Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Bunda curiga


__ADS_3

****


Sesampai nya dekat rumah, aku berpikir gimana cara nya aku membawa barang-barang sebanyak ini dan lagi, belanjaan pemberian Zen semuanya barang-barang mahal, apalagi laptop yang harga nya puluhan juta itu.


Di rumah ada ayah, aku khawatir mereka berpikiran macam-macam terhadapku dan Zen.


Aku sendiri heran, padahal Zena ini hanya sebatas teman sekolah biasa, kami pun baru pertama kali nya saling berkomunikasi, karena sebelum nya ngobrol panjang lebar saja belum pernah, hanya sebatas saling sapa saja. 


Tapi tiba-tiba Zena mengajakku jalan dan memberiku banyak sekali barang-barang mewah yang kata nya hadiah perpisahan sekolah.


"Sherin, kenapa bengong aja?" tegur Zen. Mengagetkan ku yang tengah tidak fokus.


"Eh, nggak kok," sahut ku.


"Jadi rumah kamu yang mana nih, katanya tadi sudah dekat?"


"Emm ... Iya, itu di depan sana sebentar lagi juga sampai kok,"


"Oh iya deh, aku antar kamu sampai rumah ya? Sekalian aku pengen kenal sama orang tua kamu, apa boleh?


"Emm ... boleh sih, tapi ... Maaf ya Zen, soal belanjaan ini, emm ... "


"Iya aku paham kok, nanti simpan aja dulu di mobil, kita masuk bawa beberapa aja dulu,"


Zen sepertinya mengerti apa yang aku pikirkan.


"Maaf ya Zen, aku nggak bermaksud tidak menghargai, tapi ... "


"Udah, nggak apa-apa tenang aja, aku ngerti kok," timpal Zen. Memotong ucapan ku.


"Emm ... makasih ya, kamu udah baik banget sama aku Zen, tapi aku nggak punya hadiah apa-apa buat perpisahan sekolah kita,"


"Dengan kamu mau kenal dekat sama aku aja, udah jadi hadiah paling besar buat aku, Sherin,"


"Emm .... bisa aja kamu, nah itu rumah aku udah kelihatan Zen, yang ada pohon mangganya,"


"Oh, oke deh,"


Mobil Zen pun parkir di halaman rumah ku, aku pun mengajak Zen untuk masuk ke dalam, aku panggil bunda namun tidak ada yang menyahut, ku suruh Zen menunggu sebentar di ruang tamu, aku pergi ke kamar sebentar lalu aku cek CCTV, sepertinya bunda dan ayah sedang di kamar nya, aku pun menemui Zen dan memberitahunya semua belanjaan itu bisa dibawa masuk sekarang, lalu Zena membantuku membawakan semua barang-barang itu dan ku simpan dalam kamarku, setelah semuanya aman, kami pun mengobrol di ruang tamu.


"Makasih banyak ya Zen? Oh iya, kamu mau minum apa?" tawarku.


"Sama-sama Sherin, air putih aja,"


"Oke deh, kamu tunggu sebentar ya!"


Aku pun segera bergegas membawa air putih dan beberapa cemilan serta buah-buahan, lalu kami lanjut ngobrol sembari menunggu ayah dan bunda.


"Ini Zen, di minum air nya, ini juga ada buat kita ngemil sambil ngobrol,"


"Makasih ya," ucap Zen, lalu meneguk air dalam gelas itu.


"Sama-sama Zen,"


"Oh iya, ayah sama bunda kamu kemana?"


"Emm ... ada, bunda lagi mandi, ayah lagi di belakang, sebentar lagi juga selesai,"


"Oh, yaudah, disini enak ya adem, aku jadi betah hihi,"


"Masa sih, aku malah kadang kegerahan loh,"


"Nggak ah, adem gini kok, nyaman, nggak usah pasang AC juga udah adem,"


Saat kami tengah asyik mengobrol dan bercanda, bunda datang menghampiri.


"Eh, Kamu udah pulang Sayang?" Sapa bunda. "Ini siapa? Teman Sherin ya?" Tanya bunda pada Zena.

__ADS_1


"Eh, iya Tante, aku teman sekolah nya Sherin," sahut Zen.


"Iya Bunda, kenalin ini teman aku, nama nya Zena, oh iya, tadi aku lihat ada motor ayah, ayah sudah pulang ya Bun?" timpal ku.


