante Isma yang terus memberontak ingin menerjang ku.
"Kurang ajar kamu Sherin! Awas aja kamu, saya akan balas perbuatan kamu!" Tante Isma berteriak mengancam ku.
"Itu akibatnya kalau Tante main-main sama aku dan keluarga ku, ini belum seberapa Tan! Lihat aja Tante, semakin kamu membuat ulah, aku pasti akan lebih kejam 10x lipat membalas perbuatan kamu, camkan itu!" ancam ku, sambil ku tunjuk tepat di depan wajahnya.
"Asal kamu tau, anak ini memang anak ayah kamu, saya akan hancurkan bunda ****** mu itu, tunggu saja." bentak Tante Isma.
Aku sedikit terpaku mendengar pengakuan dari mulutnya itu. "Wanita busuk kayak kamu memang pantas membusuk di penjara seumur hidup. Wanita tukang lacur yang gak punya harga diri seperti kamu, pantasnya di injak-injak dan dibuang ke TPS." Aku pun kembali membentaknya.
Polisi pun segera membawa paksa Tante Isma masuk kembali ke dalam sel tahanan.
Saat di bawa pergi pun, Tante Isma masih berteriak-teriak mengancam dan melontarkan makian padaku.
"Saya akan balas perbuatan kamu! Tunggu saja, saya akan balas dendam, saya akan balas ..." teriaknya, sambil pergi menjauh meninggalkan ruang kunjungan.
Memang saat ini untuk yang pertama kalinya aku memaki-maki orang lain sampai seperti itu, apalagi yang di maki itu orang yang lebih tua.
Pada awalnya niatku mengunjungi Tante Isma hanya untuk menanyakan tentang kehamilannya. Tapi sante Isma memberikan respon yang kurang baik pada ku, jadi aku terpaksa membalas perkataan Tante Isma yang semena-mena itu.
Sesekali orang seperti tante Isma harus diberi pencerahan. Semoga saja tante Isma bisa merubah diri menjadi lebih baik, semoga Tante Isma sadar.
Dengan dihina dan dimaki seperti itu, semoga tante Isma merasa sakit hati dan memperbaiki akhlaknya.
Aku sadar apa yang aku lakukan memang tidaklah baik. Tapi aku harap tante Isma tidak membuat ulah lagi pada keluarga ku, semoga saja tante Isma takut dengan ancaman ku.
Sebenarnya video yang ku upload bukan video hot tante Isma dengan ayah, tapi video lain.
Aku sebagai anak tidak mungkin mengumbar aib orang tua ku sendiri. Itu hanya sebagai bentuk ancaman saja untuk tante Isma.
Hatiku pun terasa tercuat kembali, apalagi saat mendengar jawaban tante Isma bahwa anak yang dikandung nya memang anak ayah. Tapi aku tak bisa percaya begitu saja, aku butuh bukti yang valid.
__ADS_1
Kemudian aku menemui petugas kantor polisi dan meminta agar pihak polisi memberikan kabar kepadaku jika tante Isma melahirkan.
Usai menjenguk Tante Isma di kantor polisi, aku segera pergi ke toko untuk membeli pesanan bunda, pampers dan susu juga beberapa cemilan.