"Oh iya, Zena teman sekelas kamu ya? Iya Sayang, ayah kamu baru pulang tadi pagi," sanggah bunda.


Aku hanya mengangguk, lalu mendengarkan bunda dan Zen melanjutkan obrolan nya.


"Emm ... aku teman sekolah aja Tante, tapi beda kelas, tadi aku lihat Sherin sendirian, jadi aku antar, sekalian mampir, boleh kan Tante?" tanya Zen.


"Iya Boleh kok Zena, makasih ya udah mau nganterin Sherin?"


"Iya Tante sama-sama, aku juga belum pernah ke daerah sini, ternyata disini enak ya Tante, tempat nya adem,"


"Oh, emang Zena tinggal dimana?"


"Aku tinggal di daerah Siran Tante,"


"Oh pantesan aja, kalau di kota mah kan memang panas ya suhu nya?"


"Iya Tante, kalau siang-siang di luar sudah pasti banjir keringat, nggak kayak disini, enak tempat nya adem, suasananya juga tenang, udah lama ya Tante tinggal di daerah sini?"


"Iya pasti kalau di kota mh kayak gitu, iya udah lama, dari semenjak Tante menikah sama ayah Sherin,"


"Emm ... berarti Tante udah kenal banget ya sama daerah disini? Oh iya Tan, ayah nya Sherin kemana?"


"Iya alhamdulillah, ada lagi di belakang, mungkin masih sibuk jadi belum bisa sapa kesini maaf ya?"


"Oh iya Tante nggak apa-apa kok, aku juga nggak lama, udah sore Tante aku mau sekalian pamit pulang,"


"Loh, nggak santai dulu aja disini, ngobrol-ngobrol dulu sama Sherin? Tante jadi ganggu ya? Maaf ya,"


"Nggak kok Tante nggak ganggu, malahan aku yang ganggu waktu nya Tante sama Sherin, lain kali aku mampir lagi kesini Tante, apa boleh?"


"Ah nggak kok Zena, Tante seneng kalau Sherin ada teman baik, boleh kok Zena kalau mau main kesini main aja nggak apa-apa,"


"Sherin, aku pamit dulu ya, sampai ketemu di sekolah," lanjut Zen.


Aku dan bunda pun mengangguk.


"Hati-hati ya di jalan Zen, makasih loh buat semuanya," sahut ku.


"Iya Sher sama-sama."


Akhirnya Zena pun segera bergegas pulang. Aku hanya mengantar nya sampai depan rumah dan kembali lagi ke dalam. 


Lalu aku pergi ke ruang Family dan bertemu ayah disana.


"Sherin, udah pulang sekolah ya?" Sapa ayah.


"Eh Ayah, iya, Ayah juga baru pulang ya? Ayah dari mana aja?"


"Iya, ayah kerja, kebetulan sekarang lagi libur lumayan lama,"


"Oh, iya syukur deh kalau Ayah lagi libur, jadi Ayah bisa jagain bunda saat aku sekolah,"


"Iya kamu tenang aja,"


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Yah." pungkas ku, tak ingin lama-lama mengobrol dengan ayah.


Aku pun segera bergegas menuju kamar, namun aku mendengar ayah dan bunda mengobrol di ruang family, aku pun berhenti dan mendengarkan mereka di balik tembok, seperti nya ayah marah pada bunda.


"Bun, tadi ayah dengar ada laki-laki di ruang tamu ya?" Tanya ayah pada bunda.


"Iya Yah, itu teman nya Sherin jadi Bunda sapa, kan nggak enak Yah kalau nggak disapa sama kita," sahut bunda.


"Bunda jangan biarin Sherin bawa laki-laki ke rumah, mau itu temannya atau siapa ayah nggak suka,"

__ADS_1


"Loh kenapa emang nya Yah? Itu kan cuma teman sekolah Sherin kok,"


"Bun, Bunda itu harus didik anak itu yang bener, mau itu teman nya atau siapa nya selama itu laki-laki Bunda harus batasi, biar Sherin nggak seenak nya bawa-bawa orang ke rumah kita,"


"Bukan gitu maksud Bunda Yah! Ya udah deh, nanti Bunda ngomong sama Sherin."


Akupun segera bergegas ke kamar ku, belum lama aku sampai, bunda menyusul ku dan masuk ke kamar ku.


"Sayang, kok ini banyak belanjaan di kamar kamu, ini punya siapa?" Tanya bunda, matanya menatap heran padaku.


"Punya aku Bun," jawabku.


"Belanjaan sebanyak ini kamu belanja sendiri? Coba bunda lihat kamu beli apa aja," tunjuk bunda, sambil meraih salah satu tas belanjaan itu.


"Ini hadiah perpisahan sekolah dari teman-teman aku Bunda,"


Bunda pun melihat belanjaan itu satu per satu.


"Sherin, barang-barang semewah ini pasti harga nya nggak murah dan ini ada laptop juga, laptop sebagus ini harga nya mahal Nak! Bunda nggak mau kamu bohong sama Bunda," desak bunda, sepertinya bunda penasaran dan menatapku curiga.


"Aku nggak bohong Bun, itu memang hadiah dari teman aku, hadiah perpisahan sekolah,"


"Hmm .... emang siapa teman kamu itu Nak?"


"Zena Bun, tadi kan Bunda udah ketemu sama orang nya?"


"Hah, Zena yang kasih kamu barang-barang semewah ini?"


"Iya Bunda, emang nya kenapa Bun?"


"Sayang, kamu jujur sama Bunda ya, Bunda janji nggak akan marah kok, Zena nggak ngapa-ngapain kamu kan? Atau kamu berbuat sesuatu yang dilarang?"


"Bunda kok ngomong nya gitu, ya nggak lah Bun, Zena orang nya baik kok, nggak mungkin Zena jahat sama aku, ini bukti nya dia traktir aku,"


"Bukan gitu Nak, Zena itu masih anak sekolah, nggak mungkin punya uang sebanyak itu Sayang, apa orang tua Zena tau kalau dia kasih kamu belanjaan sebanyak ini?"


"Bunda, Zena itu memang orang kaya, dia udah punya perusahaan sendiri sejak dari SMP Bun, semua orang di sekolah termasuk para guru juga sudah tahu, orang tua nya juga kaya raya,"


"Apa Zena nggak ada maksud apa-apa sama kamu Sayang? Selama ini Bunda nggak pernah lihat kamu bareng apalagi bawa teman laki-laki ke rumah, Bunda khawatir sama kamu Nak,"


"Nggak kok Bun, Zena biasa aja sama aku, Bunda curiga ya sama aku? Tenang aja Bunda, aku bisa jaga diri kok Bunda percaya ya sama aku? Harus nya yang Bunda curigai itu, ayah!"


"Ayah? Maksud kamu apa Sayang?"


"Emm .... maksud aku ya .... nggak apa-apa Bunda, itu ... ayah, kan nggak pulang lama, kerja juga kan kerja apa, kok ayah nggak bawa apa-apa pulang kerja, bahkan oleh-oleh aja nggak ada," aku mencoba mencari alasan yang tepat, karena lidahku keseleo hampir saja aku keceplosan.


"Kamu kok tau ayah gak bawa apa-apa?"


"Emm ... itu, tadi aku nggak lihat apa-apa di dapur atau pun di ruang tengah,"


"Hmm ... iya, ayah emang nggak bawa apa-apa,"


"Ya udah Bun, aku mau mandi dulu ya, habis itu masak buat kita makan malam,"


"Bunda tadi udah pesan makanan Sayang, jadi kamu nggak usah masak, ya udah sana mandi dulu gih,"


"Oh, iya deh Bun kalau gitu,"


Bunda pun kemudian keluar dari kamar ku, sepertinya bunda curiga terhadapku dan tadi aku tidak sengaja bicara keceplosan tentang ayah. Beruntung aku dapat berkelit.


Setelah mandi, aku merapikan semua barang-barang pemberian Zen, lalu aku mengotak atik laptop baru ku, memang ada harga ada kualitas, aku menyukai laptop ini karena dengan ada nya laptop ini, aku bisa lebih leluasa mengontrol CCTV tersembunyi.


****


2 minggu berlalu.


Aku pun menghadapi Ujian sekolah ku dengan lancar, keadaan bunda pun sudah jauh lebih baik, semua keadaan terkontrol dengan baik, selama ayah di rumah, semuanya baik-baik saja, tidak ada kejadian atau aktivitas apapun yang mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2